
Akhirnya disinilah Jully sekarang ini, di rumah Rere. Seharusnya tadi dia menemui Nouval di kantornya, tapi akhirnya dia memutuskan untuk mengirim Melda ke kantor Nouval. Mencari kado untuk ibunya ternyata memakan waktu cukup lama dan berakhir menjelang waktu makan malam. Tadinya Wigih akan mengantarkan kekasihnya itu pulang ke apartemennya, namun Jully memintanya untuk diantar ke rumah Rere saja dan akan pulang naik taksi nantinya. Jully tidak ingin menunda lagi untuk mendengar penjelasan dari Rere, mumpung suami Rere sedang ada jadwal tugas di Rumah Sakit. Jully tahu itu bukan urusan dia tapi sebagai sahabat dia ingin mengingatkan Rere agar tidak melakukan hal yang diluar akal sehatnya terlebih urusan ini menyangkut nama Nouval sebagai kliennya yang sedang mengurus proses perceraian secara hukum. Jully hanya tidak ingin Rere terlibat masalah karena bertemu dengan Nouval yang akan berstatus 'Calon Duda' apalagi latar belakang hubungan mereka di masa lalu, Jully tidak ingin orang lain yang tidak sengaja melihat pertemuan mereka menjadi salah paham. Seperti wanita yang ada di sebelahnya sekarang ini. Ya, saat ini bukan hanya Jully yang ingin menuntut penjelasan dari Rere, tapi Kansari juga. Awalnya Rere dan Jully tidak menyangka jika Kansari ternyata juga berada di restoran yang sama dengan mereka.
"Jadi... Tadi siang itu kamu juga ada di sana Sar?" Tanya Rere memastikan sekali lagi jika itu benar adanya.
"Hemm... Bukan hanya itu, aku duduk persis dibelakang kursi kak Nouval, hanya saja terhalang oleh skat bambu jadi kalian tidak menyadari kalau aku ada di sana." Jawab Kansari menjelaskan.
"Lalu kenapa kamu tidak datang untuk menyapaku?" Tanya Rere sedikit kesal.
"Kamu pikir aku akan datang menyapamu dalam keadaan canggung seperti itu?!" Sahut Kansari sarkas.
"Hmm... Aku setuju, aku dan mas Wigih saja harus pura-pura tidak melihat kalian, tapi akhirnya kalian melihat kami juga kan..." Jully membenarkan perkataan Kansari.
"Jadi kamu dan kak Wigih juga sudah melihatku dan kak Nouval dari awal Jull?" Tanya Rere tak percaya, sementara Jully hanya mengangguk tegas membenarkannya. Rere langsung tertunduk lesu memijat pangkal hidungnya, dia merasakan kepalanya yang berdenyut.
"Sudahlah itu tidak penting! Aku datang ke sini hanya untuk mendengarkan penjelasanmu Re, kenapa kalian bertemu berdua saja?" Jully menatap lurus tak berkedip pada Rere yang sedang duduk di hadapannya dengan wajah yang serius. Begitu pula Kansari. Rere yang melihat tatapan menuntut dari kedua sahabatnya itu akhirnya menyerah dan menceritakan semua yang terjadi siang tadi bersama Nouval.
"Begitulah ceritanya." Rere mengakhiri ceritanya.
"Benar itu saja? Tidak ada yang kamu tutup-tutupi lagi kan Re?" Jully memicingkan matanya dengan tajam ke arah Rere.
"Sungguh, hanya itu!" Seru Rere sambil mengacungkan jari telunjuk dan tengahnya secara bersamaan.
"Aku rasa Rere tidak bohong karena yang aku dengar sama persis seperti itu." Kansari ikut membenarkan perngakuan Rere.
"Kalau kamu sudah mendengar semuanya dari awal kenapa kamu datang ke sini dan ikut menuntut penjelasan?!" Tanya Jully geram pada Kansari.
"Tentu saja harus begitu! Meski aku sudah tahu apa yang mereka bicarakan, tapi aku kan tidak tahu kalau dia dan kak Nouval pernah pacaran, selama ini kan dia menyembunyikannya dari kita semua Jull." Jawab Kansari menggebu dengan wajah kesalnya.
"Atau mungkin cuma aku saja yang tidak tahu?" Sambung Kansari lagi dengan sengit.
"Ningsih juga tidak tahu." Sahut Rere.
"Kamu Jull?" Tanya Kansari.
"Aku juga tahu belum lama ini." Jawab Jully bohong sambil melirik ke arah Rere, dia hanya tidak ingin Kansari tambah uring-uringan saja. Untungnya Rere mengerti kode yang diberikan Jully dan Rere hanya diam saja.
"Hmm... Ya sudahlah, mau gimana lagi? Toh itu hanya masa lalu." Kata Kansari yang terlihat sudah tidak mempermasalahkan itu semua. Tapi tidak untuk Jully.
"Tidak seklise itu. Kamu tahu kan Re kalau sekarang ini kak Nouval sedang dalam peoses perceraian dengan istrinya?" Rere mengangguk menjawab pertanyaan Jully.
"Itu akan mempersulitnya dan merugikanmu jika ada orang lain yang melihatnya, terutama dari pihak kedua keluarga mereka. Karena tidak seorangpun dari keluarga mereka yang tahu apa alasan mereka bercerai. Jika ada yang melihat kalian berdua bertemu dan mengambil presepsi sendiri tanpa tahu kebenarannya itu akan sangat tidak bagus. Kamu mengerti kan maksud aku Re?" Rere kembali mengangguk, dia sangat tahu betul kekhawatiran Jully dan menurutnya apa yang dikatakan Jully ada benarnya. Bagaimana jika ada orang lain yang melihat dia dan Nouval kemarin selain kedua sahabatnya itu? Bisa jadi dia akan dituduh sebagai pihak ke tiga dalam alasan Nouval bercerai, ditambah masa lalunya dengan Nouval akan memperkuat dugaan orang-orang tentangnya. Rere cukup tahu betapa menyakitkannya keluarga Nouval saat menghinanya dulu.
"Aku tahu Jull, aku pastikan itu pertama dan terakhir kalinya aku menemui dia." Ucap Rere memastikan itu.
"Memang sebaiknya begitu, selama proses persidangannya belum selesai jangan pernah menemuinya, setelah selesai pun jangan! Tunggu beberapa bulan setelah proses bercerai, jika kamu ingin menemuinya, itupun jangan sendiri." Perintah Jully.
"Sudah tidak ada lagi alasan bagiku untuk menemuinya, urusan kami berdua sudah kami selesaikan semuanya kemarin. Jadi aku tidak akan pernah menemuinya baik sebelum ataupun sesudah dia bercerai. Aku pastikan itu." Ungkap Rere.
"Baiklah, itu lebih bagus lagi." Jully mengangguk-anggukkan kepalanya setuju.
"Sebenarnya apa alasan kak Nouval bercerai dengan istrinya?" Tanya Kansari penasaran.
"Maaf bebeb Sari... Aku tidak bisa menjawab rasa ingin tahumu, karena itu privasi kak Nouval sebagai klienku." Mendengar jawaban Jully itu Kansari langsung cemberut, hilang sudah bahan seru untuk gosibnya.
"Dan satu hal lagi, tahan dirimu untuk bercerita ke siapapun tentang masalah ini termasuk ke Ningsih juga." Ujar Jully memperingatkan Kansari.
"Lho kenapa? Ningsih kan sahabat kita juga, kenapa dia tidak boleh tahu?" Kansari heran kenapa harus merahasiakan masalah ini kepada Ningsih.
"Bukan tidak boleh tahu, tapi belum saatnya untuk tahu, semua orang punya rahasianya masing-masing, tidak semua masalah harus diceritakan meski itu adalah sahabat sendiri. Jika Ningsih harus tahu, itu harus Rere sendiri yang harus cerita, bukannya kamu." Jelas Jully.
"Lagi pula jika kau bercerita pada Ningsih, aku yakin anak itu bakalan mengintrogasi Rere lagi. Memangnya kamu tega menyuruh Rere menceritakan kembali kisah pahitnya itu?!" Lanjut Jully sembari berkacak pinggang menantang Kansari.
"Nah! Itu kamu tahu." Sahut Jully.
"Sudahlah guys... Aku sudah tidak apa-apa, terimakasih sudah mengkhawatirkanku." Ucap Rere semabari tersenyum dan menggenggam tangan kedua sahabatnya itu.
"Ahh... Gara-gara perdebatan kecil kita ini aku jadi lapar." Kansari mengusap-usap perutnya yang sudah keroncongan.
"Apakah kita harus makan malam bersama? Sudah lama kita tidak makan malam bersama, aku akan memasak sesuatu yang enak untuk kalian." Rere memberi penawaran yang begitu menggiurkan.
"Wahh... Itu ide yang bagus!" Kansari bertepuk tangan dengan semangatnya bak anak kecil yang baru mendapat mainan baru.
"Hei Sarsar! Bukankah kamu seharusnya pulang dan menyiapkan makan malam untuk keluargamu? Mungkin saat ini anak dan suamimu sedang kelaparan menunggumu." Ujar Jully mengingatkan setengah mengejek juga.
"Tenang saja, saat ini anak-anakku sedang di rumah neneknya, mungkin mereka sedang duduk manis di meja makan yang penuh dengan makanan dan suamiku sekarang sedang dinas di luar kota." Jawab Kansari dengan santainya.
"Waahh mulia sekali hidupmu, ckckck..." Kini giliran Jully yang bertepuk tangan setelah mendengar jawaban pongah sahabat centilnya itu sedangkan Rere hanya tertawa kecil melihat interaksi kedua sahabatnya itu.
"Sebenarnya aku sengaja mengungsikan anak-anakku ke rumah neneknya hehehe..." Ungkap Kansari sambil terkekeh geli dengan ucapannya sendiri.
"Dasar! Sudah kuduga sebelumnya, kamu pasti sudah bermain licik." Jully dan Rere kini hanya bisa geleng-geleng kepala atas keterusterangan Kansari itu.
"Ayolahh... Apa salahnya? Jarang-jarang kita bisa makan malam bersama seperti ini, apa perlu kita memanggil Ningsih juga?" Ujar Kansari sambil menggamit lengan Jully dan Rere.
"Jangan coba-coba! Seharian ini dia sudah mengeluh lelah lewat pesan karena pekerjaannya di sekolahan, biarkan dia istirahat di rumahnya." Cegah Rere.
"Baiklah nyonya Krestina Dayana... Bisakah anda menyiapkan makan malam sekarang juga?" Pinta Kansari dengan berlagak sebagai seorang bangsawan luar.
"Karena kami sangat lapar...." Lanjut Kansari dan Jully bersamaan.
"Baiklah, baiklah..." Rere tertawa melihat tingkah mereka dan langsung melangkahkan kakinya ke arah dapur.
Akhirnya mereka bertiga makan malam bersama ditemani oleh kedua anak perempuan Rere.
Disela-sela makan malam mereka phonsel milik Jully berbunyi menandakan sebuah pesan telah masuk. Ternyata dari Wigih.
"Sayang... Apakah kamu sudah makan malam? Aku sedang makan malam dengan Nouval, Rendi dan Daniel. Jangan pulang terlalu larut! Aku sangat merindukanmu 😘"
Jully terkekeh geli membaca pesan dari kekasihnya itu.
"Ah seperti memiliki suami yang khawatir menunggu istrinya pulang ke rumah." Gumam Jully dalam hati, dia tidak sadar sudah senyum-senyum sendiri membayangkan itu semua.
"Kenapa Jull kamu senyam senyum sendiri? Otakmu gesrek lagi?" Buyar sudah fantasi Jully karena ulah Kansari.
Bersambung....
🍓
🍓
🍓
🍓
Wigih: Jully sayang.... cepat pulang ke rumah, mas kangen....
Jully: Hahh?! Anda atau saya yang halu?