Jully Mahardika

Jully Mahardika
Ep. 51 Aku Selalu Ingat Kamu Kok...



Wigih berjalan cepat menuju ruangan dokter Ibrahim. Setelah keluar dari ruang inap Jully dirinya memutuskan untuk menemui dokter Ibrahim untuk menanyakan perihal Jully yang sama sekali tidak mengingatnya, sementara Rendi kembali ke ruangannya karena masih ada janji dengan pasiennya.


Wigih berdiri di depan pintu ruangan dokter Ibrahim, ia diam sejenak untuk mengatur napasnya dan mempersiapkan diri setenang mungkin tentang apa-apa nanti yang akan ia dengar dari dokter Ibrahim selaku dokter Specialist Syaraf yang menangani Jully. Setelah dirasa lebih tenang, Wigih mengetuk pintu ruangan itu. Suara dokter Ibrahim yang begitu wibawa terdengar dari dalam sana untuk mempersilahkan masuk seseorang yang mengetuk pintu ruangannya.


"Maaf dok, mengganggu waktu kerja anda." Kata Wigih saat memasuki ruang kerja dokter Ibrahim.


"Ohh dokter Wigih ternyata, silahkan duduk." Dokter Ibrahim menghentikan kegiatannya mengecek beberapa dokumen setelah mengetahui siapa yang datang.


"Terimakasih." Balas Wigih seraya mendudukkan dirinya di kursi yang berhadapan dengan meja kerja dokter Ibrahim.


"Ada yang bisa saya bantu dokter Wigih?" Tanya dokter Ibrahim setelah mereka duduk berhadapan.


"Ini mengenai Jully Mahardika." Jawab Wigih mulai serius.


"Ahh sudah saya duga, apa yang ingin anda ketahui?" Dokter Ibrahim bertanya kembali.


"Mungkin dokter sudah tahu bahwa Jully dan saya adalah teman lama. Tapi mengapa disaat dia bangun dari tidurnya tadi dia sama sekali tidak mengenali saya? Apakah ada sesuatu yang mempengaruhi syaraf otaknya?" Tanya Wigih dengan wajah yang datar dan begitu serius. Dia berusaha bersikap tenang saat ini meski sebenarnya detak jantungnya bertalu-talu. Ia harus mempersiapkan diri atas apa yang akan telinganya dengar nanti.


Dokter Ibrahim mengangguk-angguk mengerti sebelum menjawab pertanyaan Wigih.


"Sebenarnya itu adalah hal yang wajar terjadi untuk kasus pasien yang baru saja terbangun dari koma. Nona Jully mengingat ibunya karena beliau adalah keluarga yang sepanjang hidupnya selalu ada untuknya, sedangkan dokter Wigih mungkin memang teman nona Jully tapi kalian berdua menurut cerita anda sudah sangat lama sekali tidak bertemu." Pungkas dokter Ibrahim menjelaskan.


"Maksud dokter Ibrahim... Jully kehilangan sebagian memorinya?" Tanya Wigih dengan tebakannya.


"Bisa dikatakan begitu." Tegas dokter Ibrahim.


"Apakah itu permanen?" Tanya Wigih lagi.


Dokter Ibrahim menggeleng kemudian menjawabnya...


"Tidak, bisa saja ingatan masa lalu nona Jully akan kembali seiring waktu berjalan, syaraf otaknya melemah pasca koma akan menurunkan daya ingatnya dan itu wajar bagi pasien yang sadar setelah koma. Dengan kata lain ia hanya butuh mengatur ingatan-ingatan yang hilang itu kembali." Dokter Ibrahim kembali menjelaskan.


"Seperti potongan pazzle?" Ucap Wigih lirih dengan raut muka yang terlihat sedih. Dokter Ibrahim hanya mengangguk dan tersenyum simpul.


"Anda hanya harus sedikit bersabar dokter Wigih." Ucap dokter Ibrahim kemudian.


"Baik dokter Ibrahim, terimakasih atas waktunya, kalau begitu saya pamit dulu."


"Santai saja, kita ini kan kolega... Sudah seharusnya saling membantu." Ujar dokter Ibrahim tersenyum ramah, Wigih pun berdiri dari tempat duduknya dan menunduk hormat sebelum akhirnya keluar dari ruangan dokter Ibrahim. Setelah keluar dan menutup pintu ruangan itu kembali, Wigih berdiri diam sejenak, menyugar rambutnya dan mendesah frustasi.


"Apa yang harus aku lakukan sekarang Jully?" Gumamnya lirih lalu pergi dari tempat itu.


Sementara itu di dalam ruang inap Jully, bu Susi masih setia menjaga putri kesayangannya. Nampak Jully duduk bersandar di atas ranjangnya, semua selang yang awalnya terpasang di tubuhnya kini sudah dilepas, hanya tinggal selang infus saja yang tersisa. Wajahnya terlihat lebih segar dari pertama kali ia sadar meski masih nampak sayu.


"Bu... Sudah berapa lama aku terbaring tak sadarkan diri?" Tanya Jully tiba-tiba.


"Dua puluh delapan hari." Jawab sang ibu.


"Jadi aku terbangung di hari ke dua puluh sembilan? Hmmm berarti sudah hampir satu bulan." Ucap Jully menanggapi jawaban ibunya.


"Padahal aku sudah tiga bulan lebih berada di masa lalu." Gumam Jully dalam hatinya.


"Sayang... Apa yang kamu pikirkan?" Tanya bu Susi sembari menyentuh bahunya, seketika itu pula ia tersadar dalam lamunannya. Jully tersenyum dan menggeleng.


"Saat ini kamu tidak boleh memikirkan apapun, tidak boleh memikirkan yang berat-berat, ingat kata dokter ini demi kesembuhan kamu." Ibunya mengingatkan.


"Iya bu... Maaf sudah membuat ibu khawatir selama ini." Jully menggenggam jemari ibu yang paling ia sayangi itu. Orang tua satu-satunya yang dia punya setelah kepergian bapaknya yang dipanggil Tuhan untuk selamanya dua belas tahun yang lalu.


"Ibu sudah tidak apa-apa kok, memang awalnya ibu begitu khawatir, tapi sekarang ibu lega setelah kamu membuka mata." Kata ibunya yang kini matanya sudah terlihat berkaca-kaca. Jully langsung memeluk ibunya, dia merasa sangat berdosa telah membuat ibunya tercinta menangis khawatir karena dirinya. Wanita itu diusianya yang sudah mulai renta selalu terlihat tegar meski dalam dirinya terselip kerapuhan. Setelah kepergian suaminya untuk selamanya ia harus terlihat kuat dan tegar dihadapan anak-anaknya.


Jully melepaskan pelukannya, memandang wajah senja ibunya yang penuh guratan lalu mengusap lembut air mata yang sempat menetes di pipi rentanya.


"Ya sudah, kamu istirahatlah karena ini sudah malam, tadinya mbakmu Enin mahu datang ke sini jagain kamu setelah pulang kerja tapi ibu larang, akhir Minggu ini dia sering lembur jadi ibu suruh dia tidur di rumah saja dan datang ke sini besok pagi sekalian bawa baju ganti buat kamu mumpung besok hari Minggu.


"Oh ya bu, apa teman-temanku ada yang datang menjengukku?" Tanya Jully


"Setelah mendengar kabar kamu kecelakaan Rere langsung datang melihatmu, sehari kemudian Kansari dan Ningsih datang, lalu di sorenya di hari yang sama Ale datang bersama Wicky." Jawab ibunya.


"Wicky juga datang?" Tanya Jully tak percaya.


"Ya, dia bahkan datang tiga hari berturut-turut sendirian, setelah itu tidak pernah datang lagi. Sementara yang sering datang adalah Rere, Kansari juga beberapa kali datang menemuimu." Ungkap ibunya.


"Ah ternyata mereka baru bisa menemuiku setelah aku seperti ini." Gumam Jully sangat lirih sehingga terdengar samar di telinga ibunya.


"Kamu ngomong apa sayang?" Tanya bu Susi tak mengerti.


"Ahh bukan apa-apa." Jawab Jully seketika.


"Ibu aku mahu tanya sesuatu..." Jully menjeda kalimatnya, "Hmm... Apakah dokter Wigih dan juga dokter Rendi sering ke sini menengokku?" Tanya Jully kemudian.


"Iya mereka berdua hampir setiap hari melihat keadaanmu, bahkan dokter Wigih lebih sering datang. Setiap pagi dia pasti menyempatkan diri menengokmu sebelum ia bekerja bahkan diwaktu luangnya kadang dia ikut menjagamu dan menyuruh ibu pulang sebentar untuk beristirahat, meski ibu selalu menolak tapi ibu selalu berhasil diyakinkannya lalu akhirnya ibu hanya bisa menurut." Bu Susi terkekeh sendiri saat mengingat itu semua.


"Be..benarkah?" Tanya Jully tergagap saking speechless-nya dia dengan apa yang dikatakan ibunya barusan.


"Iya, kadang ibu kasihan walau ibu juga senang ada seseorang yang begitu peduli dengan anak ibu. Dia pasti lelah setelah bekerja dan langsung kemari." Ungkap bu Susi prihatin.


"Begitukah?" Kali ini Jully yang terlihat murung.


"Apa tidak ada yang kamu ingat tentang mereka sayang?" Tanya ibunya.


"Itu... Aku..." Jully terlihat ragu untuk menjawabnya namun untungnya ibunya langsung memotong ucapannya.


"Ahh maaf ibu terlalu memaksamu, tidak usah kamu pikirkan pertanyaan ibu tadi, pelan-pelan saja nanti kamu juga akan mengingatnya." Ujar bu Susi sambil membimbing Jully untuk segera tidur dan menyelimutinya.


"Selamat malam nak, selamat tidur sayang semoga mimpi indah." Ucap bu Susi sembari mengecup lembut kening putrinya.


"Ibu juga." Balas Jully seraya tersenyum.


"Maaf kak Wigih... Tidak di masa lalu maupun di masa ini aku selalu membuatmu khawatir dan kerepotan. Aku selalu ingat kamu kok..." Batin Jully sambil melihat langit-langit kamar inapnya sebelum ia memejamkan matanya.


Bersambung....