
Di pagi yang gerimis ini Jully telah memakai seragamnya dengan rapi, bersiap untuk berangkat ke sekolah. Dia sangat bersemangat meski keberangkatannya ke sekolah hari ini ditemani dengan gemericik hujan, meski faktanya Jully sangat tidak menyukai hujan, dia suka dengan bau tanah setelah hujan, tapi tidak dengan hujannya. Aneh bukan? Begitulah Jully, gadis yang menarik bukan? Dia gadis yang ceria, apa adanya dan juga gak neko-neko, ramah pula dengan orang lain, maka tak heran ada beberapa teman di sekolahnya yang menggandrunginya. Yang terang-terangan atau yang sembunyi-sembunyi seperti halnya bukti yang ada di atas nakas kamar Jully. Bunga Chrysan Putih yang didapatnya dua hari lalu dari si Cancer Boy kini menghiasi kamarnya masih terlihat segar, tentu saja...karena Jully telah memindahkannya ke dalam vas bungas dan mengisinya dengan air agar bunga tersebut tak akan layu. Mungkin besok atau lusa beberapa dari kelopak itu akan mulai layu dan berjatuhan satu per satu, namun Jully sudah yakin tak akan membuang bunga tersebut meski sampai mengering sekalipun. Dipandanginya bunga tersebut, sesekali dia mendekatkan hidungnya dan menghirup wanginya sembari tersenyum. "Selamat Pagi Cancer Boy". Ucapnya dengan senyum yang masih merekah. Setelahnya dia melangkah keluar dari kamarnya dengan tas sekolah yang sudah siap di punggungnya. Jully melangkahkan kakinya menuju meja makan, di sana telah duduk mbak Enin yang sudah menunggunya untuk sarapan bersama.
"Lho... tumben mbak belum berangkat kerja?" Alih-alih menyapa kakaknya dengan ucapan selamat pagi, Jully malah bertanya perihal kakaknya yang tumben saja masih di rumah pagi ini, ini sudah pukul 06.30 pagi dan dia masih menemukan kakaknya duduk santai di meja makan, bahkan kakaknya itu sempat menyiapkan sarapan untuk mereka berdua disaat ibunya tidak berada di rumah.
"Mbak sedang ada kerjaan di luar kantor, jadi bisa sedikit longgar hanya untuk membuat sarapan. Nasi goreng gak papa kan?" Terang kakaknya sambil menawari Jully nasi goreng untuk sarapan pagi ini. Yang hanya dibalas dengan "oh" saja oleh Jully, kemudian mereka melakukan sarapan pagi dengan tenang.
Selepasnya sarapan, mereka berangkat menuju tujuan masing-masing. Hari ini Jully tidak berangkat sendiri, Kansari menjemputnya dengan motor barunya. Lumayanlah uang sakunya aman, tidak harus berkurang untuk membayar ongkos angkot dan untuk sarapan di kantin sekolah.
"Duuhh... senengnya sampai senyum-senyum begitu." Sapa Kansari saat Jully menghampirinya di depan rumah Jully.
"Iya dong... perut kenyang habis sarapan, setelah itu ada yang jemput buat berangkat sekolah, aman sudah uang saku." Jawab Jully riang.
"Ckckck... bahagia bener ya hidup kamu Jull." Balas Kansari dengan berdecak takjub atas jawaban Jully.
"Udah yuk berangkat!" Ajak Jully yang langsung menaiki motor Kansari di jok belakang. Kemudian Kansari pun melajukan motornya menuju ke sekolah.
Tak butuh waktu lama merekapun sampai ke sekolah. Baru saja Sari mematikan mesin motornya dan hendak turun, dia melihat pemandang yang menarik di depan gerbang sekolah. Terlihat Wicky tengah asyik ngobrol dengan seorang siswi di samping motornya yang masih dia tuntun. Sesekali mereka tertawa dan sesekali si gadis tersipu malu.
"Eh bentar deh Jull, itu bukannya Wicky kan?" Tunjuk Sari mengarah ke dua sejoli yang tengah asyik bercengkrama itu.
"Mana?" Tanya Jully.
"Itu, di depan gerbang... Sama siapa tu?" Tanya Kansari balik. Jully langsung mengarahkan pandangannya mengikuti arah yang ditunjuk Kansari.
"Ohh bukankah itu Raning?" Jawab Jully.
"Masak sih? Raning yang super diam itu? Yang duduknya paling depan itu?" Tanya Kansari tak percaya, cewek pendiam yang cuma mesem aja kalau disapa, bisa seramai dan tertawa riang hanya dengan bersama Wicky.
"Iya, dia." Jully meyakinkan.
"Kok aneh ya?" Kansari merasa curiga mereka ada sesuatu.
"Aneh gimana? Wajar kan sesama teman saling menyapa bahkan bersenda gurau." Sebenarnya Jully sendiri merasakan apa yang Kansari rasakan, yaitu curiga akan kedekatan mereka. Meski sebenarnya Jully tahu hal ini nantinya pasti terjadi, tapi Jully tak habis pikir hal ini terjadi begitu cepat dan terkesan buru-buru untuk Wicky mendekati Raning. Seharusnya Wicky mendekati Raning di akhir semester ini dan itu masih sangat lama, masih beberapa bulan lagi. Paling tidak itu yang terjadi dulu. Tapi mengapa ini harus terjadi begitu cepat? Bisa runyam urusannya, kasihan Raning nantinya bisa terluka. "Dasar Wicky tak punya hati, pikirannya masih sama seperti kala itu." Itu yang ada dibenak Jully.
"Jull, kamu gak papa kan?" Tanya Kansari khawatir.
"Gak papalah... Emang kenapa?
"Kamu gak cemburu apa? Kemarin aja dia seolah olah mendekatimu, sekarang sudah berpindah hati ke cewek lain. Dasar play boy !" Kansari terlihat geram akan kelakuan Wicky.
"Idiihh... Siapa juga yang cemburu?!
"Udah ahh...masuk yuk!"
"Ehh Jull, tunggu dong!"
Sesampainya di kelas, seperti biasa juice strawberry sudah tersaji anteng di meja Jully. Cuma satu yang berbeda sejak hari kemarin, tak ada surat sampul biru muda dari si Yuyu. Entah perasan Jully seperti ada yang kurang tanpa ada kehadiran surat tersebut. "Ah mungkin dia masih dalam fase sibuk." Pikir Jully.
Dari kejahuan Ernita menatap Jully dari tempat duduknya. Tidak ada yang tahu kalau si Ketos tampan pujaan ciwi ciwi di sekolah inilah biang keladi kisah romance juice strawberry di kelas ini yang bikin penasaran seisi kelas, bahkan di kelas lainpun sudah tersebar beritanya. Mereka semua juga tidak ada yang tahu jika Ernita adalah adik kandung dari seorang Wigih Sasongko, dia sengaja merahasiakannya dari teman-temannya di sekolah ini, bahkan meminta kakak gantengnya itu untuk merahasiakannya pula. Alasannya yaitu dia tidak mahu menjadi sasaran cewek-cewek yang menyukai kakaknya itu dengan menjadi perantara agar mereka bisa mendekati kakaknya. Tidak lagi dia mengacaukan ketenangan hidupnya seperti saat SMP dulu. Ernita bergidik ngeri mengingat kelakuan cewek-cewek tersebut di waktu itu. Dia sedikit penasaran apa sebenarnya yang kakak tercintanya sukai dari seorang Jully Mahardika? dan apa yang akan terjadi jika Jully mengetahui yang sebenarnya? Akankah berjalan lancar hubungan mereka atau malah menjadi masalah bagi kakaknya? Misalnya Jully menolaknya... Karena dari pengamatannya selama ini, Jully merupakan gadis yang lumayan cerdas, ramah, cantik tapi tidak sok cantik dan yang pasti bukan hanya kakaknya saja yang mengincar Jully untuk dijadikan kekasihnya. Wicky misalnya, Ernita juga tahu jika lelaki itu tengah gencar mendekati Jully. Meski dirinya tidak berteman dekat dengan Jully namun gara-gara kakaknya, dia jadi sering memperhatikan tingkah laku Jully berserta teman segengnya. Dan satu hal lagi, mulai dari kemarin dia mengemban misi dari kakaknya itu, yaitu menaruh sekotak juice strawberry di meja Jully sebelum dia dan anak-anak di kelas itu datang. Jadilah dia selalu mengantuk sebelum pelajaran pertama dimulai, ini dikarenakan dia harus bangun pagi-pagi dan berangkat ke sekolah lebih awal untuk menjalankan misi dari kakaknya sampai Wigih selesai dari kegiatan Olympiade Fisika di Surabaya. Sebenarnya dia enggan melakukannya, tapi kakaknya itu memberi iming-iming sepatu baru incarannya, alhasil dia mengiyakannya. Sungguh godaan itu cukup menggiurkan baginya.
🍓🍓🍓🍓
Waktu berlalu begitu cepat, sudah 4 hari ini Wicky bersikap aneh. Dia tidak lagi menggoda atau menjahili Jully agar gadis itu memberikan perhatian padanya. Kini dia tampak lebih dekat dengan Raning, gadis pendiam yang kini sering terlihat mengobrol dan bercanda dengannya. Jully yang melihat itu semua menjadi geram. Bukan, dia bukannya cemburu, dia hanya tidak mahu melihat gadis sebaik dan selugu Raning menangis terluka karena ulah Wicky seperti kala itu. Yang menyebabkan kebencian diantara keduanya. Sungguh Jully ingin melakukan sesuatu sebelum semuanya terlambat.
"Guysss...sepertinya hari ini aku gak bisa ikut dengan kalian nonton deh." Kata Jully yang sebenarnya ada janji dengan sahabat-sahabatnya untuk menonton film setelah pulang sekolah.
"Yaahh... kok gitu sih beb? Gak asyik ahh kalau gak ada kamu." Kansari sedikit merajuk.
"Iya nih... Emang kenapa sih kamu gak bisa ikut bareng kami?" Tanya Ningsih.
"Tiba-tiba aku teringat sesuatu hal yang penting, jadi maaf ya teman-teman...lain kali aku pasti ikut." Jawab Jully meminta maaf.
"Ya sudahlah kalau Jully memang tidak bisa ikut bareng kita, mungkin dia memang punya urusan yang lebih penting." Ini Rere yang bilang, emang dia yang paling pengertian.
"Sorry ya guys..." Jully kembali meminta maaf dan diiyakan oleh teman-temannya.
Sepulang sekolah Jully sengaja mencegat Ale di depan gerbang sekolah saat terlihat lelaki itu keluar dengan mendorong motornya. Segera Jully menyeret lengan Ale sebelum lelaki jangkung itu menaiki motornya.
"Ale, ikut aku sebentar!" Perintah Jully. Ale pun kaget namun tetap saja dia mengikuti Jully untuk menepi di bawah pohon di samping gerbang sekolah.
"Ada apa ya Jull?" Tanya Ale sedikit bingung.
"Al, aku butuh bantuanmu. Namun sebelumnya kamu harus jawab dengan jujur pertanyaanku." Jawab Jully serius.
"Tentang apa ya Jull?"
"Ini tentang Wicky dan juga... Raning."
Bersambung...