Jully Mahardika

Jully Mahardika
Ep. 34 Pedasnya Tuh Di Sini



Sepulangnya dari rumah sakit, Kansari langsung mengantar Jully pulang ke rumahnya. Namun sesampainya di rumah Jully, Kansari enggan untuk pulang ke rumahnya sendiri.


"Beb... Aku masih males untuk pulang, aku di sini dulu boleh ya?" Ungkap Kansari.


"Boleh dong... Kamu nginep juga boleh." Jawab Jully yang sangat mengerti bahwa sahabatnya itu kini sedang butuh seorang teman. Hatinya sedang terluka, jadi wajar jika dia saat ini memerlukan Jully untuk bersandar.


"Makasih ya beb." Balas Kansari sembari memeluk Jully. Matanya mengembun menahan tangis.


"Iya, jangan sedih dong... Kita masuk yuk!" Jully membalas pelukan Kansari dan mengajak sahabat mungilnya itu untuk masuk ke rumahnya. Kansari pun mengurai pelukannya dan mengangguk setuju. Mereka melangkah memasuki rumah dengan mengucapkan salam terlebih dahulu.


"Assalamu'alaikum..." Ucap mereka hampir bersamaan.


"Wa'alaikumsalam..." Jawab ibu Susi yang datang dari arah ruang keluarga.


"Eee... Sayang kamu sudah pulang, ada Sari juga." Sapa ibu Susi menyambut uluran tangan putrinya dan Kansari yang menyalaminya.


"Iya tante, Sari di sini mungkin agak lamaan gak apa-apa kan tante?" Ijin Kansari pada bu Susi.


"Ya, gak papalah... Nginep juga gak masalah asal pamit dulu sama orang tua." Kata bu Susi mengingatkan.


"Iya tante, Sari tadi sudah pamit kok." Jawab Kansari.


"Ya sudah, kalian bersih-bersih badan dulu habis itu kalian makan siang, sudah pada lapar kan?" Titah bu Susi.


"Lapar banget bu, ibu masak apa?" Balas Jully dengan mengelus perutnya yang sudah keroncongan.


"Ada tumis kangkung, ayam goreng dan sambal terasi, Sari suka kan?" Tanya bu Susi.


"Iya tan Sari suka, makasih lho tante." Jawab Kansari.


"Siip, kita ke kamar dulu ya bu... Mau ganti baju." Jully menggandeng Kansari dan mengajaknya untuk masuk ke dalam kamarnya.


"Sar, aku tahu kamu lagi sedih, kalau mau nangis nanti saja, orang nangis kan butuh tenaga jadi kamu musti makan dulu, mumpung ibuku lagi nyambel terasi kalau mau melampiaskan sampai nangispun bakal gak ada yang tahu, paling juga mengira kamu lagi kepedesan." Seloroh Jully panjang lebar menasehati Kansari. Sedangkan orang yang dinasehati langsung melongo mendengar ucapan Jully yang asal-asalan tapi ada benarnya juga. Maka Kansari pun pasrah dan mengiyakannya saja.


"Nih kamu ganti baju dulu, pilih saja mana yang mau kamu pakai." Jully menyodorkan beberapa pakaiannya untuk Kansari.


"Thanks ya beb."


"Santai sist, kaya sama siapa saja."


Mereka akhirnya menuju meja makan setelah membersihkan diri dan berganti pakaian.


"Sari makan yang banyak ya, jangan sungkan." Ucap bu Susi sembari menuangkan air minum ke gelas Jully dan Kansari yang sedang mengisi makanan di atas piringnya masing-masing.


"Iya tante, pasti semua bakalan Sari habiskan hehe.." Jawab kansari sambil terkekeh menanggapi ucapan bu Susi yang sudah sangat baik dengannya.


Kansari mengisi piringnya dengan nasi, sayur dan lauk secukupnya dengan sambal yang lumayan banyak. Bu Susi yang melihatnya sampai mengernyitkan matanya, seolah-olah dialah yang bakalan mules jika memakan sambal sebanyak itu.


"Sari, kamu gak apa-apa nak makan sambal sebanyak itu?" Tanya bu Susi dengan mimik khawatir.


"Gak papa kok tante, Sari sudah biasa makan yang pedes-pedes." Jawabnya.


"Tapi itu pedes banget lho... Gak takut mules?" Tanya bu Susi lagi.


"Tenang bu... Sari ini sambal yang level 30 saja sudah dia lahap dengan sempurna, sudah biasa mah dia." Jully langsung menjawab kekhawatiran ibunya terhadap Kansari, biar gak ribet saja.


"Ohh gitu ya... Serem juga ya selera kamu Sar." Ucap bu Susi akhirnya dengan geleng-geleng kepala. Sedangkan Kansari hanya bisa nyengir saja.


Akhirnya mereka melanjutkan makannya. Mereka menikmati makan siang dengan lahap namun sesekali Kansari terlihat sesenggukan antara menangis dan menahan rasa pedas di dalam mulutnya. Wajahnya sudah memerah padam dan berkeringat serta air matanya pun mulai menetes tapi mulutnya tetap terus mengunyah makanan penuh sambal itu.


"Terimakasih tante, ini enak kok, Sari suka.. hiks..hiks." Ucap Kansari seraya mengambil segelas air yang disodorkan bu Susi.


"Jull, temanmu itu gak papa kan?" Bisik bu Susi ke anaknya.


"Udah biarin saja bu, biar plong dia." Jawab Jully santai.


"Tapi ibu kan gak tega, ntar kalau sakit perut gimana?" Bisik bu Susi lagi.


"Gampang, tinggal dibawa ke dokter." Jawab Jully cuek sambil meneruskan makannya.


"Ini anak gak peduli-pedulinya sama teman. Teman masa gitu?!" Bu Susi kembali menggumam lirih, merutuki sikap anaknya yang kelewat cuek.


"Huuaaa... Ternyata pedes banget, Sari sudah gak kuat huuaaa....!" Tiba-tiba Kansari menangis sejadi-jadinya membuat bu Susi dan juga Jully menjingkat kaget.


"Ya ya ya sudah, gak usah dimakan lagi ya nak, Sari minum dulu gih! Bentar tante buatin susu hangat untuk meredakan pedasnya." Bu Susi sampai bingung sendiri dan langsung beranjak dari meja makan untuk membuatkan susu hangat.


"Huuaa Jully... Aku harus gimana? Hiks..." Kansari masih saja menangis, dia belum bisa menghentikan air matanya yang sedari tadi dia tahan.


"Ya sudah Sarsar keluarin saja semua tangismu itu, nanti setelah itu jangan ada lagi air mata." Kata Jully sambil mengelus-elus punggung Kansari agar sahabatnya itu lebih tenang. Kansari hanya mengangguk dengan air mata yang masih bercucuran.


"Nih dilap dulu ingus sama air matamu." Jully menyodorkan sekotak tissue di hadapan Kansari.


"Mak..hiks..sih..hiks.." Dengan sesenggukan Kansari mengambil selembar tissue di hadapannya.


Akhirnya Kansari merasa agak tenang dan bu Susi kembali dengan segelas susu hangat di tangannya.


"Ini susunya diminum dulu biar mulut dan perutmu gak panas karena cabai." Kansari menerima segelas susu yang dibawa oleh bu Susi dengan ucapan terimakasih dan langsung meminumnya.


"Gimana sudah mendingan kan?" Tanya bu Susi setelah Kansari menghabiskan susunya hingga tandas.


"Iya tante, terimakasih."


"Sama-sama, setelah ini jangan diulangi lagi ntar malah sakit." Nasihat bu Susi.


"Baik tante."Jawab Kansari mengangguk.


Setelah acara makan siang yang penuh drama tadi, Jully mengajak Kansari ke kamarnya untuk beristirahat. Siapa tahu juga Kansari akan melanjutkan aksi tangisnya.


"Gimana Sar? Sudah plong?" Tanya Jully.


"Lumayan Jull, tapi besok gimana kalau aku ketemu kak Daniel?" Ungkapnya dengan nada yang masih merengek.


"Sudah santai saja, jangan sampai kamu menunjukkan kalau sedang patah hati, anggap saja dia itu mainan rusak yang perlu dibuang." Jawab Jully menyemangati.


"Kok perumpamaanmu aneh gitu sih beb?"


"Yang muncul dipikiranku tadi cuma kata-kata itu." Jawab Jully santai.


"Ihh otakmu memang unik sob." Ucap Kansari geleng-geleng kepala.


"Lagian ya Sar, kamu harus bersyukur bisa mengetahuinya lebih cepat dari pada cintamu keburu tumbuh menjadi lebat pasti sakitnya bertambah hebat. Ya kan?" Kansari yang mendengarnya hanya bisa melongo mendengar pemilihan kata yang diucapkan Jully yang terdengar aneh ditelinganya, namun tetap saja dia menganggukkan kepalanya.


"Makasih ya Jull atas puisinya."


Bersambung...