
POV Jully
Dear Jully...
Tak terasa tiga bulan sudah kita bersama walau hanya lewat surat ini. Aku telah mendengar adanya kekacauan beberapa hari yang lalu di kantin antara kamu dan seorang teman priamu.Tidak perlu kau tanya aku tahu dari siapa, yang jelas disini aku yang salah, aku adalah awal penyebab pertengkaran kalian dan aku minta maaf. Aku bukanlah orang yang pandai berhadapan dengan seorang wanita, terlebih wanita yang aku sukai. Maka aku memilih cara ini untuk mendekatimu, berharap pelan-pelan suatu saat aku berhadapan langsung denganmu dengan cara yang keren. Haha... Mungkin aku bermimpi terlalu tinggi hingga tidak sengaja menyakitimu dan kejadian kemarin telah menyadarkanku. Tidak seharusnya aku terus bersembunyi dibalik selembar kertas ini. Hari ini ada pertandingan basket di sekolah kita, aku akan ada di sana memakai gelang yang sama denganmu. Jully... Mari kita bertemu.
^^^~Cancer Boy~^^^
Setelah aku membaca surat dari Cancer Boy aku langsung berlari menuju stadium basket tempat pertandingan basket diselenggarakan. Namun seingatku setelah sampai di sana kepalaku malah terkena lemparan bola basket dan setelahnya aku tidak ingat apapun. Dan sekarang setelah aku membuka mata... Ini dimana? Tempat apa ini? Semuanya serba putih, mungkinkah aku di rumah sakit? Heii... Tidak mungkin, aku hanya terkena bola tidak mungkin separah itu.
Hiks...
Ahh suara apa itu?
"Hiks... hiks... Jully..."
Itu... Itu suara ibu! Tapi dimana? Mataku berkeliling disekitar ruangan dan ternyata suara ibu ada pas di sebelah kiriku. Aku segera berbalik ke arahnya. Mengapa aku tidak menyadari dari tadi jika ada ibu di sini ya?
"Hiks... Jully... Cepatlah bangun nak, ibu rindu, hiks..." Ibu kembali menangis sambil memanggil namaku. Apa? Rindu? Ibu kenapa sih menangis seperti acara senetron saja, aku kan sedari tadi ada di sini.
"Jull... Kalau kamu bangun ibu janji ibu gak akan mendesak kamu untuk segera menikah, meski tak menikahpun ibu gak apa-apa asal kamu kembali bersama ibu, hiks..." Ibu kembali berbicara sendiri, menangis tak menghiraukan aku yang sedari tadi ada di sampingnya dan berbicara seolah-olah aku akan pergi jauh.
"Bu, ibu... Jully kan sedari tadi ada di sini bu, memangnya Jully mahu kemana lagi? Ibu ini pasti ada mahunya pakai acara ngedrama duluan." Kataku setengah mengguyoni ibuku, namun perkataanku tidak dihiraukannya dan tetap menangis tersedu, jangankan mendengarkan, menatapku saja tidak seolah aku tak berada di sini.
"Bu... Jully di sini, jangan nangis dong..!" Aduh aku tambah gusar kalau seperti ini.
"Bu... Jangan nangis lagi, nanti Jully malah sedih melihat ibu seperti ini, mending kita berdo'a yang terbaik untuk Jully."
Itu suara mbak Enin! Sejak kapan mbak Enin ada di sini? Kanapa aku tidak menyadarinya? Lalu kenapa sih dengan orang-orang ini? Kenapa semuanya mengatakan hal yang aneh sih?
"Mbak! Mbak Enin bisa dengar aku kan? Kalian kenapa sih kok ngomongnya pada aneh gini?"
"Iya, ibu selalu berdo'a yang terbaik buat Jully, tapi mahu sampai kapan dia terbaring seperti ini? hiks..."
Ibu kembali berbicara tentang hal yang aneh lagi. Aku terbaring? Aku kan sedari tadi berdiri di sini, apa mereka berdua tidak melihatku?
Ibu masih saja sesenggukkan sedangkan mbak Enin wajahnya terlihat begitu sedih, matanya sembab, aku yakin mbak Enin baru saja menangis. Tapi untuk apa mereka menangis? Terlebih menangisiku. Tangan ibu tiba-tiba terulur ke depan dengan pandangan yang sayu dia mengelus kepala seseorang. Dan betapa kagetnya aku setelah melihat seseorang itu. Itu bukannya aku?! Kenapa aku terbaring di situ? Swtelah melihat ke sekeliling, ini seperti ruang kamar yang ada di Rumah Sakit. Kalau aku berdiri di sini, lalu siapa perempuan yang berbaring di sana yang mirip seperti diriku? Ibu dan mbak Enin sedari tadi tak menghiraukan aku, justru yang mereka hiraukan adalah diriku yang ada di atas tempat tidur. Apa mungkin aku.... Ahh tidak! Tidak! Ini kan bukan cerita hantu seperti yang ada di novel dan drama Korea yang biasa aku baca atau aku tonton. Tapi ini... Arghh!! Kenapa jadi seperti ini sih? Gak lucu kan hanya karena kepalaku terkena lemparan bola basket aku sampai separah ini dan membuat arwahku terlepas dari tubuhku. Apa separah itu kepalaku terbentur?
Tiba-tiba aku mendengar ada suara pintu terbuka dan suara langkah sepatu seseorang berjalan mendekati kami.
"Selamat siang bu, saya akan memeriksa perkembangan pasien Jully Mahardika." Ucap lelaki itu.
"Ahh iya dok, tolong periksa keadaan anak saya." Ucap ibu.
Ohh... Ternyata lelaki ini adalah dokter. Setelah aku lihat baik-baik ternyata dia memakai jas putih, jas yang menjadi identitas bahwa dia adalah seorang dokter. Tangan dokter itu terulur memeriksa dengan stetoskop lalu setelahnya memeriksa bagian mata dengan senter kecil. Namun bukan itu yang menarik perhatianku. Tangan dokter itu, di pergelangan tangannya melingkar sebuah gelang unik yang sama persis dengan apa yang aku pakai. Gak mungkin kan orang yang aku cari selama ini ternyata adalah seorang dokter? Bahkan kami masih SMA. Tapi... Ukiran yang ada di gelang itu sama seperti apa yang tertulis di surat Cancer boy. "CB" adalah inisial yang terukir di gelang itu. Dokter itu berbicara dengan ibu namun aku tidak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan seolah telingaku sudah tuli. Aku mencoba melihat nama tag yang ada di dada sebelah kiri jas dokter itu tapi tulisan itu samar tidak bisa terbaca sama sekali. Aku lalu mencoba mandongak melihat wajah dokter itu namun lagi-lagi wajah itu samar. Aku tidak bisa melihat dengan jelas wajah dokter itu. Aku mencoba mengulurkan tanganku untuk meraih wajahnya namun rasanya sulit.
"Cancer Boy...." Gumamku lirih dan aku mendengar suara yang lain.
"Jully...." Suara seorang perempuan memanggilku, lama-lama suara itu semakin jelas terdengar di telingaku.
"Jully... Bangun dong, jangan bikin takut!" Hahh? Suara Kansari?
"Jully bangun!" Tiba-tiba aku membuka mata dan ada Kansara di sampingku sedang menangis.
"Huaaa... Bebeb Jully akhirnya sadar juga." Kansari langsung menghambur memelukku yang tengah berbaring.
"Huuaaa... Kamu bikin takut aku tahu gak beb!" Kansari masih tetap menangis sambil memelukku. Sementara aku jadi semakin bingung.
"Sar... Ibu sama mbak Enin mana?" Tanyaku yang tidak bisa menemukan ibu dan mbakku itu, padahal kan tadi ada di sini nungguin aku.
"Bebeb kepala kamu masih sakit ya? Sebelah mana yang sakit?" Bukannya menjawab pertanyaanku, Sari malah menanyakan hal yang lainnya.
"Ini ya yang sakit?" Kansari menyentuh bagian kepalaku yang memar karena terbentur.
"Awhh! Sakit Sar!!" Teriakku sambil melotot ke arah Kansari.
"Ya maaf beb, habisnya kamu nanya yang aneh-aneh deh... Jadi aku kira ada yang salah sama kepala kamu hehe... Sorry." Ucap Kansari meringis.
"Aneh-aneh gimana?" Tanyaku bingung dengan ucapan Kansari.
"Ya itu tadi saat kamu nanyain ibu sama mbakmu, kita kan masih di sekolah beb. Emang sih tadi kami berusaha menghubungi ibu dan mbak Enin, aku cari kontak telponnya dari ponsel kamu tapi gak ada yang angkat. Tapi tenang beb, aku sudah berhasil menghubungi bapak kamu, paling bentar lagi juga ke sini buat jemput kamu." Kata Kansari menjelaskan panjang lebar, sementara aku cuma melongo saja. Aku melihat ke sekeliling ruangan, memang benar ini adalah ruang UKS. Berarti yang tadi itu aku cuma mimpi, tapi terasa begitu nyata.
"Kok kamu sampai hubungi banyak orang rumah sih?" Tanyaku cemberut.
"Habisnya kamu gak sadar-sadar dari tadi." Jawab Kansari dengan bibir cemberut.
"Hahh? Emang audah berapa lama aku pingsan?" Tanyaku.
"Lama banget, ini aja sudah jam tiga sore." Jawab Kansari sambil mengintip jam tangan yang ia pakai.
"Ehh bentar ya, aku musti bilang dulu ke dokter jaga kalau kamu sudah siuman, Ningsih juga masih ada di luar beli minum, kalau Rere sudah pulang dijemput mamanya." Kata Kansari seraya melangkah meninggalkanku seorang diri di ruang UKS ini. Namun tak lama setelahnya Kansari datang kembali bersama dokter yang memang lagi bertugas bila ada pertandingan seperti ini. Di belakang Kansari sudah ada Ningsih dengan kantong plastik berisi air mineral.
"Hallo Jully... Gimana ada yang di keluhkan?" Tanya dokter pria itu ramah.
"Agak pusing sih dok, tapi kok kepala saya sampai memar gini ya? Padahal kan cuma kena bola." Tanyaku penasaran dengan keadaan dahiku yang terasa perih karena memar.
"Ya iyalah sampai memar kaya gitu, habis dicium bola basket kan kamu langsung nyosor ke tangga tribun." Seloroh Ningsing begitu saja.
"Ehh masa sih? Kok aku gak tahu?" Tanyaku lagi.
"Ya gimana mahu tahu, kamu aja langsung pingsan." Ningsih memberi jawabannya yang membuat dokter muda yang tengah memeriksaku ini terkekeh geli.
"Okey kalau gitu saya tinggal dulu buat nulis resep obatnya dulu." Kami berucap terimakasih sebelum dikter itu melangkah pergi ke mejanya yang masih dalam satu ruangan di UKS ini, UKS sekolah kami ini cukup luas dan termasuk lengkap obat-obatannya.
"Oh ya beb, tadi itu kamu ke sini digendong sama Ketosgan lho." Ucap Kansari antusias.
"Masa sih?" Tanyaku tak percaya.
"Tanya saja sama Ningsih, dia juga lihat kok, bahkan semua orang yang ada di stadium juga lihat." Kata Kansari mayakinkanku yang dibarengi oleh anggukan Ningsih.
"Dan sejak kamu pingsan kak Wigih tetap nungguin kamu." Ningsih menambahkan ceritanya.
"Masa? Terus kak Wigih nya kemana sekarang?" Tanyaku sambil celingak celinguk.
"Tadi kami ninggalin kalian berdua saja di dalam sini, sedangkan kami semua keluar buat hubungin keluarga kamu. Pas kami balik, dia langsung pergi, katanya anak-anak OSIS sedang mencarinya." Ungkap Kansari padaku.
"Ohh..." Aku hanya ber-ohh saja, yaaa namanya Ketos pasti sedang sibuk-sibuknya, apa lagi pas ada even seperti ini.
Tak lama kemudian bapak datang dengan perasaan cemas dan khawatir, diikuti dokter muda tadi dibelakangnya.
"Sayang, kamu gak apa-apa? Kok bisa sampai gini sih?" Ucap bapak dengan sejuta rasa khawatirnya.
"Jully gak papa kok pak, tadi cuma kurang hati-hati saja." Jawabku sambil tersenyum untuk menenangkan sedikit rasa khawatir cinta pertamaku ini.
"Makanya kamu kemana-mana musti hati-hati dong... Dari dulu kebiasaan nyungsep." Ini pak Budi Mahardika lagi khawatir apa lagi ngejek ya? Gitu amat sama anak sendiri. Bikin diriku manyun.
"Apa lagi ini jidat sampai biru gini, kamu nyium apa sih nak?" Nahh kan bikin aku tambah cemberut saja.
"Nyium tribun om." Celetuk Ningsih membuat yang lainnya termasuk si dokter muda itu tertawa geli.
"Ckck... Nyium itu calon imam, bukannya nyium barang keras kaya gitu." Ucap bapak kembali meledek.
"Ihh... bapak kok gitu sih sama anak sendiri." Ucapku geram.
"Ya sudah, sepertinya Jully sudah tidak apa-apa cuma memar kecil saja, tapi kalau bapak khawatir bisa di lakukan CT Scan pada kepalanya mengingat tadi Jully cukup lama pingsannya." Kata dokter yang baru saja aku lihat nama tag nya sebagai Dr. Rizal Pradipta.
"Ya sudah, kita ke Rumah Sakit saja sekarang, takutnya kepala kamu kenapa-napa." Ucap bapak yang kembali dengan mode khawatirnya.
"Gak usahlah pak, Jully gak apa-apa kok." Cegahku.
"Gak bisa! Kita harus CT Scan, ntar kalau ada apa-apa bapak pasti kena semprot nyonya Susi di rumah." Ealahh... Bapak ini bukannya khawatir sama aku ternyata cuma takut sama ibu toh... Nasib anak gini amat.
"Tapi..." Belum sempat aku selesai bicara sudah dipotong duluan sama bapak.
"Gak ada tapi-tapi, pokoknya nurut saja sama bapak." Ucapan bapak sudah tidak bisa dibantah lagi.
"Ya sudah kalau gitu dok saya pamit sekarang mahu bawa anak saya ke Rumah Sakit. Terimakasih banyak sudah merawat Jully." Ucap bapak pada dokter Rizal.
"Sama-sama pak, sudah kewajiban saya sebagai dokter." Balas dokter Rizal.
Akupun beranjak dari bad medis dibantu oleh bapak, memang kepalaku masih terasa nyut-nyutan dan sedikit pusing. Sesampainya di luar aku pamit sama Kansari dan Ningsih yang sedari tadi setia menungguku.
"Makasih ya guys sudah nungguin aku dari tadi."
"Kalian pulang naik apa? Bareng om sama Jully saja gimana? Tapi nanti bakalan lama soalnya kami harus manpir ke Rumah Sakit dulu, atau om kasih uang saja buat naik taksi." Kata bapak sambil merogoh saku dompetnya.
"Ehh gak usah om, kita bawa motor sendiri kok." Cegah Kansari.
"Ohh ya sudah kalau gitu hati-hati di jalan, kami duluan ya." Pamit bapak dan aku.
"Iya om, dadah Jully." Ningsih melambaikan tangannya padaku dibarengi Kansari dengan do'anya.
"Cepat sembuh beb."
POV Jully Off.
🍓🍓🍓🍓🍓
Dilain tempat ternyata Wigih memandang Jully dari kejauhan. Ingatannya kembali ke beberapa waktu yang lalu ketika sedang menunggu Jully yang sedang terbaring tak sadarkan diri.
Flash Back...
Wigih sedang duduk di kursi sebelah Jully yang sedang terbaring tak sadarkan diri di ruang UKS. Dia cukup khawatir karena gadis yang ia cintai tiba-tiba terkena musibah dan tak sadarkan diri. Matanya sayu memandang wajah pias Jully yang terbaring di hadapannya. Namun tiba-tiba gadis itu membuka matanya, memandang ke arahnya, tangannya mencoba meraih wajah Wigih namun tak sampai dua menit Jully kembali pingsan. Tapi satu hal yang Wigih dengar dengan cukup jelas, meski itu hanya sekedar gumaman Jully sempat mengatakan sesuatu sebelum pingsan kembali.
"Cancer Boy..."
Dan itu cukup membuat Wigih terperanjat kaget, kemudian dia langsung pergi setelah teman-teman Jully kembali masuk ke dalam. Dia beralasan ada tugas OSIS yang menunggunya.
"Duhh... Kenapa aku musti lari sih?" Wigih meremas rambutnya gusar, merutuki sikapnya sendiri yang ia nilai pengecut.
Flash Back Off....
Bersambung....
.
.
.
Hai hai haaaiii.... Maaf Author telat update dikarenakan kesehatan yang sedang menurun. Semoga kalian masih setia dengan Jully Mahardika ya... Dan jaga kesehatan kalian semua. Terimakasih....😘😘😘***