Jully Mahardika

Jully Mahardika
Ep. 17 Calon Mantu



"Bapak, ibu selamat pagi..." Sapa Jully di pagi ini saat menemui kedua orang tuanya di meja makan, di sana juga ada mbak Enin yang sudah siap untuk berangkat kerja.


"Pagi sayang..." Balas kedua orang tuanya hampir bersamaan.


"Gimana keadaanmu sayang? Sudah mendingan?" Tanya pak Budi Mahardika bapak Jully.


"Jully udah baikan kok pak." Jawab Jully seraya bergelayut manja duduk di sebelah bapaknya.


"Tapi ingat hari ini kamu masih harus istirahat lho dek... masuk sekolahnya besok saja." Mbak Enin mengingatkan.


"Iya mbak, paling nanti aku cuma ngerjain tugas yang terlewatkan gara-gara gak masuk sekolah kemarin." Jawab Jully.


"Ya sudah, kamu sarapan dulu saja, ini ibu buatkan bubur manado kesukaan kamu setelah itu jangan lupa minum obatnya." Titah ibunya sambil menyodorkan semangkuk bubur manado ke arah Jully.


"Makasih bu." Jully menerima mangkuk buburnya dan langsung menyuapkan sesendok ke dalam mulutnya, memakannya dengan lahap, ia merasa sangat lapar mengingat kemarin dirinya tidak bisa memakan makanannya dengan benar karena rasa pahit di mulutnya. Beruntung saat ini tubuhnya membaik sehingga dapat merasakan nikmatnya bubur manado kesukaannya yang dibuat oleh ibunya.


"Bapak, ibu... Aku berangkat kerja dulu ya, keburu telat nih, assalamu'alaikum..." Pamit Enin ke kedua orang tua mereka.


"Wa'alaikumsalam... " Jawab mereka serempak.


"Lho memangnya mbak gak sarapan dulu?" Tanya Jully kepada Enin.


"Udah tadi duluan, bye dek... Cepat sembuh!" Enin melambai ke adiknya sambil cepat-cepat berlalu pergi. Setelah mendengarkan jawaban kakak perempuannya Jully melanjutkan menikmati sarapannya.


"Sayang ini obatnya sudah ibu siapkan, habis selesai makan langsung diminum ya."


"Bu, kalau Jully gak usah minum obatnya gak papa kan? Jully gak suka minum obat, pahit!


"Namanya juga obat pasti rasanya gak enak, kalau enak tu bukan obat namanya." Jawab bu Susi sarkas.


"Trus namanya apa?" Tanya Jully polos.


"Yang enak itu makan bakso di warungnya pak Man sambil disuapin sama pacar." Bu Susi menjawabnya sambil senyam senyum geje.


"Seperti kita dulu ya bu, jadi pengen suap-suapan lagi..." Pak Budi langsung menimpali.


"Ihh... Bapak genit deh.."


Sumpah! Sepertinya benar orang tua Jully sudah tertukar dengan orang tuanya Kansari, geje banget mereka berdua. Ckckk... Jully hanya bisa berdecak dan geleng-geleng kepala melihat tingkah absurd kedua orang tuanya.


"Bapak gak beragkat kerja?" Tanya Jully santai.


"Astaghfirullah... Bapak hampir telat!" Pak Budi langsung menepok jidatnya kaget setelah teringat kalau ia harus segera berangkat ke kantor.


"Mangkanya jangan suka godain ibu, jadi lupa waktu kan..." Ucap bu Susi istrinya.


"Hallaahh... yang digoda juga mau gitu." Timpal Jully seraya berlalu setelah meneguk obat terakhirnya dengan air putih.


"Jully... ni anak ya sedang sakit juga masih saja jutek, gimana nak ganteng bisa suka coba?!" Duhh bu Susi ini kok malah yang diingat itu Nak Ganteng. Emang ya gitu kalau ibu-ibu sudah kebelet pengen cepat punya mantu yang ada malah halu. Sabar ya Jull, ibumu memang begitu. Sementara Jully terus berjalan menuju kamarnya tanpa menghiraukan gerutuan ibunya yang membuat telinganya berdengung. Gak tau apa kalau anaknya ini bakalan lama ketemu jodohnya, umur tiga puluh tahun saja masih ngejomblo. Coba saja kalau Jully berani mengatakan seperti itu, mungkin centong nasi sudah melayang ke arahnya.


Waktu terasa sangat lama, Jully hanya bisa berguling-guling di tempat tidurnya, dia bingung mau melakukan apa, pekerjaan sekolahnya sudah dia kerjakan, baginya tidak ada hari tanpa bekerja. Sebelum dia terjebak di masa lalu ini hidupnya selalu dipenuhi oleh kesibukan yang tiada henti dengan bekerja dan bekerja, menjadi pengacara yang handal, dia selalu dicari banyak orang, banyak perusahaan besar mempercayakan jasanya sebagai pengacara. Jangankan berkencan, untuk bertemu teman-temannya saja sulit. Mungkin jika dia tidak terjebak di tubuh mudanya ini, dia akan melakukan liburan panjang keliling Indonesia, menikmati destinasi yang dia ingin kunjungi. Sayang, saat ini ia masih dibawah umur meski bukan dalam arti sebenarnya. Dan tentunya orang tuanya tak akan memngijinkan. Sangking bosannya tak terasa matanya perlahan terpejam.


Sayup-sayup terdengar suara ketukan pintu, Jully menggeliat dalam tidurnya merasa terusik oleh suara berisik yang menelisik telinganya. Perlahan kedua matanya terbuka, mengedip beberapa kali untuk menyesuaikan cahaya yang masuk di balik gorden jendela kamarnya.


Tok.. tok.. tok... "Jully... sanyang... "


Masih terdengar ketukan di balik pintu kamarnya, kali ini suara ibunya terdengar memanggil manggil namanya. Perlahan dia bangun dan duduk di tepian ranjangnya, matanya menyipit untuk melihat jam yang ada di atas nakas. Ternyata masih pukul satu siang. Jully bangkit dari duduknya, berjalan gontai ke arah pintu kamar dan membukanya.


"Lama banget sih bukanya." Protes bu Susi yang sudah dari tadi menggedor pintu kamar anaknya namun tak kunjung dibukakan.


"Jully ketiduran bu... Memangnya ada apa?" Tanya Jully dengan muka bantal dan suara serak khas bangun tidur.


"Itu ada nak ganteng di luar mau ketemu kamu."


"Itu kakak kelas kamu, nak Wigih."


"Apa?! Kak Wigih ada di sini bu?" Tanya Jully setengah kaget, tak percaya Wigih datang ke rumah untuk menemuinya.


"Iya, katanya mau jenguk kamu. Sudah sana cepet temuin, kasihan ganteng-ganteng dianggurin. Ohh ya, jangan lupa cuci muka sama gosok gigi dulu, tuh air liurmu masih nempel di pipi."


"Hahh.. Serius?" Tanya Jully sambil kembali masuk ke kamarnya, mematut dirinya di depan cermin untuk mencari sisa air liur yang dikatakan ibunya barusan.


"Ihh... Mana? Gak ada juga." Saat ingin melakukan protes, ternyata ibunya sudah berlalu pergi meninggalkan kamarnya. Dasar bu Susi ternyata cuma ngeprenk Jully saja. Namun tetap saja Jully melakukan apa yang ibunya suruh, dia bergegas masuk ke kamar mandi untuk menggosok gigi dan mencuci wajahnya agar terlihat lebih segar. Selesai melakukan itu semua dia melangkah keluar dari kamarnya menuju ruang tamu dimana ada Wigih di sana menunggunya dengan ditemani bu Susi yang kalau dilihat sedari tadi lebih sering senyam senyum. Maklum siapa yang gak terpesona dengan seorang Wigih Sasongko, bahkan ibu-ibu saja dibikin klepek-klepek. Andaikan si Wigih itu diajak ibunya ke acara arisan ibu-ibu RT/RW pasti sudah jadi rebutan buat dijadikan mantu idaman.


"Hai kak... Maaf udah nunggu lama ya?" Jully menyapa Wigih sembari berjalan mendekati lelaki itu kemudian duduk di hadapannya.


"Hai Jull... Gak papa, gak terlalu lama juga kok, gimana keadaan kamu?" Tanya Wigih yang tak melepaskan pandangannya dari Jully.


"Aku sudah sembuh kok kak, besok juga sudah masuk sekolah. Terimakasih ya kak, sudah mau nolongin aku kemarin, terimakasih juga sudah mau jenguk aku hari ini." Ucap Jully tulus.


"Itu sudah menjadi kewajibanku buat menolong sesama teman."


"Tapi sering-sering main ke sini juga gak papa, ibu malah seneng lho nak ganteng." Tiba-tiba ibunya menimpali.


"Iya, nanti saya bakalan sering main bu." Jawab Wigih mengiyakan, menambah hati bu Susi berbunga bunga. Kesempatan kan punya mantu ganteng tiada tara. Jully mendengus pasrah melihat interaksi kedua orang beda usia yang ada dihadapannya itu.


"Ohh ya aku bawain kamu ini." Wigih menyerahkan bingkisan buah dan juga seuntai bunga chrysan putih yang terselip diantara tatanan buah-buahan. Jully memicingkan matanya melihat bunga itu, pikirannya berkelana kemana mana. Namun segera ditepisnya.


Wigih yang mengetahui kecurigaan Jully dari ekor matanya langsung mengalihkan perhatian, "Ahh.. Itu bunga yang aku petik dari kebun mama, mungkin nanti beliau akan marah jika tahu satu tangkai bunga kesayangannya hilang." Wigih menjelaskan dengan tawa tertahan di bibirnya, membayangkan wajah mamanya yang kalang kabut gegara bunga kesayangannya hilang. Jully yang mendengarnya hanya bisa melongo. "Haha... Gak usah gitu juga mukanya Jull, aku cuma bercanda kok." Lanjut Wigih dengan tawanya. Jully langsung menghembuskan napas lega, ternyata itu hanya gurauan Wigih semata, coba kalau semua itu benar, dia tidak mau menjadi alasan kemarahan mamanya Wigih.


"Duhh... Nak ganteng ini ternyata suka bercanda juga ya.." Bu Susi ikut tertawa sambil menepuk nepuk lengan Wigih. "Ya sudah ibu ke dalam dulu, kalian terusin ngobrolnya." Lanjut bu Susi seraya melangkah pergi dari ruang tamu.


"Terimakasih kak bingkisannya, jadi ngrepotin." Jully jadi merasa tak enak dan dia mengingat ngingat sejak kapan dirinya jadi sedekat ini dengan Ketos tampannya.


"Gak ngrepotin sama sekali kok"


Selang beberapa saat terdengar suara salam dari luar sana,


"Assalamu'alaikum..."


"Wa'alaikumsalam... " Jully dan Wigih menjawab serempak, terlihat teman-teman Jully dari balik pintu.


"Ehh kalian datang, masuk gih." Jully mengajak temannya masuk yang ternyata adalah Kansari, Rere dan Ningsih. Mereka bertiga memasang wajah kaget dan saling memandang satu sama lain saat melihat ada Ketos idaman kaum ciwi ciwi sekolahnya ada di rumah Jully.


"Ehh ada kak Wigih..." Kansari menyapa duluan dengan salah tingkah.


"Hai Sari..." Wigih menyambut sapaan Kansari dengan ramah.


"Sar, sejak kapan kamu kenal dengan Ketos ganteng? Ehh maksud aku sejak kapan si Ketosgan kenal sama Jully?" Rere bertanya sambil berbisik kepada Kansari, namun Kansari hanya menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.


"Kak Wigih kok ada disini?" Ini Ningsih yang bertanya, tapi langsung diinjak kakinya sama Kansari, Ningsih langsung mengaduh kesakitan. Emang temannya satu ini belum apa-apa sudah nyablak.


"Aku...aku cuma jenguk Jully saja." Jawab Wigih gugup, dia lupa bahwa Jully punya sahabat yang selalu bersamanya, tentu saja mereka akan menanyakan sesuatu tentang keberadaannya.


"Kalian kenapa baru sekarang sih datang? Katanya kemarin habis pulang sekolah mampir ke rumahku?" Jully segera mengalihkan perhatian mereka sebelum semakin canggung keadaannya.


"Sorry Jull, saat pulang sekolah kemarin kan hujan deras banget, jadi kami urung datang ke rumahmu." Rere menjelaskan


Namun tiba-tiba ibu Susi datang dari arah dapur membawa nampan berisikan kue buatannya.


"Ehh ada teman-teman Jully datang, duhh seneng banget bisa ngumpul kaya gini, ada calon mantu juga."


Dueerrr!!!


Bersambung....