
Hari Senin yang ditunggu, Wigih bangun lebih awal seperti biasa, semangatnya dua kali lipat dari biasanya. Kembali ke sekolah setelah absen selama hampir satu minggu dan selama itu dia tidak bisa melihat gadis pujaannya Jully Mahardika. Dia sudah menulis surat untuk gadis itudan tidak sabar untuk menaruhnya di tempat biasa dia meninggalkan surat itu. Tentu saja tidak ketinggalan juice strawberry untuk Jully. Dia keluar dari kamarnya dengan berseragam sekolah lengkap dengan tas ransel yang dia bawa di pundak kirinya. Wigih menuruni setiap anak tangga rumahnya dengan bersiul riang menuju ruang makan yang masih terlihat sepi, hanya mamanya yang bisa dia temui di sana. Mama Sinta terlihat sibuk mempersiapkan makanan untuk sarapan mereka pagi ini. Dengan senyum yang merekah Wigih menghampiri mamanya.
"Pagi ma..." Wigih menyapa mamanya dengan memberi kecupan singkat di pipi mamanya.
"Pagi sayang, seperti biasanya kau yang selalu menjadi yang pertama duduk di meja makan." Balas mama Sinta.
"Mama masak apa? Perlu bantuan?" Tawarnya.
"Gak perlu sayang, ini sudah selesai kok tinggal menata di meja, kamu duduk saja mama siapkan sarapannya, mau sarapan sekarang?"
"Iya ma, aku sarapan duluan gak papa kan? soalnya aku mau berangkat lebih awal."
"Gak papa kok sayang, oh ya mama lihat setelah kelas tiga ini kamu jadi berangkat lebih awal ya, memang gak kepagian?" Tanya mama Sinta sambil mengisi nasi ke pirimg untuk anak sulungnya itu.
"Kepagian sih... tapi mau gimana lagi, kerjaan OSIS kan banyak, jadi sebelum masuk ke kelas aku harus mengerjakan beberapa pekerjaan agar nantinya gal keteteran ma, aku gak kegiatan belajaeku terganggu." Alasannya, namun alasan Wigih sesungguhnya tentu saja bukan itu.
"Duuhh... anak mama sudah dewasa ya sekarang, sudah mengerti tanggung jawab, trus kapan nih punya pacarnya? Jomblo terus." Ini mama Sinta memuji apa ngeledek ya? Ngena banget.
"Tenang aja ma... Lagi proses." Jawabnya santai.
"Serius? anak mama lagi naksir cewek? Siapa?" Tanya mama memberondong.
"Ada deh... Belum saatnya mama tahu."
"Dihh... pakek rahasia-rahasiaan." Wigih hanya tertawa lirih melihat mamanya yang penasaran dengan siapa dirinya menaruh hati sambil meneruskan sarapannya. Dan tak butuh waktu lama dirinya sudah menyelesaikan sarapannya. Kemudian dia berpamitan dengan mamanya untuk berangkat ke sekolah. Tak lama kemudian Ernita turun dari lantai atas dengan seragam sekolah yang rapi menuju meja makan dimana mamanya berada.
"Pagi ma..." Sapa Ernita sembari mengecup pipi mamanya, sama persis seperti yang dilakukan Wigih kakaknya. Kemudian dia duduk disalah satu kursi lalu mengambil piring yang ada di depannya siap mengambil nasi.
"Kak Wigih sudah berangkat ya ma?" Tanya Ernita, bukannya dijawab justru mamanya balik bertanya,
"Kakakmu punya pacar?"
"Hah?! Kok tiba-tiba nanya gitu?"
"Gak apa-apa, mama cuma nanya aja soalnya kakakmu itu pagi ini kelihatan ceria banget kayak orang yang lama gak ketemu pacar, trus mau ketemu disaat rindu-rindunya. Duhh jadi kangen papamu." Jawab mamanya yang bikin Ernita tersedak saat menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.
"Uhuk.. uhuk..!"
"Duuhh pelan-pelan dong sayang kalau makan, ini minum dulu!" Mama Sinta menyodorkan segelas air putih untuk Ernita dan langsung diminum olehnya.
"Emang kelihatan ya kalau kak Wigih lagi jatuh cinta?" Tanya Ernita setelah selesai meneguk air putihnya.
"Jadi benar kakakmu itu lagi falling in love? "
"Aduhh kok keceplosan gini sih ni mulut, kalau aku cerita bisa-bisa aku kena amukan kakak, gak dapat uang jajan tambahan lagi dong..." Dia merutuki mulutnya yang kelewat lemes itu.
"Ernita gak tahu ma, mana mungkin kakak menceritakan hal semacam itu ke aku, yang ada mulutnya mingkem rapet (tertutup rapat)." Kilahnya. "Ohh ya papa masih di rumah sakit ya ma?" Tanya Ernita untuk mengalihkan perhatian mamanya.
"Iya, papamu lembur karena ada jadwal operasi tadi malam. Eeh tapi bener lho... tadi itu Wigih kelihatan seneng banget dari wajahnya, pakai siul-siul segala malahan." Mamanya tak henti-henti bercerita. Ernita yang mendengarnya hanya bisa was-was berharap mamanya tidak menanyakan hal yang aneh-aneh lagi. Dia segera menyudahi sarapannya dan pamit untuk berangkat sekolah.
🍓🍓🍓🍓🍓
Di sekolah yang mulai ramai oleh murid-murid yang berdatangan di pagi ini, terlihat Jully berjalan dengan malasnya menyusuri lorong sekolah menuju ke kekasnya. Kepalanya tertunduk lemas, kepalanya terasa pusing saat bangun tidur pagi tadi. Akhir-akhir ini banyak sekali yang dia pikirkan sehingga sulit baginya untuk memejamkan matanya di malam hari. Karena tidak fokus berjalan, dirinya justru menabrak orang yang ada di hadapannya.
"Aow! Maaf gak sengaja, kamu gak pa...pa?" Jully menghentikan ucapannya ketika dia mendongakkan kepalanya dan tahu siapa yang dia tabrak barusan.
"Ehh kak Wigih, maaf kak yang barusan aku gak sengaja, kakak ada yang sakit gak?" Jully meminta maaf sambil meneliti mungkin ada bagian yang sakit karena ulahnya. Ternyata seseorang yang dia tabrak adalah Ketos ganteng sekolahnya.Wigih Sasongko.
"Justru aku yang harusnya nanya ke kamu. Kamu gak apa-apa? Aku lihat dari tadi kamu jalannya gak fokus, kamu sakit?" Tanya Wigih khawatir.
Wigih yang baru saja keluar mengendap endap dari kelas Jully melihat gadis itu berjalan lemas tak bersemangat, pandangannya tidak fokus. Jully hampir saja menabrak tong sampah yang ada di hadapannya jika Wigih tidak segera menghadang jalannya. Wigih lega Jully tidak jadi menabrak tong sampah di depannya dan dia juga lega karena Jully tidak melihatnya keluar dari kelas gadis itu. Wigih tidak menyangka bahwa Jully akan datang ke sekolah sepagi ini, bisa gawat jika Jully mengetahi yang sebenarnya.
"Tapi kamu pucat sekali." Dengan reflek tangan Wigih terulur untuk memegang dahi Jully yang ternyata agak panas.
"Kamu demam Jull, sebaiknya kamu istirahat dulu di UKS, biar nanti aku bantu ijinin kamu ke guru." Lanjut Wigih yang menjadi semakin khawatir karena Jully yang demam.
"Aku beneran gak papa kok kak, cuma demam sedikit, lagian jam pertama ada ujian Kimia kak."
"Kan bisa nyusul, nanti biar aku yang bilang ke guru Kimia."
"Gak usah kak, beneran aku kuat kok. Terimakasih kakak sudah khawatirin aku." Ucap Jully yang memaksa dirinya untuk tetap masuk padahal dirinya sedang sakit dan Wigih sudah tidak bisa meyakinkan gadis itu yang kini tersenyum di hadapannya berharap dirinya tak menkhawatirkan gadis itu.
"Ya sudah, kalau kamu tetap memaksa tapi segera istirahat atau ijin ke UKS jika sudah tidak kuat lagi, kamu juga boleh menghubungiku, siapa tahu kamu memerlukan bantuanku."
"Terimakasih kak, nanti biar aku minta tolong Kansari atau yang lainnya, lagian aku tidak tahu nomor phonsel kakak." Ucap Jully entah mengapa dia merasa malu saat mengucapkan hal itu.
"Ohh benar juga, bisa pinjam phonsel kamu?"
Tanpa bertanya lagi Jully langsung mengeluarkan phonselnya dari dalam sakunya dan menyerahkan ke Wigih, "Ini kak..." Wigih segera menerimanya dan dengan sigap menuliskan nomor phonselnya ke dalam phonsel Jully, setelahnya dia mendeal nomornya yang langsung diterima oleh phonselnya.
"Ini sudah selesai, aku sudah mencatat nomor phonselku dan aku sudah mendapatkan nomor phonselmu juga." Ucapa Wigih seraya mengembalikan phonsel milik Jully, "Sebaiknya kamu segera masuk, istirahatlah sebentar di kelas sebelum jam pertama masuk." Lanjutnya yang diangguki oleh Jully. Jully pun meninggalkan Wigih setelah mengucapakan terimakasih lagi ke lelaki itu. Mata Wigih tak hentinya memandang punggung Jully yang semakin jauh dan menghilang di balik pintu kelas. Dirinya masih merasa khawatir kepada gadis keras kepala itu. Dia tidak ingin terjadi apa-apa terhadap gadis pujaannya itu.
Di dalam kelasnya Jully mendudukkan dirinya di kursi dan langsung meletakkan kepalanya yang terasa berat dan pusing di atas meja. Dia melirik juice strawberry yang sudah ada di atas mejanya sebelum akhirnya dia memejamkan matanya.
Jam pelajaran pertama sudah berakhir, Jully sudah susah payah melewati ujian Kimia dengan kepala yang semakin pusing. Wajahnya sudah terlihat begitu pucat. Kansari yang melihatnya menjadi semakin khawatir.
"Jull, sepertinya kamu harus ke UKS deh... Kamu pucat banget, badan kamu juga semakin panas." Kansari menyentuh kening Jully untuk memeriksa suhu badan sahabatnya itu.
"Iya Sar, aku sudah gak kuat, kepalaku pusing banget."
"Ya sudah aku antar ke UKS sekarang saja." Ajak Kansari yang membantu Jully untuk berjalan. Melihat Kansari yang memapah Jully, Rere dan Ningsih menghampiri dengan rasa ingin tahu.
"Jully kenapa Sar?" Tanya Rere.
"Demam dia." Jawab Kansari singkat.
"Pantesan dari tadi diam saja, perlu bantuan gak? Aku bisa gendong kamu kalau gak kuat jalan." Ningsih sudah siap berjongkok untuk menggendong Jully di punggungnya.
"Aku tahu kamu gak kurus, tapi gak usah sok kuat ntar encok malah bikin susah!" Tolak Kansari sarkas yang membuat Ningsih mengerucutkan bibirnya. "Kalian ijinin aja Jully kalau jam kedua guru sudah masuk, bilang juga kalau aku sedang mengantar Jully ke UKS." Lanjut Kansari yang disetujui mereka berdua Rere dan Ningsih.
"Biar aku yang mengantar." Tiba-tiba Wicky sudah ada di sebelah Jully hendak mengambil alih tangan Jully yang dipapah Kansari. Namun ditolak oleh gadis itu.
"Gak usah alasan buat bolos deh... Sudah ada Kansari juga." Kata Jully tegas.
"Diihh sakit-sakit masih aja galak, aku cuma mau bantu kok...sini biar sama aku aja. " Wicky memberi alasan. Kansari yang melihat Wicky hendak memegang lengan Jully langsung menepis tangan lelaki itu, "Aduhh!" Teriak Wicky.
"Bukan mahromnya! Jangan pegang-pegang! Udah minggir sana kami mau lewat, yang ada Jully malah tambah pusing lagi." Sentak Kansari yang segera memapah Jully ke UKS.
Sesampainya di UKS, Jully langsung merebahkan diri di tempat tidur pasien yang ada di sana. Kebetulan sedang ada petugas UKS disana, jadi dia langsung diperiksa suhu badannya lalu diberi obat penurun panas dan sakit kepala.
"Terimakasih ya Sar, untung ada kamu." Ucap Jully berterimkasih.
"Itulah gunanya teman, ya sudah kamu istirahat di sini dulu, aku balik ke kelas lagi, kamu gak papa kan aku tinggal? Ntar hubungi aku jika perlu sesuatu, nanti istirahat aku balik lagi."
"Okey, jangan khawatir... Kamu balik saja ke kelas, aku mau tidur dulu." Jully memejamkan matanya, sementara Kansari meninggalkannya sendiri di UKS.
Di kelas yang berbeda Wigih tidak bisa berkonsentrasi dengan belajarnya, dia masih mengingat kejadian tadi bersama Jully, dia mengkhawatirkan gadis itu apakah baik-baik saja? Mungkin dia harus menghubunginya nanti saat beristirahat atau mungkin akan menemuinya langsung?
Bersambung...