
Jully kembali ke kelasnya dengan mata yang sembab dan itu tidak luput dari pandangan ketiga sahabatnya.
"Beb, kamu kenapa?" Tanya Kansari khawatir melihat keadaan Jully yang langsung terduduk dan menenggelamkan wajahnya di atas meja.
"Kamu habis nangis Jull?" Tebak Rere tepat sasaran.
"Siapa yang bikin kamu seperti ini? Biar aku rebus sampai tak bertulang!" Hujat Ningsih tidak terima saat melihat sahabatnya datang dengan keadaan wajah yang berantakan. Wajah yang selalu tersenyum ceria itu menjadi muram terbalut air mata.
"Jull... Kalau mau nangis, nangis aja gak papa gak usah ditahan." Ucap Kansari sambil mengelus punggung Jully untuk memberi gadis itu ketenangan.
Jully menegakkan wajahnya, sudah tidak ada air mata disana, hanya saja wajahnya masih memerah dan matanya sedikit sembab.
"Aku gak apa-apa kok, kalian tidak perlu khawatir." Ucap Jully dengan senyum yang dipaksakan.
"Gimana gak khawatir? Kamu datang dalam keadaan seperti ini. Cerita sama kita siapa yang membuat kamu seperti ini?" Rere geram karena Jully justru tidak ingin teman-temannya mengkhawatirkannya. Bukankah mereka bersahabat. Apapun kesedihan sahabatnya, maka itu juga kesedihannya. Mereka berteman bukan hanya untuk berbagi kebahagiaan saja, melainkan juga berbagi duka dan kesedihan. Itu baru dinamakan teman yang sesungguhnya.
"Please... Jangan sekarang, kita bicarakan nanti saja." Pinta Jully pada mereka bertiga.
"Okey beb kalau itu mahu kamu, kita akan menunggu, ya kan guys...?" Mereka akhirnya menyerah, mengangguk setuju dengan ucapan Kansari.
Tepat setelah itu bell masuk berbunyi bersamaan dengan masuknya Wicky dan Aleando ke kelas. Wicky langsung menghampiri Jully seketika itu juga.
"Jull, kita harus bicara, aku tidak..." Ucapan Wicky menggantung saat Jully menghentikannya dengan mengangkat telapak tangannya dan berujar "Stop!"
"Please Wick jangan sekarang!" Ucap Jully tegas.
"Tapi Jull..." Kalimat Wicky terhenti lagi, kali ini Kansari yang menyambar ucapannya.
"Ohh jadi ini semua ulah kamu Wick?! Kalau semuanya akan jadi seperti ini, aku gak bakalan bilang kemana Jully pergi tadi."
"Heii kamu apakan temanku?!" Ningsih sudah berdiri dari duduknya dan berkacak pinggang siap menghadapi Wicky apapun yang terjadi.
"Mending kalian gak usah ikut campur, ini urusan aku sama Jully." Wicky berujar dengan sengit.
"Kok kamu nyolot?! Jully itu sahabat kami, siapapun yang menyakitinya kamipun tidak akan tinggal diam, termasuk kamu!" Rere sudah emosi, tidak terima dengan apa yang diucapkan Wicky barusan.
"Stop! Cukup!" Jully seketika menggebrak mejanya untuk menghentikan perdebatan yang membuat dirinya semakin muak. Saat ini dirinya hanya membutuhkan ketenangan bukan kerusuhan.
"Please Wick, mending kamu balik lagi ke meja kamu. Bell masuk sudah berbunyi apa kamu tuli? Ini waktunya belajar bukan berdebat untuk menyanggah kesalahanmu." Jully berkata dengan nada rendah yang sinis, matanya langsung menatap lekat mata Wicky membuat lelaki itu mendengus frustasi dan langsung berbalik kembali ke mejanya. Perdebatan mereka tadi membuat seisi kelas berbisik-bisik bertanya dan menduga-duga hal apa yang sebenarnya terjadi. Kericuhan di kelas itu berhenti setelah seorang guru memasuki kelas mereka.
Dijam istirahat Jully pun masih enggan untuk berbicara, dia memilih untuk diam di kelas dan menyibukkan diri mengerjakan lembaran LKS yang masih kosong. Sementara Wicky berusaha tetap mendekati Jully untuk menjelaskan atau lebih tepatnya mungkin dia akan mencoba membela diri atas kebohongan yang dia ciptakan, namun usahanya tidak berhasil karena dia selalu dihadang oleh tiga sekawan yang selalu melindungi Jully. Siapa lagi kalau bukan Kansari, Rere dan Ningsih. Mereka bertiga tidak membiarkan Wicky mendekati bahkan berbicara dengan Jully. Bisa kalian bayangkan betapa geram dan frustasinya Wicky akan hal itu. Yahh mahu bagaimana lagi, semua itu karena kesalahan yang dia ciptakan sendiri. Jully gadis yang manis, ceria, ramah dan baik hati, namun satu yang tidak bisa pernah dia terima yaitu kebohongan, apalagi kebohongan itu dibuat dengan sengaja dengan alasan yang tidak baik pula. Maka hanya amarah yang bisa dia rasakan saat ini. Kalau sudah seperti ini jangan coba-coba mendekati Jully, gadis itu lebih suka menyendiri menenangkan hati dan pikirannya yang sedang kalut.
"Sar, yuk kita pulang sekarang." Ini adalah kalimat pertama Jully yang dia lontarkan setelah beberapa jam yang lalu hanya diam saja.
"Ha? E.. ee.. Iya, yuk!" Jawab Kansara tersentak kaget hingga tergagap dan sekaligus lega setelah mendengar suara Jully. Sementara Rere dan Ningsih hanya bisa saling melirik satu sama lain.
"Ehmm Jull, kamu mahu langsung pulang ke rumah? Gak mahu mampir ke cafe atau ke mana gitu? Ahh maksud aku kan tadi kamu gak sempat makan apa-apa waktu istirahat." Ucap Rere dengan hati-hati.
"Ahh maksud kita, kita mahu kok nemenin kamu kalau memang mampir dulu hehe..." Seloroh Ningsing menimpali ucapan Rere.
"Lain kali ya guys, aku tahu kalian ingin mendengar apa yang terjadi tapi aku mohon jangan sekarang, saat ini aku hanya ingin pulang." Jully sebenarnya ingin menceritakan semua yang terjadi kepada ketiga temannya itu, namun saat ini kepalanya terasa begitu pening, dia lelah, amarah yang membara di hatinya cukup menguras energinya dan yang dia perlukannya saat ini hanyalah tidur, mencoba melupakan sesaat apa yang terjadi hari ini.
"Ya sudahlah kita harus mengerti Jully saat ini, yuk kita pulang beb." Ujar Kansari tersenyum manis sembari menggandeng tangan Jully, menuntun gadis itu untuk keluar kelas yang diikuti Rere dan Ningsih dari belakang.
Di lain tempat Wicky masih saja berusaha untuk menemui Jully, dia kini sedang menunggu di depan gerbang sekolah bersama Aleando.
"Wick, mending kita pulang sajalah... Gak ada gunanya kamu nungguin Jully seperti ini, toh dia gak bakalan mahu bicara sama kamu." Ale mencoba menasehati sahabat sablengnya itu sebelum suasana semakin bertambah runyam.
"Gak bisa Le! Kalau gak sekarang kapan lagi? Aku gak mahu ya dia salah paham terus seperti ini." Wicky tetap ngotot dan tidak mahu mendengar apa yang dikatakan Ale.
"Salah paham? Ini bukan salah paham Wicky, ini kenyataan, apa yang kamu lakukan itu adalah nyata suatu kebohongan." Ale berusaha menyadarkan Wicky akan kesalahannya, karena dia tidak ingin Wicky salah berucap saat dihadapan Jully yang mungkin akan menambah amarah gadis itu dan tidak bisa memaafkan Wicky.
"Itu aku lakukan karena aku ingin lebih dekat dengannya, itu semua demi kebaikan kami ke depannya." Wicky tetap kekeh membela dirinya.
"Kebaikan kalian? Bukankah itu hanya menjadi kebaikanmu saja, kamu hanya takut Jully lebih perhatian dengan seseorang selain dirimu, kamu bahkan menggunakan cara licik untuk bersaing dengan seseorang yang tidak engkau ketahui rupanya." Kalimat Aleando barusan langsung mengenai sasaran membuat Wicky tertegun sesaat yang membuat sebagian hatinya memanas.
"Bagaimana kamu bisa berkata seperti itu Ale? Kamu ini temanku bukan sih?! Bahkan kamu sekarang terlihat lebih membela Jully dari pada aku sahabatmu sendiri. Dan di kantin tadi pagi kamu juga mengungkap semua yang aku rahasiakan. Atau jangan-jangan kamu juga suka dengannya?" Wicky sudah tidak tertolong lagi, bahkan sekarang dia menuduh Ale yang bukan-bukan.
"Huhh..." Ale mendengus lelah.
"Apa kamu sadar Wick bahwa kamu sekarang menjadi orang yang begitu egois? Asal kamu tahu Jully tidak sebodoh yang kamu kira, dia bahkan cukup pintar menyelidiki ini semua hingga dia mengetahui kebenarannya tanpa aku membuka mulut. Dan sekarang kamu menuduhku mempunyai perasaan kepada Jully? Tuduhanmu itu tidak mendasar kawan, seharusnya kamu tahu Wicky di sekolah ini siapa yang tidak menyukai seorang Jully Mahardika? Banyak sekali yang mengaguminya. Bukankah kamu seharusnya mencurigai mereka semua dari pada aku temanmu sendiri yang sudah kamu kenal bertahun-tahun." Setelah mengucapkan kalimat yang begitu panjang itu Aleando langsung meninggalkan Wicky yang masih terpaku di sana. Aleando sudah cukup kesal menghadapi tuan muda yang begitu egois yang sialnya adalah sahabatnya sendiri. Aleando tidak tahu sejak kapan sahabat sablengnya itu menjadi sosok yang begitu egois. Apa sejak dia mengenal Jully? Sungguh pengaruh gadis itu cukup luar biasa.
Kata-kata Ale sungguh menusuk hatinya, Wicky terpaku. Dia tidak menyangka akan bertengkar dengan Ale setelah sekian lama mereka bersahabat dan pertengkaran inilah yang paling menguras emosinya. Ucapan Ale masih terngiang di telinganya, "Apa benar aku begitu egois?" Gumamnya. Dan tidak seharusnya dia menuduh Ale yang selalu bisa menjadi temannya.
"Arggghh...!!" Wicky menggeram frustasi, dia *******-***** rambutnya lalu dia memilih pergi tanpa menunggu Jully. Mungkin apa yang dikatakan Ale benar, untuk saat ini dia akan memberi ruang kepada Jully agar gadis itu sedikit lebih tenang, setelahnya dia akan mencoba mendekati Jully kembali untuk memberi penjelasan kepada gadis itu.
Dilain sisi berita tentang Jully dan Wicky yang bertikai di kantin tadi pagi telah sampai di telinga Wigih. Mungkin suatu kebetulan ada Ernita di tempat kejadian, adik Wigih itu tidak sengaja mendengar percakapan antara Ale dan Jully hingga Wicky datang memicu pertengkaran disaat Ernita tengah asyik menikmati soto ayam sarapannya. Maka dengan itu Wigih bisa tahu delik permasalahannya melalui cerita yang Ernita bawakan. Dari kejahuan Wigih melihat Jully bersama Kansari dan yang lainnya tengah berjalan keluar gerbang sekolah. Wigih melihat tatapan Jully yang begitu sendu saat berjalan, wajah yang selalu ceria itu tak lagi tersenyum. Ingin rasanya Wigih berlari mendekatinya untuk menghibur gadis itu dan berterus terang tentang semua ini. Namun ia mengurungkan niatnya itu, bukan saat yang tepat baginya untuk membuka kebenaran yang sesungguhnya disaat hati Jully merasa tersakiti. Saat ini yang bisa dilakukan Wigih hanyalah memberi ruang Jully untuk menenangkan hatinya.
"Maaf Jully, bersabarlah sedikit lagi."
Bersambung....