Jully Mahardika

Jully Mahardika
Ep. 6 Cancer Boy



Guling sana, guling sini, guling ke kanan, guling ke kiri. Sudah 30menit lamanya Jully melakukan hal yang sama di atas kasur kamarnya. Malam ini dia susah sekali memejamkan matanya. Dia masih memikirkan kejadian di caffe ice cream tadi siang saat dia tengah asyik menyantap ice cream kesukaannya bersama Kansari. Seandainya dia hanya puas disogok ice cream yang dibeli Sari di mini market saja seperti halnya dulu dan tidak merubah skenario awal dari cerita ini, mungkin dia tak mengetahui satu hal yang sampai saat ini masih menjadi misteri dalam hidupnya meski misteri itu masih belum terpecahkan.


Flashback Caffe ice cream...


Sesuai janjinya, Kansari kini tengah duduk dihadapan seseorang yang tengah asyik menikmati ice cream dan cake strawberry kesukaannya sembari tersenyum puas. Sementara Kansari memperhatikannya dengan wajah cemberut.


"Enak ya Jull?" Tanya Sari.


"Enak" Jawab orang di hadapannya.


"Puas gak Jull?" Tanyanya lagi.


"Puas dong... " Jawab Jully riang. Ya tentu saja orang yang dihadapannya adalah Jully, sesuai janjinya, Kansari mentraktir Jully di caffe ice cream langganan Jully setelah pulang dari sekolah.


"Kamu puas, aku sekarat beb.. " Sambat Sari sambil meluruhkan kepalanya di atas meja.


"Iihh... Kan kamu sendiri yang buat kesepakatan, aku mah hayuuk aja." Jawab Jully sambil memasukkan sepotong cup cake strawberry ke dalam mulutnya.


"Iya sih aku yang buat kesepakatan itu, tapi kamu yang bikin syaratnya." Lanjut Sari.


"Gak boleh ngeluh gitu dong Sar... Kamu tadi dah setuju syarat dariku lho... Ehh sekarang kesannya kok jadi gak ikhlas gitu." Protes Jully.


"Bukannya gitu... Aku kira kamu pesennya yang standar, ternyata yang jumbo, pinter banget nyekik dompet temen!" Kansari balik protes ke Jully, sementara Jully cuma nyengir kuda tak bersalah, pasalnya dia masih rada dendam sama Sari dewasa di masa depan yang mulai mengabaikannya. Makanya dia plorotin young Kansari di masa ini mumpung ada kesempatan.


"Dihh ngambek! Mending kamu makan juga ice creamnya, enak lho... Aaaaakk..." Jully langsung menyodorkan sendok berisi ice cream ke dalam mulut Kansari dan berkata lagi, "Enak kan? Jadi gak usah ngambek-ngambek gitu deh.. Mending kamu buka dan baca surat cinta yang kamu terima tadi." Rayu Jully dan itu berhasil, wajah Sari langsung berubah ceria seraya tersenyum lebar mengingat hal itu.


"Ohh iya, kok aku lupa ya?" Sari langsung membuka tas sekolahnya dan mengeluarkan beberapa surat cinta yang di dapatnya di sekolah tadi.


"Kamu sih pakek acara ngambek segala, pikun kamu kumat kan jadinya." Timpal Jully yang masih asyik menikmati makanan kesukaannya itu. Sementara Kansari sudah mulai membaca surat-surat yang diterimanya sambil senyam senyum sendiri dan sesekali berteriak heboh meski tidak terlalu keras namun cukup membuat Jully malu karna beberapa pengunjung caffe memperhatikan mereka. Sari mahh... Cuek saja.


Seperti mengingat sesuatu, Kansari menjentikkan jarinya seraya berkata, "Ehh beb, kamu tadi juga dapat kan?"


"Dapat apa?" Tanya Jully bingung.


"Giliran kamu ini yang pikun, kebanyakan maka ice cream sih, jadi otakmu ikut beku." Jawab Kansari geram. "Surat Jull... Surat cinta!" Lanjutnya lagi, dan Jully baru menyadari kalau dia juga mendapatkannya.


"Ohh... Trus kenapa?"


"Buka dong, aku juga mau tahu isinya." Pinta Kansari.


"Buat apa? Gak penting juga, lagian nanti juga aku buang." Jawab Jully malas.


"Ehh gak boleh gitu beb... Kita itu harus menghargai usaha orang lain, siapa tahu dapat teman baru atau cowok baru, mayaann kan?" 'Mulai deh ceramahnya Sari, untung gak bawa-bawa ustadzahnya lagi'. Batin Jully.


"Itu sih inginmu Sarijah! Oke deh, tapi kamu aja yang baca, males aku." Kata Jully yang diacungi jempol tanda setuju oleh Kansari. Dan Kansari pun mulai membuka satu persatu isi amplop itu dan membacanya, sesekali dia memberitahukan hal-hal yang menarik yang ada di isi surat itu. Sampai pada akhirnya ada salah satu surat yang menarik perhatiannya saat Sari membacakan untuknya.


Dear Jully...


J. A. P dong....


By. Cancer Boy


Begitulah isi surat itu, singkat tapi mampu memporak porandakan hati Jully, dia memang sudah tahu hal ini akan terjadi, namun dia tidak menyangka surat itu ditujukan untuknya dari awal masuk sekolah. Dan sampai sekarang dia belum mengetahui siapa sebenarnya si 'Cancer Boy' ini. Ada satu orang yang dia curigai saat ini. Cinta pertamanya, Ananda Wicky Raharja.


Flashback off...


"Pokoknya besok kalau ini surat masih aja datang seperti kala itu, aku benar-benar gak bisa tinggal diam!" Kata Jully pada dirinya sendiri, "Aku akan menangkapmu bocah tengil!" Lanjutnya, kalau Jully sudah bertekat maka tidak ada seorangpun yang mampu menghalanginya. Diapun mulai memejamkan matanya dan sesaat kemudian dia sudah terlelap karna dia benar-benar lelah hari ini.


🍓🍓🍓


Pagi ini Jully datang ke sekolah sedikit terlambat, masih untung gerbang sekolah masih terbuka, ini akibat dirinya tadi malam tidak bisa tidur. Saat menuju ke kelasnya, dirinya melihat Kansari sudah mondar mandir di depan kelas, dan berteriak memanggilnya setelah menyadari kehadirannya.


"Jully!! Cepat kemari!" Panggil Sari tak sabar. "Kenapa kau baru datang?!" Tanya Sari setelah Jully sudah berada dihadapannya.


"Cepat kemari, kau harus melihat ini." Kansari segera menggandeng tangan Jully dan menariknya ke dalam kelas dengan terburu-buru. Kemudian mereka berhenti tepat di depan bangku tempat duduk mereka.


"Lihat Jull! Ada yang meletakkan sekotak juice strawberry di atas meja kita." Tunjuk Sari.


"Lalu? Mungkin punya salah seorang teman kita, mungkin dia lupa meletakkannya di sini." Jawab Jully santai.


"No..no...nooo beb!" Sari melipat kedua lengannya di depan dada dan menggeleng, kemudian dia menunjukkan sesuatu dengan dagunya mengarah ke juice itu, "Lihat kertas yang diselipkan di bawah juice itu!" Perintahnya kemudian. Lalu Jully mengambilnya dan membacanya...


"To Jully...


Semoga harimu menyenangkan...


Pengagum rahasiamu... Mr. W"


"Woaah... Siapa pula 'Mr. W' ?Kemarin 'Cancer Boy' dan sekarang... Waahh... Luar biasa sahabatku ini." Kata Sari terkagum sambil menepuk-nepuk pundak sahabatnya itu, pasalnya baru sekarang dia melihat ada seseorang yang antusias terhadap Jully meski belum tahu siapa orang tersebut. Sementara Jully hanya terdiam memikirkan sesuatu tentang siapa yang mengirimkan sekotak juice strawberry ini? Bahkan pengirim ini mengetahu apa yang menjadi kesukaannya. Dia berpikir jika inisial 'W' ini adalah Wicky, lalu siapakah 'Cancer Boy'?


Tak lama kemudian bel tanda masuk berbunyi, semua teman-temannya masuk satu persatu ke dalam kelas dan menduduki bangku mereka masing-masing, termasuk Jully dan Kansari, mereka segera duduk di bangku mereka. Jully yang tengah memerhatikan para temannya yang sibuk dengan bangku mereka, tak sengaja menangkap basah sesorang yang tengah memandangnya dengan senyum di bibirnya, siapa lagi kalau bukan si bocah tengil yang bikin rusuh hati Jully. Si Mr.W. Ananda Wicky Raharja. Namun dengan segera Jully memalingkan wajahnya dan menghadap ke depan, karena guru yang mengajar di jam pertama telah tiba, alangkah baiknya dia tidak memikirkan hal ini untuk sementara dan lebih konsentrasi ke pelajaran hari ini.


🍓🍓🍓


Bel istirahat berbunyi, semua siswa di kelas Jully segera membereskan buku-buku pelajaran mereka dan sebagian sudah berhamburan keluar kelas untuk menikmati waktu istirahat mereka. Jully dan Kansari pun bergegas membereskan buku dan alat tulis mereka, namun disaat Jully hendak menaruh bukunya di laci bawah mejanya dia menemukan sesuatu. Amplop warna biru. Dia mengambilnya lalu membuka amplop biru itu, ada surat di dalamnya. Jully mengambil surat itu dari dalam amplop kemudian membacanya.


Dear Jully... '


"Ini kedua kalinya aku menuliskan surat untukmu, aku tidak tahu apakah surat pertamaku sampai kepadamu. Namun satu hal yang pasti, aku tak bisa berhenti memikirkanmu. Mungkin kamu juga bertanya-tanya siapakah diriku? Sungguh akupun ingin memberitahuimu, tapi untuk saat ini aku belum siap, tunggulah... Aku berharap kamu bisa menunggu saat itu tiba.


Yang selalu memikirkanmu... "


'Cancer Boy'


Akhirnya hal ini datang juga, namun akan semakin rumit bagi Jully jika ternyata si 'Cancer Boy' ini bukanlah Wicky. Ahhh... Soal Wicky, kenapa di masa sekarang ini dia terang-terangan? Bahkan mengirimi Jully juice strawberry juga. Dia tahu betul jika Jully menyukai minuman itu. Sungguh aneh, bahkan dulu seingatnya Wicky tak pernah memberikan apa-apa di awal perjumpaan mereka. Jully masih saja berpikir dan mengingat ingat kejadian di masa ini sebelumnya, tapi tetap saja dia tidak menemukan kejadian seperti ini ada, sampai pada akhirnya suara cempreng Kansari mewaraskan lamunannya.


"Woyy... Jully Mahardika!"


"Astaga naga! Sarijah! Apaan sih bikin kaget saja!"


"Habisnya kamu diam saja padahal sudah aku panggil berkali-kali juga, mikirin apa sih?" Jawab Sari sebal.


"A..aah.. I ii..ini.. " Jully sampai tergagap menjawab pertanyaan Sari dan hanya menyodorkan surat yang baru saja dibacanya kepada Sari.


"Apa ini? Ohh My Jully ini kan.. Hmm.." Belum sempat Kansari mengatakannya, mulutnya sudah dibekap oleh Jully.


"Sstt... Jangan berisik dong Maimunahh! Jangan sampai orang lain tahu!" Kansari hanya mengangguk sambil jarinya menunjuk tangan Jully yang membekap mulutnya agar melepaskannya. Jully pun segera melepaskan tangannya dari mulut Kansari.


"Gila aku gak bisa napas." Ucap Sari sambil mengatur lagi napasnya.


"Ya maaf... Habisnya kamu toa banget kalau ngomong."


"Tapi bagaimana ceritanya si yuyu ini bisa ngirimin surat ke kamu lagi?" Tanya Kansari penasaran.


"Kok yuyu sih?" Tanya Jully bingung.


"Kan cancer itu kepiting, kepiting itu berarti yuyu kan beb..." Sari menerangkan, dan Jully cuma bisa tepok jidat. Sahabatnya ini memang rada-rada.


"Ini masih menjadi misteri dan aku mohon sama kamu Kansari yang pinter... Pleass rahasiakan ini dari siapapun! Okey?!" Pinta Jully dan dijawab 'Okey' pula oleh Sari.


"Good girl... Yuk sekarang kita ke kantin, sudah laper nih." Ajak Jully. Mereka pun pergi meninggalkan kelasnya menuju ke kantin sekolah, tak lupa Jully menyambar juice strawberry yang didapatnya tadi pagi.


Dikejauhan seseorang tengah memperhatikan Jully yang berjalan bersama Kansari menuju kantin. Sesorang itu hanya berdiri menyandarkan bahunya pada sebuah pohon sambil tersenyum dan sesekali dia menyedot juice strawberry yang ada di tangannya. 


Bersambung....