
Setelah hari lamaran sekaligus pertemuan kedua keluarga, kini Jully dan Wigih tengah sibuk mempersiapkan acara pernikahan mereka yang telah disepakati akan dilangsungkan tiga bulan lagi. Ini termasuk waktu yang lumayan singkat untuk mengurus sebuah acara pernikahan, mahu gimana lagi? Kedua keluarga inginnya cepat-cepat menikahkan mereka. Ya akhirnya baik Jully maupun Wigih disibukkan dengan persiapan pernikahan mereka yang lumayan singkat waktunya. Sebenarnya mereka berdua tidak benar-benar sibuk sih... Karena semua persiapan mulai gedung pernikahan, dekor, catering bahkan baju pernikahan mereka sudah diatur oleh kedua keluarga mereka. Jadi Wigih maupun Jully hanya terima jadi saja, maklum dengan adanya kesibukan dari mereka berdua saja mana mungkin bisa mempersiapkan acara pernikahan mereka lengkap dengan printilan dan tetekbengek segala macam. Paling mereka hanya membantu untuk sebar undangan, itu juga hanya untuk undangan teman dekat mereka saja, selebihnya keluarga dan WO yang mengurusnya. Ini sudah dua bulan berlalu setelah acara lamaran sederhana di rumah keluarga Mahardika dan itu berarti kurang satu bulan lagi menuju hari H pernikahan mereka. Dan saat ini Jully and the besties sedang ngumpul bareng di Smile Cafe, secara ini hari Minggu sehingga mereka semua bisa meluangkan waktu bersama.
"Beb... Ini bukannya cafe tempat biasa kita nongkrong waktu SMA ya?" Kansari membuka suara sambil matanya berkeliling menyapu ruangan yang ada di cafe itu.
"Iya." Jawab Jully singkat.
"Beda banget ya sama waktu dulu kita sekolah, sekarang tambah luas dan kelihatan berkelas, pengunjungnya juga bukan hanya anak-anak muda seperti dulu, orang dewasa bahkan keluarga pun juga banyak yang makan di sini." Lanjut Kansari yang masih mengagumi tempat itu.
"Iya, sejalan berkembangnya waktu berkembang pula cafe ini, dulu saja sampai pangkling saat pertama kali aku ke sini setelah direnofasi sebesar ini." Sahut Jully.
"Oh ya? Kamu ke sini dengan siapa?" Tanya Rere.
"Dengan mas Wigih, justru mas Wigih yang masih ingat tempat ini." Jawab Jully.
"Jelaslah... Namanya juga bucin dari jaman bahula, pasti ingatlah." Seloroh Ningsih yang membuat Kansari dan Rere cekikikan.
"Gak apa-apa bucin, selama itu sama aku dan yang pasti ada hasilnya selama dia bucin sampai saat ini." Sahut Jully dengan percaya dirinya sambil mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya.
"Apa ini beb?" Tanya Kansari.
"Undangan?" Ucap Ningsih yang masih belum menyadari nama yang tertera di dalam undangan yang diberikan Jully.
"Jully kamu mahu nikah? Selamat ya sayangkuuu..." Ucap Rere yang langsung ngeh dengan undangan yang ternyata undangan pernikahan sahabatnya itu dengan pacar Dokgannya. Rere pun langsung menghambur memeluk Jully.
"Yeee... Akhirnya bebeb Jully gak jones lagi...!" Seru Kansari yang langsung ikutan memeluk Jully, begitu pula Ningsih yang mengikuti memeluk mereka bertiga dengan tangannya yang lebar. Akhirnya keempat sahabat itu saling berpelukan layaknya Teletubbies.
"Makasih ya para bestieku... Tapi, eghh... lepas dulu dong! Oksigen nipis nih!" Keluh Jully yang terasa sesak karena pelukan ketiga sahabatnya yang begitu erat.
"Ehh babby elephant cepet lepasin! Kita bertiga sesek nih! Seru Kansari yang juga ikut terjepit diantara mereka, maklum Kansari itu yang paling mungil diantara mereka.
"E e eh iya, sorry aku gak sadar kalau ada udang rebon diantara putri duyung yang aku peluk." Mulai deh Ningsih dan Kansari tanding mulut.
"Udah deh... Kalian berdua jangan mulai lagi, udah emak-emak juga!" Ujar Jully sambil memutar bola matanya jengah.
"Selain ngasih undangan nikahan aku, aku juga mahu minta tolong buat kalian untuk jadi bridesmaid di nikahan aku, ntar juga ada asistenku Melda dan Marta serta kak Anita yang barengan sama kalian. Kalian mau kan?" Pinta Jully dengan memasang puppy eyes-nya di balik kaca mata bundarnya.
"Pastilah kita mau, ya kan guys...??" Jawab Rere yang langsung diangguki oleh Ningsih dan Kansari.
"Thank's ya sayang-sayangku..." Balas Jully dengan senyum cerahnya.
"Waahh... Pas sekali pesanan kita udah datang, kita makan dulu yuk!" Ujar Ningsih.
Akhirnya mereka berempat menikmati makanan yang mereka pesan sambil mengobrol ngalor ngidul dengan diselingi canda tawa diantara mereka. Sungguh pemandangan yang begitu indah membuat hati Jully menghangat.
"Aku harap kita akan tetap seperti ini sampai nanti." Bisik hati Jully.
🍓🍓🍓🍓🍓
Akhirnya ini adalah D-day. Hari terindah yang akan selalu Jully dan Wigih kenang selamanya. Hari Pernikahan yang akan digelar di salah satu hotel ternama di kota Malang. Kalau ingin tahu bagaimana perasaan mereka? Tentu saja rasanya seperti permen nano-nano. Jully kini sudah selesai dirias. Dia terlihat begitu cantik dengan balutan kebayak warna putih dan sekarang sedang menunggu disebuah ruangan khusus bersama para bridesmaid. Menunggu calon mempelai pria datang dan mengucapkan ijab qabul.
"Kamu gugup Jull?" Tanya Anita yang kini sedang duduk di sebelah Jully, tangannya menggenggam jemari Jully yang terasa begitu dingin.
"Sampai dingin gini tangannya." Lanjut Anita.
"Banget kak, deg-degannya ngalah-ngalahin pas aku berdiri menantang lawan di meja hijau." Jawaban Jully langsung membuat Anita terkekeh.
"Separah itu ya? Tapi mungkin juga karena aku belum pernah merasakannya." Ujar Anita.
"Coba saja pasti ucapan aku benar, kakak bandingin saja gugupan mana sama waktu kakak melakukan fonis penyakit pasien kak Anita. Makanya kak, cepetan nikah dong sama kak Rendi... Masa tunangannya duluan kakak tapi nikahnya aku duluan?" Kata Jully yang sedikit menggoda Anita.
"Ngeledek nih ceritanya..." Sahut Anita seraya mencebikkan bibirnya.
"Haha... Sediit sih." Jawab Jully.
"Dasar!" Balas Anita yang pura-pura dongkol.
Tiba-tiba suara Kansari terdengar heboh.
"Guys.... Lihat ke monitor dulu dong...! Tuh si calon imamnya Jully sudah datang bersama rombongan keluarganya." Seru Kansari heboh membuat Jully dan para bridesmaid yang berada bersamanya memfokuskan mata mereka pada layar monitor yang sengaja dipasang di ruangan itu agar mereka bisa melihat apa yang terjadi di ruang lain tempat yang nantinya akan dipakai untuk ijab qabul. Bersamaan dengan itu Enin masuk dan menghampiri Jully.
"Dek... Itu si Wigih baru saja datang, sebentar lagi mahu ijab qabul. Kamu siap-siap, setelah ijab qabul selesai kamu keluar sama mbak dan yang lainnya." Ucap Enin yang diangguki pelan oleh Jully. Setelah itu mereka semua kembali fokus pada monitor yang menampilkan acara berlangsungnya ijab qabul tersebut.
"Saya terima nikah dan kawinnya Jully Mahardika binti Budi Mahardika (alm) dengan seperangkat alat sholat dan uang sebesar dua juta enam ratus ribu rupiah dibayar tunai!" Wigih mengucapkan ijab qabul secara lantang dengan sekali tarikan napas.
"Bagaiman saksi? Sah?" Tanya pak penghulu.
"SAH...!!" Jawab lantang semua orang yang hadir di acara itu.
Tak ubah dengan yang lainnya, Jully tak henti-hentinya berucap syukur karena semua proses ijab qabul berjalan lancar. Tidak sadar air matanya menetes haru bahagia. Sedetik yang lalu statusnya berubah menjadi seorang istri dari laki-laki yang amat ia cintai setelah almarhum bapaknya.
"Duhh... Jangan nangis dong sayang, nanti make up-nya luntur." Ucap Enin sambil menyambar tissue yang ada di atas nakas dan mengusap air mata Jully dengan hati-hati karena tidak ingin dandanan adiknya berantakan.
"Maaf mbak, habisnya tiba-tiba keluar begitu saja." Kata Jully seraya tersenyum tipis.
"Ya sudah kita keluar sekarang ya... Sudah ditunggu sama suami kamu." Kata Enin.
"Cieee... Suami...." Sorak teman-teman Jully.
"Apaan sih kalian?" Sahut Jully dengan pipi yang merona.
"Sttss... Jangan digoda terus! Cepat sudah pada nunggu di luar." Enin mengingatkan.
Dan Jully pun keluar sambil dipapah oleh Enin di sebelah kanan dan Anita di sebelah kiri bersama para bridesmaid yang berjalan mengiringi di belakangnya. Mereka semua mengantar Jully ke tempat dimana Wigih berikrar ijab qabul.
Sesampainya di sana Jully tengah disambut ibunya dan Saras yang menuntunnya duduk di sebelah Wigih. Di hadapannya seorang penghulu menuntun mereka untuk menandatangani buku nikah dan setelahnya saling bertukar cincin. Setelah bertukar cincin Jully meraih tangan kanan Wigih dan menciumnya khitmat, kemudian dibalas Wigih dengan ciuman di kening Jully setelah memanjatkan sebuah do'a. Tanpa terasa air mata Jully kembali mengalir, Wigih yang melihatnya pun langsung menyekanya lembut dengan ujung jarinya.
"Hei.. Jangan nangis dong sayang, nangisnya nanti waktu kita berdua saja di kamar." Bisik Wigih sambil mengerlingkan matanya nakal.
"Ihh pikiranmu mas..." Jully pun mencubit pinggang Wigih gemas dan akhirnya mereka saling memandang dan tersenyum satu sama lain.
"Hiks...hiks... Jully sayangnya ibu yang suka molor tidurnya, akhirnya sekarang sah jadi seorang istri. Mulai sekarang kamu jangan suka molor, harus bangun pagi! Kasihan mantu ibu yang ganteng ini nanti gak bisa sarapan. Eh ngomong-ngomong kamu sudah bisa masak kan Jull? Kan kasihan kalau mantu ibu yang ganteng ini keracunan habis makan masakan kamu." Cerocos bu Susi yang masih sempat nyinyirin Jully di suasana haru ini, membuat air mata haru Jully masuk kembali ketika sungkem pada ibunya itu.
"Haahh??!" Jully langsung speechless tidak dapat berkata apapun saking takjubnya mendengar penuturan ajaib ibunya. Beda dengan Wigih yang mendapat wejangan manis namun tetap menjatuhkannya. Sabar ya Jully... Orang sabar suaminya Dokter.
"Nak Wigih...hiks... Terimakasih ya sudah mahu menikah dengan anak saya yang banyak kurangnya, kedepannya yang sabar menghadapi Jully, itu anak emang kadang keras kepala, nanti kalau dia suka molor guyur saja sama air seember. Terus nanti kalau gak cocok sama masakannya Jully pulang saja ke rumah ibu, nanti ibu masakin yang enak buat mantu ganteng ibu ini." Ucap bu Susi pada menantu barunya, Wigih pun hanya bisa menjawab "iya" dan "iya" saja sembari tersenyum.
Setelah acara ijab qabul dan sungkeman selesai selanjutnya langsung diadakan acara resepsi yang sengaja dilakukan berurutan karena tidak ingin membuang-buang waktu dan lebih fleksibel. Di resepsinya ini Jully berganti pakaian dengan wedding dress berwarna peach lengan panjang dengan bahu terbuka. Sedangkan Wigih mengenakan suit dengan warna senada. Mereka terlihat begitu menawan bersanding di atas pelaminan. Semua teman-teman mereka datang silih berganti dan mengucapkan selamat serta do'a untuk kebahagian rumah tangga baru mereka.
"Sayang capek ya?" Tanya Wigih pada Jully.
"Iya mas, tamunya banyak banget, kapan selesainya? Perasaan teman yang aku undang gak sebanyak ini deh... Ini kebanyakan tamunya ibu." Keluh Jully.
Wigih tersenyum lembut sambil menyeka peluh di dahi Jully dengan tissue yang sengaja ia simpan di kantong jasnya.
"Sabar ya sayang... Kamu duduk saja dulu, lagian tamunya sudah mulai berkurang, bentar lagi juga selesai." Ucap Wigih sambil membantu Jully kembali duduk di kursi pelamin.
Kini acara sudah hampir selesai dan ditutup dengan sesi foto-foto bersama teman dan keluarga. Dan final! Acara selesai. Jully dan Wigih akhirnya bisa kembali ke kamar hotel yang sudah disulap menjadi kamar pengantin.
"Ahh... Capek banget, badanku rasanya mahu copot semua." Keluh Jully yang langsung merebahkan dirinya di atas ranjang, tidak perduli mawar-mawar yang sudah ditata indah di atas ranjang jadi berhamburan kemana-mana.
"Kamu pasti capek banget ya sayang... Mending mandi dulu baru istirahat." Ucap Wigih yang melihat raut lelah di wajah istrinya.
"Bentar ya mas... Begini saja dulu sebentar." Jawab Jully dengan mata terpejam. Wigih tersenyum dan menyusul berbaring di sebelah Jully.
"Sayang... Terimakasih ya..." Bisik Wigih di telinga istrinya, membuat Jully membuka kembali matanya dan memandang wajah suaminya yang tepat berada di samping wajahnya.
"Untuk?" Tanya Jully yang kurang ngeh.
"Semuanya. Terimakasih kamu sudah lahir ke dunia, terimaksih karena sudah kembali lagi membuka mata, terimakasih sudah mahu menerimaku dengan segala kekuranganku dan terimakasih sudah menjadi istriku." Ungkapan Wigih barusan membuat air mata Jully dengan kurang ajarnya kembali keluar.
"Kok nangis? Jangan nangis dong sayang..." Wigih segera menyeka air mata istrinya.
"Ini air mata bahagia mas... Justru aku yang harusnya berterimakasih karena mas sudah begitu sabar menunggu aku yang kurang peka ini. Terimakasih suamiku sayang..." Jully langsung menghambur kedalam pelukan suaminya, mereka saling memeluk dalam posisi berbaring.
"Sayang..." Panggil Wigih.
"Iya mas..." Jawab Jully
"Mandi dulu yuk..." Ajak Wigih.
"Mas duluan saja." Sahut Jully.
"Barengan saja lebih enak." Ujar Wigih dengan santainya.
"Ihh...Itu sih mahunya kamu." Jully langsing melepaskan pelukannya.
"Tapi kamu mahu juga kan? Lagian kan sudah S.A.H." Goda Wigih sambil mengerlingkanatanya nakal, membuat Jully langsung merinding disko.
"Waduh! Mode bahaya nih!" Gumam Jully.
~TAMAT~