Jully Mahardika

Jully Mahardika
Ep. 63 Ajakan Pulang Atau Ajakan Kencan?



"Jully..."


"Kak...Wi..gih??"


Betapa terkejutnya Jully melihat siapa yang tiba-tiba datang di hadapannya. Tidak pernah terpikirkan olehnya bahwa Wigih akan datang ke kantornya. Apakah ini nyata atau khayalannya saja karena hampir setengah harinya hanya ia pergunakan untuk memikirkan laki-laki yang kini di hadapannya itu.


"Kok...ka..kak bisa ada di sini?" Jully masih saja tergagap karena saking tak percayanya akan apa yang ia lihat.


"Aku tidak sengaja lewat di daerah sini dan aku melihat pintu kantormu masih terbuka." Sungguh alasan yang klise dari seorang Wigih.


"Ahh...begitukah?" Dan sungguh pertanyaan yang konyol juga yang dilontarkan Jully. Entah apa yang ada di otak para orang-orang cerdas ini sehingga membuat hal-hal tidak berguna dan tidak masuk akal keluar dari bibir mereka. Apa karena kata dan perasaan yang dinamakan 'Cinta' sehingga orang-orang cerdas ini menjadi sedikit bodoh? Bahkan Melda dan Marta yang berada di ruangan itu juga merasakan gelagat yang aneh pada boss cantiknya dan tamu tampannya yang belum mereka kenal.


"Mbak Mel, aku rasa hari ini adalah hari keberuntungan boss kita, sudah dua pria tampan yang mendatanginya dalam kurun waktu yang singkat, satunya pergi, satunya lagi datang." Cerocos Marta dengan nada berbisik pada Melda.


"Entahlah, selama ini boss kita tidak pernah sekalipun berurusan dengan pria muda dan tampan, biasanya klien-klien kami kebanyakan bapak-bapak atau ibu-ibu." Balas Melda dengan berbisik pula.


"Apalagi lelaki yang pertama sedikit ngotot untuk bertemu dengan boss." Ujar Marta.


"Apakah kamu tahu siapa nama laki-laki yang pertama tadi Mar?" Tanya Melda sedikit penasaran."


"Tidak, aku sampai lupa menanyakan namanya saking terposanya." Marta terkekeh geli saat mengingat hal itu. "Tapi dia sempat bilang jika ia adalah teman lamanya boss." Tambahnya.


"Tapi kalau aku tidak salah dengar tadi kak Jully memanggilnya 'Kak Nouval'? Mungkin itu namanya." Melda mengingat-ingat kejadian tadi saat Jully bertemu dengan Nouval dan itu diangguki oleh Marta yang juga tanpa sengaja mendengarnya juga.


"Bagaimana kabarmu Jully? Aku harap kesehatanmu semakin membaik." Tanya Wigih dengan pandangan penuh kerinduan.


"Aku baik-baik saja seperti yang kakak lihat sekarang ini." Jawaban Jully membuat Wigih mengerutkan dahinya.


"Kakak? Sekarang kamu memanggilku kakak bukan dokter lagi?" Aha..! Jully langsung tersentak, dia tidak menyadari akan panggilannya pada Wigih saat ini berubah tidak seperti saat dia berada di Rumah Sakit yang memanggil lelaki itu 'Dokter Wigih'. Sungguh dia melakukan kesalah kali ini. Dia terlalu terbawa emosi hatinya karena memikirkan pria itu. Apakah saat ini dia sudah ketahuan?


"A ahh... Aku hanya refleks saja, maafkan aku dokter Wigih." Jully saat ini merutuki kebodohannya, kenapa disaat seperti ini kata hatinya lebih kuat dibanding dengan logikanya? Tapi apa daya sudah terlanjur juga.


"Pfftt... Tidak masalah, justru aku lebih suka kamu memanggilku kakak daripada dokter. Aku merasa kembali ke masa lalu." Wigih tidak bisa menyembunyikan senyumnya ketika mengatakan hal itu pada Jully.


"Oh maaf, karena aku datang tiba-tiba, apa kedatanganku saat ini mengganggumu?" Tanya Wigih yang merasa tidak enak, meski dia sedikit menikmati sikap salah tingkah Jully yang tidak bisa wanita itu sembunyikan.


"Tidak, kebetulan aku mau pulang karena sudah waktunya jam kerja selesai." Sahut Jully segera dan itu justru membuat Wigih ingin menyemburkan tawanya namun sekuat tenaga ia tahan, dia tidak ingin Jully merasa malu di hadapannya.


"Kalau begitu jika kamu tidak keberatan aku akan mengantarmu pulang." Tawar Wigih yang tidak mahu menyia-nyiakan momen saat ini. Sementara Jully sedikit terkejut dengan tawaran Wigih yang tiba-tiba, tapi dia juga tidak ingin menolaknya, mungkin ini kesempatannya untuk bisa dekat lagi dengan Wigih dan lagi ingatan akan pasangan yang harus ia bawa ke pernikahan Wicky sungguh mengganggunya. Bisa saja ini adalah kesempatan baginya untuk bisa meminta Wigih menjadi pasangannya di pesta minggu ini.


"Apa tidak merepotkan?" Ini sebenarnya hanya basa-basi saja agar tidak terlihat begitu mengharapkan.


"Tentu saja tidak, kan aku yang menawarkannya untukmu." Jawab Wigih.


"Ehmm... Kalau begitu aku akan ke atas dulu mengambil tasku." Ucap Jully.


"Baik, aku akan menunggu di sini." Balas Wigih yang kemudian mendudukkan dirinya pada sofa di sana.


Sementara Marta dan Melda masih mengamati interaksi bossnya dengan Wigih dari meja resepsionis.


"Kak Mel, apakah reaksi boss kita selalu seperti itu jika bertemu klien yang tampan?" Tanya Marta dengan berbisik.


"Aku kan sudah bilang kalau klien kami kebanyakan orang-orang setengah baya, jika ada yang lebih muda tidak ada yang setampan mereka, lagian kak Jully yang aku kenal tidak peduli dengan lelaki tampan, apalagi yang tidak punya otak." Jawab Melda.


"Tapi apa mbak Mel sependapat denganku jika lelaki yang pertama dan yang kedua ini berbeda? Meski boss sama-sama terkejut dengan kedatangan keduanya tapi dengan lelaki yang ini boss terlihat lebih gugup dan merona."


"Seperti ABG yang baru jatuh cinta" Melda menimpali, merekapun saling pandang dan menyunggingkan smirk di bibir mereka.


"Boss sudah mau pulang?" Tanya Billy yang membuat Jully jantungan tiba-tiba.


"Astaga Billy, bikin kaget saja! Bisa gak munculnya jangan tiba-tiba kaya demit gitu?!" Jully mengelus dadanya, degup jantungnya yang begitu cepat ketika Wigih datang saja masih bertalu hebat, ini malah ditambah lagi oleh Billy. Serasa jantungnya bisa benar-benar copot saat itu juga.


"Sorry boss... Aku gak bermaksud ngagetin." Ujar Billy sambil meringis.


"Jangan diulangi lagi! Lain kali jangan diam-diam berdiri di belakangku dan mengeluarkan suara yang mengejutkan! Sungguh kau mirip setan." Perintah Jully sarkas.


"Ya ampun boss... Masa ganteng-ganteng gini dikata setan?" Protes Billy tak terima.


"Kau tahu? Banyak setan atau dedemit yang berwajah tampan." Jully langsung melangkah ingin segera meninggalkan tempat itu, dia tidak ingin Wigih menunggu lebih lama lagi.


"Terserah deh boss, boss maha benar tapi boss... Boss mau pulang? Biar Billy antar ya?" Tawar Billy kemudian.


"Gak usah." Jawab Jully yang tetap melangkahkan kakinya dan diikuti Billy yang mengekorinya.


"Tapi boss Aul sudah nitip pesan jika aku harus ngantar boss pulang hari ini, karena boss Aul hari ini gak bisa ngantar pulang boss Jully." Ucap Billy yang masih meyakinkan Jully untuk mengantarnya pulang. Pasalnya pasca keluar dari Rumah Sakit Jully belum diijinkan untuk membawa mobilnya sendiri, jadi dia selalu dijemput dan diantar pulang oleh Auliya, hanya saja hari ini Auliya harus pulang lebih awal karena sudah ada janji dengan istrinya. Bukan itu saja dia juga tidak diperbolehkan untuk tinggal sendiri di apartemennya, jadi untuk sementara waktu dia tinggal di rumah ibunya sampai dokter menyatakan kesehatannya baik-baik saja di pemeriksaan kontrol berikutnya.


Jully menghentikan langkahnya dan berbalik ke arah Billy yang ada di belakangnya.


"Terimakasih Bill, tapi aku sudah ada yang mengantar pulang dan masalah Auliya aku akan menelponnya nanti atau bilang saja padanya kalau aku pulang dengan temanku." Setelah itu Jully kembali berbalik dan melangkahkan kakinya menuju lantai bawah.


"Tap...tapi boss...???" Kalau sudah begini tidak bisa berkata apapun. Bossnya itu sangat keras kepala.


Di lobby, Wigih masih duduk anteng menunggu Jully. Tangannya bersedekap di dada, pikirannya tidak seanteng sikapnya saat ini. Sebenarnya dia gugup sekarang. Dia tidak menyangka Jully akan menerima tawarannya untuk mengantarnya pulang. Padahal dia sudah pasrah jika Jully menolaknya tapi keberuntungan berpihak padanya saat ini. Hanya saja dia bingung apa yang harus ia lakukan nanti jika hanya berdua saja dengan Jully. Sungguh dia bukan remaja lagi yang baru saja mengenal cinta. Atau mungkin ini pengaruh dirinya yang tidak pernah berkencan dengan wanita manapun setelah melepas Jully begitu saja meski banyak tawaran berkencan dengan banyak wanita tapi dia selalu menolak dengan alasan pekerjaannya yang begitu sibuk tidak memberinya waktu untuk memikirkan wanita. Padahal sesungguhnya dia belum siap saja melepas bayangan Jully dari hati dan pikirannya sampai pertemuannya dengan Jully di Rumah Sakit seakan membawa bunga-bunga cinta di hatinya kembali mekar. Seperti Jully yang percaya pertemuannya dengan Wigih adalah takdir, begitu juga Wigih yang percaya bahwa takdir membawa Jully kembali padanya.


"Ahh maaf, sudah membuat dokter menunggu lama." Suara Jully membuyarkan lamunan Wigih dan dia langsung tersenyum setelah pandangannya bertatapan langsung dengan mata Jully.


"Tidak masalah, kita jalan sekarang?" Tanya Wigih seraya bangkit dari duduknya. Jully pun mengangguk.


"Marta, Melda aku pulang dulu, kalian sebaiknya segera pulang dan beristirahat." Titah Jully pada kedua gadis yang merupakan karyawannya itu.


"Okey kak."


"Baik boss."


Jawab mereka hampir bersamaan dan Jully pun melangkah pergi meninggalkan kantornya diikuti Wigih yang berjalan di sampingnya.


"Mau makan dulu? Ini sudah jam makan malam dan aku tahu kamu belum makan." Ucap Wigih sebelum mereka masuk ke dalam mobil.


"Apa dia berusaha mengajakku berkencan saat ini?" Ucap hati Jully.


"Bagaimana Jully?" Tanya Wigih sekali lagi karena tidak mendapat jawaban dari wanita di hadapannya itu.


"Baiklah, lagian aku sudah lapar." Jawab Jully seraya tersenyum yang langsung menular pada Wigih. Lelaki itu terlihat begitu lega karena sekali lagi Jully tidak menolaknya.


"Mau makan dimana?" Tanya Wigih setelah mereka berdua sudah masuk ke dalam mobil.


"Terserah kakak, asal jangan sea food saja." Jawab Jully.


"Okey, aku rasa aku tahu tempat yang bagus." Sahut Wigih tersenyum dan mengalihkan pandangannya sebentar pada Jully sebelum ia menancapkan gas mobilnya.


Bersambung....