
Jully dan Wigih masih terjebak di dalam restoran, mereka bingung bagaimana caranya keluar dari sana. Sebenarnya keluar dari sana sangatlah mudah, mereka bisa keluar melewati pintu restoran tanpa diketahui oleh Rere maupun Nouval. Namun yang menjadi masalah adalah letak kasir yang jaraknya tidak jauh dari meja dua orang yang sedang bernostalgia itu. Jadi mahu tak mau Jully dan Wigih harus berjalan melewati meja kedua temannya itu.
"Mas, gimana ini? Kita kan mau keluar, tapi kok susah banget ya? Berasa jadi penguntit deh... Padahal kita gak sengaja nguntit, ehh!" Jully langsung menutup mulutnya setelah mengatakan itu, sementara Wigih cuma geleng-geleng kepala melihat keabsurdan pacarnya.
"Ya biar saja ketahuan, kita tinggal pura-pura saja tidak tahu kalau mereka juga ada di sini." Usul Wigih.
"Benar juga ya mas, ya sudah yuk! Keburu nyari kado buat ibu." Jully langsung berdiri dari tempat duduknya, dia tidak mau membuang waktu lagi menunggu mantan sejoli itu keluar dari restoran. Wigih pun ikut berdiri dan meraih tangan Jully untuk digandengnya.
Sesuai rencana, Jully dan Wigih pura-pura tidak melihat ke arah dimana Nouval dan Rere duduk dan melewati mereka begitu saja. Namun ternyata Nouval menyadari hal itu dan secara spontan memanggil nama Wigih.
"Wigih?!" Sapa Nouval dengan nada yang seakan tidak percaya jika sahabat sekaligus sepupunya itu berada di tempat yang sama dengannya.
"Lho... Nouval, kamu di sini juga?" Tanya Wigih pura-pura tidak tahu.
"Lho... Rere? Kok kamu di sini sama kak Nouval?" Jully pun mengikuti sandiwara Wigih yang pura-pura terkejut melihat Rere bersama Nouval.
"Jully... ah, ehm... A, aku..." Rere tergagap, dia bingung harus menjelaskan bagaimana lagi ke Jully.
"Kami tidak sengaja bertemu, kebetulan aku ada janji dengan klien tapi sepertinya mereka akan terlambat dan tidak sengaja bertemu Rere, iya kan Re?" Nouval langsung memotong ucapan Rere dan berkilah jika mereka hanya tidak sengaja bertemu.
"Iya betul, tadinya aku sedang berbelanja keperluan sekolah anak-anak, tapi karena hari ini aku tidak memasak, aku pikir akan membeli makanan untuk dibawa pulang, namun tidak sengaja bertemu kak Nouval." Jawab Rere sambil memperlihatkan barang belanjaannya, menyempurnakan alasan yang dibuat Nouval.
"Ha.. haha.. ha.. Begitu ya? Kirain kalian sengaja bertemu dan mengenang masa lalu." Seloroh Jully dengan tawa canggungnya.
Uhuk.. uhukk..!
Nouval langsung keselek ludahnya sendiri ketika mendengar ucapan Jully yang setengah menyindir.
"Kenapa bro? Tiba-tiba keselek gitu?"
"Gak apa-apa kok, cuma tenggorokanku agak gak enak saja." Kilah Nouval.
"Minum dulu kak." Rere langsung menyodorkan gelas minuman Nouval yang berisi es jeruk itu.
"Kalau tengorokan lagi tidak enak, jangan minum es atau minuman yang dingin-dingin nanti tenggorokanmu malah terjadi peradangan. Minum yang anget-anget saja, tapi jangan minum kopi atau minuman berkafein, soda juga gak boleh!" Nasehat Wigih.
"Iya, iya pak dokter...." Sahut Nouval.
Sebenarnya Jully dan Wigih ingin sekali tertawa melihat ekspresi dan tingkah laku Nouval dan Rere yang sama-sama kelabakan. Mungkin mereka berdua merasa sedang kepergok, sekan mereka kepergok berselingkuh oleh pasangan masing-masing. Dan seketika suasana canggung menyelimuti mereka berempat.
"Ohh ya, aku sama Jully sudah mau keluar, ini tadi niatnya mau ke kasir buat bayar, tapi gak tahunya malah ketemu kalian berdua."
"Ahh okey, aku tunggu di kantorku nanti." Jawab Nouval merasa terimidasi padahal Jully mengatakannya dengan tenang seoalah tidak ada maksud apapun tapi nada pengucapannya entah mengapa membuat bulu kudu Nouval merinding. Sementara Rere juga merasakan hal yang sama, dia merasa setelah ini Jully akan menguliti tubuhnya dengan berbagai macam pertanyaan. Jadi dia hanya bisa tersenyum canggung dan mengangguk saja pada Jully.
"Yuk mas..." Ajak Jully dengan menggamit lengan Wigih mesra.
"Iya sayang, duluan ya?" Wigih pun menepuk bahu Nouval sebelum melangkah pergi, tapi bukan hanya menepuk saja, Wigih sedikit menekan bahu Nouval seakan memperingatkan jika lelaki itu harus menjelaskan semuanya nanti padanya.
Sementara Wigih dan Jully pergi ke meja kasir, Rere dan Nouval masih di tempat itu sambil mengawasi sepasang kekasih itu hingga keduanya keluar dari restoran. Dan akhirnya Rere dan Nouval bisa bernapas lega seakan bahaya yang mengancam mereka berdua menghilang setelah Jully dan Wihgih pergi.
"Fyuuhh... Mengapa mereka berdua sangat menyeramkan sekali? Apa mereka selalu terlihat seperti itu? Maksudku aku kan sudah lama sekali tidak bertemu mereka, mungkin kalau Wigih aku mengerti dia meski terlihat tenang namun selalu ada sesuatu dipikirannya. Tapi Jully? Apa dia juga seperti itu?" Tanya Nouval pada Rere dan Rere hanya bisa mengangguk.
"Waahh... Sungguh pasangan yang mengesankan, tak heran mereka berdua begitu cocok." Nouval merasa takjub dengan pasangan dua sejoli yang merupakan sahabatnya itu.
"Kalau begitu aku pulang dulu kak." Pamit Rere berdiri dari tempat duduknya.
"Baiklah aku juga harus pergi." Namun saat Nouval akan beranjak dari tempat duduknya Rere langsung mencegahnya.
"Jangan kak! Kakak tidak boleh pergi dari tempat ini sebelum aku benar-benar pergi dari sini. Dan satu lagi, kakak boleh keluar setelah menunggu kurang lebih tiga puluh menit! Aku tidak ingin ada teman kita yang lainnya yang melihat jika kita keluar dari tempat yang sama." Perintah Rere.
"Baiklah..." Mahu tidak mau Nouval menyetujuinya, dipikir-pikir juga ada benarnya dan ide Rere ini bukan ide yang buruk.
"Okey aku pulang dulu ya kak." Sekarang Rere benar-benar beranjak dari tempat duduknya dan keluar dari restoran.
Nouval mendesah panjang, menghembuskan napas beratnya dan menyugar rambutnya dengan jari-jarinya menjadikan rambutnya sedikit berantakan. Namun justru itu membuat kadar ketampanannya bertambah, wanita siapapun yang melihatnya pasti langsung terhipnotis. Dan terbukti beberapa wanita yang melihat ke arahnya melihat tak berkedip dengan tatapan memuja. Nouval menghabiskan sisa kopinya dan sekilas melirik ke arah jam tangannya. Menyadari waktu setelah Rere pergi sudah lewat tiga puluh menit, Nouval langsung berdiri menuju meja kasir untuk membayar apa yang dia pesan tadi bersama Rere dan langsung keluar dari sana dengan agak terburu-buru, masalahnya ada pekerjaan yang sudah menunggunya terlebih nanti dia ada janji temu dengan Jully. Nouval yakin Jully pasti menanyakan sesuatu mengenai pertemuan dia hari ini dengan Rere yang tidak sengaja kepergok Jully dan Wigih.
Tanpa Nouval dan Rere sadari ada seseorang yang duduk tepat di belakang mejanya tadi, hanya saja tempat duduk itu terhalang oleh sekat bambu sebatas dada orang dewasa, jadi mereka tidak akan tahu siapa yang duduk dibalik meja tempat duduknya.
Kansari menurunkan katalog kain batiknya yang sengaja dia buat untuk menutupi wajahnya ketika satu-satu temannya keluar dari restoran itu. Ya benar, orang yang duduk tepat di belakang meja Rere dan Nouval adalah Kansari. Kansari baru saja menemui costumernya di tempat itu untuk bertransaksi batik, karena dia sedikit lelah dan lapar maka ia putuskan tetap di situ untuk makan setelah costumernya pergi. Namun tanpa di duga dia melihat Rere memasuki restoran itu, waktu itu Kansari ingin menyapanya namun tiba-tiba seseorang yang berada di balik mejanya menyapa Rere terlebih dahulu, terpaksa dia mengurungkan niatnya dan secara reflect menutupi wajahnya dengan katalog batik yang ada di mejanya. Waktu itu dia tidak tahu siapa laki-laki yang memanggil sahabatnya itu, selain dia tidak bisa melihatnya langsung, suara lelaki itu serasa asing di telinganya. Namun setelah dia sedikit menajamkan telinganya untuk mencuri dengar pembicaraan Rere dan lelaki itu barulah Kansari tahu bahwa lelaki yang ditemui Rere adalah senior SMAnya dulu yaitu Nouval. Kansari bingung dan penasaran bagaimana bisa seorang Rere yang sedikit pendiam dan cuek bisa kenal baik dengan seorang Nouval yang begitu populer. Disela-sela rasa penasarannya dia kembali dikejutkan dengan melihat pasangan Jully dan Wigih yang juga memasuki restoran itu. Kansari sempat mengira bahwa Jully punya janji temu dengan Rere karena dia melihat ada Wigih juga di sana yang merupakan sahabat dekat Nouval. Tapi prasangka itu langsung dia tepisnya, karena Jully dan Wigih terlihat santai memilih-milih makanan tanpa menyadari keberadaan Rere dan Nouval. Rere dan Nouval pun kelihatannya tidak menyadari keberadaan dua sejoli yang sesang dimabuk cinta itu. Jadi Kansari menebak jika kedatangan kedua pasan temannya itu tidak saling berhubungan. Prasangkanya itu terbuti ketika Wigih yang menyadari terlebih dahulu keberadaan Rere dan Nouval namun tidak langsung menyapa mereka, justru Wigih dan Jully mengendap-endap pergi ke meja lain agar tidak ketahuan oleh Nouval dan Wigih. Dan pada akhirnya Kansari ikut terjebak di dalam restoran itu, di sana dia juga bisa mendengar semua pembicaraan Rere dan Nouval. Bukannya berniat menguping tapi dia terpaksa menguping, apalagi mejanya hanya terhalang sekat bambu dengan meja Nouval dan Rere jadi meski tidak berniat menguping suara mereka berdua masih terdengar jelas. Bisa dibayangkan alangkah terkejutnya Kansari pada waktu itu ketika mendengar kebenaran yang sesungguhnya. Selama ini tidak ada yang tahu hubungan sahabatnya itu dengan salah satu most wanted sekolahnya dulu kecuali Jully.
Kansari lengsung menghempaskan punggungnya ke sandaran kursi. Dia merasa baru mendapat pasokan oksigen setelah semua teman-temannya pergi. Mungkin dia akan mengintrogasi Jully sebelum memaksa Rere untuk menjelaskan apa yang dia dengar tadi.
"Astaga nagaaa... Bagaimana bisa aku tidak tahu cerita seperti ini? Kenapa aku bisa melewatkannya? Waaahh ternyata Rere diam-diam menyembunyikan rahasia kepada kami atau memang hanya diriku saja yang tidak tahu?" Kansari bergumam sendiri, dia tidak menyangka dia yang merupakan ratu gosib sampai tidak tahu berita besar yang disembunyikan sahabatnya sendiri. Banyak pertanyaan yang menyelimuti pikirannya saat ini.
"Baiklah! Aku akan mencari tahu sendiri nanti." Kansari pun beranjak dari temapt duduknya meninggalkan restoran itu setelah membayar makanannya.
Waaahh sepertinya bakalan ada sirene bahaya yang akan mendatangi Rere.
Bersambung....