
Malam itu di kamar inap Jully, Enin sedang berbenah membereskan pakaian dan barang-barang Jully yang akan dibawa pulang besok karena besok pagi Jully sudah diperbolehkan untuk keluar dari Rumah Sakit, tentunya dia harus rutin kontrol setelahnya. Sementara bu Susi sudah pulang sore tadi setelah Enin datang untuk menggantikannya dan akan kembali besok pagi menjemput Jully.
"Dek... Ini apa? Kok seperti kado?" Enin memperlihatkan kotak kecil yang dibungkus rapi dengan pita berwarna merah bata pada Jully.
"Ahh aku baru ingat kalau kemarin aku mendapatkan kado ulang tahunku." Jawab Jully seraya bangun dari duduknya dan menghampiri Enin sembari mengambil kado itu dari tangan kakaknya.
"Emang itu kado dari siapa?" Tanya Enin.
"Wicky." Jawab Jully singkat.
"Wicky?" Enin membeo sambil mengingat-ingat nama itu.
"Maksudmu Wicky gebetan kamu waktu SMA itu?" Lanjut Enin dengan mata terbelalak setelah mengingat nama Wicky dan Jully hanya mengangguk sebagai jawabannya.
"Waaahh... Apakah kalian akan kembali dekat?" Tanya Enin lagi dengan rasa penasarannya yang menggebu, namun Jully menggeleng.
"Tidak, dia akan menikah seminggu lagi." Sahut Jully kemudian.
"Waoow! Dia benar-benar pemain yang hebat, seminggu lagi dia akan menikah tapi sempat-sempatnya datang menjengukmu dan memberikan sebuah hadiah ulang tahun?" Enin berujar dengan sedikit bertepuk tangan dan menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Dia datang hanya sebagai teman, lagian kemarin dia datang ramai-ramai dengan yang lainnya kok..." Ucapan Jully seakan meyakinkan hatinya sendiri bahwa sudah tidak ada lagi seorang Wicky yang tersisa di hatinya.
"Tapi ibu pernah bilang padaku bahwa dia sempat datang sendiri melihatmu ketika kamu masih dalam keadaan koma."
"Dia hanya..." Jully menjeda kalimatnya, "Merasa bersalah padaku." Lanjutnya setelah menghela napasnya.
"Mbak gak tahu apa masalah kalian dan mbak tidak mahu ikut campur, apapun masalah kalian mbak harap kalian bisa menyelesaikan dengan cara yang baik. Kalian berdua sudah dewasa, pasti kalian mengerti kan?" Ucap Enin memberi wejangan pada adiknya.
"Tenang saja mbak... Kami berdua bukan orang yang picik, apapun masalah kami di masa lalu, di masa sekarang kami berdua tetaplah teman." Sahut Jully sembari tersenyum simpul.
"Meski kami berdua tidak bisa berteman seakrab dulu." Tambah Jully dalam hati.
Setelah itu Enin melanjutkan acara berkemasnya dan Jully kembali ke ranjangnya sambil membawa kotak kecil kado dari Wicky. Jully penasaran apa isinya. Saat ingin membuka kado itu tiba-tiba terdengar lagi suara kakaknya berbicara.
"Dek, semuanya sudah beres, kalau ada barang lagi yang mau dimasukkan di kantong depan tas ini masih kosong." Kata Enin yang diangguki Jully.
"Ohh ya, mbak mau cari camilan sama teh hangat di kantin, kamu mau nitip apa?" Tawar Enin.
"Terserah mbak aja, pokok jangan yang manis-manis soalnya aku sudah manis hehe..." Jawab Jully dengan candaannya.
"Hallaah manis-manis tapi masih jomblo saja." Sahut Enin dengan ledekannya yang langsung mengena.
"Tenang saja mbak... Jodohku masih OTW." Balas Jully santai.
"Amiinn... Ya sudah mbak keluar sebentar, kamu istirahat dulu aja." Pamit Enin yang diacungi jempol oleh Jully.
Setelah kepergian Enin dari kamarnya, Jully kembali melihat kotak kado yang ada di tangannya. Kemudian dia membongkar bungkus kado tersebut dan membuka kotak tersebut dengan hati-hati. Alangkah terkejutnya Jully setelah melihat apa yang ada di dalam kotak itu. Benda yang selalu ia pertanyakan dimana keberadaannya ternyata ada di dalam kotak kadonya. Ya, gelang couple yang seharusnya menjadi miliknya ternyata ada bersama Wicky selama ini.
"Kenapa gelang dari kak Wigih bisa ada pada Wicky? Aneh deh..." Monolognya.
"Ahh disini ada surat juga, bukan hanya satu tapi dua?" Jully bertanya-tanya sendiri kenapa bisa ada dua surat yang ada di dalam kadonya. Salah satu surat itu bersampul biru muda, sampul yang tidak asing lagi baginya.
"Mirip surat dari kak Wigih..." Gumamnya sendiri.
Kemudian Jully membuka amplop biru muda itu dan ternyata benar, itu surat dari Wigih, isinyapun sama dengan apa yang diingat Jully saat Wigih memberikan gelang couple itu. Namun pertanyaan yang ada di benak Jully hanya satu, kenapa surat dan gelang itu ada bersama Wicky?
Lalu mata Jully tertuju pada amplop satunya lagi, amplop warna hijau. Dia segera meraih amplop itu, membukanya dan membaca isinya.
Dear Jully...
Selamat Ulang Tahun my smart girl... Ahh maaf, tak seharusnya aku mengatakan hal itu, namun satu hal yang musti kamu tahu... Aku tidak pernah menyesal pernah mengagumimu, satu hal yang selalu aku sesali sampai detik ini adalah aku yang selalu melukai hatimu. Aku yang egois ini selalu tak mengijinkanmu didekati oleh pria manapun sementara aku sendiri tidak pernah memberi kepastian padamu. Jully... Maafkan atas semua kebohongan yang telah aku ciptakan selama ini. Jika kamu sudah membaca surat dari Cancer Boy dan membandingkan dengan surat yang aku tulis ini pasti kamu tahu jika kami berdua adalah orang yang berbeda. Aku bukan dia dan dia bukanlah aku. Dia adalah orang yang benar-benar tulus mencintaimu hingga saat ini. Dia adalah kak Wigih. Maaf aku telah berbohong karena mengaku jika itu aku dan mencuri benda pemberiannya untukmu. Jully... Jika kamu tidak bisa memaafkanku aku bisa terima karena disini aku yang salah, aku yang telah memisahkan kalian berdua. Kak Wigih adalah lelaki yang baik. Terlepas dari ini semua aku selalu mendo'akan kebahagian kalian berdua.
^^^Dari pria egois yang pengecut. ~Wicky~^^^
Jully menghelakan napas panjang, dia tidak habis pikir jika gelang yang terukir inisial namanya itu selama ini disimpan oleh Wicky, mungkin lebih tepatnya dicuri. Ya...paling tidak kini Wicky sudah mengakuinya dan gelang itu sudah kembali lagi padanya. Hati Jully sedikit lebih lega, dia selalu menyangka bahwa gelang yang ada di dalam genggamannya itu tidak pernah benar-benar ada di dunianya sekarang ini dan hanya ada di masa lalunya saja. Namun sekarang dia yakin benda itu benar-benar ada dan dia juga yakin apa yang seharusnya menjadi miliknya pasti akan kembali lagi padanya. Termasuk keyakinannya bila suatu hari nanti Wigih akan kembali berada disampingnya dan menggenggam tangannya.
🍓🍓🍓🍓🍓
Pagi kembali menyapa, pagi ini adalah hari kepulangan Jully dari Rumah Sakit. Jully sudah berpakaian rapi tidak lagi memakai pijama Rumah Sakit, dia sedikit memoles wajahnya dengan pelembab dan bedak tabur serta menyapu bibirnya dengan lip tint sehingga penampilannya sekarang ini terlihat lebih segar. Dia saat ini menunggu ibunya yang katanya akan datang untuk menjemputnya. Sebenarnya dia bisa saja pulang sendiri bersama Enin, toh sekarang ini weekend jadi Enin punya waktu luang untuknya. Sedangkan Brian anak Enin sudah ada suaminya yang menjaganya. Namun ibunya itu bersikukuh untuk menjemputnya, alasannya dia belum pamitan dengan dokter-dokter dan perawat yang selama ini selalu membantunya. Ahh bilang saja ibunya itu mau melihat 'Nak Gantengya' sebelum anaknya meninggalkan Rumah Sakit.
Akhirnya apa yang ditunggu-tunggu datang juga. Ternyata ibunya datang tidak sendiri, dia bersama dengan Auliya.
"Lho Aul kok kamu bisa datang sama ibuku sih?" Tanya Jully heran.
"Tadi aku jemput budhe di rumah karena hari ini aku yang akan mengantarmu pulang." Jawab Auliya.
"Tapi bukankah pagi ini kamu ada jadwal sidang?" Tanya Jully lagi.
"Jadwal sidang pertama diundur, hakim yang seharusnya hadir di persidangan nanti tiba-tiba jatuh sakit dan tidak ada hakim lain yang mampu menggantikannya karena jadwal mereka yang semuanya padat." Jelas Auliya.
"Sedangkan jadwal sidangku yang kedua masih nanti jam sebelas siang, masih ada waktu untuk mengantarmu pulang terlebih dahulu." Lanjutnya lagi.
"Ohhh..." Ujar Jully.
Tak lama kemudian suara ketukan terdengar dari luar kamar inap Jully dan masuklah dokter Ibrahim yang diikuti oleh Wigih juga Rendi di belakangnya.
"Pagi semuanya... Wahh sudah ramai saja di sini." Sapa dokter Ibrahim dengan senyum wibawanya.
"Pagi juga dok..." Jawab mereka semua.
Wigih melirik ke arah Auliya berdiri perasaan yang kurang suka.
"Kenapa dia ada di sini lagi sih?" Gerutu Wigih dalam hatinya.
"Sainganmu tuh..!" Bisik Rendi di telinga Wigih dengan nada mengejek, Wigih hanya diam saja menahan gerah hati yang melandanya saat ini.
"Saya akan memeriksa nona Jully sebentar sebelum pulang, hanya memastikan saat ini anda dalam keadaan baik-baik saja." Kata dokter Ibrahim.
"Baik dok." Jawab Jully. Kemudian dokter Ibrahim mulai memeriksa keadaan Jully diawali dengan memeriksa denyut nadinya sampai tekanan darahnya.
"Baik dok, akan selalu saya ingat." Jawab Jully.
"Baiklah kalau begitu, saya pamit dulu dan selamat atas kesembuhannya." Ucap dokter Ibrahim sembari tersenyum dan pamit dari ruangan itu.
"Terimakasih dok." Ucap semua orang yang ada di dalam sana sebelum dokter Ibrahim benar-benar pergi dari ruangan itu. Sementara Wigih dan Rendi masih tinggal di sana.
"Aduuhh... Dokter-dokter ganteng kita ada di sini semua, senang rasanya bisa melihat kalian berdua sebelum kami pergi." Bu Susi memulai aksinya.
"Iya bu, kami hanya ingin melihat ibu dan juga Jully sebelum pergi dari Rumah Sakit ini." Ucap Wigih santun.
"Lebih tepatnya dokter Wigih yang ingin melihat Jully sebelum pergi." Seloroh Rendi dengan sikap tenangnya sambil melirik ke arah sahabatnya itu yang kini terlihat salah tingkah.
"Hahaa... Tentu saja Jully pasti senang kalian datang, iya kan sayang?" Bu Susi menimpali seraya menengok ke arah Jully berada.
"Ohh tentu, karena selama saya di sini dokter berdua sudah banyak membantu saya dan keluarga saya." Jawab Jully dengan bahasa formalnya. Membuat Rendi harus mati-matian menahan tawanya karena melihat akting Jully yang begitu apik. Bagaimana tidak? Di ruangan itu hanya Rendi satu-satunya yang tahu betul keadaan Jully yang sebenarnya.
"Ahh itu bukan apa-apa, kita ini kan teman, iya kan dokter Wigih?" Sahut Rendi yang kini malah membuat Wigih semakin gugup.
"Iya, benar kita ini teman." Ada kesedihan dalam kata yang diucapkan Wigih karena baginya Jully bukan hanya sekedar teman namun tempat dimana dia akan melabuhkan hatinya.
"Ahh iya sebelum saya lupa, saya membawakan ini untuk ibu." Wigih segera mengalihkan suasana hatinya. Dia menyodorkan sebuah paper bag kecil pada bu Susi.
"Ini apa ya nak dokgan?" Tanya bu Susi seraya menerima paper bag kecil itu dari tangan Wigih.
"Itu vitamin yang aman untuk kesehatan jantung ibu, Beberapa minggu terakhir ini kan istirahat ibu tidak teratur dan kurang tidur, tekanan darah ibu juga sempat turun waktu saya memeriksa beberapa waktu yang lalu. Jadi saya ingin ibu menjaga kesehatan mulai dari sekarang." Ucap Wigih memberi pengertian pada bu Susi.
"Ya ampun... Dokter Wigih perhatian banget, jadi ngerepotin nak dokgan, terimakasih ya nak dokter." Ujar bu Susi.
"Terimakasih ya dokter Wigih, dokter Rendi telah memperhatikan kesehatan ibu saya dan menjaga adik saya selama berada di sini." Ucap Enin dengan tulus.
"Ehmm..." Auliya berdeham sebelum mengatakan sesuatu.
"Sepertinya kita harus pergi sekarang sebelum jalanan semakin macet." Kata Auliya memecah suasana haru mereka.
"Ohh iya, saya belum memperkenalkan diri. Saya Auliya Dirgantara, pengacara keluarga Mahardika dan juga rekan kerja Puteri Tidur itu." Seraya mengerlingkan mata ke arah Jully lalu tangannya menjabat tangan Wigih dan Rendi secara bergantian.
"Senang bertemu dengan anda." Balas Wigih yang kini hatinya sudah ketar ketir tak karuan. Seakan ada yang ******* ***** jantungnya saat ini.
"Kalau begitu kami pamit dulu, jika dokter butuh bantuan hukum, firma hukum kami siap melayani." Ucap Auliya yang sebenarnya tidak bisa menahan tawanya ketika melihat ekspresi Wigih yang terlihat tidak menyukainya.
"Ohh ya sebelum pergi bagaimana kalau kita berfoto dulu sebagai kenang-kenangan?" Ujar Rendi tiba-tiba yang membuat Wigih langsung menoleh ke arahnya dengan muka yang sulit diartikan.
"Boleh, boleh banget dok." Sahut bu Susi semangat.
Akhirnya mereka bersua foto bersama dan menghasilkan beberapa jepretan.
"Ehmm... Saya boleh foto dengan dokter Wigih?" Semua yang ada dibuat kaget, terutama Wigih, dia tidak menyangka jika Jully yang mengajaknya berfoto duluan.
"Tentu." Jawab Wigih dengan tersenyum. Uforia hatinya saat ini mampu memngembalikan moodnya yang sempat turun.
"Dokter Rendi saya boleh pinjam jas dokternya? Dulu saya ingin sekali menjadi dokter tapi tidak kesampaian." Kata Jully dengan tersipu malu.
"Oh tentu saja." Rendi langsung melepaskan jas putih kebesarannya dan menyerahkannya pada Jully. Setelah Jully memakainya Rendi segera memfoto mereka berdua.
Ckrek..!
Hasil bidikan fotonya memperlihatkan Wigih yang tengah memandang Jully dari samping.
"Duhh kelihatan banget bucinnya." Gumam Rendi lirih sambil menahan seyumnya.
"Apa dok?" Tanya Jully yang mendengar samar-samar ucapan Rendi.
"Ahh buka apa-apa, hasil fotonya bagus." Kilah Rendi sambil mengembalikan phonsel milik Jully yang tadi memang ia pakai untuk memfoto mereka berdua.
"Terimakasih dokter Wigih dan dokter Rendi kami pamit sekarang, salam buat dokter Anita." Pamit Jully dan mereka satu persatu keluar dari ruangan tersebut. Auliya yang keluar paling akhir mendekati Wigih dan membisikkan sesuatu pada dokter ganteng itu.
"Jika anda benar-benar menyukai kakak sepupu saya, kejar dia sampai dapat dan ini kartu nama dia. Kapan-kapan mampirlah ke kantor kami." Ucap Auliya sambil mengedipkan sebelah matanya kemudian berlalu pergi meninggalkan Wigih yang berdiri membatu sambil menatap kartu nama yang telah diberikan Auliya padanya. Dikartu nama itu tertera nama Jully Mahardika lengkap dengan alamat kantor dan nomor phonselnya.
"Jadi dia sepupu Jully?" Gumam Wigih tak percaya. Ternyata selama ini dia hanya salah paham. Ya ampuunn... Betapa malunya dia, Wigih menutup wajahnya dengan salah satu telapak tangannya.
"Ada apa bro dengan wajahmu? Sudah mirip kepiting rebus." Ledek Rendi.
Bersambung...
🍁
🍁
🍁
Bonus:
...Dokter Ibrahim...
Dokter Ibrahim: Kenapa tadi saya tidak diajak foto?
Dokter Rendi : Dokter Ibrahim foto dengan kami saja, sebagai saksi cinta kami berdua.
Dokter Ibrahim: Ckk... Dasar anak muda... (Auto foto juga)