Jully Mahardika

Jully Mahardika
Ep. 18 Curiga dan Tersangka



Sekarang mereka berlima, Jully, Kansari, Rere, Ningsih dan juga Wigih sedang duduk di ruang tamu kediaman keluarga Mahardika. Tak ada suara yang keluar dari mulut mereka untuk saat ini, terasa sangat canggung setelah penuturan bu Susi ibunya Jully beberapa saat yang lalu. Merasa suasana di ruangan tersebut semakin tak enak, Jully mulai mengeluarkan suara.


"Kak Wigih, maaf ya untuk yang tadi, ibu aku memang begitu orangnya suka blak-blakan dan bercanda sampai gak tahu sikon." Ucap Jully merasa tak enak dengan seniornya itu.


"Gak apa-apa kok aku ngerti, jadi kamu gak perlu minta maaf." Jawab Wigih mencoba mengerti ketidak nyamanan ini. Dia juga tidak ingin Jully merasa terbebani dan akhirnya malah menjauh darinya, bisa susah tidur, susah makan dong nantinya...


"Makasih kak sudah mengerti." Jully merasa lega.


"Tidak masalah, aku mengerti ibu kamu adalah orang yang ramah, tadi itu cuma bercanda."


"Kalau bukan bercanda juga gak papa kok kak, iya kan Jull?" Ini Ningsih dari tadi nyablak aja.


"Husst baby elephant diem dulu!! Nyablak mulu dari tadi." Kansari geram. Ningsih hanya bisa bersungut cemberut.


"Gini ya guys... Kak Wigih ini yang nolongin Jully pas waktu hampir jatuh karena kliyengan kepalanya, trus kak Wigih juga yang nganterin Jully pulang, sebenarnya mau aku antar tapi waktu itu kan kita lagi ada quis Biologi jadi gak bisa ngantar. Pas sekali kak Wigih bisa ngantar, jadinya aku minta tolong buat nganter Jully, gituuu..." Tumben Kansari otaknya gak ketinggalan, Jully harus berterimakasih untuk ini.


"Oowhhh...." Rere dan Ningsih ber oh berjamaah.


"Iya, benar apa yang dikatakan Sari, jadi tolong jangan salah paham." Ucap Wigih membenarkan.


"Sebenarnya kami gak salah paham kok kak, cuma kaget aja ada kakak di rumah Jully, iya kan Ning?" Rere berkata dengan menyikut lengan Ningsih.


"Ahh iya kak, kami gak salah paham kok, cuma salah fokus saja hehe..." Jawab Ningsih mencoba mencairkan suasana.


"Salah fokus apa ya?" Tanya Wigih tak mengerti.


"Salah fokus lihat kegantengan kakak." Jawab Ningsih malu-malu yang disambut seruan teman-teman yang lain.


"Huuuuu...."


"Modus kamu Ning." Ejek Kansari.


"Sejak kapan kamu jago ngegombal? Ini pasti ajarannya Kansari deh..." Rere melirik Kansari yang berada di sampingnya.


"Kok malah aku yang kena?" Kansari tak terima atas tuduhan Rere.


"Iya kan kamu suka centil-centil manjah gitu kalau lihat orang ganteng." Jawab Rere sambil menirukan gaya Kansari yang kemayu. Jully dan Wigih hanya bisa tertawa melihat mereka yang saling lempar ejekan. Sedangkan Kansari hanya bisa terdiam merajuk, karena tuduhan Rere memang benar adanya. Untunglah semua kembali normal, suasana yang terasa canggung tadi perlahan mencair dan menghangat. Beruntungnya Jully mempunyai mereka di sisinya, teman sahabat yang berharga. Mungkin nanti mereka perlahan akan berubah seiring perjalanan waktu, tapi untuk saat ini sudah cukup untuk Jully bisa tertawa lepas bersama mereka. Waktu yang tak akan terulang kembali, mungkin Jully mendapatkan kesempatan kedua untuk kembali bersama-sama mereka tanpa ada penghalang kesibukan diantara masing-masing, tapi untuk kesempatan ketiga belum tentu ada kan... Jadi biarlah Jully tertawa bersama mereka sebelum saatnya dia kembali ke kehidupan yang seharusnya. Entah kapan. Hanya Tuhan yang tahu.


"Ahh... Teman-teman sepertinya aku harus pulang sekarang." Wigih melihat waktu di jam tangannya dan berpamitan untuk pulang.


"Kok cuma sebentar sih kak? Kami kan baru datang." Ucap Kansari merasa tak rela. Bukan karena dia suka dengan Wigih, hanya saja dia ingin tahu maksud Wigih yang sebenarnya terhadap Jully sahabatnya ini, tentu bukan hanya sekedar menjenguk kan? Tapi sayang Wigih keburu berpamitan.


"Maaf, aku ada janji sama adikku." Jawab Wigih memberi alasan.


"Yaaahh... Gak seru deh.." Balas Kansari lesu.


"Yaelaaah... kaya pisah sama mantan aja." Timpal Ningsih.


"Ya udah gak papa, terimakasih ya kak buat kedatangannya untuk jenguk aku." Ucap Jully tersenyum tulus. Duuhh meleleh deh hati si Ketosgan.


"Sama-sama, tolong nanti pamitin ke ibu kamu ya." Pinta Wigih.


"Iya kak." Jully mengantar Wigih sampai di depan teras dan kembali masuk ke rumah untuk bergabung dengan teman-temannya.


"Jull, serius si Ketosgan ke sini hanya untuk jenguk kamu?" Kansari mulai membuka suaranya lagi.


"Ihh kan kamu sendiri tadi yang ngejelasin kalau Ketosgan jenguk Jully karena kemarin habis nolongin nih anak." Ningsih menimpali.


"Duhh! Kamu tuh bego apa o'on sih Ning? Tadi aku cuma basa basi biar suasana gak kaya kuburan sepi, canggung gak enak banget."


"Bener juga, gak mungkin kan tadi kita langsung tanya ini itu secara mendetail tujuan dia selain jenguk si Jully. Tumben otak kamu bekerja Sar?" Kata Rere sambil menepuk-nepuk kepala Kansari.


"Tadi malam baru aku asah, puas kau?!" Balas Kansari sewot dan yang lainnya hanya tertawa.


"Terus gimana?" Tanya si Ningsih.


"Ya gak gimana-gimanalah, jika memang si Ketosgan suka sama Jully hak dia juga kali." Jawab Kansari gemas.


"Hah? Aku?" Tanya Jully bingung.


"Ya iyalah kamu, masa Ningsih? Kan kamu topik pembicaraan kita saat ini." Jawab Rere sarkas.


"Aku belum tahu guys, kenal saja barusan, biasanya hanya menyapa doang jika berpapasan, itupun cuma senyum sambil menganggukan kepala." Jawab Jully apa adanya, memang dia tidak tahu harus menanggapi seperti apa untuk saat ini. Semua cerita SMA nya yang pernah dia lalui dulu tidak sama dengan yang dia alami saat ini, ada perubahan situasi dan keadaan yang tidak dia ketahui. Sungguh Tuhan merubah semua cerita yang dia ketahui. Seakan membolak balikkan hatinya dia teringan si Yuyu Cancer Boy, belum juga urusannya dengan Wicky membuat kepala Jully tambah pusing tujuh keliling. Dilain sisi dia ingin Wicky berterus terang dengan perasaannya tanpa harus dipendam hingga belasan tahun lamanya dan di sisi lain dia merasa nyaman dengan datangnya surat-surat dari Cancer Boy, belum juga Mr. W yang misterius. Semuanya masih menjadi teka teki untuknya.


"Ya sudah pelan-pelan saja, kita cari jalan keluarnya sama-sama, kami pasti membantumu Jull." Ucap Rere menenangkan.


"Thanks Re..." Balas Jully.


"So.. Kita harus mulai dari mana dulu?" Tanya Kansari.


"Tentu kita harus menyelidiki si tukang post rahasia terlebih dahulu atau mungkin Mr. W dulu juga boleh." Ningsih berpendapat.


"Tukang post? Siapa tu?" Tanya Kansari bingung.


"Duhh lemotnya balik lagi nih anak." Ningsih tepok jidat.


"Maksud Ningsih itu Cancer Boy Sarijaaah." Rere menjelaskan.


"Ohh bilang dong dari tadi." Balas Kansari.


"Tunggu guys, masalah itu nanti saja, ada urusan lain yang harus aku selesaikan." Tutur Jully.


"Urusan apa?" Tanya Rere.


"Maaf aku belum bisa cerita, nanti saja jika urusanku selesai pasti aku akan ceritakan ke kalian semua." Kali ini Jully berharap para sahabatnya bisa mengerti dirinya bahwa tidak semua masalah yang dia punya harus diceritakan ke semua orang meski itu sahabatnya sendiri.


"Baiklah kalau itu keinginanmu, kami bisa menunggu kok, iya kan guys?" Ucapa Rere yang disetujui yang lainnya.


"Makasih kalian sudah mengerti." Balas Jully lega.


"Ohh ya hampir lupa!" Kansari menepuk jidatnya ketika mengingat sesuatu, dia merogoh isi tasnya, mencari sesuatu di dalam sana, lalu dia mengeluarkan amplop berwarna biru muda, "Ini tadi aku temukan di laci bawah mejamu, sorry aku ambil." Kansari menyerahkan amplop tersebut kepada Jully.


"Ini dari Cancer Boy." Ucap Jully, "Makasih ya Sar." Lanjutnya berterimakasih kepada Kansari yang dibalas anggukan oleh sahabat centilnya itu.


"Kamu gak buka dan baca duluan kan Sar?" Tanya Ningsih setengah curiga.


"Ya enggaklah, gini-gini aku itu menghargai yang namanya privacy." Jawab Kansari tak terima atas tuduhan tak langsung Ningsih.


"Sudahlah... Aku percaya kok sama Sari." Jully menengahi sebelum menjadi ramai nantinya.


"Ohh ya ada satu lagi." Kansari mengeluarkan juice strawberry dari dalam tasnya dan memberikannya kepada Jully. "Mr. W sepertinya tahu kalau kamu sedang absen sakit, dia menempelkan memo kecil disitu." Lanjut Kansari sambil menunjuk memo yang tertempel di kotak juice. Tertulis "Semoga cepat sembuh" disana.


"Menurut kalian mungkin gak kalau Mr. W itu sebenarnya ada di kelas kita?" Tanya Ningsih.


"Entahlah.." Jawab Rere.


"Belum tentu juga." Jawab Kansari.


"Bisa juga ada orang dalam yang bantu dia." Tebak Jully.


"Siapa kira-kira?" Tanya Ningsih lagi.


"Kalau itu susah ditebak, semua yang ada di kelas kita bisa jadi tersangka termasuk... Kalian." Jawab Jully yang membuat teman-temannya salimg melempar pandang karena argumen yang ia katakan barusan. Ya, memang benar kata Jully semua yang ada di kelasnya bisa jadi adalah tersangkanya termasuk mereka sahabatnya sendiri.


Bersambung....


πŸ“πŸ“πŸ“πŸ“πŸ“


Hai semua yang sudah baca Jully Mahardika terimakasih banyakπŸ™ sungguh suport kalian adalah semangatku. Tolong dukung aku terus agar semangat untuk update. Jangan lupa komen, like, vote karya aku ini ya....


Terimakasih... @Shira Sirius 😘😘😘