Jully Mahardika

Jully Mahardika
Ep. 33 Ketahuan



Jully masih menopang tubuh Kansari dengan tubuh dan tangannya. Siapapun yang melihat pasti mengira Jully sedang merangkul pundak Kansari. Sedangkan Kansari mencoba menormalkan detak jantungnya yang bergemuruh bagaikan genderang yang mau pecah. Sakit. Itu yang kini Kansari rasakan, dadanya terasa sesak namun dia harus menahannya sekuat tenaga. Mencoba berekspresi senormal mungkin agar tidak ada yang tahu bahwa saat ini dirinya sedang tidak baik-baik saja. Cukup hanya Jully yang tahu bagaimana perasaannya saat ini.


"Aku tahu kamu gadis yang kuat." Bisik Jully di telinga Kansari dan Kansari langsung menggengam erat tangan Jully sebagai jawabannya.


"Ohh ya kak, kami bawa ini buat kakak." Ucap Kansari kemudian demi menenangkan hatinya.


"Gadis pintar." Gumam Jully dalam hati seraya tersenyum.


"Waow... Apa ini? Seharusnya kalian gak usah repot-repot, kalian mau datang saja aku sudah senang." Ungkap Wigih seraya menerima bingkisan yang ternyata adalah buah-buahan.


"Gak apa kok kak... Cuma buah saja gak ngerepotin, maaf cuma bisa bawa itu." Balas Jully dengan tersenyum tulus membuat hati Wigih semakin menghangat.


"Ini saja aku sudah terimakasih banget." Jawab Wigih berbalas senyum juga.


"Ohh ya sampai lupa, kaki kakak gimana? Parah banget ya?" Tanya Jully yang memandang kaki Wigih berbalut gips dengan perasaan iba.


"Kata dokter sih gak terlalu parah, cuma di gips doang karena ada keretakan tapi gak parah kok... Ya hanya saja gak boleh banyak gerak sampai gibsnya dilepas." Kata Wigih menerangkan.


"Hmm... Kalian ke sini kenapa cuma berdua? Biasanya kan berempat." Tiba-tiba Nouval menanyakan perihal dua teman Jully yang biasanya selalu ada bersama gadis itu.


"Sebenarnya mereka tidak tahu kalau aku dan Sari akan kemari, lagian hari ini mereka ada urusan lain di rumah, jadi cuma kami berdua saja yang ke sini." Ungkap Jully.


"Owhh..." Nouval hanya menjawab ber-owhh saja dengan wajah yang terlihat sedikit kecewa dan itu tertangkap oleh pandangan Wigih.


"Kenapa Val muka kamu seperti itu?" Tanya Wigih menyelidik.


"Memangnya mukaku kenapa?" Jawab Nouval gusar.


"Kaya orang mau nahan boker haha..." Ledek Wigih yang dibarengi tawa lainnya.


"Sialan! Bikin malu aku aja."Jawab Nouval menggerutu.


"Kak Nouval kecewa ya karena Rere gak ada sama kita?" Pertanyaan Kansari membuat Nouval jadi langsung blingsetan sendiri.


"Ha? Haha... Kamu ngomong apa sih Sar?" Nouval salah tingkah sendiri sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


"Ohh... Jadi cewek yang kamu maksud tadi itu Rere temannya Jully?" Cibir Wigih dengan menampilkan smirknya untuk menggoda Nouval.


"Lho... Nouval lagi naksir cewek?" Tanya Rendi penasaran.


"Katanya tadi sih gitu..." Sahut Wigih sambil melirik Nouval.


"Cewek apaan? Yang mana? Waahh... Ngaco kamu. Kalian jangan dengerin Wigih, maklum dia lagi sakit jadi ngomongnya suka error hehe..." Nouval mencoba mengalihkan pembicaraan namun itu justru membuat yang lainnya terkekeh geli melihat wajah Nouval yang memerah karena malu.


"Yang sakit itu kakiku bukan kepalaku...Ckck.." Wigih langsung menimpalinya.


"Halaahh lagakmu Val sok-sokan pakek acara malu, biasanya juga langsung blunas blunus saja." Cibir Rendi.


"Enak saja, aku gak gitu ya!" Sanggah Nouval.


"Ppfft... Gak apa kali kak, kita mah nyantai aja, iya kan Sar?" Ujar Jully yang masih menahan tawanya.


"Iya kak, tapi ada syaratnya." Balas Kansari.


"Syaratnya apa?" Tanya Nouval cepat.


"Waahh ketahuan, langsung gercep gitu... huahaha..." Akhirnya Wigih gak bisa menahan tawanya lagi yang juga diikuti oleh lainnya.


"Iya, iyaaa... Puas kalian?" Jawab Nouval pasrah dengan wajah yang ditekuk namun justru itu menambah kadar ketampanannya terlihat jelas. Untung Jully dan Kansari bisa menahan diri untuk tidak meneteskan air liurnya. Sungguh pemandangan indah yang tidak bisa didustakan.


"Terus apa syaratnya?" Tanya Nouval kembali.


"Cukup jangan pernah sakiti dan membuat Rere menangis, kakak hanya boleh membuatnya menangis jika itu tangisan bahagia. Selebihnya tidak!" Ungkap Jully tegas.


"Tentu saja, kali ini aku sangat yakin dengan hatiku." Pungkas Nouval serius.


Kemudian Jully dan Kansari saling memandang dan saling melempar senyum hingga suara Jully menginterupsi kembali.


"Baik, kami pegang ucapan kak Nouval."


"Berarti kalian sudah merestui aku kan?" Tanya Nouval dengan senyum secarah sinar mentari.


"Kalau itu tergantung usaha kak Nouval sendiri." Seloroh Kansari yang diangguki oleh Jully juga. Nouval pun langsung melongo mendengarnya.


"Semangat Val...Kalau jodoh gak kemana." Ucap Wigih.


"Thanks bro." Balas Nouval.


"Ohh ya kak, udah jam segini aku dan Sari musti pulang sekarang." Pamit Jully setelah dirinya melirik jam di tangannya ternyata sudah satu jam lebih dia dan Kansari berada di sana. Sudah lumayan lama. Dirinya juga merasa tidak enak jika tiba-tiba Daniel kembali bersama adiknya Wigih yang notabenenya merupakan pacar Daniel. Jully hanya ingin menjaga perasaan Kansari meski sebenarnya ia juga penasaran seperti apa wajah adik Wigih itu.


"Kalian sudah mau pulang?" Wigih bertanya seakan tidak rela jika Jully meninggalkannya saat ini.


"Ciee... Ada yang gak rela." Celetuk Nouval membalas Wigih yang tadi ikut menggodanya. Sedangkan Wigih langsung memelototi Nouval yang menampilkan cengirannya.


"Ehmm.... Mau aku antar?" Tiba-tiba Rendi mengeluarkan ucapan yang membuat Wigih dan Nouval melongo tak percaya.


"Gak perlu kak, kami kan bawa motor." Pungkas Jully menolak tawaran Rendi.


"Cieee ditolak... Haha..." Ledek Nouval yang kini berganti mendapat tatapan tajam Rendi.


Jully hanya bisa nyengir canggung karena merasa tidak enak dengan Rendi maupun Wigih. Diapun berpamitan kembali.


"Kalau gitu, kami pamit sekarang ya kak... Semoga lekas sembuh dan bisa main basket lagi." Kata Jully dengan do'a yang tulus namu tiba-tiba...


"Assalamu'alaikum... Wahh lagi banyak tamu ternyata." Seorang wanita yang sudah tidak muda lagi namun masih terlihat sangat cantik masuk berasama seorang lelaki berjas dokter masuk ke dalam ruang inap Wigih.


"Wa'alaikumsalam..." Jawab mereka serempak.


"Akhirnya mama dan papa datang juga." Ternyata mereka adalah orang tua Wigih. Papa Wigih memang salah satu dokter di rumah sakit tersebut.


"Kenapa memangnya?" Tanya Dr. Ridwan Sasongko papa Wigih.


"Bosanlah pa, pengen cepat pulang." Jawab Wigih memelas.


"Wahh ini siapa kok mama baru lihat?" Mama Sinta mengamati Jully dan Kansari dengan senyum yang mengembang.


"Perkenalkan tante, om dokter saya Jully dan ini teman saya Kansari, kami berdua adik kelasnya kak Wigih." Ucap Jully memperkenalkan diri dengan sopan yang diikuti Kansari dengan mengangguk sopan juga.


"Duhh cantik-cantik semua, mana sopan lagi." Balas mama Sinta senang melihat kehadiran kedua gadis itu.


"Terimakasih tante." Jully dan Kansari membalasnya hampir bersamaan.


"Ohh ya kenalin, ini mama dan papa aku." Wigih memperkenalkan kedua orang tuanya kepada Jully dan Kansari.


"Wahh papa kak Wigih seoarang dokter ternyata, keren ya..." Seloroh Kansari dengan mengacungkan kedua jempol tangannya.


"Hahaa kamu bisa saja, siapa nama kamu tadi?" Tanya Dr. Ridwan mencoba mengingat ingat nama Kansari.


"Kansari Hermansyah om dokter, panggil Kansari atau Sari saja." Jawab Kansari sembari tersenyum.


"Ahh iya Kansari, akan saya ingat. Lalu yang satunya Jully kan?"


"Iya om dokter, saya Jully Mahardika, cukup panggil saya Jully saja." Balas Jully dengan tersenyum sopan.


"Duhh kalian jangan kaku-kaku dong ngomongnya, semua temannya Wigih itu sudah tante anggap seperti anak sendiri." Ujar mama Sinta.


"Iya tante, om trimakasih." Balas Jully menanggapi perkataan mamanya Wigih yang ternyata baik banget.


"Tapi tante, om... Kami harus pamit sekarang." Lanjut Jully berpamitan.


"Lho kok buru-buru?" Tanya mama Sinta yang sepertinya tidak rela mereka berdua pulang, maklum ini pertama kalinya ada perempuan yang terlihat bersama anaknya selain Anita. Tentunya mama Sinta tahu jika anaknya tidak begitu nyaman bersama Anita, sedangkan yang dia lihat sekarang justru Wigih lah yang terlihat antusias saat memperkenalkannya tadi.


"Iya tante, maaf banget... Soalnya kami sudah lumayan lama di sini, takut orang tua kami mencari." Jully membuat alasan yang masuk akal sehingga mama Sinta tidak mampu mencegahnya lagi.


"Baiklah kalau begitu, lain kali kalian main saja ke rumah tante dan om, nanti tante masakin yang enak buat kalian." Ujar mama Sinta.


"Siap tante." Balas Jully dan Kansari bersamaan.


"Ohh ya kalian ke sini naik apa?" Tanya papanya Wigih.


"Tadi kami datang barengan sama kak Rendi tapi kami bawa motor sendiri kok om." Terang Kansari.


"Ohh salah satu dari kalian pacarnya Rendi?" Celetuk mama Sinta.


"Hugh.. uhuk uhuk!" Wigih yang sedang minum langsung tersedak saat mendengar pertanyaan random mamanya itu.


"Kamu kenapa sih Gih? Kalau minum yang hati-hati dong." Dr. Ridwan langsung memperingati anaknya sambil mengelus punggung Wigih. Sedangkan Nouval hanya bisa menahan tawanya melihat reaksi Wigih dan Rendi yang terlihat memerah wajahnya.


"Bukan kok tante." Sanggah Jully dengan tegas.


"Iya bukan, kami semua hanya teman." Kansari ikut membenarkan.


"Owhh bukan to... Maaf deh kalau tante salah duga." Ucap mama Sinta yang dibalas senyuman canggung oleh Jully dan Kansari.


"Kalau gitu, kami langsung pamit saja ya om, tante. Kak Wigih cepat sembuh ya, jaga diri baik-baik biar gak terluka lagi." Pamit Jully untuk kesekian kalinya.


"Iya, makasih ya Jully, kamu juga hati-hati di jalan." Balas Wigih sembari tersenyum.


"Iya kak, mari om, tante... Assalamu'alaikum." Jawab Jully lalu melangkah pergi bersama Kansari meninggalkan ruangan Wigih.


"Wa'alaikumsalam..." Balas mereka bersamaan.


Setelah kepergian Jully dan Kansari mama Sinta membereskan barang-barang dan pakaian Wigih yang akan dibawanya pulang, papa Ridwan sudah kembali lagi ke ruang kerjanya, sedangkan Rendi dan Nouval berpamitan untuk pulang setelahnya. Lalu selang beberapa saat Ernita datang bersama Daniel.


"Mama curiga deh..." Celetuk mama Sinta disela-sela kesibukannya berbenah.


"Curiga sama siapa ma?" Tanya Ernita sambil memicingkan matanya tak mengerti dengan ucapan sang mama.


"Curiga dengan kakakmu ini." Jawab mama Sinta sambil menatap sengit anak lelakinya.


"Lho... Memangnya salah aku apa?" Tanya Wigih yang ikut bingung juga dengan tuduhan mamanya.


"Sepertinya kakakmu lagi naksir cewek." Jawab mama Sinta membuat Wigih dan Ernita serta Daniel melongo saking terkejutnya.


"Kamu lagi suka sama seseorang bro?" Tanya Daniel yang diacuhkan oleh Wigih.


"Mama tahu dari siapa?" Kali ini Ernita yang bertanya ke mamanya.


"Tadi ada cewek adik kelasnya Wigih datang kemari buat jenguk kakakmu, namanya Jully dan Kansari." Terang mama Sinta.


"Hah? Jully datang ke sini ma?" Ernita terkejut mendengar penuturan mamanya.


"Ohh jadi Jully to yang kamu taksir? Mama tadi sih sudah curiga kalau dia orangnya." Ungkap mamanya sambil tersenyum melirik anak lelakinya itu.


"Bener bro kamu suka sama Jully?" Tanya Daniel kemudian.


"Apaan sih pada curiga mulu." Kilah Wigih salah tingkah.


"Hallahh gak usah ngeles gitu, mama saja sudah lihat tadi kamu kalau di depan Jully bawaannya bunga betebaran di mana-mana, senyum sudah ngalah-ngalahin sinar Matahari, suara dikalem-kalemin." Cerocos mamanya menggoda Wigih yang sudah terpojokkan tidak bisa menyanggah lagi ucapan mamanya itu membuat Ernita dan Daniel tak bisa menahan tawanya yang langsung pecah.


"Haha... Sudahlah kak ngaku saja, sama mama juga, aku sudah capek nyimpen rahasia terus." Seloroh Ernita.


"Lho... Kamu sudah tahu yank?" Ernita mengangguk pada Daniel.


"Kamu kok gak cerita sama mama sih dek?" Tanya mama Sinta muram.


"Kan dilarang sama kak Wigih ma." Ungkap Ernita akhirnya.


"Ya sudah gak masalah yang penting habis ini mama dapat mantu, cantik dan sopan pula." Ucap mama Sinta seraya tersenyum bahagia.


"Haa? Kamu sudah mau kawin bro?" Tanya Daniel bikin keki.


"Ehh?"


Bersambung...