Jully Mahardika

Jully Mahardika
Ep. 43 Story Of Anita



Anita dan Wigih duduk di bangku taman tak jauh dari kelas mereka yang memang disediakan sekolah untuk para siswanya beristirahat atau duduk-duduk santai sambil membaca buku. Di sana mereka berdua terlihat sangat serius. Wigih dengan wajah dinginnya dan Anita walau mencoba untuk terlihat tenang namun dalam hatinya gadis itu merasa gugup.


"Bicaralah, waktu kita tidak banyak karena sebentar lagi jam istirahat akan usai." Kata Wigih mengawali pembicaraan mereka tanpa menatap lawan bicaranya.


"Bagaimana kakimu? Apakah masih terasa sakit?" Tanya Anita sambil melirik ke arah kaki Wigih yang terbalut gips.


"Lumayan sudah tidak begitu sakit. Sebaiknya kamu langsung saja pada inti pembicaraan kita, aku yakin kita di sini bukan untuk membicarakan perihal kakiku." Wigih berbicara sedikit sengit.


"Baiklah, aku menemui hanya untuk minta maaf dan terimakasih." Ucap Anita sambil sedikit menundukkan wajahnya. Perkataannya begitu tulus sehingga terdengar begitu aneh di telinga Wigih. Tak biasanya Anita bersikap seperti ini.


Wigih lantas menengok ke arah Anita yang duduk di sampingnya, mengerutkan dahinya sampai memicingkan matanya lalu berkata....


"Minta maaf dan terimakasih untuk apa?" Tanya Wigih yang tidak mengerti sama sekali. Mungkin untuk permintaan maaf Wigih sedikit mengerti mengapa gadis di sampingnya mengatakan hal itu padanya. Karena selama ini Anita selalu merecoki hidupnya, bukan hal jahat sih sebenarnya tapi mengarah ke hal-hal yang membuatnya risih karena tingkah dan perlakuan gadis itu terhadapnya. Namun untuk apa dia berterima kasih padanya? Wigih bingung akan hal itu.


"Maaf karena selama ini aku selalu membuatmu kerepotan dan tidak nyaman karena tingkah lakuku yang manja, kekanakan dan selalu ingin perhatian lebih darimu. Dan aku juga berterimakasih karena kamu adalah orang pertama yang mahu mengulurkan tanganmu disaat anak-anak yang lain menjauh dan tidak mahu berteman denganku." Ucap Anita sembari tersenyum menatap Wigih.


"Maksudmu apa ya? Aku tidak mengerti, bukankah selama ini banyak yang ingin berteman denganmu." Wigih semakin dibuat tidak mengerti.


Anita memalingkan pandangannya ke depan, menerawang jauh mengingat kenangan di masa lalunya.


"Saat SD kamu dulu bersekolah di SD Gemilang kan?" Tanya Anita yang diangguki Wigih.


"Kok kamu tahu?" Wigih bingung lagi bagaimana gadis manja di sebalahnya ini tahu tentang sekolahnya dulu? Apa segitu terobsesinya Anita terhadap dirinya? Pertanyaan-pertanyaan nakal itu sempat singgah di otak cerdasnya sampai Anita mengatakan hal yang tidak pernah dia duga.


"Karena aku juga bersekolah di sana." Ucapan Anita membuat Wigih terkejut. Bagaimana mungkin Anita juga bersekolah di SD yang sama dengannya dulu jika dirinya tidak mengingatnya. Ya mungkin ada beberapa ingatan tentang teman masa kecilnya di SD yang Wigih lupakan, namun gadis seperti Anita yang selalu menjadi primadona di sekolah ini tentu saja tidak akan mudah dilupakan jika dia dulu bersekolah di tempat yang sama dengan dirinya bukan? Tentunya dulu Anita akan sama menonjolnya dengan sekarang.


"Bagaimana mungkin? Aku bahkan tidak mengingat ada seorang teman yang mirip denganmu Nita." Ungkap Wigih.


"Tentu saja kamu tidak akan mengingatnya Gih, karena pada waktu itu penampilanku sangatlah berbeda." Anita menjeda ucapannya, kemudian dia menengok kembali ke arah Wigih yang masih mengerutkan dahinya menatapnya.


"Kamu ingat seorang gadis gendut yang selalu dibully dan dijauhi oleh anak-anak yang lainnya?" Tanya Anita pada Wigih.


"Ya tentu saja aku ingat, gadis itu bernama...." Wigih menggantung ucapannya, "Tunggu... Dia mempunyai nama yang sama denganmu, tidak mungkin dia itu..." Wigih kembali menggantung kalimatnya dan memandang gadis di sebelahnya yang kini mengangguk dengan senyum di wajahnya.


"Tidak mungkin!" Ujar Wigih tak percaya.


"Ya, itu memang aku." Anita menegaskan jawabannya.


"Tapi bagaimana bisa kamu berubah total seperti ini?" Tanya Wigih yang masih terkejut akan kebenaran yang baru saja ia dapatkan.


"Panjang ceritanya, yang jelas aku mati-matian menurunkan berat badanku ketika mulai masuk SMP karena aku ingin punya banyak teman terlebih pada saat itu kamu masuk di SMP yang berbeda denganku. Tidak ada lagi yang akan melindungiku jika aku dibully lagi, maka aku harus melindungi diriku sendiri. Ya... jadilah aku diet saat liburan kelulusan sekolah dan berat badanku lumayan turun saat mulai masuk SMP." Kalimat Anita itu membuat Wigih melongo tak percaya, ternyata gadis gendut pendiam yang selalu ditolongnya saat mengalami bullying itu adalah Anita teman semasa SD dulu.


"Dan disaat kita mulai masuk SMA betapa senangnya aku bisa melihatmu kembali di sekolah yang sama ini." Lanjutnya.


"Tapi mengapa kamu tidak mengatakannya dari awal jika kamu adalah Anita yang itu?" Ujar Wigih.


"Karena kamu sudah melupakanku."


"Kamu seharusnya mengingatkanku Nita."


"Sudah, tapi kamu tetap tak bisa mengingatnya." Terang Anita dengan pandangan nanar.


"Benarkah?"


"Iya, aku pernah menyapamu untuk pertama kali tapi kamu hanya membalas seadanya saja. Aku sengaja mengingatkanmu dengan makanan atau jajanan yang sering kita makan diwaktu istirahat. Bahkan dari awal aku memperkenalkan diri sebagai Anita Panduwijaya pun kamu tetap tidak mengingatnya." Jawab Anita sedih.


"Maaf... Aku kira itu hanyalah suatu kebetulan saja dan bagaimana bisa aku memikirkan bahwa kalian adalah orang yang sama jika penampilanmu yang sekarang sangat jauh berbeda dari yang dulu." Ungkap Wigih merasa sedikit bersalah.


"Maaf...." Kata Anita.


"Kenapa kamu harus minta maaf? Seharusnya aku yang meminta maaf padamu karena sudah melupakan persahabatan kita dulu. Dan membuat kita menjadi dua orang yang saling salah paham." Ujar Wigih.


"Tapi tetap saja tak sepantasnya aku terlalu over protektif padamu seakan kamu adalah milikku seorang dan membuat dirimu merasa tidak nyaman. Seharusnya aku menjelaskannya dari dulu ketika ada waktu." Ungkap Anita sembari menunduk menyesali perbuatannya.


"Sudahlah.... Lupakan semuanya, yang penting sekarang semua sudah jelas dan sudah tidak ada salah paham lagi." Ucapan tulus Wigih membuat hati Anita menghangat, sudah lama ia tidak berbicara sesantai ini dengan Wigih dan sekarang beban yang terasa berat seakan menguap begitu saja dari pundaknya. Ia pun tersenyum lega dan menganggukkan kepalanya.


"Dan sekarang keinginanmu untuk mendapat begitu banyak teman sudah tercapai, lihat betapa banyak dari mereka yang ingin kenal lebih dekat denganmu." Puji Wigih.


"Ya memang, tapi tidak setulus kamu." Jawab Anita.


"Maksudmu?" Apa lagi sekarang yang dicemaskan Anita? Wigih tak mengerti.


"Mereka baik di depan tapi tidak di belakangku. Aku tidak sengaja mendengar percakapan beberapa teman saat di kamar mandi, mereka tidak tahu bahwa aku juga berada di sana, di salah satu bilik toilet. Meraka berujar jika mereka berteman denganku karena aku cantik dan populer, karena aku anggota OSIS. Mereka hanya numpang tenar saja." Ungkapnya lagi.


"Jangan dengarkan ucapan mereka, mereka begitu karena mereka iri padamu." Hibur Wigih sambil menepuk-nepuk lirih bahu Anita.


"Tidak apa-apa, sungguh aku sudah tidak apa-apa dibandingkan dengan apa yang telah aku alami waktu SD dulu, ini tidak ada apa-apanya. Aku yang sekarang lebih menyangi diriku dan menerima kelebihan dan kekuranganku sendiri." Jawab Anita masih dengan senyum tulusnya.


"Dan aku sangat berterimakasih serta bersyukur Tuhan mendatangkamu sebagai temanku yang sesungguhnya. Terimakasih ya Wigih." Lanjutnya dengan mata yang berkaca-kaca.


"Heii... Jangan sedih gitu dong, jangan membuatku tambah merasa bersalah." Ucap Wigih mengusap lembut bahu Anita, mencoba memberi ketenangan pada teman kecilnya itu. Merekapun akhirnya tertawa bersama melepas segala beban yang ada.


"Aku tidak sedih, aku hanya terharu tidak menyangka bahwa aku akhirnya bisa berterus terang seperti ini padamu."


"Dasar cengeng!" Ejek Wigih bercanda.


"Jadi kita masih teman?" Tanya Anita ragu.


"Tentu saja, kamu adalah temanku selamanya asal kurangi sikapmu yang selalu menempeliku kemana-mana." Ucap Wigih dengan gaya yang mendekte.


"Haha... Tentu saja, aku kan tidak mahu seseorang yang di sana menjadi salah paham juga." Jawab Anita dengan menunjuk dada Wigih dengan jari telunjuknya.


"Apa sih gak jelas banget?!" Wigih merasa salah tingkah dengan ucapan Anita yang ambigu.


"Memangnya aku tidak tahu kalau setiap pagi atau sepulang sekolah kamu selalu mengendap-ngendap masuk ke kelas Jully di saat kelas itu kosong." Ucap Anita santai setengah mengejek membuat Wigih terperanga kaget.


"A.. a..emm... Sejak kapan kamu tahu soal itu?" Tanya Wigih tergagap tak percaya ternyata dia dipergoki seperti ini, padahal dia yakin tidak ada orang yang mengetahuinya karena dia sangat hati-hati.


Suara bell masuk berbunyi, menandakan waktu istirah telah usai. Anita langsung beranjak dari duduknya mengabaikan pertanyaan dari Wigih, membuat lelaki itu geram sendiri.


"Heii Nit, jangan pergi dulu! Jawab dulu pertanyaanku!" Teriak Wigih dengan perasaan gusar mengikuti langkah Anita yang berada di depannya. Kakinya yang terbalut gips dan tongkat di tangannya menyulitkan dia untuk menyamakan langkah dengan Anita.


Anita tiba-tiba menghentikan langkahnya dan menengok ke belakang memandang Wigih yang juga menghentikan langkahnya.


"Makanya kalau suka itu bilang langsung dong... Jangan main surat-suratan kaya anak SD saja." Setelah mengatakan itu dengan sedikit kerlingan nakal di matanya, Anita kembali melanjutkan langkahnya sembari mengatakan sesutu tanpa menoleh lagi.


"Tenang saja, rahasiamu aman ditanganku."


Sementara Wigih sudah tidak bisa bicara apapun lagi, bibirnya kelu, dia terkesiap dengan pernyataan yang diungkapkan Anita barusan. Jadi sejak kapan Anita mengetahui semuanya? Dan sampai mana dia tahu? Itu semua hanya akan menjadi pertanyaan tanpa jawaban untuk Wigih. Sabar ya Ketosgan... Untung Anita yang tahu kalau orang lain yang tahu bagaimana? Ambyar kan....


Bersambung....