
Akhirnya hari dimana yang ditunggu-tunggu Jully telah tiba, hari ini adalah hari Ulang Tahun ibunya tercinta. Namun sayang sekali rencana yang sudah dia siapkan jauh-jauh hari harus terkubur sia-sia. Entah apa yang terjadi tiba-tiba jadwal persidangan perceraian Nouval dimajukan dari tanggal yang telah ditetapkan, dan itu jatuh pada hari ini. Sialnya lagi Wigih yang seharusnya tidak ada jadwal operasi tiba-tiba mendapat panggilan darurat yang mengharuskan dia terlibat dalam operasi yang akan memakan waktu lebih dari setengah hari yang akan dimulai siang nanti. Awalnya Jully berpikir untuk mempersiapkan Ulang Tahun ibunya setelah dia pulang dari tempat sidang dan dia tetap bisa membawa Wigih pulang bersamanya nanti sore. Ya mahu apa lagi? Punya pasangan seorang dokter harus menerima segala konsekuensi jika terjadi hal darurat seperti sekarang ini, karena bagi seorang dokter keselamatan pasien adalah nomor satu.
"Hahh... Ini benar-benar menyebalkan! Ini pertama kalinya jadwal persidangan diubah secara mendadak dalam jangka waktu yang begitu mepet." Keluh Jully yang begitu kesal.
"Maaf kak... Ini semua salahku, aku lupa tidak memberi tahu kakak jika jadwal sidangnya berubah." Melda terlihat sangat menyesal dan begitu takut melihat wajah marah Jully saat ini, terlebih dia tahu jika hari ini adalah hari yang sangat berarti bagi Jully. Sebenarnya pemberitahuan jadwal sidang yang berubah sudah dikirim kurang lebih dua minggu lalu ke firma hukum Jully, waktu itu Melda yang menerima dan memeriksanya namun dikarenakan pekerjaan yang begitu menumpuk membuat Melda lupa untuk memberitahukan pada Jully. Dan Melda baru teringat tiga hari yang lalu ketika mengambil beberapa berkas di kantor Nouval.
"Sebenarnya apa yang kamu pikirkan Melda? Ini pertama kalinya kamu melakukan kecerobohan, masih untung aku tahu tiga hari sebelum persidangan, bagaimana jika aku tahu tiga jam sebelum persidangan?" Jully mengoceh sana sini karena suasana hatinya sedang tidak bagus. Sedangkan Melda hanya bisa menundukkan kepalanya seraya berulang kali meminta maaf. Melda sangat tahu Jully merupakan boss yang sangat baik, tapi Jully juga selalu bertindak tegas jika bawahannya melakukan kesalahan. Minimal dia akan mengomeli siapapun yang terlibat masalah.
"Sudahlah... Mahu gimana lagi? Semuanya sudah terlanjur terjadi. Bagaimana persiapannya? Sudah beres semuanya?" Akhirnya Jully hanya pasrah saja, toh semua ini diluar kuasanya.
"Sudah kak." Jawab Melda cepat.
"Bagus! Kalau begitu ayo kita berangkat sekarang, Nouval sudah menunggu di sana." Jully segera melangkahkan kakinya keluar dari kantornya yang diikuti Melda di belakangnya dengan menenteng tas kerja berisi beberapa berkas yang diperlukan dalam persidangan itu.
Jully dan Melda tiba di Pengadilan Agama tempat digelarnya persidangan gugatan perceraian antara Nouval dan Sabrina istrinya tepat satu jam sebelum waktu persidangan. Mereka langsung menuju ke ruang tunggu dimana Nouval sudah terlebih dahulu tiba di sana.
"Maaf kak, apa sudah menunggu lama?" Sapa Jully ketika sudah berada di hadapan Nouval.
"Tidak, aku baru saja tiba sepuluh menit yang lalu." Jawab Nouval namun matanya melirik ke arah Melda yang berdiri tidak jauh di sebelah Jully. Melda yang menyadari itu langsung menyapa Nouval dengan sopan.
"Selamat pagi pak Nouval, saya harap semua berjalan lancar hari ini." Ucap Melda.
"Terimakasih Melda." Jawab Nouval singkat. Mungkin sapaan basa basi antara Nouval dan Melda merupakan hal lumrah bagi orang lain yang mendengarnya, tapi tidak untuk Jully. Seperti ada sesuatu diantara mereka, cara Nouval memanggil Melda dengan santai layaknya seorang teman atau orang yang sudah kenal dekat satu sama lain sungguh terdengar aneh di telinga Jully.
"Sejak kapan mereka terlihat akrab? Atau hanya perasaanku saja? Karena akhir-akhir ini aku sering meminta Melda menggantikanku untuk meeting dengan kak Nouval, mungkin itu yang membuat mereka tidak canggung bila bertegur sapa." Gumam Jully dalam hatinya mencoba untuk berpikir positif, lagipula ini bukan waktunya memikirkan hal nyleneh seperti itu.
"Ahh sebaiknya kita diskusikan ini sambil duduk." Jully segera memfokuskan kembali dirinya sebelum otak warasnya dipengaruhi dengan hal-hal yang unfaedah.
"Baiklah, kita cari duduk yang sekiranya nyaman." Nouval langsung menanggapi ajakan Jully dan mereka bertiga langsung duduk di tempat duduk yang tersedia di ruang tunggu di sana. Mereka langsung mendiskusikan apa-apa yang perlu dan harus dilakukan saat persidangan nanti.
🍓🍓🍓🍓🍓
Waktu begitu cepat berlalu, akhirnya sidang pertama gugatan perceraian Nouval dengan istrinya telah selesai. Di sidang perdana ini Sabrina istri Nouval tidak bisa hadir atau lebih tepatnya sengaja untuk tidak datang, dia hanya mengirim pengacaranya untuk mengurus semuanya. Memang dari awal pihak Nouval sudah mengetahui jika Sabrina tidak akan datang dan sebenarnya semua sudah direncanakan mereka. Itu hanya demi memperlancar jalan persidangan dan juga untuk menghindari campur tangan keluarga mereka.
"Syukurlah semuanya berjalan dengan lancar, terimakasih atas kerja keras kalian, terimakasih ya Jull." Ucap Nouval yang diangguki oleh Jully dan Melda.
"Sama-sama kak, oh ya... tentang Sabrina apa dia tidak ada rencana untuk menghadiri sidang berikutnya?" Tanya Jully.
"Tidak, karena tidak akan ada hal yang berubah walau sidang berikutnya kami harus melakukan mediasi. Keyakinan kami untuk berpisah sudah bulat, kamu tahu itu kan Jull?" Ujar Nouval.
"Iya, aku tahu. Tapi masalah kedua keluarga kalian apa sampai saat ini belum ada yang tahu tentang perceraian kalian?" Tanya Jully lagi.
"Belum, bisa runyam jika mereka tahu. Mungkin keluarga Sabrina bisa melunak karena kelakuan anaknya, namun keluargaku terutama papaku dia tidak akan pernah mengijinkan perpisahan ini. Kamu tahu kan Jull? Dari awal papaku tidak perduli dengan apa yang aku inginkan, apalagi tentang kebahagiaanku karena yang dia tahu hanyalah martabat dan ambisinya sendiri."
"Maka dari itu dalam persidangan ini kamu tidak memberi tahu kebenarannya bahwa istrimu mempunyai perilaku menyimpang dan memilih mengorbankan dirimu sendiri jika disini kamulah yang bermasalah?" Tebak Jully langsung mengena.
"Iya, dengan begitu papaku tidak akan bisa melakukan apa-apa karena memiliki anak yang memalukan sepertiku. Di lain hal aku juga merasa bersalah pada Sabrina, karena selama pernikahan kami aku tidak bisa membahagiakan dan mencintainya." Ungkap Nouval yang terlihat sangat lelah.
"Dan karena itulah dia mencari kebahagian yang tak wajar seperti sekarang ini?" Sahut Jully lagi.
"Iya, dan lagi dia juga tidak ingin melahirkan seorang anak. Sebagai seorang model papan atas mengandung, melahirkan seorang anak baginya akan mempengaruhi tubuhnya dan menghalangi kariernya." Ungkap Nouval dengan paras yang terlihat menyedihkan di mata Jully. Jully tidak menyangka dibalik kesempurnaan seorang Nouval tersimpan kesedihan yang begitu dalam.
"Sudahlah kak, semuanya akan segera berakhir dan kakak akan segera menemukan kebahagiaan kakak sendiri. Percayalah!" Ucap Jully memberi semangat.
"Terimakasih Jully." Balas Nouval dengan tersenyum tipis.
"Dan mungkin juga kebahagiaanmu tidak jauh-jauh dari sini, sudah ya aku balik dulu. Urgent nih!" Jully mengedipkan sebelah matanya setelah mengatakan itu dan langsung nyelonong pergi setelah menepuk pundak Nouval.
"Lho kak... Aku gimana?!" Seru Melda.
"Kak Nouval, tolong titip Melda ya?!" Teriak Jully yang sudah agak jauh dari mereka.
"Tapi kak..." Melda sudah tidak bisa berkata apapun lagi, karena Jully sudah menghilang dari hadapan mereka.
"Sudahlah, tidak apa-apa biar aku yang mengantarmu. Mau balik ke kantor kan?" Tawar Nouval.
"Tidak apa-apa, lagian kita searah." Ujar Nouval tersenyum seraya menatap manik mata Melda yang berwarna coklat, entah mengapa terlihat begitu cantik dimata Nouval.
"Kalau begitu terimakasih." Ucap Melda sedikit malu-malu.
"Sama-sama, bisa kita berangkat sekarang?" Tanya Nouval yang langsung diangguki Melda dan akhirnya mereka berdua keluar dari kantor Pengadilan Agama menuju mobil Nouval yang terparkir di halaman kantor tersebut. Entah apa yang terjadi di sepanjang perjalanan mereka, hanya mereka berdualah yang tahu.
🍓🍓🍓🍓🍓
Akhirnya malam yang dinantipun tiba. Suasana di rumah ibu Jully sedikit riuh. Terlihat anak-anak, menantu serta cucu-cucu bu Susi berkumpul semua di rumahnya. Bahkan Saras kakak perempuan tertua Jully hadir jauh-jauh dari Denpasar-Bali beserta suami dan anak-anaknya. Sedangkan Enin kakak kedua Jully baru saja tiba bersama suami dan anak semata wayangnya.
"Wahh... dah pada ngumpul semua." Sapa Enin yang melihat saudara-saudaranya yang tengah sibuk menata makanan di ruang tengah yang disulap seperti pesta kecil-kecilan. Aneka menu makanan, minuman, kue dan buah-buahan ditata layaknya prasmanan.
"Nunggu kamu saja yang dari tadi gak datang-datang." Sahut Saras kakak tertuanya.
"Nunggu Enin tuh dandannya lama mbak." Ungkap Eka suami Enin.
"Masa sih? Perasaan biasa saja." Kilah Enin.
"Iya, biasa kamu itu hampir dua jam lho dandannya." Timpal Eka.
"Gak selama itu kali pi... Papi ngada-ngada deh." Sahut Enin gak terima sambil mencubit pinggang suaminya, Eka pun hanya meringis geli karena Enin tidak benar-benar mencubitnya.
"Kalian itu datang-datang sudah ribut saja." Tegur bu Susi yang baru saja keluar dari dapur sambil membawa satu mangkuk besar sambal goreng kentang rempela ati yang terlihat menggiyurkan di lidah dan diletakkannya di meja saji.
"Malam bu, selamat Ulang Tahun ya bu... Semoga ibu sehat terus." Eka langsung mencium punggung tangan mertuanya.
"Terimakasih ya Ka..." Sambut bu Susi sambil memeluk singkat menantunya itu.
"Selamat Ulang Tahun ya bu... Semoga panjang umur dan selalu sehat." Kini giliran Enin yang mencium dan memeluk ibunya yang disambut sayang oleh bu Susi.
"Nah... Sudah lengkap semuanya kan? Kita mulai saja sekarang ntar keburu kemaleman, kamu gak lupa bawa kuenya kan Nin?" Tanya Saras pada adiknya.
"Gak dong... Nih!" Jawab Enin sambil menunjukkan kue Ultah yang sudah dia pesan jauh-jauh hari untuk merayakan Ulang Tahun ibunya.
"Good... Taruh di situ." Perintah Saras. "Jully, tolong ambilin korek apinya dong..." Tambah Saras. Jully tanpa berkata langsung beranjak mengambil korek api yang ada di dapur.
"Itu anak kenapa sih mbak kok dari tadi diam saja?" Tanya Enin pada Saras yang heran melihat Jully kalem-kalem saja dari tadi, biasanya kan itu anak paling rame.
"Mungkin dia lagi capek saja, soalnya kata ibu akhir-akhir ini dia sibuk banget di kantor." Jawab Saras yang hanya diangguki saja oleh Enin.
Jully pun kembali sambil membawa korek api dan meletakkan begitu saja di meja dekat kue tanpa sepatah katapun.
"Tuh kan mbak... Aneh banget itu anak, gak kaya biasanya." Bisik Enin yang masih mengamati gelagat aneh adik bungsunya itu.
"Sudah, biarin saja." Sahut Saras.
Setelah semua keluarga berkumpul, akhirnya acarapun dimulai. Eka memimpin do'a sebelum bu Susi meniup lilin Ulang Tahunnya. Setelahnya semua keluarga satu persatu memberi selamat serta memberi satu persatu kado yang mereka bawa. Namun ditengah-tengah acara tiba-tiba lampu padam dan digantikan lampu senter yang ada di ponsel mereka masing-masing kecuali Jully dan bu Susi yang tidak membawa ponsel. Tak lama kemudian muncullah Auliya yang juga menyalakan senter dari ponselnya.
"Lho... Aul? Katanya gak bisa datang? Ini juga kenapa tiba-tiba mati lampu." Tanya bu Susi yang heran karena kedatangan Auliya yang tiba-tiba.
"Hehe... Ini budhe, saya gak tega kalau gak datang, sekalian ngantar hadiah spesial buat budhe." Tiba-tiba dari arah belakang Auliya muncul seseorang yang tengah membawa kue Ulang Tahun yang masih menyala lilinnya sambil menyanyikan lagu Happy Birthday. Setelah melihat siapa orang tersebut membuat Jully tak bisa berkata apa-apa dan langsung membungkam sendiri mulutnya dengan telapak tangannya. Sementara bu Susi melongo tidak percaya jika seseorang yang memberi kejutan itu adalah Wigih si dogan nak gantengnya.
"Selamat Ulang Tahun bu Susi... Semoga sehat dan bahagia selalu serta panjang umur. Dan... Sekalian saya disini mahu minta ijin buat melamar Jully untuk menjadi pendamping seumur hidup saya." Bu Susi yang mendengarnya langsung terperanga tak percaya, calon mantu idamannya itu kini tengah melamar anak bungsunya. Sementara pikiran Jully langsung kosong setelah mendengar permintaan Wigih pada ibunya, saat ini dia tidak bisa berpikir apapun. Dia merasa itu antara mimipi dan kenyataan, apalagi selama ini tidak ada omongan apapun dari Wigih masalah lamar melamar.
"Ibu sih YES! Jully, kamu kalau gak YES! Ibu bakal kutuk kamu jadi undur-undur!" Ancam bu Susi dengan mulut pedasnya.
"Gimana sayang? Kamu mahu kan menikah sama aku?" Tanya Wigih pada Jully dan tanpa ba bi bu Jully langsung menjawab.
"YES!!"
Horreeeee.....!!
Bersambung....