
Pagi ini Wicky berangkat sekolah dengan hati yang gembira, dia melajukan motornya dengan kecepatan yang normal, tidak seperti biasanya yang selalu mengendarai dengan kecepatan tinggi, karena hari ini dia berangkat ke sekolah sidikit lebih awal. Dia menikmati udara pagi ini yang sejuk melalui semilir angin yang menerpa setiap inci tubuhnya, sepanjang perjalanan dia bersiul sembari sesekali bibirnya menyunggingkan senyuman.
"Hari ini aku musti berhasil mengajak Jully jalan, emm... Enaknya kemana ya? Makan? Nonton? Atau ke Mall?" Gumamnya sendiri. Ahh dia ternyata tidak sabar bertemu dan mengutarakan maksudnya untuk menggandeng Jully hari ini.
Akhirnya Wicky sampai juga di sekolah, dia menuntun motornya hingga ke tempat parkir dan memarkir motornya di sana. Setelahnya dia menuju ke kelasnya dengan sedikit berlari melewati setiap orang yang berjalan atau berdiri di sana. Sesekali dia berujar maaf ketika tanpa sengaja menyenggol bahu seseorang. Sesampainya di kelas dia mengedarkan pandangannya mencari sosok Jully di sana, namun dia tak menemukannya. Hanya ada Kansari di tempat duduk Jully. Wicky pun menghampirinya. Dia tidak menemukan tas Jully di bangku itu.
"Sar, kamu lihat Jully gak? Atau dia belum datang?" Tanya Wicky ke Kansari.
"Sudah datang kok, tapi dia pergi lagi dengan Aleando." Terang Kansari.
"Aleando? Dia pergi dengan Ale?" Wicky membeo, Kansari hanya mengangguk sebagai jawabannya.
"Kemana dan untuk apa?" Tanya Wicky lagi.
"Mana aku tahu... Aku saja tiba-tiba dia tinggalkan sendiri dan pergi dengan sahabatmu itu." Kansari menggidikkan bahunya sembari menjelaskan ketidak tahuannya.
"Haiss...!! Kemana sih mereka pergi?!" Wicky menjadi geram sendiri. Tidak menemukan Jully di kelas dan justru mendapat kabar jika gadis yang dia cari sedang pergi entah kemana dengan sahabatnya sendiri. Ada perasaan tidak enak yang tiba-tiba datang seakan sesuatu yang buruk akan terjadi. Tidak ingin menunggu lebih lama lagi, dia langsung memutar tubunya melangkah keluar kelas untuk menemukan Jully dan Aleando. Saking tergesanya dia berjalan hingga tanpa sengaja menubruk bahu Ningsih yang hendak memasuki kelas bersama Rere.
"Awhh! Hati-hati dong kalau jalan!" Sembur Ningsih sambil mengusap bahunya yang sakit.
"Maaf Ning gak sengaja, maaf aku buru-buru, marahnya nanti saja." Ucap Wicky dan langsung melangkah pergi meninggalkan Ningsih yang masih menggerutu di tempatnya berdiri.
"Tuh anak kenapa sih jalan serampangan aja gak pakai mata, ada orang segede gaban masih aja ditubruk." Gerutu Ningsih yang tetap masih mengusap bahunya.
"Ya kan orang jalan emang gak pakai mata, tapi pakai kaki Ning." Rere berseloroh.
"Iiss Rere!" Desis Ningsih sebal.
Meninggalkan Ningsih yang masih ngedumel sendiri, Wicky berjalan dengan langkah cepat dan sesekali kepalanya menengok ke kanan dan ke kiri mencari keberadaan Jully dan Aleando. Dia berhenti sejenak untuk mengatur nafasnya yang tersengal-sengal, tak menemukan Jully di mana-mana membuat lelaki itu sedikit gusar. Namun sedetik kemudian dia mengingat sesuatu, terakhir dia pernah menemukan Jully bersama Ale berada di kantin sekolah. Seketika Wicky berlari menuju ke arah kantin, sesampainya di sana ternyata benar dugaannya. Dia melihat Jully dan Ale duduk di salah satu bangku di sana, mereka terlihat sedang mengobrol membicarakan suatu hal yang mungkin serius, itu terlihat dari mimik wajah yang mereka perlihatkan. Perlahan Wicky mendekati Jully dan Ale dengan perasaan yang entah apa namanya. Rasa gugup, khawatir, curiga dan juga... Takut. Wicky merasa suasuatu akan benar-benar terjadi hari ini, entah itu apa diapun tidak mengetahuinya.
"Hai, kalian berdua di sini?" Tanya Wicky hati-hati setelah kakinya berhenti di hadapan Jully dan Ale. Aleando sedikit terkejut dengan kedatangan Wicky, sedangkan Jully secara reflek menoleh ke sumber suara namun setelah mengetahui suara siapa itu matanya langsung menatap sengit dan tangannya sedikit mengepal. Ale yang melihat perubahan ekspresi Jully langsung menjadi siaga satu, sudah jelas gadis itu sedang marah, lebih tepatnya menahan emosinya setelah melihat kehadiran Wicky di hadapannya.
"Ehmm Wick ngapain kamu ke sini?" Ini adalah Pertanyaan teraneh yang dilontarkan Ale, dia bingung harus bagaimana menanggapi keadaan seperti ini.
"Memangnya kenapa? Ini kan kantin sekolah, semua murid yang ada di sekolah ini bebas keluar masuk, aneh pertanyaanmu." Jawab Wicky yang semakin curiga dengah tingkah Ale yang sepertinya tidak begitu nyaman akan kedatangannya. Sementara Jully masih tetap diam menatap dingin ke arahnya.
"Ya gak gitu maksud aku..." Ale menggaruk kepalanya yang tak gatal, dia sudah tidak tahu harus berkata apa lagi.
"Aku tadinya mencari Jully, kata Kansari kamu sedang bersama Jully dan aku mencarinya lalu menemukan kalian disini." Ungkap Wicky.
"Untuk apa kamu mencariku?" Tanya Jully sengit.
"Itu karena kemarin kita batal untuk pergi bersama, jadi aku berfikir mungkin kita bisa jalan hari ini sepulang sekolah. Bagaimana menurutmu Jully, kamu ingin jalan kemana hari ini?" Ujar Wicky dengan senyumannya. Aleando hanya bisa merutuki ajakan Wicky yang mungkin akan ditolak mentah-mentah oleh Jully, mengingat gadis itu sedang marah besar.
"Batal?" Jully membeo. "Kamu bilang batal? Seingatku aku tidak pernah mengiyakan ajakanmu atau berjanji untuk pergi denganmu dan kata 'Batal' menurutku hanya diperuntukkan oleh mereka yang sedang berjanji, sedangkan aku tidak sekalipun berjanji denganmu." Jawab Jully dengan nada dingin.
"Heii... Ada apa denganmu Jull? Kenapa kamu berkata begitu dingin padaku? Ucapanmu bisa saja menyakiti hatiku." Wicky berucap dengan memegang dadanya yang terasa sesak oleh ucapan Jully.
"Hah menyakiti?" Jully bedecih dengan memalingkan wajahnya dari pandangan Wicky.
"Le, tolong jelaskan apa yang terjadi? Ada apa dengan Jully? Ada apa dengan kalian berdua?!" Wicky menjadi semakin frustai.
"Ahh.. I i itu..." Ale tergagap.
"Itu karena kamu telah berbohong padaku Wicky!" Jully langsung menyambar ucapan Ale dengan kembali menatap Wicky sengit, lebih tepatnya marah.
"Maksud kamu apa Jull? Berbohong? Aku?" Wicky masih bingung dengan tuduhan Jully terhadapnya.
"Juice strawberry itu, bukan kamu kan yang meletakkannya di mejaku?" Pertanyaan dari Jully itu langsung membuat Wicky terperanjat kaget. Bukan... Itu bukan pertanyaan melainkan pernyataan.
"Apa maksudmu? Bukankah kita sudah membicarakan masalah itu, dan memang benar itu dari aku." Wicky masih saja mengelak dan itu akan semakin membuat Jully muak.
"Sudahlah Wick, jangan mengelak lagi! Aku sudah tahu semuanya, tak ada yang harus ditutup-tutupi lagi!" Amarah Jully sudah mulai memuncak, tapi dia berusaha menahannya. Di kantin ini sudah mulai ramai, dia tidak ingin menjadi tontonan orang banyak karena perdebatan gila ini.
Wicky memalingkan pandangannya ke arah Aleando, dia menatap lekat lelaki yang sudah menjadi sahabatnya sedari lama itu dengan tatapan amarah.
"Ini pasti kamu kan? Ini pasti ulah kamu kan Le!" Wicky menuding Aleando dengan mengarahkan jari telunjukknya ke arah temannya itu dengan amarah.
"Wick... Kamu memang salah." Ucap Aleando dengan berusaha tetap tenang.
"Apa maksudmu Le? Kita sudah berteman cukup lama, tapi kenapa kamu melakukan ini padaku Le?!" Wicky langsung maju dan mencengkeram kerah baju Ale.
"Cukup Wicky!" Jully berteriak cukup keras membuat Wicky membeku dan orang-orang disekitar memandang ke arah mereka.
"Cukup Wick, kamu gak perlu menyalahkan Ale atas apa yang kamu perbuat. Tanpa Ale memberitahu pun aku sudah mengetahuinya sejak lama tapi aku belum punya bukti atas itu." Jully berucap dengan nada datar namun terasa menusuk di hati.
Wicky langsung melepaskan cengkeraman tangannya dari kerah baju Ale. Lelaki itu mendekati Jully dengan perasaan was-was.
"Jull, tidak ada yang..." Ucapan Wicky menggantung karena Jully langsung menyambarnya.
"Aku sudah punya bukti!" Ucap Jully tegas, lalu dia langsung mengeluarkan buku catatan yang dulu pernah dipinjam Wicky darinya dan sebuah kertas memo yang didapatnya dari Mr. W.
"Ini, ini tulisan kamu kan Wick?" Jully menunjukkan sebuah tulisan yang ada di bukunya, sebuah tulisan yang ditinggalkan Wicky untukknya.
"Iya itu memang tulisanku, apa yang salah dari itu?" Wicky membenarkannya dengan perasaan yang masih gamang.
"Lalu ini, apa ini juga kamu yang menulisnya?" Tanya Jully kembali dengan menunjukkan kertas memo tersebut pada Wicky.
"Haha... Mana mungkin aku menulis hal semacam i...**.. tu..." Wicky mulai tergagap setelah menyadari di dalam memo itu tertera nama Mr. W dibagian pojok bawah kertas.
"Ha... Hahaha... Hahaha...!" Jully langsung tertawa begitu kerasnya, orang-orang disekitarnya masih menatap ke arah mereka namun dia sudah tidak peduli. Dia tetap tertawa dan membuat gadis cantik itu terlihat menyeramkan, di dalam tawanya tersirat rasa amarah yang luar biasa. Aleando sampai bergidik ngeri melihat Jully yang biasanya tersenyum ceria berubah menjadi wanita yang begitu menyeramkan.
Tanpa mengatakan apa pun setelah ia menghentikan tawanya, Jully langsung membereskan buku dan tasnya. Lalu dia langsung melangkah pergi meninggalkan Ale dan Wicky yang masih terpaku di sana. Jully melangkahkan kakinya dengan keadaan marah, ini masih pagi, bahkan bell masuk sekolah belum berbunyi namun dia sudah dibikin pusing oleh seseorang yang pernah begitu berarti dalam hidupnya. Wicky yang dia kenal dikehidupannya dulu tidak seperti ini, dia pria yang menjengkelkan namun selalu bisa membuat dirinya tertawa. Meski tidak pernah ada ucapan cinta dari Wicky namun Jully tahu lelaki itu mencintainya. Tapi sekarang Jully seakan dibukakan matanya, rasa cinta bukan hanya diperlihatkan dari tindakan saja melainkan ucapan pengakuan itu sendiri juga penting. Hal inilah yang menjadi hubungan dirinya dengan Wicky di masa lalu tidak pernah berkembang, mereka terjebak dalam friend zone karena Wicky tidak pernah menyatakan perasaannya secara langsung pada dirinya. Sekarang Jully tahu mengapa semua itu terjadi, karena Wicky terlalu pengecut. Bahakan sekarang lelaki itu bertambah parah, tidak hanya pengecut tapi juga licik. Tak terasa air matanya mengalir begitu saja membasahi pipinya yang cubby. Dia melangkah dengan cepat melewati orang-orang yang memandang dirinya dengan tatapan heran. Dia sudah tidak peduli dan terus melangkah menuju kelasnya.
Bersambung....