Jully Mahardika

Jully Mahardika
Ep. 65 Janji Wigih Untuk Jully



Wigih tersenyum lembut di hadapan Jully, mereka kini berdiri berhadapan di depan apartemen Jully. Saling memandang dengan jari yang saling bertaut seakan enggan untuk berpisah.


"Kak... Apakah kita akan seperti ini sepanjang malam? Kakak gak mau pulang?" Tanya Jully dengan tersenyum geli.


"Tapi rasanya aku gak ingin berpisah denganmu saat ini, ini seperti mimpi kita akhirnya bersama dan aku takut jika aku lepaskan tanganmu sekarang, kamu akan pergi lagi dariku." Ujar Wigih dengan kekhawatirannya.


"Ini nyata kak... Dan aku tidak akan pernah meninggalkan kak Wigih sampai kapanpun."


"Janji?" Tanya Wigih dengan menatap lekat mata Jully.


"Janji." Jawab Jully tanpa keraguan.


"Ohh ya, ada sesuatu yang ingin aku tunjukkan kepada kak Wigih. Sebentar." Jully melepaskan genggaman tangan mereka lalu dia merogoh sesuatu dari dalam tasnya, dia mengeluarkan sebuah kotak kecil dari sana dan membukanya di hadapan Wigih.


"Aku ingin kakak memasangkan ini ke pergelangan tanganku." Wigih sungguh terkejut ketika melihat apa yang ada di dalam kotak kecil itu. Ya, sebuah gelang yang tentunya tidak asing baginya. Gelang yang dulunya khusus ia beli untuk Jully.


"Ka...kamu masih menyimpannya?" Wigih tergagap, dia tidak menyangka jika selama ini Jully masih menyimpannya. Dia mengira hanya dialah yang masih menyimpan gelang couple itu, bahkan sampai saat ini dia masih memakainya kecuali saat dia sedang melakukan operasi maka dia akan melepasnya dan akan memakainya kembali setelahnya.


"Lebih tepatnya aku baru saja medapatkannya." Jawab Jully yang membuat dahi Wigih berkerut tak mengerti apa maksud perkataan Jully.


"Maksudmu?" Tanya Wigih.


"Wicky memberikannya ketika terakhir kali dia datang menjengukku di Rumah Sakit." Jawab Jully.


"Tunggu..tunggu.. Maksud kamu gimana ya? Aku gak ngerti. Bukannya gelang ini aku memberikannya padamu bersama surat yang aku taruh di bawah laci mejamu dan kenapa bisa ada bersama Wicky?" Tanya Wigih yang masih bingung dengan kata-kata Jully.


"Karena Wicky mengambilnya pada waktu itu." Jawaban Jully seketika membuat Wigih geram. Sungguh perbuatan Wicky pada waktu itu sangatlah keterlaluan. Dan Wigih kembali menyesal kenapa dulu dia begitu bodohnya menyerahkan Jully untuk lelaki brengsek seperti Wicky.


"Keterlaluan!" Ucap Wigih geram dengan gigi bergelatuk, tangannya mengepal erat sampai buku-buku jarinya memutih. Lelaki tampan itu kini tengah tersulut emosi.


"Tenanglah kak..." Jully meraih tangan Wigih yang masih mengepal, dia mencoba meredakan emosi lelaki yang kini sudah resmi menjadi kekasihnya dan kepalan tangan Wigih perlahan mengendur.


"Tenanglah kak... Jangan terbawa emosi, lagian Wicky sudah mengakui semua kesalahannya dan sudah meminta maaf padaku, gelang inipun sudah kembali padaku lagi." Jully kembali bersuara menjelaskan agar kakasih barunya itu tidak terbawa emosi.


"Aku tidak ingin kakak masih terbawa-bawa kejadian yang dulu-dulu, biarlah semua itu berlalu tidak usah mengingatnya lagi. Aku tidak ingin ini nantinya akan mempengaruhi hubungan kita ke depannya. Aku sudah ikhlas dan kakak juga harus mengikhlaskannya, mungkin jalan kebahagian kita harus melakui bukit terjal yang berkelok terlebih dahulu. Cobalah memaafkan kak, dengan begitu hati kita bisa lebih tenang." Tutur Jully yang diakhiri dengan senyum lembut dan tulus.


"Tapi dia sudah keterlaluan, namun perkataanmu ada benarnya. Yang terpenting saat ini adalah kamu dan aku yang telah menjadi 'Kita'. Aku tidak akan berjanji untuk memberimu kebahagiaan tapi aku berjanji akan berusaha membuatmu bahagia Jully." Janji Wigih dan langsung membawa Jully kedalam dekapannya.


"Terimakasih kak, untuk saat ini itu sudah cukup bagiku." Balas Jully dalam dekap pelukan hangat Wigih.


"Aku yang seharusnya berterimakasih karena kamu masih mau menerima lelaki pengecut sepertiku. Terimakasih sayang." Bisik Wigih di telinga Jully. Mendengar kata sayang dari Wigih membuat kedua sudut bibirnya berkedut dan melengkung membentuk senyuman. Keduanya saling mengeratkan pelukan mereka, menghirup aroma masing-masing tubuh pasangan mereka.


Jully mengendurkan pelukan mereka lebih dulu, wajahnya mendongak menatap Wigih.


"Kak, apakah hari Minggu ini kak Wigih ada waktu?" Tanya Jully.


"Ehmm... Hari Minggu pagi aku akan ke Rumah Sakit sebentar, karena ada pasien yang harus aku cek pasca operasi, paling siang sudah pulang. Memangnya ada apa?" Jawab Wigih setelah mengingat-ingat jadwal kerjanya hari Minggu ini.


"Aku ingin malamnya kak Wigih menjadi pasanganku di pesta pernikahan salah seorang temanku." Jawab Jully.


"Pernikahan Wicky maksud kamu?" Tebak Wigih.


"Kok kak Wigih tahu?" Tanya Jully heran.


"Maaf, aku tidak sengaja mendengar pembicaraan kalian waktu itu di Rumah Sakit." Ungkap Wigih.


"Aku mau asal ini tidak membuatmu sakit hati." Ucap Wigih sedikit ragu akankah Jully masih menyisakan secuil rasa untuk Wicky.


"Dengar kak! Semua rasa yang ada untuknya dulu sudah benar-benar sirna kini, dan sekarang hanya ada kak Wigih di hatiku. Kak Wigih tidak perlu khawatir, aku menghadiri pernikahannya murni hanya sebagai seoarang teman agar kelak tidak ada lagi yang harus disesalkan." Jelas Jully meyakinkan kekasih tampannya itu.


"Baiklah, kalau itu mahumu dan aku percaya padamu." Kata Wigih sambil mengusap lembut pipi Jully dan mereka tersenyum bersama.


"Jadi? Apa kakak mau memasang gelang ini untukku?" Tanya Jully sembari kembali menyodorkan kotak kecil berisi gelang couple itu.


"Tentu saja, dengan senang hati." Sahut Wigih seraya mengambil gelang itu dari dalam kotaknya dan meraih salah satu tangan Jully lalu memasangkan gelang tersebut di pergelangan tangan Jully.


"Dengan begini kamu dan aku akan saling terikat. Kini kamu tidak akan bisa lari dariku lagi sayang." Ujar Wigih tersenyum lekat memandang wajah ayu Jully yang membalas senyumannya dengan senyum yang tak kalah hangat.


"Tentu saja, kakak juga tidak bisa lari dariku lagi." Balas Jully.


"Kalau begitu aku akan masuk sekarang dan kakak harus pulang, ini sudah malam, bukankah kita harus bekerja besok?" Tutur Jully.


"Ahh... Rasanya enggan aku untuk pergi, tak bisakah aku menginap di sini saja?" Rengek Wigih seperti anak kecil yang tidak mau ditinggal ibunya dan Jully baru tahu jika Wigih yang stay cool dulu mempunyai sisi yang manja seperti ini.


"Tidak boleh! Kita kan belum menikah, tidak baik lelaki dan perempuan yang bukan mahromnya tinggal satu atap." Tolak Jully tegas.


"Apakah ini sebuah kode agar aku menikahimu segera? Aku sih tidak masalah, hari inipun aku siap." Ujar Wigih dengan senyum menggodanya.


"Ak...aku tidak bermaksud begitu, aku hanya mengingatkan kalau itu tidak boleh dilakukan oleh orang yang belum menikah." Sahut Jully terbata gugup.


"Jadi maksud kamu, kamu tidak mau menikah denganku?" Tanya Wigih seakan merasa kecewa akan ucapan Jully.


"Bukan itu... Aku..."


"Haha... Aku hanya bercanda sayang, tidak mungkin aku melakukan hal itu. Aku akan hubungan kita dengan baik sampai nanti kita menikah dan tentu saja aku akan melamarmu dengan cara yang benar." Ucap Wigih memotong kalimat Jully.


"Ahh kakak bikin jantungku mau copot saja, jangan bercanda seperti itu lagi!" Ujar Jully sambil mengerucutkan bibirnya dan itu terlihat menggemaskan di mata Wigih membuat lelaki itu kembali tergelak.


"Hahaha... Iya, iya tidak lagi, senyum dong jangan marah." Rayu Wigih.


"Ya sudah, aku masuk dulu ya kak... Kakak hati-hati di jalan, jangan ngebut, beri kabar aku jika sudah sampai rumah." Titah Jully yang langsung di iyakan oleh Wigih. Jully pun masuk ke dalam apartemennya dan Wigih melajukan mobilnya setelah memastikan kekasih cantiknya itu benar-benar masuk ke dalam apartemennya.


Bersambung....


🍓


🍓


🍓



Author yang julit:


Duh duh duuuhh... Yang baru jadian nempel terus gak mau pisah. Ingat bang... sudah malam, mending pulang sono, bobok ganteng... toh besok juga ketemu lagi.


W&J: Sstt... Jomblo jangan syirik!


Author: Astagaaahh... (Ngelus dada)