
Minggu telah tiba, pagi ini Jully bangun lebih awal. Dia sudah bersiap-siap dengan pakaian olahraganya, tadi malam Wigih menelponnya dan mengajaknya untuk joging bersama pagi ini. Tak berselang lama sebuah pesan masuk dari phonselnya. Sebuah senyum mengembang dari sudut bibirnya ketika membuka pesan tersebut.
Wigih:
Sayang sudah siap? Aku menunggumu di bawah.
^^^Jully:^^^
^^^Aku akan keluar sekarang.^^^
Setelah itu Jully bergegas keluar dari apartemennya sambil menyambar sebuah handuk kecil yang ia sampirkan di pundaknya.
Sesampainya di bawah, Jully melihat Wigih sedang duduk di sofa lobby apartemennya lengkap dengan pakaian olahraga. Jully pun menghampirinya dengan senyum secerah Mentari pagi ini.
"Pagi kak... Nunggu lama ya?" Sapa Jully.
"Pagi juga sayang... Nggak kok, udah siap kan? Yuk berangkat." Ajak Wigih yang langsung menggandeng tangan Jully dan keluar dari area gedung apartemen. Mereka akan joging di sekitar area apartemen yang memang tersedia untuk dijadikan tempat berolahraga. Apalagi di hari Minggu pagi seperti ini banyak orang-orang baik tua, muda dan anak-anak yang menyempatkan diri mereka untuk berolahraga atau hanya sekedar jalan-jalan pagi di sekitar taman di sana.
Jully dan Wigih terlihat berlari-lari kecil diantara beberapa orang yang juga melakukan hal yang sama. Banyak mata yang melirik mereka berdua, bahkan ada yang terang-terangan melihat dan menebarkan senyum menggoda. Maklum mereka terlihat sedap dipandang meski keringat bercucuran di tubuh mereka. Apalagi Wigih yang mempuyai wajah diatas rata-rata, banyak para wanita terutama gadis-gadis yang joging di sana memandang takjub oleh ketampanannya. Sedangkan Wigih tak perduli akan hal itu, pria itu terkesan cuek pada sekitarnya. Jully yang berlari di belakangnya terasa semakin gerah pada tubuh berkeringatnya ketika para wanita-wanita itu memandang kekasihnya. Tak ayal para kaum hawa itu berlari mengikuti rute yang dilalui Wigih. Jully pun tak akan membiarkan wajah tampan kekasihnya itu menjadi tontonan segar para wanita genit mata keranjang yang ada di sekitarnya. Jully mulai menambah kecepatan larinya agar bisa menyusul Wigih yang berlari tak jauh di depannya.
"Sayang... Aku sudah capek, istirahat sebentar ya?" Wigih langsung menghentikan larinya dan memandang tak percaya atas apa yang baru saja dia dengar. Jully memanggilnya 'Sayang' untuk pertama kalinya. Sedetik kemudia Wigih melirik sekitarnya dan ia langsung mengulum senyumnya.
"Capek ya sayang? Duuhh...keringatnya banyak banget." Wigih langsung mengambil handuk kecilnya dan menyeka keringat yang jatuh ke dahi Jully. Seketika wanita-wanita yang tadinya terang-terangan memandang Wigih langsung bubar jalan.
"Ihh... Kak Wigih kok senyam-senyum sih dari tadi? Emang ada yang lucu?" Tanya Jully heran.
"Yang lucu itu kamu." Sahut Wigih sambil mencubit gemas hidung Jully membuat Jully meringis meskipun cubitan Wigih tak terasa sakit sama sekali.
"Kok aku yang lucu?" Tanyanya tak mengerti.
"Iya kamu! Kamu itu kalau cemburu lucu banget, bikin gemes tahu gak?" Ujar Wigih yang kali ini menangkupkan kedua tangannya di kedua pipi Jully dengan gemas. Sungguh melihat Jully yang sedang cemburu itu adalah pemandangan yang menyenangkan baginya.
"Iihh... Siapa yang cemburu? Gak ya, mana ada aku yang cemburu." Elaknya seraya memalingkan wajahnya ke samping menghindari tatapan Wigih yang membuatnya semakin malu.
"Gak apa kok kalau kamu cemburu. Justru itu lebih bagus, itu tandanya kamu beneran sayang dan cinta sama aku." Tangan Wigih meraih wajah Jully agar kekasihnya itu kembali menatapnya. Wigih mengulum senyumnya ketika melihat wajah merona sang kekasih.
"Apaan sih kak... Bikin aku malu deh..." Jully tak kuasa menyimpan degup jantungnya yang berdebar bagaikan genderang dan membuatnya tersipu.
"Kok manggilnya kakak lagi? Padahal tadi aku sudah senang lho pas dipanggil 'Sayang'." Goda Wigih yang semakin membuat pipi Jully merona.
"Masa sih? Kok aku gak ingat ya? Kakak salah dengar kali." Ujar Jully mengelak sambil menyelonong pergi meninggalkan Wigih yang masih terpaku di sana dengan kekehan yang tertahan.
"Lho sayang aku kok ditinggal? Sayang... sayang... Tunggu dong sayang..." Wigih pun langsung mengejar Jully yang sengaja berlari saat melihat Wigih mengejarnya. Alhasil malah terjadi aksi kejar-kejaran antara mereka berdua, sudah mirip adegan di film India saja.
Akhirnya mereka berdua capek sendiri dan memilih duduk begitu saja di bawah dengan kaki berselonjor. Napas mereka saling menderu naik turun, keringat sudah bercucuran begitu banyak.
"Capek...haus..." Keluh Jully.
"Bentar ya, aku beli minum dulu, kamu tunggu saja di sini." Jully mengangguk setuju dan Wigih segera beranjak pergi untuk mencari penjual minuman.
Tidak lama kemudian Wigih sudah kembali dengan dua botol air mineral. Wigih menyodorkannya pada Jully setelah membukakan tutup botolnya terlebih dahulu. Jully menerimanya, mengucapkan terimakasih lalu meneguk air minumnya hingga sisa setengah botol. Wigih yang melihatnya pun tersenyum dan menyeka sisa-sisa keringat Jully yang masih menetes mengenai pipi cubby perempuan itu.
"Ahh segarnya... Lama banget aku gak olahraga seperti ini, rasanya tulang-tulangku mau remuk." Keluh Jully sambil memijat-mijat sendiri kedua kakinya.
"Itu karena kamu gak pernah olahraga saja, apalagi beberapa waktu yang lalu kamu sudah mengalami tidur yang begitu panjang, wajar kalau otot-otot di tubuhmu menjadi kaku." Kata Wigih yang dibenarkan oleh Jully.
"Kakak habis ini jadi ke Rumah Sakit?" Tanya Jully.
"Jadi, nanti jam sembilan berangkat, mungkin akan selesai tepat sebelum jam makan siang." Jawab Wigih.
"Sebenarnya hari ini aku ada jadwal cek up ke dokter Ibrahim. Seharusnya jadwalnya besok tapi aku meminta ke dokter Ibrahim mengajukan harinya dan kebetulan beliau bersedia." Ungkap Jully.
"Oh ya? Kenapa?" Tanya Wigih.
"Karena besok ada pekerjaan yang harus aku selesaikan dan aku ada janji juga dengan kak Nouval." Jawab Jully yang membuat Wigih sedikit terkejut.
"Bagaimana ceritanya kalian bisa bertemu?" Tanya Wigih lagi dengan rasa penasarannya.
"Ingat saat kak Wigih pertama kali datang ke firma hukumku?" Wigih mengangguk. "Sebelum itu kak Nouval datang dan meminta tolong padaku untuk mengurus perceraiannya." Lanjut Jully.
"Cerai? Nouval mau bercerai dengan istrinya?" Tanya Wigih membeo.
"Iya, itu yang aku dengar darinya kemarin lusa. Memangnya dia tidak mengatakan apapun pada kakak?" Wigih menggeleng.
"Bahkan dia tidak mengatakan apapun kalau dia sudah pulang ke Indonesia." Ujar Wigih kemudian.
"Oh ya? Bukankah kalian bersahabat... Kak Rendi saja tahu." Ujar Jully.
"Rendi tahu?" Wigih membeo lagi.
"Iya, soalnya kak Rendi lah yang merekomendasikan firma hukumku untuk mengurusi kasusnya."
"Ah aku baru ingat, dia pernah menghubungiku beberapa kali tapi aku tidak bisa mengangkatnya karena pada waktu itu aku sangat sibuk dan tidak memungkinkan untuk mengangkatnya." Kata Wigih setelah mengingatnya.
"Sebaiknya kakak menghubunginya balik, mungkin dia membutuhkan teman untuk bercerita." Nasehat Jully mengingatkan.
"Baiklah, aku akan menghubunginya nanti. Terimakasih sayang sudah mengingatkan." Ucap Wigih seraya mengusap lembut pucuk kepala Jully dengan senyum yang tersungging dari bibirnya.
"Oh ya kak, nanti malam jadi ngantar aku ke pernikahan Wicky kan?" Tanya Jully.
"Iya dong... Mana bisa aku membiarkan kekasih cantikku ini pergi sendiri ke tempat mantan gebetannya." Sungut Wigih yang membuat Jully terkekeh geli.
"Haha... ya ampun kak, kakak manis sekali kalau sedang cemburu." Goda Jully.
"Waaahh sudah pandai menggodaku ya sekarang." Sahut Wigih yang disambut tawa oleh Jully dan itu menular ke Wigih juga. Akhirnya mereka tertawa bersama.
"Mau sarapan bareng dulu sebelum pulang?" Tawar Wigih yang diangguki Jully.
"Nanti mau sekalian berangkat ke Rumah Sakit bersama?" Tawar Wigih lagi namun kali ini dia menerima gelengan kepala dari Jully sebagai jawabannya.
"Maaf kak... Aku akan berangkat sendiri saja, aku sudah ada janji berangkat dengan ibu nanti." Kata Jully sedikit merasa tak enak melihat Wigih yang sedikit menyesal.
"Aku bisa mengantar kalian berdua." Tawar Wigih yang belum menyerah juga.
"Kalau begitu kakak akan terlambat menemui pasien kakak karena aku membuat janji dengan dokter Ibrahim nanti jam sepuluh."
"Sayang sekali, padahal aku ingin menyapa calon ibu mertuaku." Ucap Wigih lesu.
"Haha... Kapan-kapan saja, lagian ibuku belum tahu kalau kita sudah jadian. Jika ibu mengetahuinya aku yakin dia akan lebih heboh daripada saat dia menang arisan." Ujar Jully sembari tertawa mengingat betapa ibunya itu sangat menyukai 'Nak Ganteng' Dokgannya ini.
"Baiklah terserah kamu saja, kita beli sarapan sekarang?" Ajak Wigih sembari berdiri dari duduknya dan mengulurkan tangannya pada Jully, membantu wanita yang menjadi kekasihnya itu berdiri.
"Okey.. Yuk!" Sambut Jully.
Bersambung....
🍓
🍓
🍓
🍓
Wigih dan Jully yang kelelahan habis lari pagi.
💕🍓💕🍓💕🍓💕🍓💕🍓💕🍓💕🍓💕🍓