
Di kediaman keluarga Mahardika, Jully dan pak Budi Mahardika baru saja memasuki rumahnya tepat pukul delapan malam. Ternyata pemeriksaan Jully memakan waktu yang cukup lama, terlebih pak Budi ngotot harus melakukan CT Scan terhadap Jully. Maklum sebagai seorang ayah beliau pasti cukup khawatir akan kesehatan putri kesayangannya itu.
"Assalamu'alaikum..." Jully dan bapaknya mengucapkan salam ketika masuk ke rumahnya. Seketika bu Susi tergopoh-gopoh menyambut kedatangan mereka berdua dengan raut wajah yang sama khawatirnya ketika pak Budi datang menjemput Jully.
"Wa'alaikumsalam, gimana nak keadaan kamu? Mana yang sakit?" Bu Susi langsung memberondong pertanyaan.
"Satu-satu dong bu... Lagian biarkan Jully duduk dulu." Pak Budi menengahi.
"Ohh iya, maaf ya nak? Ayo sini Jully duduk dulu." Bu Susi menggiring anak bungsunya itu menuju sofa ruang tamu.
"Nah sekarang cerita ke ibu mana yang Jully rasa sakit?" Tanya bu Susi kembali.
"Jully sudah gak apa-apa kok bu, cuma masih agak pusing sedikit, kata dokter juga gak ada yang serius cuma butuh istirahat saja." Jelas Jully pada ibunya.
"Syukurlah... Ibu sangat khawatir sekali pas tadi bapakmu telpon katanya lagi jemput kamu yang sedang pingsan di sekolah." Bu Susi menghembuskan napas lega setelah mendengarkan penjelasan Jully.
"Sebenarnya bagaimana ceritanya kamu bisa sampai seperti ini? Mana jidatmu jadi memar parah gini." Tanya bu Susi kembali.
"Gak separah kelihatannya kok." Sanggah Jully.
"Apanya? Sampai lebam ungu gini." Soal debat ibunya Jully ini emang gak mahu kalah.
"Sudah-sudah, anak baru kena musibah kok sudah ditanyain macem-macem, Jully itu butuh istirahat." Untung ada bapaknya Jully ini yang selalu bisa menengahi.
"Astaga ibu lupa! Kalian berdua kan belum makan malam, biar ibu siapkan dulu ya?" Bu Susi langsung tepok jidat setelah mengingat kalau anak dan suaminya telah melewatkan jam makan malamnya.
"Gak usah bu, tadi kami sudah makan di kantin Rumah Sakit sekalian nunggu hasil CT Scan. Mending sekarang biarkan Jully istirahat saja." Titah pak Budi pada istrinya.
"Ohh ya sudah kalau gitu, ibu antar ke kamar kalau gitu, yuk sayang!" Ajak bu Susi dan Jully hanya bisa mematuhui apa kata orang tuanya.
Setelah mengantar Jully di kamarnya, bu Susi langsung meninggalkan Jully sendiri untuk beristirahat. Di dalam kamar Jully merebahkan dirinya di atas kasur kesayangannya, namun matanya tidak mampu untuk terpejam. Pikirannya masih melayang ke kejadian tadi siang, pada mimpinya yang terasa begitu aneh. Mimpi itu masih terasa nyata baginya saat ini. Seperti bayangan masa lalu atau bahkan masa depan? Entahlah Jully pun tidak mengerti. Akhirnya dia memutuskan untuk memejamkan matanya, hari ini sudah begitu melelahkan baginya dan ia tidak ingin memikirkan apa-apa lagi untuk sekarang ini. Kepalanya sudah cukup penat dan yang ia butuhkan sekarang hanyalah tidur, semoga besok harinya akan lebih indah dari hari-hari sebelumnya.
🍓🍓🍓🍓🍓
Keesokan harinya, Jully masih bergelung di dalam selimutnya padahal Matahari sudah cukup terik di pagi yang cerah ini. Mungkin karena sekarang hari Minggu, ia enggan berpisah dengan bantal dan gulingnya, ditambah tadi malam dia sulit untuk memejamkan mata. Alhasil kini dirinya masih dilanda rasa kantuk yang berat. Jam wekernya sudah berbunyi beberapa kali namun tak dia pedulikan. Beruntung juga hari ini tidak ada teriakan bu Susi untuk membangunkannya, mungkin ibunya itu memaklumi keadaan anaknya saat ini.
Tok.. tok.. tok...
Suara ketukan terdengar dari balik pintu kamar Jully. Namun tak membuat gadis yang masih terlelap itu terusik sedikitpun. Suara ketukan itu kembali terdengar, kali ini dibarengi suara ibunya.
"Jully... Sayang, bangun nak, ayo sarapan dulu!"
Tak ada respon, Jully hanya menggeliat sebentar dan justru lebih membenamkan tubuhnya ke dalam selimut. Karena tidak ada sahutan dari putrinya, bu Susi memilih membuka pintu kamar Jully yang memang tidak pernah dikunci kecuali jika gadis itu sedang ganti baju. Bu Susi masuk begitu saja dan menggelengkan kepalanya saat melihat putri bungsunya itu masih terlelap begitu nyamannya di atas tempat tidur bernuansa pink dan biru itu. Bu Susi mendekati tempat tidur Jully, tidak seperti biasanya yang selalu berteriak agar putrinya itu bangun, kali ini ibu tiga putri itu memilih duduk di pinggir ranjang Jully dan membangunkannya dengan pelan.
"Sayang... Bangun dong, sudah siang nih, sarapan lalu minum obatnya." Ucap bu Susi lembut seraya membelai kepala Jully.
"Lima menit lagi ya bu, masih ngantuk." Gumam Jully dengan suara serak khas orang bangun tidur.
"Tapi ini sudah siang lho... Ntar makin malas bangunnya. Ohh ya, barusan mbak Saras telpon nanyain kabar kamu, dia khawatir saat mendengar kabarmu dari Enin." Ucap bu Susi kemudian.
"Hah?! Mbak Saras telpon? Ihh mbak Enin pasti ceritanya dilebih-lebihkan deh, wong orang gak papa juga." Jully langsung membuka matanya lebar setelah mendengar nama kakak sulungnya itu disebut.
"Makanya nanti kamu jangan lupa telpon balik mbakmu itu biar gak khawatir sama kamu. Nah sekarang bangun, mandi trus sarapan, jangan lupa minum obatnya juga!" Titah bu Susi yang tidak bisa dibantah. Jully pun dengan rasa malas mahu tidak mahu harus melaksanakan perintah ibunya.
Selesai mandi dan berganti pakaian, Jully langsung keluar dari kamarnya menuju ke meja makan. Tidak ada siapapun di sana kecuali ibunya yang tengah menyiapkan sarapan untuk dirinya.
"Lho bu yang lain pada ke mana?" Tanya Jully pada ibunya.
"Bapak ada di teras depan lagi baca koran sambil minum kopi, kalau mbakmu Enin barusan pergi katanya ada acara jalan-jalan bareng teman kantornya." Jawab ibu Susi sambil mengambilkan nasi untuk Jully.
"Enak bener mbak Enin bisa jalan-jalan." Jully berseloroh.
"Ya kamu kan juga bisa jalan-jalan sendiri sama teman-teman kamu atau mungkin jalan berdua saja sama nak ganteng." Kata-kata bu Susi yang menyebutkan kalimat 'Nak Ganteng' bikin Jully langsung mengingat Ketosgannya itu. Dia belum sempat mengucapkan terimakasih karena telah membantunya kemarin. Kalau diingat-ingat seniornya itu sudah sering sekali menolongnya.
Jully menikmati sarapannya dalam diam, tidak ada seorangpun yang menemaninya sarapan karena semua orang di rumahnya sudah sarapan terlebih dahulu tadi. Dirinya saja yang bangun kesiangan. Sementara ibunya setelah menyiapkan sarapan dan obat Jully langsung meninggalkan dapur dan pergi entah kemana.
Setelah menyelesaikan sarapan dan meminum obatnya, Jully kembali ke dalam kamarnya. Segera ia meraih ponselnya yang tergeletak di atas nakas samping tempat tidurnya, memeriksa beberapa pesan yang masuk di sana. Ditengah keasyikannya membalas beberapa pesan dari teman-temannya ada satu pesan yang masuk dan itu cukup menyita perhatiannya. Pesan itu adalah pesan dari Wigih, orang yang sempat ia pikirkan tadi. Panjang umur... Tanpa Jully menghubunginya terlebih dahulu, Wigih ternyata sudah menghubunginya dahulu.
Wigih:
Jully tersenyum ketika membaca pesan yang ditulis Wigih untuknya. Lelaki itu selalu baik padanya. Tidak ingin Wigih menunggu terlalu lama, Jully segera mengetikkan balasannya.
^^^Jully:^^^
^^^Alkhamdulillah aku sudah baikan kak, cuma agak benjol dikit hehe... Oh ya kak, terimakasih atas bantuan kakak kemarin.^^^
Wigih:
Syukurlah.... Aku jadi lega. Oh ya Jully, jika kamu tidak keberatan bisakah kita bertemu hari ini? Ada yang ingin aku sampaikan padamu. Jika kamu setuju, temui aku di taman dekat rumahmu, saat ini aku berada di sana.
"Ya ampun! Berarti sekarang kak Wigih sudah ada di sana, bagaimana ini? Kenapa tiba-tiba sekali sih? Apa yang ingin dia bicarakan?" Jully menggerutu sendiri di dalam kamarnya, berjalan mondar-mandir sambil menggigit kuku jari tangannya. Nampaknya dia sangat bingung dan berbagai macam pertanyaan muncul di kepalanya. Dia akhirnya membalas singkat pesan Wigih.
^^^Jully:^^^
^^^Sebentar kak, tunggu di sana.^^^
Jully segera menyambar jaket hoodie dan dompetnya lalu keluar dari kamarnya dengan terburu-buru. Ketika ia melangkah ke luar rumah ternyata kedua orang tuanya berada di teras rumah sedang berbincang.
"Lho sayang kamu mahu kemana?" Tanya pak Budi pada putrinya itu.
"Ahh i ini pak, Jully mahu jalan-jalan sebentar, deket-deker sini saja kok, mentok juga di taman."
"Tapi kan kamu musti istirahat nak..." Kata bu Susi mengingatkan.
"Iya bu, cuma sebentar aja kok, jenuh di rumah, mahu cari udara segar sebentar." Jully berusaha kekeh merayu orang tuanya.
"Ya sudah tapi jangan lama-lama, hati-hati kalau jalan jangan sampai nyungsep lagi." Kata pak Budi mewanti-wanti anaknya.
"Siap pak! Jully keluar bentar kok. Dah bapak ibu." Pamit Jully.
Jully akhirnya bisa mendapatkan ijin dari orang tuanya untuk keluar sebentar dan menuju tempat janjiannya dengan Wigih. Dia berjalan dengan terburu-buru, takut Wigih menunggunya terlalu lama. Taman tempat janjian mereka sebenarnya tidak begitu jauh, ada di pertigaan jalan menuju komplek rumah Jully, jalan kaki paling cuma 5 menit saja.
Jully sudah hampir sampai, tinggal menyeberang dari pertigaan itu. Dari kejauhan dia bisa melihat sosok Wigih duduk di salah satu kursi taman di pinggiran jalan. Jully berhenti sejenak, menatap lelaki yang menunggunya di seberang jalan itu. Tanpa sengaja Wigih menegakkan pandangannya ke seberang jalan dimana Jully tengah berdiri. Tatapan mereka beradu sesaat, Wigih yang melihat Jully di seberang jalan langsung berdiri menghadap gadis itu seraya melambaikan tangannya dan tersenyum. Namun tindakannya itu justru memancing perhatian Jully, pandangan mata Jully langsung tertuju pada gelang tangan yang di pakai Wigih. Jully langsung terperanjat kaget dan menutup mulutnya dengan telapak tangannya agar dia bisa menahan teriakannya.
"Astaga! Ternyata...." Tanpa pikir panjang Jully langsung menyeberang jalan tanpa melepas pandangannya pada Wigih, dia tidak sadar jalanan agak ramai di hari Minggu. Suara klakson kendaraan bersahutan karenanya. Dan salah satu mobil tidak bisa mengerem secara mendadak.
"Jully... Awas!!" Wigih berteriak.
Brak!!
"Jully!!" Wigih langsung berlari setelah melihat Jully jatuh di hadapannya, sebuah mobil menabraknya.
"Jully... Bangun Jully!!" Wigih menangis, berteriak sejadi-jadinya. Langkahnya ditahan orang-orang yang ada di sana saat ingin mendekati tubuh Jully yang terkapar lemas.
"Kak..." Suara Jully menggumam lirih, dia bisa melihat Wigih sedang meronta-ronta sambil memanggil namanya berusaha melepaskan diri dari pegangan orang yang menahan langkahnya.
Diambang kesadarannya Jully tersenyum sebelum akhirnya ia benar-benar menutup matanya.
"Jully... Tidaaakk!!"
Bersambung...
.
.
.
Hai Guysss... Pembaca Jully yang setia...
Lagi-lagi author minta maaf... Author masih dalam tahap penyembuhan, update an jadi agak telat, tapi author janji tetap selalu update meski dengan sisa-sisa tenaga yang ada. So... jangan tinggalkan author pleasee... Semoga kalian sehat selalu, jaga kesehatan dan jangan lupa tinggalkan like, komen dan vote setelah baca episode terbaru Jully Mahardika. Terimakasih....😘😘😘😘