Jully Mahardika

Jully Mahardika
Ep. 52 Hari Yang Melegakan



Semakin hari kesehatan Jully semakin membaik, raut wajahnyapun sudah terlihat lebih cerah tidak pucat seperti sebelum-sebelumnya. Ini hari ke tiga setelah ia terbangun dari koma dan selama itulah Wigih dan Rendi selalu datang ke kamar inapnya untuk sekedar melihat keadaan Jully dan mengobrol ringan sebentar. Intensitas Wigih dalam keluar masuk kamar inap Jully lebih sering dari pada Rendi padahal Wigih juga merupakan dokter yang sangat sibuk, meski demikian ia selalu mencuri-curi waktu luangnya untuk bertemu Jully. Wigih berharap dengan seringnya ia bertemu dan mengobrol dengan Jully akan membuat wanita itu kembali mengingat dirinya. Meski ia harus bersabar dan tidak tahu kapan itu akan terjadi yang penting Wigih sudah berusaha semampunya, ia tidak ingin Jully berusaha keras untuk mengingatnya karena bisa mempengaruhi syaraf otak Jully, tidak apa pelan-pelan saja dan dia hanya perlu menunggu. Wigih juga sempat berpikir tidak mengapa Jully melupakannya, dia cukup memulainya dari awal lagi dan Wigih tidak akan melepaskan Jully lagi seperti waktu lalu.


"Pagi Jully... Gimana lebih baikkah hari ini? Seperti biasanya, Wigih setiap pagi pasti menyatroni kamar inap Jully.


"Pagi dok... Alhamdulillah sekarang badanku terasa lebih segar." Sembari tersenyum Jully menyambut sapaan Wigih meski Wigih harus cukup puas dipanggil dengan panggilan 'dokter' oleh Jully saat ini. Paling tidak wanita yang ia kasihi itu tidak menjaga jarak padanya. Sebuah awal yang bagus bukan?


"Syukurlah... Aku senang mendengarnya. Kamu tidak lupa perintah dokter Ibrahim untuk menggerak-gerakkan bagian tubuhmu agar tidak terasa kaku sebagai terapi kan?" Kata Wigih mengingatkan.


"Tentu saja tidak, aku sudah mulai makan sendiri, aku juga setiap hari jalan-jalan di sekitar Rumah Sakit ini, ke taman mungkin?" Jawab Jully dengan semangat.


"Hahaa... Gadis pintar." Balas Wigih tertawa renyah, tangannya sepontan terulur mengusap-usap kepala Jully.


"Aku ini seorang wanita, bukan gadis lagi layaknya anak SMA." Sahut Jully dengan memanyunkan bibirnya lucu. Wigih yang mendengarnya sempat terpaku sejenak hingga akhirnya terkekeh geli melihat reaksi Jully, menurutnya hal itu sangatlah menggemaskan.


"Pfft...Iya...iya... Aku lupa kalau kamu sudah sedewasa ini." Ujar Wigih dengan kekehannya.


"Dokter jangan tertawa begitu dong... Aku kan jadi malu." Jully memegangi kedua pipinya yang kini sudah merona.


"Aku tidak menertawakanmu, aku cuma teringat masa lalu. Saat pertama kali kita bertemu." Jawab Wigih dengan pandangan lurus menatap Jully. Mereka saling bertatapan sejenak, sampai akhirnya salah satu dari mereka melepaskan pandangannya dengan sedikit salah tingkah.


"Ehmm..." Wigih berdeham untuk menghilangkan rasa canggung yang tiba-tiba datang diantara mereka berdua. Untung saja saat ini mereka hanya berdua saja. Bu Susi saat ini keluar sebentar untuk membeli sesuatu untuk sarapannya. Sementara tadi Jully sudah selesai memakan sarapannya yang disiapkan Rumah Sakit dan meminum obatnya tepat sebelum Wigih masuk ke dalam kamar inapnya.


"Memangnya kapan pertama kali kita bertemu?" Tanya Jully penasaran akan jawaban mantan seniornya di SMA itu, akankah ingatan pertama kali mereka bertemu sama dengan ingatan yang selama ini Jully ingat?


"Dulu saat aku baru pulang dari toko buku, tidak disangka tiba-tiba turun hujuan yang cukup lebat, aku langsung mendekap plastik berisi buku yang baru saja aku beli agar tidak basah. Namun disaat aku panik karena kemungkinan bukuku basah, aku merasakan langit diatasku tidak basah lagi padahal cukup jelas di mataku hujan masih sangat deras. Saat aku menengadah, kulihat sebuah payung telah menghadang hujan di kepalaku dan saat aku menengok ke samping ternyata sudah ada seorang gadis dengan senyum cerianya mengatakan "Payungnya buat kakak saja" dengan menyerahkan payungnya langsung ke tanganku, setelahnya ia langsung pergi berlari menerobos derasnya hujan menuju angkot yang berhenti di ujung jalan, belum sempat aku mengejarnya untuk sekedar berterimakasih angkot itu sudah pergi membawa gadis periang itu." Jawab Wigih dengan sedikit bercerita. Wigih menatap lekat wajah Jully yang juga menatapnya lalu berucap, "Terimakasih Jully, akhirnya bukuku tidak basah dan maaf karena terlambat mengatakannya."


"A a...aku? Maksud dokter gadis itu aku?" Tanya Jully tergagap sambil menunjuk dirinya sendiri.


Wigih mengangguk, "Ya, itu kamu Jully." Jawabnya dengan senyuman.


"Memangnya aku pernah melakukan itu ya? Kenapa aku tidak ingat? Atau kak Wigih yang salah mengenali orang?" Batin Jully sambil mengingat-ingat kejadian itu.


"Maaf..." Ucap Jully dengan raut wajah yang menyesal.


"Maaf kenapa?" Tanya Wigih bingung.


"Tidak...tidak, ini bukan karena masalah ingatanmu saat ini. Kamu memang tidak mengingatnya saat kita bertemu lagi di sekolah, maklum pertemuan pertama kita sangatlah singkat apalagi saat hujan lebat semuanya terlihat samar." Kata Wigih berusaha membuat Jully tenang namun hal itu justru membuat Jully tambah menyesal.


"Ahh tidak sakitpun ingatanku sungguhlah jelek, bahkan dokter saja masih ingat sampai saat ini." Sesalnya.


"Aduhhh salah ngomong deh!" Rutuk Wigih dalam hati dengan menggaruk kepalanya yang tak gatal, dia bingung sendiri harus berbuat apa sekarang. Namun suara ketukan pintu menyelelamatkannya.


Tok..tok..tok...


"Iya, masuk!" Sahut Jully sambil melihat ke arah pintu, siapa kiranya yang datang dari balik pintu kamar inapnya itu?


Saat pintu terbuka...


"Jully...."


"Bebebkuuuu...."


Tiba-tiba masuklah Kansari dan Ningsih yang langsung lari menghambur memeluk Jully tanpa memperdulikan bahwa ada orang lain yang bersama Jully, sementara di belakang keduanya berjalan Rere yang menghampiri mereka.


"Beeebb... Maaf ya karena a...aku...aku...hiks.hiks.." Kansari sudah menangis duluan sebelum sempat melanjutkan perkataannya.


"Sudah, sudah... Aku sudah tidak apa-apa kok." Sahut Jully sambil memeluk sahabat karibnya itu.


"Aku juga Jull, aku juga minta maaf, sungguh aku sahabat yang gak tahu diri, teman yang gak tahu perasasaan sahabatnya sendiri. Seandainya kami datang waktu itu mungkin kamu tidak akan jadi seperti ini." Ningsih sangat begitu menyesal karena beberapa waktu terakhir ini dia selalu mengabaikan Jully yang mungkin pada waktu itu membutuhkannya. Sungguh dia merasa buruk sebagai sahabat dan air matanya pun tak dapat dibendungnya lagi. Mereka bertiga berpelukan dengan tangis haru.


"Haii sudahlah, aku kan juga ingin melihat wajah Jully, kalian berdua menghalangi!" Ucap Rere sewot seraya melepaskan pelukan ketiga sahabatnya itu.


"Dear sob... Aku kangen banget sama kamu." Rere pun menghambur memeluk Jully dengan mata berkaca-kaca dibalik senyum leganya itu. Jully dengan senang hati menyambut pelukan Rere. Di dunia ini hanya Rere yang selalu ada disaat ia terpuruk. Meski setiap hari mereka bertemu di dunia masa lalu, namun entah mengapa emosi yang Jully rasakan terasa berbeda. Ada sebuah kelegaan setelah bertemu mereka.


"Seberapa menyebalkannya kalian saat ini, entah mengapa disaat aku menengok ke masa lalu aku selalu tidak bisa membenci kalian. Kalian adalah teman berharga yang aku punya." Keluh Jully dalam hatinya.


"Aku memaafkan kalian dan aku juga kangen kalian semua." Ujar Jully memberikan senyum tulusnya. Sungguh hari yang melegakan.


Bersambung....