Jully Mahardika

Jully Mahardika
Ep. 21 Malam Minggu



Malam hari di kediaman keluarga Mahardika, terlihat ibu Susi sedang menguleni adonan kue sambil berdendang lirih menyanyikan lagu lawas, sesekali bapak Budi menyahuti nyanyian istrinya dari kejauhan, beliau sedang mengecek beberapa berkas kerjanya sambil duduk santai bersama Jully di ruang keluarga yang tak jauh dari dapur. Jully yang melihat keromantisan kedua orang tuanya hanya geleng-geleng kepala sambil tersenyum geli, bahagia juga bikin iri yang lihat, apalagi yang lihat kaum jomblo seperti dia. Sementara mbak Enin sudah masuk ke kamarnya setelah makan malam, katanya capek karena di hari sabtu ini yang seharusnya jadwal liburnya harus digunakan buat lembur karena sebentar lagi akhir bulan dan dia harus mengerjakan laporan akhir bulan. Kasihan juga lihat kakak perempuannya yang kerja banting tulang buat masa depan, tapi tenang mbak Enin... Nanti bakalanan dapat jodoh berondong ganteng hehehe... Jully terkekeh sendiri teringat tentang masa depan kakaknya itu.


"Sayang, kok senyum-senyum sendiri begitu? Bikin takut saja." Ucap pak Budi yang mempergogi anak gadisnya tersenyum sendiri tanpa tau alasannya, bikin dia merinding, takut ada yang nemplok di badan anak kesayangannya itu.


"Siapa yang senyum-senyum sendiri? Bapak salah lihat kali..." Jully berusaha mengelak.


"Itu tadi barusan, bapak gak salah lihat kok, jangan-jangan barusan ada yang lewat tapi gak kelihatan nyenggol kamu." Pak Budi bergidik ngeri.


"Iihh... Bapak kok gitu sih sama anak sendiri, tau ahh aku ngambek!" Jully pura-pura ngambek dan berdiri meninggalkan bapaknya yang melihatnya dengan ekspresi melongo kebingungan melihat tingkah laku anak gadisnya. Jully berjalan sambil menghentakkan kakinya dan masuk ke dalan kamar. Bu Susi yang melihat perdebatan anak dan bapak itu turut berkomentar.


"Bapak ini, anak sendiri dibikin marah."


"Kok jadi bapak yang salah?" Protes pak Budi gak terima.


"Ya kan anak seusia Jully dah biasa senyum-senyum sendiri, siapa tau lagi teringat hal yang menyenangkan, teringat gebetan misalnya." Ungkap bu Susi.


"Ya mana bapak tahu bu... Lha wong tadi gak cuma tersenyum tapi juga terkekeh, ya kirain Jully kesambet apa gitu." Pak Budi membela diri.


"Ihh bapak masa anak sendiri dibilang kesambet, bapak tu yang kesambet!" Jawab bu Susi sewot.


"Kok jadi bapak yang kena marah sih?" Pak Budi bergumam sendiri sambil menggaruk tengkuk lehernya yang tak gatal, bingung sendiri kalau wanita sudah berbicara, semuanya jadi maha benar. Tak mau ambil pusing lebih lama daripada nanti salah lagi, pak Budi memilih untuk melanjutkan pekerjaannya.


Sementara Jully di kamarnya teringat tentang surat dari si Yuyu. Dia segera meraih tas sekolahnya yang tergeletak di atas meja belajarnya. Jully segera mengambil surat itu dari dalam tasnya, setelah menemukannya dia melihat dan membolak balik amplop di tangannya itu dengan mata mengrenyit. Dia berpikir apa yang ada di dalamnya karena amplop itu terasa sedikit lebih berat dari biasanya seperti ada benda lain di dalamnya. Tak mau lebih lama dilanda rasa penasaran, ia segera mebuka amplot biru muda itu dan mengeluarkan semua isinya. Ternyata benar, tak hanya sepucuk surat yang terdapat di dalamnya, melainkan ada sebuah gelang rajut yang begitu manis disana. Jully tersenyum senang, sebenarnya sudah lama Jully ingin membeli gelang seperti ini, tapi belum sempat untuk membelinya, jadi dia begitu bahagia mendapatkannya, gratis pula. Yang gratis memang lebih indah ya Jull...hehehe. Jully meletakkan gelang yang ada di tangannya dan beralih ke surat yang belum dia baca. Jully membuka surat tersebut dan membacanya.


Dear Jully...


Hai keceriaannku... Apa kabar? Aku dengar kamu sudah baikan, setelah ini tolong jangan sakit lagi ya... Aku sedih lihatnya. Oh ya aku ada sesuatu untukmu, mungkin gelang yang aku berikan tidak seberapa nilainya, namun aku harap kamu mau menerimanya sebagai tanda kalau aku pernah ada dikehidupan kamu. Gelang itu aku beri saat aku di Surabaya, aku pernah cerita kan kalau aku ada suatu urusan, sebenarnya aku sedang ikut Olympiade di sana dan aku menang. Itu semua karena do'a serta semangat yang kamu berikan Jully. Anggap saja gelang itu hadiah untuk semangat yang engkau berikan. Ohh dan satu lagi! Aku juga memiliki gelang yang sama denganmu, disana tersemat inisial huruf "J" untuk Jully dan "CB" untukku. Aku ingin bila suatu saat kita bertemu, kita saling memakai gelang tersebut. Salam sayang untukmu, semoga harimu menyenangkan, jangan sakit lagi ya...


^^^~Cancer Boy~^^^


"Kok dia bisa tahu sih kalau aku sudah sembuh dan bakalan masuk sekolah hari ini?" Jully bicara sendiri, bertanya-tanya sendiri, heran sendiri, bingung sendiri siapa yang mau jawab? Tapi ya sudahlah untuk saat ini itu tidak penting, yang penting sekarang dia senang dapat gelang baru inceran dia selama ini. Ada inisial namanya juga, tambah seneng kan dia.


"Ehh si Yuyu juga punya gelang yang sama juga kan, couple-an dong kita..." Jully tersenyum girang sampai guling-guling di atas kasur, untung gak sampai koprol. Jully memandang gelang yang ada di tangannya dengan senyum yang masih mengembang di bibirnaya. Dia memasangkan gelang cantik itu di pergelangan tangannya. "Manis." Jully bergumam memandang gelang yang kini tersemat di pergelangan tangannya. Dia akan membalas surat yang dia dapat hari ini nanti dan akan memberikannya di hari Senin. Ahh... Malam minggunya kali ini sungguh menyenangkan, tak kalah romantis dengan bapak ibunya. Malam ini sedikit gerimis, menambah syahdu di hati Jully yang sedang mekar-mekarnya. Biarpun dia belum tahu siapa orang ini, namun dalam hati Jully merasakan bahwa seseorang ini tak jauh darinya, dia percaya kelak tak lama lagi pasti mereka bertemu. Amiiinn... Jully hampir saja memejamkan matanya, suasana yang mendukung membuat matanya mengantuk. Namun suara ketukan pintu di kamarnya membuat matanya kembali terbuka. Dengan berat dia bangun dari tempat tidurnya, berjalan gontai ke arah pintu kamar dan membukanya. Ternyata ibunya yang ada di balik pintu dengan celemek yang masih terpasang dipinggangnya.


"Lama banget sih bukanya, kebiasaan kamu ini." Protes ibunya seperti de ja vu.


"Memangnya ada apa sih bu? Jully ngantuk, Jully mau balik bobok lagi." Rengek Jully sembari membalikkan badannya untuk kembali ke tempat tidurnya. Namun pergerakannya langsung dicegah oleh ibunya.


"Eeiitt... Siapa yang nyuruh kamu tidur lagi Jully?"


"Jully kantuk bu..." Jully kembali merengek merasa kedamaiannya terusik.


"Malam minggu bukannya keluar kemana gitu, ngedate kek sama gebetan, ini malah kencan sama guling. Kelihatan banget jonesnya, ckckck..." Bu Susi mulai beraksi. Beraksi ngebully anak sendiri haha.


"Kok bilang gitu sih? Anak sendiri dikatain jones." Jully cemberut.


"Habisnya kamu ada yang ganteng minta digandeng malah dianggurin." Ini bu Susi mulai bikin Jully bingung, bahasanya itu lho... susah diartikan. Jully kan polos.


"Itu ada nak ganteng di ruang tamu nungguin kamu, jangan dibikin lama menunggu, kasihan ganteng-ganteng dibikin nunggu. Coba ibu masih muda dah ibu gebet." Busyet deh ibu satu ini pinter bener ngomporin anak sendiri. Jully mulai paham setelah ibunya menyebut kata "Nak Ganteng" .


"Dia udah sms kamu tapi gak ada balasan, telepon juga gak kamu angkat. Mangkanya kalau tidur jangan kaya kebo." Tuh kan ngatain anaknya lagi.


"Masa sih?" Jully berjalan meraih ponselnya di atas nakas, dia memeriksanya ternyata betul ada pesan dan panggilan tak terjawab dari Wigih.


"Benar kan? Sudah cepetan gak pakek lama! Cepet temuin sana, ohh jangan lupa lap dulu air liurmu." Ucap bu Susi santai kemudian pergi meninggalkan kamar Jully.


Jully berjalan menuju ruang tamu setelah membasuh mukanya. Disana dia melihat Wigih tengah asyik bermain catur dengan bapaknya. Tumben-tumbennya bapaknya itu mau main catur dengan orang yang baru dia kenal. Wahh hebat juga Wigih, bukan hanya ibunya yang bisa dia taklukkan, bahkan bapaknya yang over protectif dengan anak perempuannya jika ada teman lelakinya mendekat bisa juga dia buat takluk. Jully mendekati mereka yang tengah asyik bermain catur sampai tak ada yang sadar jika Jully sudah ada di dekat mereka.


"Ehmm... Seru banget mainnya, sampai gak sadar ada aku disini." Ucap Jully yang akhirnya menyadarkan mereka berdua.


"Ohh hai Jully, maaf gak sadar." Wigih merasa gak enak dan jadi salah tingkah.


"Habisnya seru banget, nak Wigih ini ternyata jago main caturnya." Ungkap pak Budi. "Jarang lho anak muda seperti nak ganteng ini yang jago banget main catur, bapak aja sudah hampir kalah." Tambah pak Budi.


"Kok bapak jadi ketularan ibu sih manggil kak Wigih seperti itu?" Jully jadi geli sendiri mendengar panggilan itu dari mulut bapaknya.


"Lha emang ganteng kok, ya kan nak Wigih?" Jawab pak Budi yang bikin Wigih tambah malu dihadapan Jully meski dia tak pernah memungkiri bahwa dirinya memang tampan. Tapi kalau sudah dihadapkan dengan gadis pujaannya tentu membuatnya tersipu malu. Duhh sudah seperti anak gadis yang ditawrin nikah aja.


"Ya sudah, bapak masuk sana gih... Main catur sama ibu saja." Usir Jully.


"Mana bisa ibumu main catur, yang ada main lainnya." Jawab pak Budi ambigu.


"Terserah deh yang penting bapak masuk aja sana, kan Jully sudah ada disini." Jawab Jully tak mau kalah.


"Ya sudah, bapak ngalah sama yang mau malam mingguan. Lain kali kita lanjutkan lagi ya nak Wigih." Pak Budi akhirnya meninggalan Jully dan Wigih berdua saja.


"Iya pak, pasti." Jawab Wigih sopan.


"Kak maaf ya aku gak tahu kalau kakak kirim pesan dan telepon tadi, soalnya aku ketiduran." Jully merasa tak enak dengan Wigih.


"Gak papa kok Jull, salah aku juga sih... Seharusnya aku gak nekat ke sini sebelum dapat ijin dari kamu. Maaf ganggu tidur kamu." Wigihpun merasa tak enak karna harus mengganggu istirahat Jully. Sebenarnya dia lebih takut lagi kalau Jully tak balas teleponnya karena sedang jalan dengan lelaki lain.


"Gak kok kak, aku malah seneng kakak main kesini."


"Sungguh?"


"Iya, habisnya dari tadi aku dikatain ibu jones melulu." Merekapun tertawa bersama. Namun tawa mereka terhenti setelah mendengar suara ketukan pintu yang diiringi suara salam dari seseorang.


"Assalamu'alaikum..."


"Wa'alaikumsalam..." Jawab Jully dan Wigih bersamaan.


Saat mereka berdua menengok ke arah pintu sungguh terkejutnya, ternyata tamu yang datang adalah Wicky.


"Hai Jull..."


Bersambung....