
Pagi ini Wigih kembali menyelinap ke kelas Jully, menaruh sekotak juice strawberry di atas meja Jully dan menyelipkan surat beramplop biru muda di bawah laci meja Jully. Dua minggu sudah berlalu sejak terakhir kali dirinya berbicara dan mendengar nasehat mamanya. Dan baru saat ini dia memberanikan diri untuk kembali menulis surat pada Jully setelah dua minggu terakhir ini dia tidak mengirimkan suratnya serta cenderung menghindari gadis itu ketika di sekolah. Bukan... Dirinya bukannya ingin menjauhi Jully selamanya, hanya saja dia butuh waktu untuk menenangkan dirinya, intropeksi diri serta dia harus memikirkan kata-kata yang tepat untuk mengungkap jati dirinya di hadapan Jully. Dan mungkin saat inilah waktu yang tepat untuk membuka semuanya di hadapan Jully. Saat ini Wigih sudah siap akan kemungkinan apa saja yang akan terjadi nanti. Entah kemarahan, amukan bahkan tamparanpun ia akan terima karena semua kesedihan serta persoalan yang diterima Jully pada dasarnya berawal dari dirinya. Tentunya dia harus siap untuk mempertanggung jawabkannya, setidaknya itu yang harus dilakukannya sebagai lelaki. Benar kata Anita, dia terlalu dewasa untuk dibilang sebagai anak kecil yang main surat-suratan. Mamanya juga benar, jika dia tidak segera menuntaskan masalah ini maka kemungkinan akan timbul masalah baru. Jangan sampai ada orang lain yang mengaku sebagai dirinya terulang kembali dan menyakiti hati Jully. Setelah meletakkan barang-barang itu Wigih segera pergi, dia tidak ingin ada orang lain tahu dirinya yang menyelinap di kelas orang lain, cukup Anita saja dan tentunya Ernita adiknya yang mengetahuinya.
Suasana di sekolah pagi ini mulai ramai, para siswa datang satu persatu, demikian juga dengan Jully yang datang bersama Kansari seperti biasanya. Saat mereka memasuki kelas sudah banyak dari teman mereka yang datang termasuk Rere dan juga Ningsih. Mereka berdua sudah duduk anteng di kursinya masaing-masing sambil mengobrol ketika Jully dan Kansari mendekati meja mereka, bahkan disana ada Aleando yang ikut dalam obrolan dua sahabat Jully itu. Ya akhir-akhir ini Ale juga akrab dengan mereka, mungkin karena insiden kemarin atau memang pada dasarnya Ale adalah teman yang humble, toh nantinya mereka juga akan menjadi sahabat sampai dewasa. Terus bagaimana dengan Wicky? Ale dan Wicky tetap menjadi teman dekat sampai sekarang, hanya saja Wicky kini lebih membatasi dirinya. Ketika dia bersama Ale, dia tetap menjadi Wicky yang jahil yang suka menggoda teman lamanya itu. Ketika Ale bergabung dengan Jully dan teman-temannya maka Wicky lebih memilih bersama teman yang lainnya. Dia juga tidak seurakan dulu, Jully menganggap itu adalah bentuk dari intropeksi yang dilakukan Wicky. Jadi biarkanlah seperti itu, mungkin itu hal yang terbaik untuk Wicky saat ini.
"Asyik bener... Kalian ngomongin apa sih?" Tanya Jully saat mendekati gerombolan trio wek-wek itu sambil meletakkan tasnya di atas bangku yang memang tepat berada di depan meja Rere dan Ningsih.
"Paling film India lagi." Sambar Kansari yang baru juga meletakkan tasnya.
"Ehh jangan salah ini film bagus bangeett... Ini Shahrukh Khan lho yang main." Ujar Ale menggebu-gebu, maklum... Aleando ini cowok kalem nan criwis yang suka banget dengan film-film Bollywood. Tak ayal dia sering sekali menceritakan tentang hal itu bahkan berusaha meracuni yang lainnya untuk sejalan dengan kegemarannya itu. Mulai dari lagu-lagunya, film sampai artisnya dia hapal betul. Ale itu sudah kaya sales kalau ngomongin soal lagu dan film India.
"Emm... Masa sih?" Cibir Kansari ragu.
"Eeeh gak percaya, awas saja kalau nonton pada mewek kaya kemarin." Balas Ale yang mengejek. Ya tiga hari yang lalu mereka berlima bersama Ale pergi main ke rumahnya dan di sana mereka menonton film India yang ternyata ada beberapa adegan yang mengharukan. Dan kalian tahu apa yang terjadi? Kansari dan Ningsih yang suka adu mulut itu kompak banget nangis bombay, bikin mereka yang melihatnya tidak fokus pada film justru dibuat tercengang karena ulah mereka. Tepok jidat dah...
"Emang judulnya apa sih Le?" Tanya Ningsih.
"Kabhi Alvida Naa Kehna." Jawab Ale dengan fasih.
"Duhh belibet banget judulnya kaya otaknya Kansari." Ujar Ningsih yang langsung dapat pelototan dari Kansari.
"Udah deh... Kalian mau nonton gak? Mumpung ini malam Minggu, besok kita kan libur jadi bisa santailah..." Ajak Ale sambil menaik turunkan kedua alisnya.
"Bolehlah asal jangan malam, jalanan lewat rumahmu serem harus lewatin persawahan yang lumayan luas dan panjang." Pinta Ningsih sambil membayangkan suasana sepi arah ke jalan rumah Ale.
"Iya aku setuju, takut kita kalau terlalu malam lewat jalan rumahmu." Rere membenarkan perkataan Ningsih. Kansari dan Jully pun setuju.
"Ckckck... Emang susah ya kalau musuh ciwi-ciwi seperti kalian." Aleando berdecih. "Tenang saja saat ini aku sudah bawa kasetnya jadi kita bisa nonton nanti setelah pulang sekolah, terserah mahu di rumah siapa aku mah ngikut saja." Lanjut Aleando sambil tersenyum bangga.
"Gercep juga nih anak." Kansari dan yang lainnya jadi geleng-geleng kepala melihat bocah cantik namun bukan cewek yang ada di antara mereka itu.
"Okey deh di rumah aku saja." Tawar Ningsih.
"Gimana yang lain?" Tanya Ale sambil mengarahkan pandangannya ke satu-satu dari mereka selain Ningsih.
"Terserah ngikut saja." Jawab Jully yang diangguki oleh yang lainnya.
"Siipp... Ntar pulang sekolah ngumpul di depan gerbang depan ya!" Ale menginterupsi sembari melangkah pergi meninggalkan keempat cewek di sana dan kembali ke tempat duduknya karena suara bell masuk sudah terdengar.
"Ehh guys nanti ada pertandingan basket lagi lho... Aku baca pengumumannya di mading sebelum masuk ke sini tadi." Ucap Kansari setelah kepergian Ale.
"Ohh ya? Ketosgan ikut gak?" Tanya Rere.
"Tumben nanya soal Ketosgan kita? Atau sebenarnya mahu nanyain soal kak Nouval?" Skak mat deh sama mulut nyinyirnya si Sarsar.
"Ehh gak ya... Aku cuma penasaran soalnya kaki kak Wigih kan habis cidera." Sanggah Rere dengan ekspresi gugup yang lucu.
"Pinter ngeles nih anak sekarang." Ningsih terkekeh geli melihat gelagat teman sebangkunya itu.
"Apaan sih Ning?!" Rere pun berubah jadi sewot membuat yang lainnya tergelak.
"Mungkin enggak, kan baru saja cidera, kalaupun sudah sembuh itupun harus istirahat dulu sampai sembuh total." Ucap Jully pada akhirnya justru menjadi dirinya yang digoda teman-temannya.
"Cieee... Pengertian banget neng." Goda Kansari sehingga mereka semua kembali tergelak sampai guru dijam pertama datang dan menghentikan kegembiraan mereka.
🍓🍓🍓🍓🍓
Bell istirahat berbunyi, semua siswa yang ada di kelas Jully segera merapikan mejanya masing-masing setelah guru keluar dari kelas mereka dan segera berhamburan ke luar untuk beristirahat atau sekedar duduk-duduk di taman area sekolah mereka. Begitu pula dengan Jully, Kansari, Rere dan Ningsih mereka bersiap akan mengisi perut mereka di kantin sekolah.
Di kantin mereka berempat kompak untuk ngebakso saja dan akan membeli beberapa camilan lengkap dengan minuman botol untuk bekal mereka melihat pertandingan basket setelah jam istirahat, yang artinya hari ini tidak ada jam pelajaran seusai jam istirahat. Sungguh surga bagi semua siswa di sekolah ini jika ada pertandingan basket semua jam pelajaran akan dikosongkan, apalagi sekarang adalah pertandingan persahabatan antar sekolah, tentu bakalan ramai penonton yang juga berasal dari sekolah lain. Sebenarnya siswa di sini tidak wajib menonton, mereka bisa memilih untuk pulang atau melakukan hal lain selain menonton pertandingan. Tapi Jully dan teman-temannya memilih untuk menonton hingga jam sekolah berakhir, apalagi Kansari disini yang paling semangat karena ada sekolah lain yang juga ikut, bisa ditebaklah apa yang ada di otak cantiknya itu... Tentu saja dia tidak bisa melewatkan pemandangan cowok-cowok ganteng penuh peluh nan seksi yang akan bermain di stadium nanti.
"Bebeb-bebeb sekalian... Tahu gak kalau SMU Nusa Bangsa bakalan ikut pertandingan juga?" Pertanyaan Kansari yang terdengar seperti pernyataan ini membuat yang lainnya menggeleng tak mengerti.
"Denger-denger kapten basketnya itu ganteng banget." Nah kan... Kansari sudah beraksi, urusan lelaki tampan dia paling tahu berita terkininya.
"Terus?" Tenya Rere sambil melirik Kansari sekilas dan melanjutkan kunyahannya.
"Ya siapa tahu bisa kenalan, buat nambah-nambah teman gitu." Selorohnya.
"Widiihh... Kecentilan." Ningsih mengejek.
"Iihh biarin, namanya juga usaha." Balas Kansari santai sambil menyendok dan memasukkan pentol bakso ke dalam mulutnya.
"Ya gak apa-apa yang penting hati-hati jangan sampai sakit hati... Lagi." Jully sengaja menjeda ucapannya sebelum menambahkan kata "Lagi" di akhir kalimatnya.
"Iya, iya ngerti." Balas Kansari sambil bersungut. Sedangkan Rere dan Ningsih saling bertukar pandang seakan mereka saling bertanya apa yang sebenarnya terjadi. Kansari yang menyadari kebingungan Rere dan Ningsih atas ketidaktahuan mereka akhirnya buka suara.
"Aku baru saja patah hati kalau kalian berdua ingin tahu." Rere dan Ningsih sama-sama terkejut.
"Kalian tahu kan aku lagi naksir kak Daniel?" Ningsih dan Rere saling mengangguk tanpa suara menjawab pertanyaan Kansari. Sedangkan Jully yang sudah tahu sejak awal memilih untuk diam saja dan dengan santai melanjutkan menikmati semangkuk bakso di hadapannya yang tinggal separuh.
"Ternyata kak Daniel sudah punya pacar dan pacarnya itu adalah adiknya kak Wigih." Kansari menundukkan wajahnya saat mengatakan itu. Masih terlihat jelas sisa-sisa kesedihan di raut wajahnya.
"Apa?!" Ningsih dan Rere kompak berteriak saking terkejutnya membuat beberapa orang di sekitar mereka berpaling melihat ke arah meja mereka.
"Yaelah... Gak usah teriak napa?" Kata Jully sambil mengusap kedua telinganya yang masih berdengung.
"Kamu sudah tahu Jull?" Tanya Rere, Jully pun hanya mengangguk.
"Kok kalian gak pernah cerita sama kami berdua?!" Protes Ningsih setengah jengkel karena hanya dia dan Rere yang tidak tahu.
"Nah kan sekarang sudah cerita, lagian Sarsar juga sudah gak apa-apa." Jawab Jully yang masih saja santai menghadapi teman-temannya.
"Iya guys... Aku sudah baik-baik saja kok, tenang saja gak usah khawatir." Seloroh Kansari sembari memperlihatkan sederet gigi putihnya yang rapi di dalam senyuman.
"Serius?" Tanya Rere memastikan, dia tidak ingin sahabat centilnya itu kembali bersedih.
"Suer!!" Jawab Kansari tegas sembari mengangkat jari telunjuk dan jari tengah secara bersamaan.
"Udaaahh maka dari itu gak usah dibahas lagi." Jully kembali menengahi, dia tidak ingin Kansari kembali baper dan menangis kalau mereka mengungkitnya kembali.
"Okey deh... Kita selesaikan dulu makanannya habis itu kita balik ke kelas sebelum ke stadium." Ucap Rere menyerah.
"Iya, sekalian beresin meja dan buku yang ada di meja biar ntar kalau mahu pulang bisa langsung cuuss..." Balas Ningsih menanggapi.
Akhirnya mereka menghabiskan bakso mereka dengan tenang dan kembali ke kelas setelah membeli berapa camilan dan minuman.
Setelah berada di kelas mereka segera membereskan dan merapikan buku-buku untuk dimasukkan kembali ke dalam tas mereka masing-masing. Saat Jully mengambil salah satu bukunya yang ada di bawah laci mejanya ada sesuatu yang jatuh dari sana. Ketika Jully mengambilnya ternyata itu merupakan surat dari Cancer Boy yang beberapa minggu ini tidak pernah dia temukan di laci mejanya.
"Kapan ini diletakkan di sini ya? Perasaan tadi gak ada, tadi pagi cuma ada juice strawberry saja deh... Atau mungkin akunya saja yang kurang awas." Gumam Jully.
"Jully ayo! Buruan ntar gak dapat tempat paling depan lho..." Teriakan Kansari membuyarka apa yang ada dipikirannya. Ternyata tanpa ia sadari teman-temannya sudah menunggunya di depan pintu kelas.
"Ehh emm... Kalian duluan saja, aku belum kelar nih, ntar aku nyusul." Ujar Jully beralasan.
"Ya sudah kami duluan, ntar aku patokin tempat buat kamu, jangan lama-lama ya!" Jully mengacungkan jempol tangannya sebagai jawaban dari ucapan Kansari.
Setelah trio KRN meninggalkanya seorang diri di kelas, karena memang semua anak sudah meninggalkan kelas yang tersisa hanyalah Jully saja. Jully segera membuka amplop biru muda itu, mengeluarkan selembar kertas dari dalam sana dan membaca isi surat itu. Betapa terkejutnya Jully saat membaca isi surat tersebut, jantungnya berdegub kencang, hatinya berkecamuk. Lalu tanpa pikir panjang lagi dia segera berlari keluar dari kelasnya. Dia terus berlari melewati lorong-lorong kelas tanpa memikirkan langkahnya. Sudah beberapa orang yang sudah ia senggol bahu kanan atau kirinya. bahkan beberapa orang mengumpatinya karena tidak berjalan dengan benar, namun ia tak peduli dan hanya bisa berujar maaf lalu kembali berlari kecil dengan tergesa-gesa. Napasanya tersengal-sengal setelah ia sampai di depan pintu masuk stadium basket. Ternyata tempat inilah tujuan Jully. Di dalam sudah cukup ramai saat kakinya melangkah ke dalam, sepertinya pertandingan sudah dimulai. Jully terdiam sejenak, matanya memindai keseluruh ruangan namun yang terlihat hanyalah lautan manusia berseragam SMA. Matanya melihat kesana kemari seakan mencari sesuatu atau lebih tepatnya seseorang? Di stadium itu sangatlah ramai, lebih ramai daripada saat pertandingan beberapa minggu yang lalu. Terang saja karena ini adalah pertandingan basket antar sekolah bukan antar kelas. Saking ramainya tempat duduk yang ada di tribun itu sudah penuh dan beberapa siswa yang menonton harus rela berdiri di bawah tribun. Akhirnya Jully melihat ada celah untuk dirinya masuk lebih dalam lagi untuk bisa mencapai penonton paling depan. Jully kembali mengedarkan pandangannya setelah mencapai penonton paling depan. Akhirnya pandangan Jully berhenti pada seorang lelaki berseragam basket, namun lelaki itu berdiri di seberang tempat Jully berdiri dan membelakanginya sehingga tidak nampak raut wajahnya. Lelaki itu berada diantara kerumunan pemain lainnya yang tengah menanti giliran untuk bermain. Yang terpenting dari semua itu adalah gelang yang dia pakai sama dengan gelang yang tengah dipakai Jully. "Itu Dia" Gumamnya dalam hati. Jantung Jully semakin berdebar, ada rasa gugup juga. Jully mencoba melipir jalan untuk menuju lebih dekat ke lelaki tersebut. Sesekali matanya mengarah ke arah lelaki itu seakan ia takut jika tiba-tiba lelaki yang dicarinya itu hilang. Namun siapa disangka sebuah bola basket melayang terlalu jauh dan mengenai kepalanya. Jully oleng, badannya yang tidak seimbang karena kejutan dari bola basket itu akhirnya jatuh dan naasnya saat terjatuh kepalanya kembali terbentur salah satu pembatas yang ada di sisi tribun. Semua orang yang melihatnya terpekik kaget dan saling berhamburan mengelilingi Jully yang pandangan semakin buram.
"Jully!! Jull... Jully!!" Sayup-sayup Jully mendengar seseorang meneriakkan namanya. Seseorang di depan matanya itu terlihat buram baginya dan akhirnya pandangan Jully benar-benar gelap.
Bersambung...