
"Maaf dok mengganggu, saya mahu kasih tahu bahwa pasien di kamar VIP 333 telah siuman." Setelah mendengar ucapan dari perawat tersebut dokter muda itu langsung menghentikan kerjanya dan langsung menatap ke arah perawat tersebut.
"Apa?! Kenapa tidak bilang dari tadi sih?!" Balas dokter muda itu geram dan langsung beranjak dari tempat duduknya. Dia buru-buru keluar dari ruangannya, bahkan dokter itu sedikit berlari membuat sang perawat yang tertinggal di ruangannya terbengong di sana.
"Memang ya... Kalau kekuatan cinta itu beda ckckck." Gumam si perawat dengan berdecak melihat tingkah dokter muda atasannya itu.
Dokter muda itu berjalan setengah berlari, dia tak sabar untuk segera sampai di ruangan yang perawat tadi maksudkan, sebenarnya ia ingin berlari tapi ini Rumah Sakit tidak bagus untuk dijadikan ajang maratonnya terlebih Rumah Sakit sekarang dalam keadaan lumayan ramai. Dokter muda itu mengeluarkan ponselnya dan mencoba menghubungi seseorang dengan tetap berjalan cepat sampai-sampai kegiatannya itu mengundang banyak tanya dari beberapa staf dan perawat yang tidak sengaja berpapasan dengannya.
"Ehh itu kan dokter Rendi? Kenapa kelihatan buru-buru seperti itu?" Ucap salah satu perawat wanita yang melihat dokter muda itu. Ternyata dokter muda itu adalah Rendi, senior Jully sewaktu SMA.
"Ada keadaan darurat mungkin, tapi tetap saja meski terlihat gusar begitu dokter Rendi terlihat sangat menawan." Ujar perawat wanita lainnya yang lebih muda terpesona akan ketampanan Rendi sang dokter muda.
"Ganteng sih... tapi sayang sudah sold out!" Ungkap yang lainnya.
"Kan masih ada stock dokgan satu lagi di Rumah Sakit ini." Ujar salah satu staf wanita dengan senyum sumringahnya.
"Tapi denger-denger dokgan kita yang satu itu sudah punya pacar." Kata perawat wanita yang lebih muda.
"Masa sih?" Tanya teman staf lainnya.
"Iya bahkan bukan pacar lagi melainkan calon istri." Ucap perawat muda itu lagi.
"Kamu tahu gosib itu dari mana?" Tanya perawat lainnya.
"Karena ada yang bilang kalau calon istrinya itu lagi di rawat di Rumah Sakit ini." Kata perawat muda itu antusian dengan bahan gibahannya.
"Ahh cuma gosib kali..." Ujar salah satu temannya tak percaya dengan adanya berita yang dikabarkan oleh perawat muda itu.
"Ya sudah kalau tidak percaya, bahkan gosib yang kalian sangka ini sudah menjadi tranding topik di kalangan para staf di Rumah Sakit ini." Pungkas perawat muda itu seraya melenggang pergi dari kerumunan teman-temannya.
Sedangkan Rendi yang kini sudah berubah menjadi dokter Rendi itu terus berjalan terburu-buru melewati lorong-lorong Rumah Sakit sambil terus menghubungi seseorang namun tetap tidak diangkat panggilan telponnya.
"Duuhh dimana sih nih orang?! Kenapa dari tadi telponnya tidak diangkat?!" Gerutu Rendi kesal.
Akhirnya Rendi sampai di ruang inap VIP nomor 333 namun disaat ia membuka kamar tersebut ternyata sudah kosong.
"Lho kok kamarnya kosong? Apa jangan-jangan pindah kamar?" Gumam Rendi dalam kebingungannya. Di saat itu pula ada salah satu perawat yang melintas di dekatnya.
"Maaf sus, pasien di sini kemana ya?" Tanya Rendi pada perawat itu.
"Ohh pasien atas nama Jully Mahardika ya? Beliau sedang melakukan pemeriksaan di ruang CT Scan. Karena baru saja sadar setelah koma yang cukup lama maka harus dilakukan pemeriksaan keseluruhan atas perintah dokter Ibrahim." Begitulah penjelasan dari perawat tersebut.
"Ahh saya mengerti, kalau begitu terimakasih ya sus." Ucap Rendi yang diangguki oleh perawat tersebut dan kemudian perawat itu berlalu pergi dari hadapan Rendi.
Rendi kembali mencoba menghubungi seseorang dari ponsel pintarnya namun lagi-lagi panggilan itu tidak tersambungkan.
Di lain sisi di Rumah Sakit yang sama seorang dokter yang sama mudanya dengan Rendi dan tak kalah tampannya juga baru saja keluar dari ruang operasi. Wajahnya terlihat begitu lelah karena akhir-akhir ini jadwal dia di Rumah Sakit itu sangat padat. Beberapa pasien harus ia operasi, belum lagi ada seseorang di sana yang harus dia pantau dan ia jaga setiap harinya.
"Maaf dok, dari tadi ponsel anda berbunyi terus di ruangan anda, sepertinya penting." Ujar seorang perawat yang sepertinya merupakan asisten dokter muda tersebut.
"Ohh ya? Terimakasih sudah memberi tahu saya suster Gina, nanti saya cek setelah saya membersihkan diri." Jawab dokter muda itu kepada perawat yang dipanggil suster Gina itu.
"Baik dok, kalau gitu saya permisi." Ucap suster Gina yang berlalu pergi setelah mendapat anggukan dari atasannya itu.
Sang dokter tampan itu kemudian kembali ke ruang kerjanya setelah selesai membersihkan dirinya dan berganti pakaian, itu tadi adalah jadwal operasi terakhirnya hari ini. Dia segera mengambil ponselnya yang tergeletak di atas meja kerjanya.
"Siapa sebenarnya yang menelpon berulang kali dijam operasiku?" Gumam si dokter tampan sambil mengecek daftar panggilan terakhir dari ponselnya. Terlihat begitu banyak panggilan masuk dari dokter Rendi.
"Rendi? Ada apa dia menelponku berkali-kali? Tidak tahu apa kalau aku ini sangatlah sibuk." Gerutunya tapi tetap saja dia menghubungi balik oarang yang menelponnya berulang kali itu.
"Hallo Ren, ada ap..." Belum sempat ia menyelesaikan kalimat tanyanya, dokter Rendi di seberang sana sudah memotong kalimatnya.
"Kamu dari mana saja sih Gih? Aku dari tadi menghubungimu!" Cerocos Rendi diujung sana dengan nada yang geram.
"Aku baru saja menyelesaikan operasiku, memangnya ada apa sih Ren?" Tanya Wigih dengan nada lelah.
"Jully telah siuman, apa tidak ada yang mengabarkan ini padamu?" Informasi yang baru saja dikatakan oleh Rendi langsung membuat Wigih terperanjat kaget.
"A ap apa?! Jully siuman? Benarkah itu?" Wigih tergagap saking terkejutnya ditambah perasaan yang ia rasakan saat ini antara senang dan lega.
"Ini aku sekarang ada di ruangannya, tap..." Ucapan Rendi kini gantian yang menggantung karena Wigih memotongnya dan langsung menutup telponnya.
"Aku akan ke sana sekarang!" Ucap Wigih yang langsung menutup telponnya dan langsung pergi dari ruangannya dengan terburu-buru sama dengan apa yang dilakukan Rendi saat mendengar Jully telah siuman.
Di depan kamar inap Jully terlihat Rendi tengan berdiri sambil memandang ponsel di tangannya.
"Baru saja aku mahu bilang kalau Jully sekarang ada di ruang pemeriksaan CT Scan, belum selesai bicara sudah langsung ditutup." Gerutu Rendi, entah sudah berapa kali hari ini dia menggerutu karena Wigih.
Kali ini Wigih yang berlari-lari kecil melewati jalan yang sama dengan jalan yang dilewati Rendi secara terburu-buru tadi. Banyak staf dan perawat di Rumah Sakit itu menatapnya heran.
"Tadi dokter Rendi, sekarang dokter Wigih yang lewat jalan ini dengan terburu-buru bahkan mengabaikan sapaan para staf dan menggangguk seadanya. Sebenarnya ada apa sih dengan dokter-dokter tampan kita hari ini?" Tanya salah satu staf Rumah Sakit tersebut.
"Mungkin ada pasien darurat." Jawab salah satu staf yang lainnya.
"Memang tadi saat dokter Rendi lewat sini dengan terburu seperti dokter Wigih barusan apa ada pasien yang melahirkan?" Tanya seorang perawat.
"Huss ngawur! Pasien anak dan ibu hamil kan rawat inapnya ada di lorong sebelah barat, sedangkan mereka tadi berjalan ke arah sebaliknya." Balas salah satu staf yang ikut nimbrung di sana.
"Benar juga ya..." Jawab beberapa dari mereka sambil saling pandang yang heran.
"Kan sudah aku kasih tahu dari tadi kalau salah satu pasien VIP di sini adalah kekasih dari dokgan kita, dokter Wigih." Kata perawat muda yang tiba-tiba muncul dan nimbrung dengan obrolan para staf perawat tersebut.
"Terus hubungannya dengan dokter Rendi yang tadi juga lari ke arah sana itu apa? Jangan-jangan mereka terlibat cinta segitiga." Ujar salah satu dari mereka.
"Huss ngawur! Semua kan pada tahu kalau dokter Rendi sudah sold out!" Kata seorang staf menimpali.
"Ya siapa tahu, dokter Rendi kan masih tunangan belum nikah. Benar kan suster Nina." Tanya salah satu staf perawat kepada perawat muda yang dipanggilnya suster Nina tersebut. Suster Nina ini kalau masalah gosib yang ada di Rumah Sakit itu selalu nomor satu update-nya.
"Ehmm... Kalau masalah itu sih saya kurang tahu, andaipun tahu saya tidak mahu bicara lebih banyak lagi." Jawab suster Nina.
"Lhoo kok gitu sih?" Protes mereka serempak.
"Karena saya tidak mahu salah bicara, meski sering dibilang biang gosib biang gibah tapi saya tetap menjaga privasi seseorang." Setelah mengatakan itu suster Nina langsung melenggang pergi seperti biasanya dan nampaklah wajah-wajah kecewa dengan sejuta rasa penasaran dari para staf dan perawat yang saling bergosib itu.
Sedangkan di depan ruang inap kamar Jully terlihat Rendi yang berjalan mondar mandir menunggu kembalinya Jully dari pemeriksaan yang dilakukan dokter Ibrahim. Selain itu dia juga menunggu Wigih yang katanya mahu langsung ke kamar inap Jully itu. Selang beberapa saat datanglah Wigih dengan napas tersengal-sengal karena harus setengah berlari untuk sampai disana.
"Dimana Jully? Gimana keadaannya? Aku harus melihatnya sekarang." Cerocos Wigih dengan napas yang kembang kempis mencoba masuk ke kamar inap Jully namun langsung dicegah oleh Rendi.
"Eiitt... Sabar bro! Jully gak ada di dalam, dia sedang melakukan pemeriksaan secara menyeluruh di ruang CT Scan dan kamu tak usah khawatir karena dia dalam pengawasan dokter Ibrahim." Jelas Rendi panjang lebar.
"Kok kamu gak bilang sedari tadi waktu ditelpon?" Protes Wigih geram.
"Memangnya siapa tadi yang memotong ucapanku dan langsung menutup telpon secara sepihak?" Balas Rendi sarkas. Wigih mendesah kasar mendengar ucapan Rendi yang benar adanya dan langsung mendudukkan diri di kursi tunggu depan kamar inap Jully. Rendi pun mengikuti dengan duduk di sebelah Wigih.
"Tenanglah bro, kamu tahu kan dokter Ibrahim adalah dokter senior terbaik di Rumah Sakit kita ini, beliau pasti melakukan yang terbaik untuk kesembuhan Jully." Ucap Rendi mencoba menenangkan hati sahabatnya itu. Maklumlah antara Wigih dan Jully sudah lama sekali tidak bertemu, mereka berpisah sebagai senior dan junior ketika Wigih lulus dari SMA sedangkan Jully waktu itu baru saja naik ke kelas dua SMA. Sementara pada waktu itu Wigih belum sempat mengutarakan isi hatinya kepada Jully karena suatu hal. Dan sekarang mereka dipertemukan kembali dengan Jully sebagai pasien koma di Rumah Sakit tempat Wigih bekerja sebagai dokter. Hati siapa yang tidak hancur setelah sekian lama berpisah dengan pujaan hati namun setelah bertemu justru kemalangan yang ia lihat. Wigih menunduk dalam duduknya, menopang kepalanya dengan kedua telapak tangannya. Perasaannya campur aduk saat ini antara senang, bingung dan khawatir. Senang karena Jully akhirnya telah siuman. Bingung karena sekian lama tidak bertemu apa yang harus ia katakan dan khawatir akankah Jully mengingatnya atau justru melupakannya. Waktu lima belas tahun itu bukanlah waktu yang singkat. Ya, mereka berpisah sudah selama itu tentu saja Wigih berpikiran kalau mungkin Jully sudah melupakannya.
"Gih.. Sepertinya ada yang datang, mungkin itu Jully." Rendi segera menepuk bahu Wigih setelah melihat ada bed stretcher yang didorong menuju ke arah mereka.
Wigih segera berdiri dari tempat duduknya dan melihat ke arah bed stretcher yang didorong itu.
"Jully..." Gumam Wigih tanpa melepaskan pandangannya.
Bersambung....