Jully Mahardika

Jully Mahardika
Ep. 20 Kebohongan Wicky



Beberapa saat yang lalu di saat jam istirahat...


"Wicky... Mari kita bicara dari hati ke hati." Jully mengucapkannya dengan tatapan yang sulit dijelaskan oleh Wicky. Wicky bingung mengapa Jully tiba-tiba berkata seperti itu. Mungkinkah Jully telah menyadari jika selama ini dia munyukai dirinya? Itu hanya akan menjadi pertanyaan yang tak ada jawabannya apabila Wicky hanya menduga duga.


"Ini maksudnya apa ya Jull? Dari hati ke hati? Kamu gak lagi nembak aku kan?" Wicky tetaplah Wicky dengan kenarsisannya. Jully memutar bola matanya mendengar pertanyaan Wicky yang begitu percaya dirinya.


"In your dream! " Jawab Jully jengah. "Kau pikir aku perempuan apaan menyatakan cinta kepada pria terlebih dahulu?!" Lanjutnya dengan minyalangkan tangannya di dada dan membuang mukanya ke samping dengan kesal.


"Lalu?" Tanya Wicky penasaran.


"Sebelumnya aku ingin bertanya sesuatu kepadamu."


"Apa itu?"


"Tapi kamu harus menjawabnya dengan jujur."


"Tentu saja, kapan aku pernah berbohong padamu?"


"Sering." Jawab Jully dalam hati.


"Okey, aku ingin bertanya apa tadi pagi kamu datang ke sekolah lebih awal dari teman-teman yang lainnya?"


"Ya, sepertinya begitu." Jawab Wicky gamang.


"Jawab yang benar dong! Ya atau tidak!" Jully merasa kesal.


"Iya, aku memang yang pertama kali memasuki kelas. Ada yang salah?"


"Tidak, hanya saja kamu harus menjawab pertanyaanku yang satu ini dengan sejujur jujurnya." Pinta Jully dengan tatapan yang mematikan membuat Wicky merinding sendiri, tak biasanya gadis yang dia puja ini memberi ekspresi seperti itu.


"Oo okey, apa yang ingin kau tanyakan?" Jawab Wicky terbata-bata.


"Ini soal juice strawberry yang selama ini selalu aku temukan di mejaku, apa kau yang menaruhnya?" Jully benar-benar serius menanyakan hal ini, karena dia ingin segera menyelesaikan teka teki yang mungkin tak akan ada jawabnya jika dia berdiam diri tanpa mencari tahu kebenarannya.


Lain halnya dengan Wicky, dia merasa aneh ternyata Jully selama ini belum tahu siapa orang yang diam-diam memberikan hal manis kepada gadis yang dia puja itu. Terbersit pemikiran yang mungkin akan dia sesali nantinya, sesuatu yang mungkin bisa menjauhkan atau malah membuat hubungannya dengan Jully membaik, setelah idenya tentang mendekati Raning gagal, Wicky merasa frustasi.


"Maaf, aku tidak jujur padamu karena aku takut kamu akan menolak pemberianku, jadi aku menaruhnya diam-diam." Sumpah ya! Ini mungkin akan menjadi bumerang bagi Wicky suatu saat nanti, dia tidak sadar bahwa apa yang dia lakukan saat ini akan berdampak buruk nantinya, terutama hubungannya dengan Jully.


"Jadi... Itu beneran kamu?" Wicky mengangguk untuk menjawap pertanyaan Jully.


"Kenapa? Maksudku tak seharusnya kamu melakukan ini, kamu bisa langsung saja kan... Tanpa harus sembunyi-sembunyi."


"Sudah aku katakan tadi, aku takut kamu menolak apa yang aku beri dan aku bingung harus seperti apa untuk mengekspresikan perasaanku." Wicky beralasan.


"Kan bisa langsung berterus terang, apa susahnya berkata jujur dengan hatimu?" Ucap Jully melembut.


"Hmm.. Kau lupa? Kau selalu bersikap jutek padaku." Wicky menjawabnya dengan terkekeh, mengingat Jully yang kadang bersikap sangat acuh padanya, namun justru itulah yang membuat Wicky menyukai Jully, menurutnya justru terlihat menggemaskan.


"Maaf..." Ucap Jully merasa bersalah.


"Jadi, kita damai sekarang?" Tanya Wicky dengan mengacungkan jari kelingking. Jully menimbang nimbang, namun kemudian dia kaitkan juga jari kelingkingnya ke jari kelingking Wicky.


"Okey, damai!" Jawab Jully sembari tersenyum. Wicky tersenyum lega, mungkin kini Jully tersenyum ke arahnya, tidak tahu nantinya senyum itu akan masih sama atau tidak.


"Mau makan siang? Masih ada waktu lima belas menit." Ajak Wicky.


"Hmm... Mungkin kalau makan roti dan sekotak juice strawberry bisa memburu waktu." Jawab Jully, merekapun tertawa bersama dan meninggalkan tempat mereka berdiri dengan berjalan menuju kantin sebelum kembali ke kelas mereka.


Ternyata dari kejauhan ada seseorang yang memperhatikan mereka yaitu secret admirer yang asli. Wigih Sasongko. Ketos ganteng ini tadi tak sengaja melihat Jully dan Wicky yang sedang berbicara serius ketika ingin menuju lapangan basket untuk bermain basket dengan teman-temannya. Langkahnya terhenti saat tadi melihat Jully dan Wicky saling mengaitkan jari kelingking dan tertawa bersama saat meninggalkan tempat itu. Hati Wigih terasa panas saat melihat pemandangan itu di depan matanya, tangannya mengepal, perasaannya tak enak, entah apa yang Jully bicarakan dengan lelaki yang dia lihat sungguh Wigih tidak dapat mendengarnya karena jarak yang lumayan jauh diantara mereka. Ya, saat ini Wigih cemburu, dia masih teringat jelas apa yang diucapkan Ernita beberapa hari yang lalu tentang teman sekelasnya yang juga menyukai Jully. Wigih menduga mungkin lelaki itu yang dimaksud adiknya. Kalau begini terus apa yang harus Wigih lakukan?


"Gih! Jadi main gak? Bengong aja!" Tiba-tiba salah satu temannya datang memanggil dan menepuk pundaknya cukup keras sehingga menyadarkannya dari pikiran-pikiran paranoid di otak cerdasnya.


"Jadi, ayo!" Jawab Wigih seraya melewati temannya melangkah menuju ke tengah lapangan. Dia butuh menjernihkan pikirannya agar kembali waras dan bermain basket salah satu cara agar otaknya kembali normal. Emosinya perlu pelampiasan, daripada adu tonjok meski dia ingin menonjok lelaki yang dekat dengan Jully tadi, tapi dia masih berpikir rasional jika dia dan Jully masih ada jarak, belum ada kata "Kita" diantara mereka berdua.


Tiga menit sebelum bell istirahat selesai Jully dan Wicky sudah kembali masuk ke kelas, mereka telah menyelesaikan istirahat singkat mereka di kantin setelah perdebatan yang cukup menyita waktu istirahat. Terlihat mereka berdua memasuki kelas dengan saling melempar candaan dan itu tidak lepas dari netra teman-teman Jully yang saling lempar pandang, berbisik bertanya satu sama lain apa yang sebenarnya terjadi diantara Jully dan Wicky. Yang mereka ketahui tadi Jully menyeret kasar lengan Wicky keluar dari kelas dengan raut muka yang teramat serius, namun mengapa saat mereka berdua kembali justru tawa yang terlihat di raut wajah mereka?


"Ihh sok sokan romantis, gak pantes tau!" Ejek Jully ke Wicky.


"Dihh suruh siapa situ jutek?" Balas Wicky tak mau kalah.


Kansari menghampiri Aleando yang juga tengah memperhatikan tingkah kedua temannya itu.


"Le, kamu tahu apa yang terjadi diantara mereka?" Tanya Kansari dengan menunjuk kearah Jully dan Wicky dengan dagunya.


"Benar juga ya... Tapi kan siapa tahu Wicky cerita apa kek gitu ke kamu." Ucap Kansari tak menyerah.


"Gak tuh, Wicky gak cerita apa-apa ke aku, mungkin belum." Jawaban Ale meluruhkan rasa penasaran Kansari karena ternyata Aleando tak mengetahui apa-apa perihal persoalan ini, mungkin dia harus bertanya langsung pada Jully untuk menuntaskan rasa penasarannya. Jiwa ke keppoan Kansari meronta ronta guysss...


"Jull, apa yang terjadi sih? Tadi kamu tiba-tiba menyeret Wicky keluar kelas dengan wajah yang seram, trus sekarang balik ke kelas dengan senangnya ketawa haha hihi gitu, kamu sehat Jull?" Kansari langsung memberondong pertanyaan setelah Jully kembali ke tempat duduknya. Sedangkan Rere dan Ningsih hanya menyimak dari tempat duduk mereka yang berada di belakang tempat duduk Jully dan Kansari.


"Eiitt... Sabar dong beb, pelan-pelan dong nanyanya." Ucap Jully yang tak langsung menjawab pertanyaan Sari.


"Kita penasaran Jull... Jawab dong!" Pinta Ningsih.


"Tadi itu... "


"Good afternoon students..."


Tiba-tiba Miss Dewi guru Bahasa Inggris datang, membuat mereka berempat kaget dan terpaksa mengakhiri percakapan tersebut.


"Kita tunda nanti ya guysss..." Ucap Jully seraya tersenyum geli melihat wajah teman-temannya yang terlihat kecewa. Sebenarnya ada satu orang lagi yang meresa kecewa karena tidak bisa mengetahui perihal yang terjadi diantara Wicky dan Jully, yaitu Ernita. Dia sedari tadi sudah menyiapkan kedua telinganya untuk mendengarkan apa saja yang dibicarakan Jully dengan teman-temannya. Masa bodoh dia dikatakan nguping, emang kenyataannya begitu sih... Tapi yang penting bagi Ernita adalah mendapatkan informasi yang nantinya harus dia sampaikan kepada kakaknya. Ini semua demi kelancaran usaha kakaknya selama ini. Kan kasihan masa kakak gantengnya yang most wanted itu bakalan patah hati gegara ditolak cintanya oleh seorang Jully Mahardika. Jatuh kan populeritasnya. Ckck... Ernita mikirnya terlalu jauh dehh.


Sepulang sekolah Jully, Kansari, Rere dan Ningsih berkumpul di Smile Cafe salah satu tempat tongkrongan mereka. Alasannya? Tentu saja mereka bertiga ingin mendengar penjelasan Jully yang tertunda karena jam pelajaran menghentikan percakapan mereka di kelas tadi.


"To the point aja dehh Jull, apa yang terjadi tadi?" Tanya Rere tak sabar dan yang lain menyetujuinya.


"Eiitt... Gak sabaran banget sih kalian, santai dong..." Jawab Jully dan itu justru membuat teman-temannya geram, mereka semua melotot ke arah Jully.


"Iya deh iya... Jangan melotot gitu, serem tau! Begini, jadi tadi aku bawa Wicky buat bicara mengenai Juice Strawberry yang selalu ada setiap hari di mejaku dan ternyata itu perbuatan Wicky." Jully akhirnya menerangkan jawabannya.


"Whaaaattt?!" Mereka bertiga serempak berteriak kaget membuat Jully menutup kedua telinganya dengan telapak tangannya.


"Sstt... Berisik! Malu dilihat orang!" Tegur Jully karena banyak mata yang menyorot kearah mereka.


"Dan kamu percaya gitu aja Jull?" Ini Kansari yang bertanya.


"Aku sih NO!" Ningsih ikut menimpali yang diangguki oleh Rere.


"Kok kalian gak pecaya gitu?" Tanya Jully heran mengapa semua sahabatnya tidak ada yang percaya kepada Wicky satupun.


"Entahlah, seperti ada yang salah." Jawab Rere.


"Iya bener kata Rere, aku juga merasa bukan dia." Kansari juga merasa hal yang sama dengan Rere.


"Tapi Wicky sendiri yang mengatakannya waktu tadi aku desak dia untuk berkata jujur." Ucap Jully mencoba menjelaskan.


"Bisa saja kan Wicky berbohong." Tambah Ningsih.


"Untuk apa?" Tanya Jully bingung.


"Ya untuk kepentingan dialah Jull, kamu itu terlalu naif, coba kamu fikir kenapa dia harus melakukan hal itu ketika diantara kita semua yang ada disini tahu bahwa dirinya menyukaimu, tinggal ngomong langsung saja atau kalau perlu dia bisa meminta bantuan kita buat ngomong ke kamu. Apa susahnya?" Terang Kansari.


"Katanya dia takut kalau aku menolak pemberiannya, karena aku terlalu jutek padanya." Jully masih membela Wicky ternyata.


"Dan kamu masih percaya itu? Dengar Jully, bisa saja Wicky memanfaatkan keadaan, Juice Strawberry dengan inisial Mr. W yang sama dengan inisial namanya sangat membantu dia membiat alibi kan? Sadar dong Jull!" Ningsih mencoba menyadarkan Jully bahwa bisa saja itu akal-akalan Wicky semata untuk mendapatkannya.


"Tumben baby elephant pintar." Kansari menepuk nepuk bangga pundak Ningsih. "Benar kata Ningsih, kamu lupa apa yang kamu ceritakan pada kami tentang Wicky dan Raning beberapa hari yang lalu?" Lanjut Kansari, Jully beberapa hari yang lalu telah menceritakan rencana licik Wicky yang melibatkan Raning kepada ketiga temannya, karena merasa tak enak memendam rahasia itu sendirian yang justru rencana Wicky itu gagal karena tanpa sengaja adanya campur tangan Kansari. Tentu dia wajib menceritakannya dan memberi penghargaan kepada Kansari yang membantunya.


"Iya, benar itu! Jangan sampai kamu tertipu, belajarlah dari pengalaman sebelumnya, bisa saja itu cuma siasat Wicky karena kamu menekan sebuah jawaban untuknya." Rere membenarkan ucapan Kansari membuat Jully merenungi perkataan ketiga temannya. Tidak mungkin kan ketiga sahabatnya itu menjerumuskan dia? Mereka hanya khawatir dan ingin dirinya berhati-hati.


"Okey guys, aku tampung pendapat kalian, tapi kita juga tidak bisa langsung mencurigainya, kita lihat nanti saja pasti akan ada jawaban yang pasti jika memang Wicky membohongiku." Jawab Jully mencoba bijak menghadapi persoalan ini.


"Baiklah kalau itu keputusanmu, kami akan membantu untuk mencari tahu yang sebenarnya." Jawab Rere mewakili Sari dan Ningsih.


"Udah dong tegangnya, kita makan dulu cuy.. laper nih.." Ningsih mencairkan suasan.


"Diihh baby elephent nomor satu kalau soal makanan." Ejek Kansari.


"Biarin! Dari pada kelaparan wleekk!" Balas Ningsing yang dilanjutkan gelak tawa mereka bertiga.


Dilain sisi, ternyata Ernita mengikuti Jully dan yang lainnya. Ernita yang memakai hoddy agar tidak ketahuan memilih duduk di tempat yang tak jauh dari tempat duduk mereka berempat supaya dapat mendengar dengan jelas pembicaraan Jully dan ketiga temannya. Ernita sangat geram dan marah setelah apa yang didengarnya dari mulut Jully. Dia sangat marah karena usaha kakaknya harus diakui oleh orang lain yaitu Wicky saingan kakaknya. Ernita kemudian berjalan keluar meninggalkan Smile Cafe dengan amarah di dadanya. Dia harus menceritakan semua yang dia ketahui kepada kakak kesayangannya itu.


"Awas kamu Wicky, aku buat kamu menyesal!"


Bersambung....