
Jully duduk di sudut jendela kamarnya, memandang ke arah luar. Gerimis mengalun indah malam ini, semilir angin dingin menyentuh kulit tubuh Jully yang hanya dibalut dress santai selutut tanpa lengan. Biasanya Jully tidak menyukai hujan, dia hanya suka bau tanah seusai hujan turun. Namun malam ini entah mengapa hujan begitu indah di mata Jully, mungkin hujan seakan mengerti kesedihannya hari ini? Ia mendesah panjang, mengingat apa yang terjadi pagi tadi di sekolah. Dia tidak menyangka Wicky melakukan hal itu, Wicky diingatannya bukanlah orang semacam itu. Wicky yang usil, Wicky yang jahil, Wicky yang ceria, yang tetap tersenyum meski beberapa kalipun ia acuhkan Wicky akan tetap menunggunya sampai Jully menatap dan tersenyum untuknya. Wicky tidak akan berbuat licik akan hal apapun karena Wicky tahu Jully membenci hal seperti itu. Tapi dikehidupannya yang sekarang mengapa Jully tidak menemukan hal-hal yang diingatnya tentang Wicky yang seperti dia kenal dulu? Apakah ada sesuatu hal yang Jully lewatkan dulu? Banyak sekali pertanyaan yang menyambangi pikiran Jully saat ini. Jully menerima bahwa dirinya sekarang kembali dan hidup di masa lalunya. Dia percaya Tuhan mengirimnya kembali untuk memperbaiki hidupnya di masa lalu dan salah satunya adalah untuk lebih dekat dan lebih bersikap lebih lunak kepada Wicky, memperbaiki hubungannya dengan lelaki itu karena dia tidak ingin mengulangnya menjadi hubungan friend zone dikemudian hari. Namun apa yang direncanakan tidak selalu mulus seperti apa yang diharapkan. Entah sejak kapan perasaannya terhadap Wicky semakin hari semakin terkikis, tidak ada getaran dan hati yang berdebar seperti yang dia rasakannya dulu. Dan kini setelah melihat sendiri apa yang dilakukan lelaki itu hanyalah kecewa yang tersisa di hati Jully. Dimana sisa hati yang tertinggal dulu untuk Wicky? Atau mungkin ini merupakan jawaban dari Tuhan untuknya, apa yang tidak bisa ia lihat dulu kini terpampang nyata di depan matanya. Hujan kini semakin deras, tak ada tanda untuk berhenti, mungkin akan tetap berjatuhan sepanjang malam ini. Jully merapatkan tubuhnya dengan kedua lengannya memeluk, ia merasakan udara semakin dingin dan akhirnya memilih beranjak menjauh dari jendela kamarnya. Ia berjalan mendekati laci meja belajarnya, membukanya dan mengambil sesuatu dari dalam sana. Sebuah gelang yang diterimanya dari Cancer Boy beberapa hari yang lalu. Jully memandang gelang itu dengan lekat, bibirnya melengkung membentuk senyuman.
"Mengapa aku baru menyadari kalau kau dan Mr. W adalah orang yang sama? Mengapa kamu tidak mengatakannya sedari awal? Apa kamu sengaja ingin aku sendiri yang menemukanmu? Ini sama halnya engkau memberikan sebuah teka teki untukku. Dasar lelaki jahat! Tapi mengapa aku tidak bisa marah padamu?" Jully berbicara sendiri seolah dia berbicara dengan orang pemberi gelang itu.
Jully menyematkan gelang itu di pergelangan tangan kirinya. Dia memutuskan memakai gelang itu mulai sekarang dan berharap dia bisa segera menemukan pasangan gelang tersebut yang dibawa lelaki kepiting misterius itu. Hari semakin larut, Jully memilih menaiki tempat tidurnya, membenamkan diri kedalam selimutnya. Tidur merupakan hal yang sangat efektif untuk membunuh rasa penat yang ia rasakan, melupakan sesaat apa yang terjadi di hari ini. Mungkin esok akan memberi harapan baru untuknya. Jully mulai memejemkan matanya, perlahan napasnya mulai teratur menandakan dia benar-benar terlelap.
🍓🍓🍓🍓🍓
Pagi ini Jully memilih untuk tidur lagi setelah melaksanakan sholat subuh dan terbangun setelah waktu menunjukkan pukul. 09.00 pagi. Cukup lama untuk mengistirahatkan tubuhnya yang lelah dari segala macam pikiran. Paling tidak pagi ini tubuh kembali segar dan pikirannya sudah mulai jernih. Tidak ada pula teriakan ibunya untuk menyuruhnya segera bangun di pagi hari karena hari ini merupakan hari Minggu. Ya... Jully cukup bersyukur untuk itu, seharian ini dia bisa menjauhkan serta menenangkan hati dan pikirannya dari semua yang terburuk yang pernah ia alami kemarin. Dia turun dari ranjangnya, keluar dari kamar dan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Hampir tiga puluh menit ia berada di kamar mandi hingga dirinya keluar dengan keadaan yang lebih segar, rambut panjangnya yang basah dikeringkan seadanya dengan handuk. Jully kembali ke kamarnya dan mematut dirinya di depan cermin. Ia merutuki wajahnya sekarang yang terlihat menyedihkan. Apakah hanya karena hari yang sulit kemarin bisa langsung membuat wajahnya begitu kusam, matanya tidak sesembab kemarin hanya terlihat sedikit sayu dan pipinya terlihat agak bengkak. Ohh disaat seperti ini dia merindukan skin care nya. Yaaa untung saja dia masih punya pelembab wajah yang mengurangi kusam di wajahnya dan sedikit taburan bedak akan menyempurnakan penampilan wajahnya saat ini. Selanjutnya dia mebuka lemari pakaiannya, memilih pakaian yang akan ia kenakan hari ini. Hot pant yang dipadukan dengan kaos oblong warna putih sebagai atasannya menjadi pilihannya, membuat dirinya terlihat lebih segar dan lebih santai. Rencananya hari ini Jully ingin menghubungi teman-temannya untuk mengajak mereka bertemu. Dia tahu pasti mereka sudah sangat khawatir sedari kemarin, hari ini dia sudah cukup siap untuk menceritakan semuanya, toh untuk apa terlalu disimpan kesedihan ini? Justru akan merusak otaknya jika terlalu lama terhanyut dalam kesedihan yang tidak membawa kebaikan untuknya. Namun Jully terlalu malas untuk keluar rumah, dia akan meminta ketiga temannya untuk berkumpul di rumahnya saja. Jully mengambil phonselnya yang tergeletak di atas nakas kamarnya, membuka obrolan untuk mereka berempat.
^^^Jully:^^^
^^^Pagi guys.... Maaf buat kalian semua khawatir, bisa ngumpul di rumahmku sekarang gak?^^^
Tidak membutuhkan waktu lama, notifikasi pesan masuk langsung terdengar bersahutan.
Kansari:
Alkhamdulillah beb kamu sudah sadar, okey aku cuuuss sekarang juga.
Ningsih:
Eh Sarijem! Dikiranya Jully pingsan apa pakai sadar segala. Sip langsung siap-siap otw.
Kansari:
Syirik! 😛
Rere:
Siap madam! 😄
Jully tersenyum melihat balasan chat dari ketiganya yang selalu membuatnya bersyukur masih diberi kesempatan untuk lebih lama dekat dengan mereka terlepas dari apa yang akan terjadi di masa depan. Jully akan menghabiskan sisa waktunya bersama mereka selama dia bisa, karena entah sampai kapan Tuhan akan mengembalikan waktu yang dipinjamkan untuknya. Mungkin saja nanti atau besok dia akan kembali ke masa depan, tempat dimana seharusnya dia berada. Siapa yang tahu?
Jully keluar dari kamarnya menuju dapur untuk mengisi perutnya yang keroncongan. Dia tidak makan cukup baik kemarin dan sekarang perutnya terasa sangat lapar. Sesampainya di dapur ia menemukan Enin tengah duduk di meja makan sedang menyendok makanan dari piring yang ada di hadapannya. Dari raut wajah dan penampilan kakak perempuannya yang terlihat masih acak-acakan rambutnya sudah pasti perempuan yang terpaut lima tahun di atasnya itu juga bangun kesiangan seperti dirinya.
"Mbak Enin bangun tidur langsung makan ya? pasti belum mandi. Ihh jorok!" Ejek Jully pada kakaknya.
"Biarin, lapar juga ya makan. Lagian hari Minggu mah bebas! Hari kemerdekaan bagi kita pencari rejeki." Jawab Enin santai sambil menyuapkan kembali nasi goreng ke mulutnya.
"Ya deh terserah, asal awakmu seneng ae (Asal kamu bahagia saja)." Jully menyahut sambil geleng-geleng kepala mendengar ucapan kakaknya yang sedikit lebay. Dia memilih mengambil piring dan mengisinya dengan nasi goreng beserta telur ceplok lalu menyuapkan di mulutnya. Ahh dia merasa nasi goreng dan telur ceplok hari ini terasa lebih nikmat dari biasanya ibunya buat, mungkin ini pengaruh rasa laparnya atau mungkin karena hatinya kini sudah bisa menerima keadaan.
"Kamu dek tumben hari Minggu gini udah rapi, biasanya juga gak bakalan mandi seharian sampai sore. Mahu kemana?" Tanya Enin disela-sela kunyahannya.
"Gak kemana-mana, cuma bentar lagi teman-teman aku datang main ke sini." Jawab Jully setelah meneguk air minum untuk membasahi kerongkongannya sebelum melanjutkan lagi acara sarapannya.
"Oohh..." Balas Enin sambil manggut-manggut.
"Ohh ya mbak, dari tadi kok sepi ya? cuma ada kita berdua, bapak sama ibu kemana?" Tanya Jully setelah menyadari tidak ada tanda-tanda kedua orang tuanya di rumah yang biasanya selalu berkumpul di hari Minggu.
"Ibu ikut bapak ke acara reunian teman SMA nya." Jawab Enin.
"Kata ibu gak ke resto kok, acaranya di salah satu rumah teman bapak." Kata Enin meluruskan.
"Ya tetap saja acara makan-makan enak." Balas Jully yang ditanggapi deheman dari sang kakak.
Selesai makan, Enin meletakkan piring dan gelasnya begitu saja di wastafel dapur.
"Nanti kalau sudah selesai jangan lupa cuci piring." Suruh Enin pada adiknya.
"Kok aku juga yang cuci bagian mbak sih?" Protes Jully sambil memanyunkan mulutnya.
"Karena mbak tadi sudah bikinin nasi goreng sama telur ceploknya, sekarang giliran kamu yang beresin piring kotornya." Jawab Enin santai sambil melangkah pergi meninggalkan Jully yang masih anteng di meja makan dengan wajah yang melongo lucu.
"Hah? Jadi semua ini mbak Enin yang masakin? Waahh parah ibu, gak masakin anaknya malah seneng-seneng sendiri sama bapak." Gumam Jully sambil memandang nasi goreng di piringnya yang tinggal separuh.
.
.
Empat puluh lima menit lebih Jully menunggu kedatangan ketiga temannya. Akhirnya mereka datang satu persatu.
"Kok lama banget sih kalian?" Tanya Jully setelah mereka duduk selonjoran di ruang tengah.
"Kan beli camilan dulu beb, katanya di rumah kamu lagi gak ada makanan buat dicamil." Jawab Kansari sambil menunjukkan dua kantong besar penuh makanan yang dibelinya dari supermarket arah jalan ke rumah Jully.
"Waw banyak banget kalian belinya?" Jully sampai heran, makanan segitu banyaknya apa bakal habis semuanya?
"Kan kita berempat." Jawab Rere.
"Emang kita bisa habisin segitu banyaknya?" Tanya Jully ragu.
"Tenang.... Kan ada baby elephant yang siap habisin jika gak habis hehe..." Seloroh Kansari enteng sambil menepuk-nepuk pundak Ningsih yang dibalas pelototan oleh Ningsih. Jully lupa jika sahabat montoknya itu suka sekali makan.
"Lagian itu bukan cuma makanan beb, ada minuman juga." Kansari mengeluarkan satu persatu isi dari salah satu kantong plastik itu.
"Dan ada juga masker wajah." Lanjutnya sambil mengeluarkan beberapa masker wajah dengan senyum yang mengembang.
"Kok kamu beli masker wajah juga sih Sar?" Tanya Rere bingung.
"Ya untuk kita pakailah... Gini ya, cewek itu butuh perawatan biar kulit sama wajah gak kusem, biar orang lain mandang kita juga seger, bisa juga untuk merileksasikan diri, soalnya kalau kita lagi stres kulit kita juga bakal ikut stres. Noh lihat tuh wajah Ningsih masih muda sudah banyak kerutan." Jawab Kansari sambil menerangkan panjang lebar dengan mulut ceriwisnya.
"Masa sih wajahku penuh kerutan? Ngaco deh Sarijem!" Ningsih langsung memegang wajahnya dan menggeram sebal pada Sari. Haha... Ningsih lagi yang kena.
"Makasih ya Sarsar, kebetulan banget aku lagi butuh masker wajah. Gara-gara kemarin muka aku jadi gak keurus." Ujar Jully sambil cemberut.
"Ohh iya, gimana ceritanya? Kamu sekarang siap kan buat cerita ke kita semua?" Tanya Rere dengan segudang penasaran di hatinya. Jully pun mengangguk.
Merekapun duduk melingkar, mendengarkan semua cerita Jully tentang apa yang terjadi mulai dari kecurigaan dia terhadap Wicky sampai kejadian kemarin yang membuktikan kebohongan Wicky kepada Jully hingga menggemparkan seisi kantin sekolah pagi kemarin. Mendengar semua cerita Jully membuat Kansari, Rere dan Ningsih diluapi rasa amarah. Mereka saling mancaci, menyumpahi sampai mengutuk Wicky dengan berbagai kata atas perbuatannya. Jully hanya bisa tersenyum mendengar cacian ketiga sahabatnya untuk Wicky. Sudah tidak ada lagi luapan emosi di hatinya karena emosinya telah habis dia luapkan seharian kemarin. Dia tidak ingin memikirkannya lebih jauh lagi, itu hanya akan membuat batinnya lelah. Jully sudah cukup bersabar di masa depan dan di sini ia akan mengubur cinta pertamanya dan memulai menata hatinya kembali agar tidak ada penyesalan dikemudian hari.
Bersambung...