
Dijam istirahat Ningsih baru saja kembali dari UKS bersama Rere yang katanya sudah merasa baikan. Jully dan Kansari yang hendak keluar mengurungkan niatnya setelah melihat mereka berdua.
"Lho Re, kamu udah baikan? Baru saja aku dan Sari mau jenguk kamu di UKS." Ujar Jully mendekati Rere dan membantunya untuk duduk di kursinya.
"Aku sudah baikan kok, udah gak apa-apa, terimakasih sudah mengkhawatirkan aku."
"Oh ya tadi pas menuju ke sini anak-anak pada ramai tuh terutama cewek-cewek, pada ngomongin pertandingan basket." Ucap Ningsih.
"Emang, hari ini kan setelah istirahat semua kelas pada kosong, ada pertandingan antar kelas, antara kelas dua dan tiga." Kansari membenarkan ucapan Ningsih dengan mata berbinar.
"Kamu kelihatan seneng banget ya Sar." Ningsih curiga. "Pasti udah bayangin yang iya iya nih anak." Tebak Ningsih lagi.
"Apaan sih, curigaan mulu sama aku." Jawab Sari merasa sebal, padahal yang diucapkan Ningsih itu benar sih.
"Gak apalah selagi masih muda." Bela Rere.
"Duuhh my Rere pengertian banget, gak kaya baby elephant." Ucap Kansari merasa senang ada yang membelanya.
"Kok tumben sih kamu belain dia Re, wahh jangan-jangan karena kak Nouval tadi." Sekarang gantian Rere yang jadi sasaran julidnya Ningsih.
"Memang kak Nouval kenapa?" Tanya Jully yang sedari tadi diam melihat adu mulut ketiga temannya.
"Itu Jull, kak Nouval tadi kan sempat ngerawat Rere di UKS, bawain obatlah, minyak kayu putihlah, jahe hangatlah... Ada deh perhatiannya, sampai mau nawarin nganterin pulang jika Rere benerang gak kuat." Ningsih menceritakan semua yang terjadi di UKS tadi saat Nauval ada di sana membuat Rere tidak bisa berbuat apa-apa karena mulut Ningsih yang sudah tidak bisa direm.
"Ihh sweet banget sih kak Nouval, ehh tapi kamu juga harus hati-hati lho Re, soalnya dari gosib yang beredar kak Nouval itu biangnya patah hati, udah banyak cewek yang jadi korbannya." Cerita Sari menggebu-gebu.
"Masa sih? Cuma rumor kali Sar." Ucap Jully.
"Tapi waspada boleh dong, jangan sampai Rere terbuai hanya karena wajah tampannya." Bener sih apa yang dikatakan Kansari, meski Kansari itu pecinta cogan tapi dia tetap selalu waspada sama mereka, ganteng boleh tapi play boy jangan dong...
"Bener juga katanya Sarsar, denger tu Re!" Retno menimpali.
"Ihh sudah dibilangin aku gak ada apa-apa juga sama kak Nouval, kalian sih mikirnya kejauhan." Elak Rere.
"Ya kita lihat saja nanti, kalau beneran kak Nouval suka sama kamu dia pasti akan berjuang gak sampai disini aja, kamu juga jangan langsung mau Re, jual mahal dikit biar dia kapok karena gak semua cewek lemah, biar dia saja yang lemah karenamu." Ni Kansari semangat banget kalau sudah masalah percintaan.
"Iya, kalau dia macam-macam sama kamu, aku dulu yang maju biar aku jadikan dadar gulung." Ucap Ningsih yang sudah mulai ketularan gejenya Kansari.
"Iya, iya percaya... Makasih ya kalian emang yang terbaik." Rere pasrah saja apa yang dikatakan teman-temannya, toh itu juga demi kebaikannya.
"Udah yuk, aku mau ke kantin dulu, laper banget tadi pagi cuma sarapan roti." Ajak Jully kepada Kansari, karena Rere dan Ningsih memutuskan buat di kelas saja, mereka hanya nitip untuk dibelikan makanan ringan dan minuman saja.
Di kantin Jully melihat Aleando sedang duduk makan sendiri di salah satu meja di sana. Jully dan Kansari memutuskan menghampiri Ale dan duduk bersamanya setelah memesan soto ayam bang Mamat.
"Hai Le, sendiri aja?" Sapa Jully.
"Ohh Jully, nggak kok tadi ada Tedy disini tapi udah balik duluan." Jawabnya.
"Maksud Jully itu biasanya kan kamu selalu berdua sama Wicky, tumben itu bocah songong gak ada." Kansari menjelaskan maksud pertanyaan Jully.
"Ohh Wicky... Udah cabut dia, gak balik lagi ke sekolah katanya." Jawab Ale santai sambil memakan makanannya yang masih tersisa.
"Bolos maksud kamu?" Tanya Jully memastikan dan Ale hanya mengangguk sambil terus mengunyah makanannya.
"Ckckck... Kebiasaan emang tuh anak." Kansari berdecak mendengar kelakuan Wicky, bukan hal baru teman sengkleknya itu bolos sekolah, apalagi seperti saat ini dimana akan ada jam kosong sampai jam pulang sekolah. Tentu saja lelaki itu memilih untuk pulang dan bolos daripada memilih untuk melihat pertandingan basket yang mana pasti akan didominasi oleh penonton cewek.
"Oh ya Le, aku mau tanya sesuatu ke kamu." Ucap Jully.
"Tanya aja." Jawabnya dengan menyedot es teh manis di depannya, menunggu Jully mengucapkan sesuatu untuk ditanyakan.
"Wicky pernah cerita sesuatu gak ke kamu?" Tanya Jully hati-hati.
"Maksud kamu cerita apa ya?" Ale balik tanya.
"Apa kek gitu... Misalnya dia bilang kalau juice strawberry yang ada di mejaku itu dia yang naruh?" Jully kembali bertanya dengan hati-hati, berharap Aleando mau memberikan informasi yang berguna untuk dirinya.
"Uhuk.. Apa kamu bilang? Mana ada yang kaya gitu?" Ale sampai tersedak es teh yang dia minum dari sedotan sangking kagetnya dengan apa yang Jully tanyakan ke dirinya.
"Sepertinya kita sudah bahas masalah ini deh Jull, kamu tahu sendiri kalau pikiran Wicky itu sangat sederhana, mana mungkin dia melakukan hal yang ribet seperti itu." Benar kata Ale, dulu mereka pernah membicarakan hal itu namun pengakuan Wicky beberapa hari yang lalu membuat Jully berpikir dua kali, dan sekarang muncul suatu kejanggalan yang kemungkinan Wicky berbohong padanya.
"Neng Jully, neng Sari... Ini soto ayam dan es jeruk manisnya silahkan dinikmati." Bang Mamat datang mengantarkan pesanan soto ayam mereka.
"Makasih ya bang..." Jawab Jully dan Kansari hampir bersamaan. Bang Mamat pun berlalu pergi dan Aleando meneruskan ucapannya.
"Dan jika itu benar, tentu Wicky akan cerita ke aku. Memangnya kamu dengar dari mana sih berita itu?" Tanya Ale.
"Uhuk.. Apa?!" Kali ini Ale bukan tersedak es teh melainkan kuah bakso yang baru saja dia seruput langsung dari mangkuknya.
"Ihh.. Ale jorok! Sampai nyembur gitu!" Semprot Kansari karena semburan Ale hampir saja mengenai soto ayamnya yang baru saja diantar oleh bang Mamat.
"Sorry...sorry Sar, gak sengaja." Dengan meringis tak enak Aleando meminta maaf pada Kansari yang sudah cemberut saja.
"Iya deh, makanya kalau makan hati-hati dong." Balas Kansari mengingatkan yang diiyakan oleh Ale. Jully yang melihat mereka hanya geleng-geleng kepala.
"Sudahlah kalian gak usah ribut lagi, sekarang aku boleh minta tolong gak sama kamu Le?" Pinta Jully.
"Minta tolong apa? Selama aku bisa, aku bakalan bantu." Ucap Ale.
"Makasih Le, tapi sebelumnya aku minta maaf mungkin permintaanku ini membuat kamu tidak nyaman, soalnya ini menyangkut sahabat kamu." Kata Jully yang merasa tidak enak atas permintaannya pada Ale.
"Santai saja Jull, aku gak pilih-pilih kok kalau mau nolong, apalagi teman sendiri seperti kamu." Balas Aleando.
"Okey lah kalau kamu bilang seperti itu aku gak bakalan sungkan lagi." Ucapa Jully lega. "Aku minta tolong ke kamu untuk bantu aku mengorek kebenaran masalah ini ke Wicky, bisa gak?" Lanjutnya sambil memasang wajah memohon kepada Ale.
"Ohh gitu doang? Itu sih gampang, kirain apa? Kalau masalah itu sih gak perlu kamu minta tolong pasti aku bakalan cari tahu sendiri, meski dia sahabat aku, tapi kalau dia belok musti harus dilurusin kan..." Huff.. Jully akhirnya bisa bernafas lega, ternyata Ale gak sepicik itu pikirannya, dia memang teman dan sahabat yang baik.
"Thanks ya brow..." Balas Jully seraya tersenyum lega.
"Ya udah, lekas habisin gih sotonya, habis ini pertandingan di mulai lho... Ntar kita gak dapat duduk paling depan lho Jull." Kansari menginterupsi.
"Ohh iya sampai lupa aku." Jully langsung nyengir dan langsung melanjutkan menghabiskan soto ayamnya.
Setelah semua urusan di kantin selesai mereka kembali ke kelas. Jully dan Kansari akan menemui Rere dan Ningsih untuk mengantarkan makanan ringan yang mereka pesan, setelahnya mereka berempat menuju lapangan basket untuk melihat pertandingan.
"Re, serius kamu mau ikutan nonton? Kepalamu sudah gak pusing?" Tanya Jully khawatir.
"Sudah gak apa-apa kok, sudah gak pusing, lagian kalau sendirian di kelas kan BeTe ntar tambah pusing lagi." Jawab Rere meyakinkan sahabatnya itu.
"Ya sudah, cuuzzz cepet cari tempat duduk yang strategis! Strategis buat lihat cogan-cogan SMA Angkasa, yuhuuu..." Sorak Sari girang, membuat ketiga temannya menggelengkan kepala. Tak tertolong deh dia.
"Beb, duduk sini beb." Kansari menggandeng dan mengarahkan Jully ke tempat duduk yang paling depan, posisi pas buat melihat ke penjuru arah.
"Nah kalau gini kamu kan bakalan bisa lihat, kira-kira siapa saja yang mungkin kamu curigai sebagai Cancer Boy." Bisik Kansari di telinga Jully dan gadis itu langsung memandang Kansari dengan senyum sebagai isyarat dia mengerti.
Sang moderator mulai membuka acara tanda pertandingan akan segera dimulai. Satu persatu tim di babak pertama memasuki lapangan, sorak sorai penonton yang memenuhi lapangan menggema diseluruh ruangan. Terlihat di tim biru adalah perwakilan dari kelas 3 IPA-1 yang merupakan kelas dari si Ketosgan Wigih Sasongko dan Nauval serta ada tiga temannya lagi untuk melengkapi tim mereka. Sedangkan di tim lawan yaitu tim kuning ada Daniel dan Rendi dari kelas 3 IPA-3 serta tiga teman lainnya. Meskipun sesama anggota OSIS dan saling bersahabat, mereka tidak satu kelas. Disini Rendi maupun Wigih sama-sama kapten di timnya masing-masing.
"Wahh baru tahu kalau ternyata mereka berempat gak satu kelas, tapi kita harus salut lho sama persahabatan mereka." Puji Kansari yang dibenarkan oleh ketiga temannya.
"Ehm ini toh sebenarnya alasan Rere tetep kekeh mau nonton pertandingan meski habis KO." Ningsih meledek Rere.
"Apa sih Ning gak jelas banget." Rere membalas dengan sewot.
"Tuh ada kak Nouval ikutan juga." Tunjuk Ningsih mengarah ke Nouval.
"Trus hubanganya sama aku apa coba? Mana aku tahu juga dia bakalan ikut tanding." Jawab Rere sebal dengan tingkah sahabatnya ini yang punya kebiasaan julid.
"Utu utu uttuu... Jangan ngambek dong beb, becanda kali." Balas Ningsih menirukan gaya Kansari.
"Ihh baby elephant jangan niru aku dehh!" Nah kan giliran Kansari yang sewot, Ningsih sih jahil. Jully yang melihat tingkah laku ketiga temannya itu hanya bisa tertawa geli.
Sebelum pertandingan dimulai para cheerleaders menunjukkan aksi pertunjukkan untuk menyemangati para pemain.
"Eh beb, lihat deh itu kak Anita bukan sih?" Tanya Kansari dengan menunjuk ke arah tim cheerleaders yang tengah beraksi di tengah lapangan.
"Sepertinya iya deh Sar, dia kapten cheers ?" Jawab Jully memastikan apa yang mereka lihat benar, dia tidak menyangka bahwa Anita selain anggota OSIS juga kapten cheerleaders sekolahnya, ternyata banyak banget kelebihan seniornya itu, selain cantik, pintar, anggota OSIS sekarang ada satu fakta lagi yaitu kapten tim cheerleaders. Pantas saja banyak siswa di sekolahnya baik lelaki maupun perempuan yang memujanya. Kalau dibanding dengan dirinya Jully merasa masih bukan apa-apa. Dalam pikikirannya seandainya Anita disandingkan dengan Wigih bakalan jadi pasangan yang cocok dan terhot di sekolahnya. "Duhh kok jadi nyesek ya?". Jully memukul-mukul dadanya sendiri, dia tidak tahu kenapa perasaan aneh itu muncul di hatinya.
"Beb, kenapa? Kamu sakit?" Kansari khawatir yang melihat Jully tiba-tiba memukul dadanya sendiri kaya orang keselek.
"Gak papa kok, cuman tadi ayam sotonya bang Mamat sepertinya masih nyangkut di tenggorokan deh." Jawab Jully asal.
"hahh kok bisa? Nih minum dulu gih!" Kansari menyodorkan sebotol air mineral yang langsung diterima oleh Jully dan langsung dia minum dengan rakus.
"Pelan-pelan beb, ntar keselek lagi."
"Uhuk..uhuk!"
"Tuh kan..."
Bersambung...