
"Tentu saja kalian berdua harus menyelesaikannya. Apa perlu aku yang bantu?" Tawar Rendi.
"No! Terimakasih kak tapi tidak usah, aku akan menyelesaikannya sendiri." Tolak Jully.
"Lagian kalau kamu ikut campur yang ada masalah ini tidak terselesaikan dan malah runyam." Ucapa Anita sedikit mengejek Rendi.
"Kok kamu ngomongnya gitu sih sayang? Aku kan cuma mahu bantu." Balas Rendi dengan wajah masam.
"What?? Sa..yang?? Kalian berdua ada hubungan apa?" Tanya Jully bingung sambil menunjuk ke arah Rendi dan Anita secara bergantian.
"Aku dan Anita... Kami bertunangan." Jawab Rendi dengan menunjukkan cincin pertunangannya dengan Anita.
"Terpaksa!" Sahut Anita datar dengan wajah cuek. Sebenarnya dia hanya ingin menggoda Rendi, melihat wajah tunangannya yang cemberut merupakan hiburan tersendiri bagi Anita.
"Hahh?!" Jully dan Rendi terkejut bersamaan. Sedangkan Anita hanya santai dengan bersedekap dada.
"Kok gitu sih ngomongnya sayang? Cuma aku lho lelaki di dunia ini yang ngertiin kamu luar dalam." Cicit Rendi.
"Ya itu dia, diantara empat pria yang aku kenal cuma kamu yang gak punya gebetan. Daniel sudah jelas dari SMP sudah ada pawangnya, Nouval gak mungkin karena terlalu banyak saingan, Wigih apalagi...itu anak sudah bucinnya sama Jully, mahu cari yang lainnya males buat adaptasi dan solusinya cuma satu yaitu kamu." Oceh Anita panjang lebar membuat Rendi semakin melongo, sementara Jully hanya diam tidak mahu terlibat dengan pertengkaran rumah tangga mereka.
"Sebenarnya aku mengincar Wigih...tapi berhubung Wigih cintanya sama Jully aku memilih mundur teratur, itupun karena Jully orangnya, kalau perempuan lain pasti gak bakal aku restui." Anita kembali mengoceh dan kini berganti Jully yang terpaku memandang Anita dengan mata yang berkedip-kedip lucu.
"Waaahh... Wigih emang bener ya itu anak diam-diam menghanyutkan, awas saja ya kalau ketemu aku bakal..." Rendi langsung *******-***** tangannya dengan geram, cemburu sedang merasukinya.
"Ihh apaan sih kak Ren?! Yang suka kan kak Anita kok malah kak Wigih yang kena?!" Bela Jully gak terima.
"Ciiee... Dibela nih pujaan hati." Ledek Anita dengan santainya tanpa perduli raut wajah Rendi yang merah padam, sementara Jully nampak tersipu malu.
"Ehmm... Lagian kak Rendi dulu juga sempat suka kan sama aku?" Balas Jully telak.
"What?! Benar itu Ren?" Kini ganti Anita yang memunculkan taringnya siap mengoyak lelaki yang kini sudah berdiri di sampingnya.
"Eh.. emm.. Sayang jangan dengerin Jully, dia kan habis koma jadi otaknya agak koslet." Sambil meringis takut Rendi berusaha merayu Anita. Jully mah hanya terkikik melihat Rendi yang langsung mati kutu dihadapan Anita.
"Jangan ketawa kamu Jull! Bikin calon istri aku salah paham saja." Tegur Rendi namun Jully masih tetap terkekeh.
"Makanya kak... Jangan macam-macam, pakek acara mau ngelawan kak Wigih segala." Lawan Jully.
"Ehh tapi benar kok kak Nit, dulu kak Rendi pernah mau PDKT lho sama aku." Seketika itu juga Jully mendapat pelototan dari Rendi, sedangkan Rendi dapat pelototan tajam dari Anita dan saat itu juga lelaki itu menunduk ciut. Tak disangka seorang Rendi yang ketenarannya setara dengan Wigih cuma bisa ditundukkan oleh seorang Anita dokter anak cantik yang dulunya gadis terpopuler di SMAnya.
"Kalian ngobrolin apa sih? Seru banget kayanya." Tiba-tiba Wigih datang menghampiri mereka bertiga.
"Ehh ada dokter Wigih... Siang dok." Sapa Jully kembali ke mode formal.
"Siang Jully, gimana siang ini tidak ada masalah kan?" Tanya Wigih.
"Tenang saja, semuanya aman kok dok." Jawab Jully yang diangguki oleh Wigih.
"Lho kamu ada di sini juga Nit?" Sapa Wigih setelah mengarahkan pandangannya pada Anita.
"Gak usah lihat-lihat, ntar mata kamu kecolok!" Sahut Rendi sewot.
"Kamu kenapa sih Ren? Tiba-tiba nyolot gitu?" Tanya Wigih heran.
"Dia lagi PMS aja Gih, gak usah diladeni, kami pergi dulu ya, bye... Dah Jully..." Anita pergi dari taman itu dengan sedikit menyeret Rendi yang lagi sentimen.
"Rendi kenapa sih Jull?" Tanya Wigih pada Jully tentang keanehan sikap Rendi.
"Saya sendiri juga gak tau dok." Jawab Jully sambil mengedikkan bahunya.
"Ya sudahlah mending gak usah dipikirkan, sejak jadi dokter dia emang suka aneh gitu haha... Btw gimana keadaan kamu sekarang?" Tanya Wigih sambil mendudukkan diri di samping Jully.
"Besok siap untuk pulang?" Tanya Wigih lagi.
"Pulang? Besok saya sudah bisa pulang dok?" Jully balik bertanya, memastikan jika apa yang ia dengar itu benar.
"Iya, tadi saya ke ruangan kamu tapi kamu tidak ada, hanya ada ibumu dan dokter Ibrahim, di sana beliau mengatakan kalau besok kamu sudah bisa pulang." Jawab Wigih seraya tersenyum menatap Jully.
"Alkhamdulillah... Akhirnya bisa pulang juga, bosen dok saya di sini terus." Sahut Jully dengan senyum sumringahnya.
"Tapi kamu tidak bosan kan ketemu saya?" Pertanyaan Wigih itu seketika menghentikan senyuman Jully, sedetik kemudian mereka berdua saling menatap dalam diam.
"Tentu saja tidak, justru saya sangat berterimakasih pada dokter karena selama saya dirawat di sini dokter selalu menjaga saya." Jully tersenyum setelah mengatakan itu dan disambut pula dengan senyuman hangat Wigih.
"Sama-sama." Balas Wigih yang tak henti mengembangkan senyumannya.
Tiba-tiba tatapan mereka berdua terputus karena suara dering telepon dari phonsel Wigih.
"Ahh sebentar saya angkat telpon dulu." Ijin Wigih, dia merogoh phonselnya dari dalam saku jasnya seraya berdiri dan agak menjauh dari Jully.
Tak lama kemudian Wigih kembali ke arah Jully.
"Jully, sebentar lagi ada seseorang yang ingin menemuimu." Ucap Wigih.
"Siapa dok?" Tanya Jully sambil mengernyitkan matanya.
"Tunggu saja, nanti kamu juga akan tau." Jawab Wigih dan itu membuat Jully bertanya dalam hati, siapa yang ingin bertemu dengannya?
"Papaaaa...!"
Teriakan itu sukses membuat Wigih yang berdiri menghadap Jully menengok ke belakang. Seorang anak lelaki kisaran umur lima tahun berlari ke arah Wigih dan langsung menghambur kepelukan Wigih dan saat itu juga mata Jully langsung membola, terkejut dengan apa yang dia dengar serta dia lihat sekarang ini di hadapannya.
"Hah?! Kak Wigih sudah punya anak? Berarti dia sudah menikah dong? Kok dia gak bilang? Kak Rendi juga gak pernah kasih tau." Itu semua pertanyaan yang ada di pikiran Jully, bibirnya kelu tidak bisa berkata apapun saking speechless-nya. Dia hanya bisa menatap interaksi antara ayah dan anak yang ada di hadapannya itu.
"Ehh Leo udah sampai ya... Jangan lari-lari ntar jatuh lagi." Ucap Wigih pada anak yang dipanggilnya Leo itu seraya mengangkat tubuh anak kecil itu dalam gendongannya.
"Habisnya Leo kangen sama papa, papa jarang ketemu sama Leo sih!" Sahut anak lelaki itu merajuk memanyunkan bibirnya lucu.
"Maaf papa sibuk banget, terus sekarang momy mana kok Leo ke sini sendirian" Tanya Wigih pada anak yang ada di gendongannya itu.
"Ada, masih di belakang, habis momy lama makanya Leo tinggal, paling sekarang lagi lari-lari ngerjar Leo." Jawab anak itu santai yang membuat Wigih geleng-geleng kepala.
"Leo...!!" Seseorang menyerukan nama anak itu dari arah yang tak jauh dari mereka berdiri.
"Nah itu momy Leo." Tunjuk anak kecil itu dengan senyum mengembangnya yang menggemaskan. Seorang perempuan berparas cantik dengan penampilan yang elegan datang menghampiri Wigih dan anak keci Leo dengan napas yang ngos-ngosan.
"Momy kan sudah bilang jangan lari-lari nanti bisa jatuh, apalagi di dalam Rumah Sakit, nanti kalau nabrak orang yang lagi sakit gimana? Kasihan kan?" Omel wanita itu pada bocah yang masih anteng di gendongan Wigih.
"Maaf momy..." Jawab Leo dengan kepala menunduk menyadari kesalahannya.
Jully yang melihat ke arah wanita itu langsung berdiri dari tempat duduknya karena terkejut.
"Ernita?!" Seru Jully pada wanita cantik itu yang langsung menoleh pada Jully yang memanggil namanya.
"Jully? Haii...." Sahut wanita itu dengan wajah sumringah, namun tidak dengan Jully, dia masih saja terperangah dengan mulut yang masih menganga melihat siapa yang ada di hadapannya. Dia Ernita, teman satu kelasnya dulu sewaktu SMA.
"Jadi selama ini kak Wigih menikah dengan Ernita? Bagaimana ini sungguh kebetulan?" Semua itu masih tetap menjadi tanda tanya Jully dalam hatinya. Dirinya masih speechless.
Bersambung....