
POV Jully
Hari ini adalah awalnya, hari dimana kisahku dimulai, awal masuk SMA. Sejujurnya aku masih syok akan apa yang terjadi pagi ini...
Brak!
Tiba-tiba pintu kamarku terbuka.
"Jully bangun, sudah jam berapa ini?!" Hahh kok ada ibu di sini? Dan ini... Kamar ini kamar lamaku saat masih tinggal di rumah mendiang nenek?" Kata-kata ini hanya bisa kuucapkan di hati saja, bibirku masih kelu karena syok dan tak masuk akal.
"Ini jam berapa? Memangnya kamu gak ke sekolah?"
"Apa? Sekolah?!" Akhirnya aku berteriak juga, karena ini benar-benar membuatku terkejut dan sangat bingung. Kenapa ibu ada di sini? Kenapa kita kembali ke rumah lama? Bukankah rumah ini sudah lama dijual? Dan kenapa aku harus sekolah? Lagi? Sungguh banyak sekali pertanyaan di kepalaku ini.
"Lahh... Ni anak piye to? Kamu lupa Jull kalau sekarang ini merupakan hari pertamamu masuk SMA?"
"Masuk SMA bu?" apa maksud ibu tentang masuk SMA. Ya Allah Gusti... Ini sebenarnya apa to? Aku ini baru bangun tidur, nyawaku belum jangkap, terus tiba-tiba disuguhi hal seperti ini, jangan-jangan ini prenk. Wahh... Ibuku sudah pintar ngeprenk sekarang.
"Ini ibu lagi ngeprenk aku ya?"
"Prenk? Apa itu prenk?" Duhh ibu sudah ketahuan juga masih saja ngedrama.
"Iya prenk ngerjain aku, dan ibu sudah sukses bikin aku terkejut bukan main, trus ini gimana ceritanya kok kita ada di rumah lama? Ibu sengaja sewa dari pemilik baru hanya buat ngeprenk aku?"
"Kamu itu ngomong apa sih dari tadi prang preng prang preng saja kaya barang pecah ibu gak ngerti, lagian dari dulu kita kan memang tinggal di sini Jull... Kamu itu yang aneh!" Nah kan ibuku masih saja ngotot.
"Ya kan kita sudah pindah dari dulu bu... Lagian kita sudah punya rumah sendiri dan gak numpang di rumah mendiang nenek, lagian rumah ini sudah dijual, terus apalagi ini masak aku disuruh sekolah? Jully kan udah lulus S1, sudah lulus ujian advokat, sudah punya firma hukum sendiri dan rumah sendiri malahan. Ibu ini lucu." Aku memang harus menjelaskan panjang lebar biar sadar.
"Kamu ini paling ngimpi, kalau mau sukses itu sekolah dulu yang bener... Sudah cepetan mandi sana lalu sarapan, sudah ditunggu bapak juga, nanti telat lho!"
Hahh bapak?! Batinku terkejut bukan main, bibirku kembali kelu tak bisa berucap, apa ini?Kenapa ada bapak juga?Belum sempat aku bertanya sama ibu, ibu sudah kembali keluar dari kamar. Tapi bapak... Bapak kan sudah... Sudah meninggal. Tidak mungkin kan bapakku bangkit dari kubur?? Hiii... Ngeri!! Aku tiba-tiba merinding. Huss itu bapakmu lho Jull, masak kamu sumpahin kaya gitu? Ntar kualat lho!! Aku pukul-pukul mulutku sendiri. Tapi masa sih ibu bikin lelucon sampai segitunya? Atau jangan-jangan ibu nikah lagi dan aku punya bapak baru? Tidak! Gak mungkin ibuku nikah lagi, ibu kan bucin banget sama bapak. Mending aku mandi dulu. Ritual pertama sebelum mandi itu ngaca dulu, masih cantik gak kalau habis bangun tidur. Emang kebiasaanku dari dulu. Aku gak mahu ada satupun belek yang masih nyangkut di mataku habis bangun tidur. Tapi saat aku berkaca dan akan membersihkan mataku... Ohh My God!! Aku terlihat lebih muda? Rambutku gimana ceritanya bisa kembali panjang sedangkan kemarin baru saja aku potong sebahu? Setelah aku ingat-ingat tadi ibu jauh terlihat lebih muda. Apa mungkin perkataan ibu tadi benar? Kalau benar berarti aku kembali ke 15 tahun silam. Tapi bukannya tadi aku baru saja tertabrak mobil karena menyelamatkan seorang bocah lelaki? Ahh iya, tabrakan itu! Bagaimana aku bisa lupa dengan tabrakan itu? Tapi kenapa aku baik-baik saja dan malah ada di sini? Ini sungguh... Aarrrgghhh!!!!
"Jully jangan teriak-teriak!! Cepat mandi sudah telat kamu!!
🌸🌸🌸
Dan di sinilah aku berada sekarang, di dalam mobil bersama bapak. Bapak yang aku ketahui sudah meninggalkan aku, ibu dan juga kedua kakakku 11 tahun yang lalu karena serangan jantung. Ohh Tuhan betapa aku merindukan sosok di sebelahku ini yang sedang fokus menyetir. Andai ini mimpi, tolong jangan biarkan aku bangun terlalu cepat, tapi ini terlalu nyata untuk sebuah mimpi.
"Kenapa Jull? Dari tadi merhatiin bapak terus?" Ucapan bapak membuyarkan lamunanku.
"Ah gak papa kok pak." Kataku sambil meringis gugup.
"Kamu ini kenapa sih dari pagi bapak sama ibu perhatikan sedikit aneh?"
Akupun kembali tersenyum lembut ke bapak, "Jully hanya kangen aja sama bapak."
"Tiap hari ketemu juga, aneh bener kamu itu, atau pasti ini ada maunya."
Bapak itu yang aneh, ibu dan juga keadaan inipun aneh, sampai-sampai aku juga terlihat aneh oleh orang-orang yang aku anggap aneh. Itu barusan batinku yang bicara, mana berani aku bicara seperti itu ke bapak, ibu saja tadi tidak percaya dengan ceritaku, malah aku dianggapnya mimpi.
"Hehe... Tambahin uang jajan Jully donk pak, sekarang kan sudah SMA." Mending aku ikutin saja alur cerita ini, cerita masa SMA ku yang sudah berlalu, ini tidak terlalu buruk juga, paling tidak aku tahu apa yang akan terjadi nanti, mungkin... Itupun kalau masih sama atau ini adalah kesempatanku untuk memperbaiki yang terlihat buruk dulu.
Mobil kami berhenti, aku melihat dari balik jendela mobil, ahh sudah sampai ternyata. Kembali ku arahkan pandanganku ke bapak, kulihat bapak mengeluarkan uang lembaran 50 ribu dari dompetnya,
"Sudah bapak duga kamu pasti ada maunya, ini anggap hadiah awal masuk SMA." Kata bapak sambil menyerahkan uang 50 ribu yang dikeluarkannya dari dompet tadi.
"Yeee... Makasih bapak, saaayyang bapak." Kupeluk bapak erat, duuh rindu sekali aku ini dan aku tidak percaya aku bersorak senang hanya karena uang 50 ribu? Padahal penghasilanku nolnya saja bisa sampai 7 digit tiap bulannya.
"Ya sudah cepat turun nanti telat."
Akupun mencium tangan bapak sebelum turun dari mobil, "Jully sekolah dulu ya pak, do'ain mendapat teman yang baik-baik. Assalamu'alaikum."
Ahh... Suasana ini, suasana yang sama seperti 15 tahun lalu. Aku masih merasakan kegugupan yang sama seperti waktu dulu dan apakah kejadiannya akan sama seperti waktu itu? Semuanya masih melekat jelas diingatanku. Kalau kejadiannya memang sama seharusnya bakalan ada satu makhluk gak tahu diri yang bakalan muncul di hadapanku.
"Jully....!!"
Nahh... Baru juga diomongin, itu makhluk dah muncul aja, suaranya itu lho dari dulu malu-maluin aku, mending kabur saja deh...
"Eh..eh..eh.. Jull.. Jully mau kemana? Main kabur aja, woooyy...!!"
Akhirnya kuhentikan langkahku dari pada itu anak makin berisik, ntar tambah bikin malu aku.
"Haii... Ada Sari kok tadi gak kelihatan ya?" Kilahku sambil meringis, ya dialah Kansari sahabatku dari kami SMP, lihat saja sekarang dia selalu ngintilin aku kemana saja, belum sadar saja nantinya saat dia dewasa seakan dia lupa sama aku.
"Matamu minusnya tambah ya Jull? Horraang syantik kayak gini banyak cowok yang ngelirik, masa kamu gak lihat?"
Banyak cowok yang ngelirik matamu Sar! Suaramu itu lho bikin illfeel. Tentu saja itu hanya kuucapkan dalam hati.
"Sorry Sar, seperti katamu tadi mataku mungkin minusnya tambah, jadi gak lihat ada cewek cantik yang suaranya kayak barbarr...!" Dan akupun langsung lari meninggalkan Sari yang udah misuh-misuh gak jelas. Sungguh aku benar-benar bahagia bisa kembali di masa ini. Mungkin untuk saat ini, gak tau nanti. Orang Jawa bilangnya "Pikir keri ae" (dipikir nanti saja).
Tak lama suara bel tanda masuk berbunyi, terdenger pengumuman berkumpul di lapangan sekolah untuk siswa baru dari mikrofon sekolah. Aku dan Sari pun bergegas menuju lapangan sekolah untuk mengikuti upacara penerimaan siswa baru. Tiga puluh menit berlalu dan upacara inipun selesai, namun sebelum dibubarkan seorang Ketua OSIS bernama Wigih Sasongko menyuruh mencari kelas kami masing-masing sesuai apa yang ada di papan pengumuman sekolah. Aku dan Sari melangkah menuju tempat yang di maksud Ketos tadi, tapi belum sempat kami sampai di sana tiba-tiba perutku...
"Aduh!!" Sari seketika panik melihatku meringis sambil memegang perut. Duuhh... Kenapa juga bagian yang ini sama persis seperti kejadian waktu dulu, gak keren banget deh...
"Kamu kenapa Jull? Kamu sakit?"
"Kayaknya aku harus ke toilet deh.. " Jawabku sambil nyengir jayus.
"Sialan!! Kirain kenapa, tahunya mau boker!!" Sari terlihat sebal padaku, tapi malah aku jitak kepalanya.
"Aduh!! Kok malah dijitak sih?!! Lihat dia makin tak trima padaku, justru itu yang membuatku makin suka menggodanya.
"Aku itu bukannya mau boker, Kansari pintaarr.. Aku itu cuma kebelet pipis." Protesku balik.
"Ya udah aku ke kelas duluan, semoga saja kita bisa sekelas nanti, jangan lama-lama ntar dicariin." Kata-kata Sari gak aku gubris dan langsung aku tinggal ngibrit ke toilet, namun Sari kembali berteriak yang masih bisa terdengar jelas di telingaku,
"Ati-ati Jull, toilet jam segini sepi!!"
Sialan betul tuh bocah!! Dia tahu betul kalau aku rada penakut. Dan benar saja, sesampainya di toilet ternyata betu-betul sepi. Buru-buru aku masuk ke toilet dan menyelesaikan misi awal ke sini. "PIPIS!".
Selesainya dari toilet aku segera menuju ke kelas, tak perlu mencari lagi, karena aku masih ingat betul dimana kelasku dulu berada. Kelas X-3. Dan aku tidak sabar menantikan satu kejadian yang masih melekat dalam ingatanku sampai sekarang ini. Haruskah aku melakukan reka ulang kejadian dulu? Mungkin akan seru. Sekarang aku sudah berdiri di depan pintu kelas, kalau dulu aku akan deg degan takut dimarahi karena telat masuk ke kelas, namun sekarang aku deg degan karena mengulang peristiwa itu lagi. Aku langkahkan kakiku semakin mendekat ke arah pintu lalu mengetuknya. Terdengar suara bas kak Wigih dari balik pintu,
"Masuk"
Kubuka pintu kelas perlahan, pertama yang aku lihat adalah wajah tampan si Ketos kami, kak Wigih Sasongko. Dia sedikit terkejut namun kemudian dia tersenyum. Apa tersenyum? Kok aku baru sadar ya kalau dia sempat tersenyum ke aku, perasaan dulu nggak, atau mungkin akunya yang gak begitu merhatiin.
"Maaf kak terlambat, saya tadi baru dari toilet." Tentunya ini adalah alasan yang sama yang pernah aku buat, bedanya aku tidak tergagap gagap seperti waktu itu.
"Gak papa, masuk aja lalu cari bangku yang masih kosong." Jawabnya sambil tersenyum lagi ke arahku, ohh Tuhan kenapa aku baru sadar kalau kak Wigih setampan ini? Kira-kira mau gak ya jadi pacarku? Tidak, tidak Jully sadarlah tujuanmu bukan itu sekarang. Lebih baik aku mencari tempat dudukku. Ah ya, Sari! Aku kan satu kelas dengan bocah sinting itu, tapi mana ya? Ohh itu dia!!
"Sari..!!" Upss, kelepasan. Duhhh ini mulut kok gak bisa dikontrol?! Keseringan bergaul sama Kansari jadi begini deh...satu kelas jadi langsung diam, diam melototin aku. Salting kan jadinya. Bodo amatlah terlanjur malu, mending langsung ke Sari aja.
"Sar, aku duduk di sini ya?" Pintaku ke Sari sambil meletakkan tas dan mendudukkan diriku di sebelah bangku Sari.
"Jull, aku tahu kamu segitu senangnya bisa satu kelas sama aku, tapi gak bikin malu aku juga kali." Protesnya sambil berbisik.
"Sorry." Hanya itu yang bisa ku katakan sambil meringis.
Tepat setelah permintaan maafku ke Sari, tanpa sengaja aku melihat ke sisi itu, sisi dimana dia duduk dan inilah pertama kali kami bertemu. Lagi. This is like deja vu. Dia menatapku dengan senyuman yang tak pernah pudar dari bibirnya. Dia yang selalu membuatku gugup dan berdebar, dia yang selalu membuatku jengkel, tapi dia juga yang membuatku tersenyum dan juga patah hati. Ya dialah Ananda Wicky Raharja.
Bersambung....