
"Gih.. Sepertinya ada yang datang, mungkin itu Jully." Rendi segera menepuk bahu Wigih setelah melihat ada bed stretcher yang didorong menuju ke arah mereka.
Wigih segera berdiri dari tempat duduknya dan melihat ke arah bed stretcher yang didorong itu.
"Jully..." Gumam Wigih tanpa melepaskan pandangannya.
Beberapa perawat yang mendorong bed stretcher itu terlihat semakin mendekat, membuat hati Wigih semakin berdebar pula. Kedua dokter muda itu diam terpaku menatap di tempatnya berdiri, pandangan mereka tak teralihkan sama sekali. Semakin mendekat, semakin jelas bed stretcher itu didorong oleh dua orang perawat laki-laki, di belakangnya mengikuti seorang perawat perempuan, terlihat pula dokter Ibrahim yang berjalan beriringan dengan wanita paruh baya yang mereka kenal sebagai ibu Susi, sudah jelas orang yang berada di atas bed stretcher yang didorong itu adalah Jully. Akhirnya mereka yang ditunggu datang mendekat. Wigih semakin gusar saat melihat Jully masih memejamkan matanya.
"Dokter Ibrahim bagaimana keadaan Jully? Saya dengar sudah siuman namun mengapa dia memejamkan matanya?" Wigih begitu tidak sabar untuk bertanya padahal mereka masih berjalan dan masih mencapai ambang pintu ruang rawat inap Jully.
Dokter Ibrahim hanya tersenyum menanggapi dokter muda yang tidak sabaran itu, lalu terus berjalan melewati Wigih dan juga Rendi untuk masuk mengikuti bed sretcher yang membawa Jully ke dalam ruangannya dan menunggu sampai dua perawat laki-laki memindahkan Jully kembali ke tempat tidur yang ada di kamar inap itu. Sedangkan bu Susi hanya menepuk lengan Wigih seraya tersenyum hangat. Hal itu semakin membuat Wigih dan juga Rendi bingung mengartikan senyuman mereka.
"Dok..." Wigih kembali memanggil dokter seniornya itu seakan menyampaikan protes akan ketidak tahuannya.
"Tenanglah dokter Wigih, nona Jully memang benar sudah siuman, saat ini dia hanya kelelahan karena beberapa tes yang saya berikan, dia hanya tertidur." Ucap dokter Ibrahim dengan senyum yang sama.
"Tapi dia akan bangun lagi kan nanti?" Tanya Wigih yang masih merasa khawatir.
"Tentu saja, dia hanya tertidur, syaraf otaknya masih menyesuaikan diri dengan kesadarannya pasca bangun dari koma, saya berharap kalian semua bersabar dan mengerti." Dokter Ibrahim menjelaskan kembali dan menjawab rasa khawatir Wigih. Dan Wigih pun bisa bernapas lega.
"Tenanglah bro... ehmm maksud saya dokter Wigih, semua akan baik-baik saja, anda pasti tahu karena anda juga seorang dokter." Ujar Rendi yang ikut menimpali dengan gaya bicara formalnya, dia hampir lupa jika saat ini dia sedang di tempat kerja dan ada seniornya di hadapannya, hampir saja dia berbicara santai layaknya yang mereka lakukan saat berdua saja.
"Ahh iya, terimakasih dokter Ibrahim." Dengan tersenyum canggung Wigih berterimakasih kepada dokter Ibrahim, merutuki kebodohannya sendiri, seharusnya dia tahu karena dia juga seorang dokter.
"Hahaha... Kalian anak muda selalu punya kisahnya sendiri." Setelah tertawa dan berucap demikian dokter Ibrahim melangkah keluar dari ruangan Jully diikuti asisten perawatnya sembari mengangguk pamit ke arah bu Susi dan menepuk pundak Wigih saat melewatinya.
Wigih tercengang mendengar ucapan dokter Ibrahim dan menjadi semakin salah tingkah, berdeham, menggaruk tengkuknya yang tidak gatal atau menengok kesana kemari untuk meredam rasa malunya. Bu Susi, ibunda Jully yang melihat tingkah laku dokter muda tampan yang mungkin jika mereka bertemu di masa lalu akan dipanggilnya "Nak ganteng" itu hanya bisa menahan senyumnya, merasa geli sendiri. Sementara Rendi hanya bisa memalingkan wajahnya menahan malu akan perilaku sahabatnya itu.
"Dokter Wigih...dan juga dokter Rendi, saya sangat berterimakasih dengan anda berdua, karena selama ini selalu mensuport Jully anak ibu dan juga selalu menjaganya disaat saya tidak ada di sini." Ucap bu Susi tiba-tiba.
"Ahh ibu tidak perlu berterimakasih, sudah sepantasnya saya selaku teman dan dokter di sini melakukan hal ini. Dan saya mohon, ibu jangan terlalu formal dengan saya." Jawab Wigih sopan dan merasa tidak enak diperlakukan seolah dia orang yang sangat perlu dihormati. Apalagi orang yang berbicara demikian adalah orang yang lebih tua darinya.
"Meski begitu anda adalah seorang dokter di sini." Balas bu Susi lembut.
"Meski saya seorang dokter tapi saya juga teman Jully, dokter hanya pekerjaan dan profesi saja selebihnya saya sama halnya dengan teman Jully yang lainnya. Saya lebih nyaman dan lebih suka jika ibu memperlakukan saya seperti teman Jully yang lainnya." Tegasnya tanpa mengurangi kesopanan dan rasa hormatnya kepada orang yang lebih tua.
"Benar apa yang dikatakan Wigih, kami berdua adalah teman lama Jully, meski lama tidak bertemu kami masih tetap temannya. Jadi bila tidak ada orang lain kami harap ibu memperlakukan kami dengan biasa saja atau perlakukan kami seperti anak sendiri hehe..." Tambah Rendi berusaha bersikap santai untuk mencairkan suasana.
Bu Susi tersenyum lembut, begitu bersyukurnya ia telah dipertemukan dengan dokter-dokter muda yang baik ini dan ia juga bersyukur untuk Jully karena mendapat teman yang baik seperti dua dokter muda nan tampan yang ada dihadapannya saat ini.
"Baiklah jika itu ingin kalian, anak-anak ganteng yang baik, ibu bersyukur Jully mendapatkan teman sebaik kalian." Mata bu Susi berkaca-kaca memandang lembut kedua pria muda di hadapannya.
"Terimakasih." Tambah bu Susi.
Wigih melangkah maju mendekati bu Susi, meraih jari jemarinya yang sudah mulai keriput karena termakan usia. "Tangan seorang ibu yang hangat" Batin Wigih.
"Justru saya yang berterimakasih karena telah membawa Jully ke Rumah Sakit ini, sehingga kami bisa bertemu kembali dengannya walau harus dengan cara yang kurang biasa." Ucap Wigih sambil mengusap-usap lembut tangan bu Susi yang digenggamnya. Air mata bu Susi tidak bisa dibendung lagi, mengalir begitu saja tanpa suara. Beliau terharu sekaligus bersyukur dengan semua keadaan ini. Mungkin ini yang Tuhan inginkan, disetiap cobaan-Nya pasti ada hikmah yang tersembunyi di dalamnya.
"Maaf sepertinya ibu ada telpon, mungkin kakaknya Jully. Sebentar ibu angkat telpon dulu." Pamit bu Susi, Wigih pun melepas genggaman tangannya dan mempersilahkan bu Susi mengangkat panggilan telponnya. Benar saja, itu dari Saras kakak tertua Jully. Setelah mendengar bahwa adik bungsunya mengalami kecelakaan sampai koma, Saras beberapa hari kemudian langsung terbang dari Bali ke Malang untuk menjenguk adiknya, namun ia hanya seminggu menjaga adiknya bergantian dengan ibunya dan juga Enin adik tertuaya. Kesibukannya di Bali dan harus mengurus anak-anaknya yang masih bersekolah tentu saja tidak bisa ditinggal lama-lama. Dan sekarang setelah mendengar Jully telah siuman Saras langsung menghubungi ibunya.
"Hallo assalamu'alaikum ibu, aku baru saja dapat telpon dari Enin mengabarkan bahwa Jully sudah siuman." Ucapnya diseberang sana dengan nada yang antusias.
"Wa'alaikumsalam... Iya, adikmu Jully tadi siang bangun dari komanya." Jawab ibunya.
"Syukurlah alhamdulillah..." Ada nada lega di seberang sana. "Terus bagaiman keadaannya sekarang bu?" Tanyanya kemudian.
"Sekarang dia sedang tertidur." Ungkap ibunya.
"Tertidur? Lagi? Apakah itu wajar? Apa dia baik-baik saja? Apakah dia akan bangun lagi?" Saking cemasnya akan jawaban ibunya Saras tanpa sadar memberondong banyak pertanyaan. Bu Susi memijat ujung pangkal hidungnya, ia merasa lelah dan kurang tidur.
"Tenanglah Saras... Adikmu hanya tertidur karena lelah setelah melakukan berbagai tes setelah ia sadar tadi dan dia akan bangun nanti." Terang bu Susi pada anak perempuan tertuanya.
"Begitukah? Syukurlah... Aku sangat khawatir bu saat ibu bilang Jully tengah tertidur." Ujar Saras dengan nada khawatirnya.
"Orang tertidur dan koma itu dua hal yang berbeda nak, berdo'alah agar adikmu segera cepat pulih seperti semula." Ujar bu Susi menenangkan anaknya yang mudah gusar itu.
"Tentu saja aku selalu berdo'a untuk kesembuhan adikku." Balas Saras tegas.
"Ya sudah nanti ibu kabari jika ada perkembangan dari Jully, ibu tutup sekarang. Assalamu'alaikun." Bu Susi menutup telponnya setelah mendapat jawaban atas salamnya.
Wigih mendekati Jully yang tengah berbaring dengan mata yang masih terpejam. Memandangi wajah ayu gadis itu yang terlihat masih pucat. Wigih meraih jemari Jully yang bebas dari selang infus, tangan wanita yang dicintainya itu sudah tak sedingin biasanya.
"Jully... Apakah kamu tidak lelah tertidur terus? Bahkan setelah sadarpun aku masih menjumpaimu dengan mata yang terpejam. Seharusnya aku ada di sampingmu saat kamu membuka mata untuk pertama kali." Ucap Wigih lirih dengan senyum yang nampak getir.
Jari Jully yang digenggam Wigih begerak-gerak seakan merespon perkataan lelaki itu. Detik kemudian mata Jully mengerjap-ngerjap dan perlahan membuka matanya. Wigih langsung tercengang, seulas senyum ia berikan sambil menatap wajah wanita terkasihnya.
"Jully...kamu sudah bangun? Kamu tahu betapa cemasnya aku?" Wigih tidak bisa menyembunyikan kegusarannya.
"Hai Jully, selamat datang kembali di dunia nyata." Sapa Rendi dengan senyum lebarnya.
"Kalian siapa?" Pertanyaan Jully langsung menghentikan senyuman Wigih dan Rendi.
Bersambung....
.
.
.
Terimakasih masih setia bersama Jully Mahardika dan Dogkan ganteng kita.
Mohon dukungannya ya teman-teman.... jangan lupa like, komen, vote dan klik favorit ya...😘😘😘