
Pagi ini di sekolah Jully berjalan gontai menyesuri lorong jalan menuju kelasnya, sesekali ia menguap, sungguh tadi malam dia susah untuk memejamkan mata dan akhirnya dia benar-benar bisa terlelap jam dua dini hari, itu pun setelah ia memutar musik lulubay dari phonselnya. Dalam hatinya dia mengutuk mulut Kansari yang berani-beraninya mengingatkan kejadian kemarin siang di stadium basket. Akibatnya hari ini dia bangun kesiangan, matanya masih ngantuk namun harus dipaksa untuk terbuka. Bersyukrlah ia masih bisa datang tepat waktu sebelum gerbang sekolah benar-benar ditutup. Ketika sampai di kelasnya dia mendapati Kansari sudah duduk anteng di kursinya dan sedang asyik mengobrol dengan Rere dan Ningsih.
"Hai Jull, kok tumben baru datang?" Sapa Rere yang pertama kali menyadari kedatangan Jully.
Tak langsung menjawab, Jully malah mengalihkan pandangannya ke arah Kansari, dia menatap tajam ke gadis centil itu yang merupakan sahabatnya sendiri.
"Ihh Jully kok ngliatin aku kaya gitu? Nge..ngeri tau?!" Ucap Kansari terbata.
"Kenapa gak jemput aku?! Udah bikin telat gak tanggung jawab lagi!" Tanya Jully dengan sarkasnya. Nahh kan Jully itu kalem, tapi kalau sudah ngamuk mirip singa betina ya diganggu tidurnya.
"Sorry..." Sari mengatupkan kedua telapak tangannya, dia merasa bersalah. "Aku kira kamu sudah berangkat duluan beb... Soalnya tadi aku juga kesiangan, makanya aku langsung ngebut ke sekolah sampai lupa buat jemput kamu." Ucap Kansari beralasan.
"Teruuuss... Setelah ingat, setelah sampai sekolah, lupa gak ngasih kabar juga? Aku berkali-kali telpon juga gak diangkat! Kebangetan kamu Sar." Jully semakin geram.
"Astaghfiurullah... Lupa beb!" Sari segera mengambil ponselnya yang dia simpan di dalam tas, ternyata benar ada banyak panggilan untuknya dari Jully. "Hehe... Banyak banget panggilannya beb, sorry aku silent jadi gak kedengeran." Jawabnya sambil meringis kaku. Kansari semakin takut dan tak enak karena telah mengabaikan sahabatnya itu, pasalnya hari ini Jully terlambat juga karena ulah dirinya tadi malam.
"Huufff... Sudahlah gak ada gunanya juga marah." Jully menghela pasrah, dia mendudukkan dirinya di sebelah Kansari, menyimpan tasnya di samping tempat duduknya. Sementara Rere dan Ningsih yang duduk tepat di belakang mereka hanya bisa mengamati perdebatan dua sahabat itu, karena baik Rere dan Ningsih tidak tahu betul apa yang membuat Jully marah kepada Kansari. Yang mereka berdua tangkap hanyalah kemarahan Jully karena Kansari lupa tidak menjemputnya.
"Sebenarnya ada apa dengan kalian? Sorry kalau aku keppo." Tanya Rere.
"Itu si Sarsar ngerusuh tadi malam bikin orang jadi gak bisa tidur, alhasil aku bangun kesiang, pagi ini gak dijemput, akhirnya naik angkot desak-desakan yang jalannya lambat banget, masih untung aku datang pas gerbang sekolah mau ditutup." Jully menjelaskannya panjang lebar, sedangkan Kansari yang masih merasa bersalah cuma bisa meringis kuda.
"Waahhh... kebangetan kamu Sar, gak tanggung jawab ni anak." Ucap Ningsih.
"Sorry beb... Kilaf." Kansari tak henti-hentinya minta maaf.
"Emang Sari ngerusuhnya gimana?" Tanya Rere.
"Dia tadi malam telpon, katanya tidak bisa tidur soalnya... " Jully melirik ke arah Kansari sebelum melanjutkan ucapannya, "Dia masih kepikiran tentang kompetisi menyanyi yang diadakan di Smile Cafe, acara malam hari dan itu pasti selesai hingga larut, tahu sendiri kan Sari pasti gak dibolehin orang tuanya kalau kalau pulang terlalu larut malam." Jully terpaksa tidak mengatakan hal yang sebenarnya kepada Rere dan Ningsih karena dia sudah janji bahwa pembicaraan mereka tadi malam hanya rahasia mereka berdua saja. Kansari menghela nafas lega karena Jully bisa menjaga rahasia tersebut, dia was-was jika saja Jully mengatakan hal yang sebenarnya pasti sudah banyak sekali wejangan yang bakal dia dapatkan dari Rere dan Ningsih dan itu pasti akan membuat dirinya tambah pusing.
"Ohh masalah itu ternyata..." Kata-kata Rere menggantung di udara ketika suara bas seorang laki-laki terdengar diseluruh ruangan.
"Pagi anak-anak, hari ini kita akan melanjutkan pembahasan tentang.... "
Ternyata guru Matematika sudah memasiki kelas.
"Jull... Makasih ya untuk yang barusan." Kata Kansari setengah berbisik.
"Iyaaa..." Balas Jully lirih.
"Sekali lagi maafin aku ya beb..." Ucap Kansari lagi dengan mata memohon. Jully menatap Kansari seraya menyunggingkan senyumannya lalu mengangguk mengisyaratkan bahwa dirinya sudah memaafkan Kansari, lagian Jully mana tega marah lama-lama dengan teman centilnya itu. Kansari pun tersenyum lebar, ingin bersorak dan memeluk Jully namun saat ini ada guru di depan sana yang sedang mengawasi.
Kemudian Kansari menyikutkan lengannya ke lengan Jully dan pandangannya mengisyaratkan sesuatu melalui dagunya yang mengarahkan ke kotak juice strawberry yang selalu ada di meja Jully. Ahh Jully sampai lupa kalau minuman favoritnya itu selalu tersaji di meja kelasnya. Langsung saja Jully mengambilnya, ternyata sang pengirim memberinya memo lagi. Kali ini tertuliskan "Terimakasih Jully" dan sebuah stiker smile tertempel di sana. Jully berfikir kenapa Mr. W berterimakasih padanya? Memangnya apa yang dia lakukan? Jully melirik ke arah Wicky yang berada agak jauh dari tempat duduknya. Jully masih saja merasa ada yang janggal, kenapa minuman ini masih saja dikirim ke bangkunya? Dan tulisan itu dia merasa pernah melihatnya, tapi dia masih belum bisa mengingatnya dimana dirinya pernah melihat. Dia buru-buru menyimpannya, saat ini bukan waktu yang tepat untuk memikirkan hal ini.
🍓🍓🍓🍓🍓
Waktu begitu cepat berlalu, bel istirahat mengalun indah di telinga setiap siswa. Maklumlah hal ini selalu dinantikan setiap siswa setelah bergelut dengan mata pelajaran yang menjenuhkan bagi mereka. Jully segera membereskan buku-bukunya yang berserakan di atas meja, begitupun Kansari dan lainnya. Mereka berempat sepakat pergi ke kantin bersama, apalagi Jully yang pagi ini tidak sempat untuk sarapan merasakan perutnya sudah melilit ingin diisi. Namun ketia ia hendak menyimpan bukunya di dalam laci mejanya, Jully menemukan surat sampul biru yang tentunya sudah tahu dari mana asalnya. Dia tidak menyadari kalau surat itu ada di sana. Jully mengambilnya, entah mengapa dia ingin membukanya sekarang juga. Akhirnya Jully membukanya dan membaca isinya.
Dear Jully....
Terimakasih untuk suportnya kemarin, aku melihatmu dan aku sangat senang engakau sudah peduli padaku. Yang selalu mengingatmu...
^^^~Cancer Boy~^^^
Surat itu begitu singkat tapi begitu jelas. Jelas bahwa kemarin Cancer Boy ada di dalam stadium basket tapi Jully tidak menyadarinya bahwa sesungguhnya yang dia cari adalah Ketosgan sekolah ini yaitu Wigih Sasongko.
"Ahh mengapa hari ini semua orang berterimakasih padanya ?" Pikirnya.
"Itu dari si Yuyu ya?" Pertanyaan Kansari membuyarkan lamunannya.
"Ahh i iya." Jawab Jully terbata.
Mendengar kata "Yuyu" dari mulut Kansari membuat Rere dan Ningsih ikut penasaran.
"Kamu sudah baca Jull? Apa isinya?" Tanya Ningsih. Jully tidak menjawab, dia memilih menyerahkan surat tersebut agar teman-teman bisa membaca sendiri isinya.
"Hah? Dia kemarin benar-benar ada di stadium basket? Dia ikut pertandingan basket?" Ujar Kansari dengan serentetan pertanyaan yang tidak dapat dijawab oleh Jully.
Jully hanya mengangkat bahunya, "Entahlha..." Katanya.
"Ahh sudahlah, kita lanjut obrolannya di kantin saja, sungguh aku benar-benar lapar hari ini karena tidak sempat sarapan." Ajak Jully
"Aduhh... Maaf ya Jull, aku traktir deh kali ini sebagai permintaan maafku." Ucap Kansari seraya merangkul bahu Jully.
"Kita ditraktir juga kan?" Tanya Ningsih mengharap dengan alis yang dinaik turunkan.
"Apa? Gak ada! Bayar sendiri-sendiri, ini khusus Jully! Jawab Sari tegas.
"Yeee pelit!" Balas Ningsih mencibir.
"Biarin, dari pada tekor, uang jajan nipis juga." Kansari berseloroh.
"Haha... Sabar ya Ning." Rere terkekeh sambil menepuk pundak Ningsih lalu menggiring gadis berbadan semok itu mengikuti Kansari dan Jully yang sudah berjalan lebih dulu.
Sesampainya di kantin Jully memilih memesan nasi gorengnya bu Siti, mengingat dirinya belum makan apapun hari ini dan hanya meminum juice strawberry yang terdpat di mejanya. Sedangkan yang lain memilih bakso pak Somat untuk mengisi perut mereka. Untuk minumannya mereka kompak dengan es teh manis untuk cuaca yang panas ini. Mereka berempat makan dengan tenang dan sesekali bercanda, hingga sebuah mangkuk bakso dan segelas es jeruk mendarat di meja mereka.
"Hai.. Jully kan?" Tanya seorang gadis cantik dengan senyum ramah.
"Kak Anita?" Ya gadis itu adalah Anita, enatah ada angin apa perempuan itu datang menghampiri Jully dan teman-temannya.
"Iya, aku Anita, ternyata kamu masih ingat." Ungkapnya dengan tetap tersenyum ramah, berbeda dengan terakhir kali mereka bertemu yang dimana Anita menunjukkan wajah yang kurang bersahabat.
"Aku boleh gabung kalian gak?" Tanyanya lagi.
Jully memandang temannya satu persatu lalu mengalihkan pandangannya kembali ke Anita.
"Boleh kak, silahkan." Jawab Jully seraya tersenyum kikuk.
"Kalian selalu kompak ya... Kemana mana selalu bersama." Kata Anita.
"Iya kak, kami sudah merasa cocok sejak awal masuk kemarin dan sejak itu kami selalu bersama-sama." Terang Jully.
"Senang ya bisa punya banyak teman yang selalu setia seperti kalian." Ungkap Anita seraya tersenyum dan senyumnya kali ini terlihat lebih tulus.
"Kak Anita sendiri juga pasti punya teman kan?" Ucap Jully dan Anita pun menggeleng pelan.
"Sejujurnya aku bisa dibilang tidak pernah benar-benar punya teman." Ucapnya seraya tersenyum miris dengan pandangan menunduk dan tangannya mengaduk aduk bakso yang ada di hadapannya.
"Kenapa begitu?" Tanya Jully heran dan membuat yang lainnya pun tidak menyangka gadis se-perfect Anita tak punya teman di sisinya.
"Ya... Karena mereka tidak benar-benar berteman denganku, mereka hanya mendekat jika sedang butuh atau hanya karena ingin terlihat populer di mata teman yang lainnya dan di saat aku tidak bersama mereka maka mereka akan menggunjingkanku di belakangku. Maka dari itu aku hanya berteman seadanya dengan mereka." Jawab Anita mengungkapkan apa yang terjadi pada dirinya dan dia tak menyangka dirinya bisa berkata jujur di hadapan Jully serta teman-temannya dengan santai. Entah mengapa dia merasa nyaman dengan mereka yang baru dia kenal dan dia merasa sedikit malu karena pernah melakukan hal yang kekanakan terhadap Jully tempo hari di kolam renang.
"Tapi kakak kan berteman baik dengan Kak Wigih dan teman-temannya." Celetuk Kansari.
"Itu karena kami sesama anggota OSIS dan aku akui berteman mereka lebih nyaman dari pada berteman dengan cewek-cewek bermuka dua yang hanya memanfaatkanku saja. Paling tidak mereka selalu memperlakukanku apa adanya tanpa dibuat-buat." Jawaban Anita membuat mereka mengerti bahwa sebenarnya Anita bukanlah perempuan yang jahat, dia hanyalah gadis yang kesepian. Sungguh kasihan.
"Ohh ya Jully, aku mau minta maaf atas sikapku di kolam renang tempo hari, tak seharusnya aku berlaku kekanakan sepeeri itu." Ucapnya tulus.
"Gak apa-apa kok kak, aku sudah memaafkannya kok." Jawab Jully dengan tersenyum.
"Terimakasih ya Jully, kamu memang anak yang baik." Anita merangkum tangan Jully yang ada di atas meja untuk digenggamnya. Hatinya kini merasa lega seakan beban di pundaknya telah terangkat.
"Sama-sama kak." Balas Jully.
"Ohh ya, kamu tidak ingin menjenguk Wigih?" Tanya Anita.
"Ahh iya, kak Wigih kemarin habis cidera, tapi kemarin setelah di bawa ke UKS katanya tidak apa-apa cuma perlu istirahat saja." Ungkap Jully.
"Aku rasa kamu salah, karena kemarin setelah menemui dokter yang jaga di UKS, dia harus di rujuk ke rumah sakit untuk pemeriksaan lebih lanjut, dan ternyata cideranya lumayan serius sehingga harus di rawat di rumah sakit." Terang Anita membuat Jully terkejut.
"Serius kak?" Tanya Jully memastikan.
"Iya benar, Rendi yang mengatakannya karena dia beserta Daniel dan Nouval yang mengantarnya ke rumah sakit." Anita meyakinkannya.
"Tapi kenapa kak Wigih tidak mengatakannya?" Gumam Jully.
"Mungkin dia tidak ingin kamu khawatir." Ucap Anita. "Ya sudah lanjut gih makannya, nanti kamu kan bisa jenguk dia." Tambahnya.
"Iya kak, terimakasih infonya." Balas Jully yang diangguki oleh Anita.
Hari ini Jully mengetahui banyak hal tentang Anita yang ternyata tak seperti apa yang dia dan teman-temannya pikirkan. Ternyata dia gadis yang baik yang tidak bisa begitu percaya dengan orang-orang di sekitarnya yang hanya memanfaatkannya. Jully bersyukur karena dia dikelilingi oleh teman-teman yang hebat seperti mereka. Andai mereka bisa seperti ini hingga dewasa alangkah bahagianya Jully. Apa yang dirasakan Anita sedikit banyak Jully bisa mengerti karena dia pernah merasakan di posisi yang sama. Kesepian.
Bersambung....