
"Ahh... Akhirnya liburan juga..." Seru Jully setelah menginjakkan kakinya di Bandara Ngurah Rai.
"Honeymoon sayang..." Kata Wigih mengoreksi.
"Hehe...iya, habisnya kita di sini cuma tiga hari saja." Keluh Jully.
"Maaf ya sayang, karena aku hanya dapat cuti lima hari dan itupun sudah kepotong dua hari kemarin untuk acara pernikahan kita." Wigih merasa sangat menyesal karena hanya dapat memberikan waktu yang singkat bulan madu mereka.
"Iya, aku ngerti kok mas... Ini saja aku sudah bersyukur." Kata Jully seraya menggamit mesra lengan suaminya.
"Terimakasih sayang, kamu memang selalu mengerti aku." Ucap Wigih seraya mengecup singkat pucuk kepala istrinya.
"Ya sudah yuk! Lekas ke hotel, naruh barang kita dulu terus cusss ke pantai. Sudah gak sabar nih!" Rengek Jully manja.
"Haha... Iya, iya sayang..." Wigih tergelak melihat tingkah manja istrinya. Semakin ke sini semakin Wigih tahu jika Jully punya sisi manja yang menggemaskan, karena dulu-dulu sebelum mereka pacaran di mata Wigih, Jully adalah wanita yang terlihat elegan, smart yang sulit untuk didekati. Namun semenjak mereka pacaran dan memutuskan untuk menikah, sifat Jully yang sesungguhnya mulai terlihat satu persatu dan itu membuatnya menjadi pria yang sangat beruntung mendapatkan wanita sebaik Jully. Mereka berdua langsung menuju hotel kawasan Nusa Dua Bali dengan taxi yang sudah mereka pesan.
Setelah menempuh waktu yang lumayan lama karena pada waktu itu keadaan jalan sedikit macet, akhirnya Wigih dan Jully sampai juga ke tempat tujuan. Seorang hotel maids mengarahkan ke kamar hotel mereka. Sesampainya di dalam Jully langsung melempar tas selempangnya begitu sata ke kasur dan dia langsung menuju ke balkon kamarnya yang berada di lantai lima. Di sana terlihat pemandangan yang begitu indah. Hamparan laut Nusa Dua terlihat begitu cantik dari sana. Jully memejamkan matanya, menghirup dalam-dalam udara segar di sana.
"Hmm... Aroma laut." Bisik Jully pada dirinya sendiri.
"Lebih enak aroma kamu sayang." Wigih menghampiri Jully dan memeluk Jully dari belakang, membisikkan kata-kata yang membuat tengkuk Jully meremang.
"Apaan sih mas...?" Suara Jully yang gugup menjadi hiburan tersendiri bagi Wigih.
Wigih tidak menghiraukan Jully, dia semakin menelusupkan wajahnya di ceruk leher Jully. Menghirup dalam-dalam aroma tubuh istrinya yang begitu memabukkan baginya. Semakin lama Wigih semakin dalam menghirup, tidak bukan itu saja, dia mulai mencium istrinya di sana, membuat Jully semakin meremang dibuatnya.
"Maass...." Suara Jully terdengar bergetar.
"Hmm..." Wigih hanya membalasnya dengan deheman yang terdengar parau.
"Maass..." Jully kembali memanggil suaminya yang tidak menghiraukannya.
"Iya sanyang..." Suara parau itu terdengar lagi dari mulut Wigih.
"Maass... Aku lapar!" Seri Jully dan membalikan tubuhnya ke hadapan Wigih dengan wajah cemberut.
"Yaahh yang... Lagi bagus juga momennya." Keluh Wigih yang sudah panas dingin.
"Tapi aku lapar, masa kamu tega sih sama istri sendiri?!" Rengek Jully dengan mode manjanya, kalau sudah begini Wigih pun tidak bisa apa-apa lagi.
"Ya sudah kita makan dulu, kamu mahu makan apa hmm?" Tanya Wigih yang masih setia menggamit pinggang Jully, meski kini pisisi mereka saling berhadapan.
"Aku mau hidangan sea food, katanya sea food di sini enak." Pinta Jully.
"Oke siap nonya! Apa sih yang gak buat nyonya Sasongko yang cantik ini?" Ujar Wigih denga senyum andalannya yang selalu menawan di mata Jully.
Akhirnya mereka memutuskan makan siang di restaurant dekat pantai yang menyajikan menu sea food yang enak dan pemandangan pantai dengan hamparan pasir yang begitu indah. Jully menikmati makan siangnya dengan lahap, kelihatannya dia memang benar-benar cukup lapar. Beberapa hari ke belakang dia memang tidak begitu bisa makan dengan benar karena terlalu sibuk memikirkan pekerjaan dan persiapan pernikahannya. Sedangkan Wigih sesekali tersenyum melihat istrinya yang begitu menikmati santapannya dan akan menyeka mulut Jully jika makanan yang dimakan istrinya itu belepotan di bibirnya. Sungguh manis bukan pasangan suami istri baru ini?
Setelah puas dengan makan siangnya, mereka memutuskan berjalan-jalan sebentar di sekitar pantai dan membeli beberapa jajanan ringan pinggir jalanan sekitar pantai. Jully memilih membeli ice cream strawberry berbentuk cone dan membawanya berjalan di tepi pantai, tangan kirinya yang bebas menggandeng tangan kanan Wigih.
"Enak?" Tanya Wigih yang melihat Jully begitu menikmati ice cream-nya.
Jully menangguk, "Mau?" Tanya Jully kemudian dengan menyodorkan ice cream-nya ke arah Wigih. Tanpa pikir panjang Wigih menundukkan kepalanya dan menjilat ice cream Jully yang disodorkan padanya.
"Manis, seperti bibir kamu." Kata Wigih dengan sedikit gomabalnnya.
"Hmm gombal!" Sahut Jully dengan mencebikkan bibirnya. Namun sedetik kemudian Wigih menundukkan wajahnya lagi. Kali ini bukan ice cream Jully yang ia jilat, melainkan sudut bibir Jully yang belepotan terkena ice cream yang dia makan.
"Kalau ini baru rasa ice cream strawberry." Goda Wigih lagi yang sekarang tidak malu-malu menunjukkan kemesraannya di tempat umum, beruntunglah mereka pantai itu tidak begitu ramai karena memang hanya diperuntukkan untuk orang-orang yang menginap di resort mereka saja.
"Gak ada yang lihat sayang... Gak begitu banyak orang juga." Kata Wigih.
"Tetap saja masih ada beberapa orang di sini." Ucap Jully.
"Mereka sibuk sendiri dengan urusan mereka masing-masing, gak sempat buat lihat mereka. Lagian ada yang lebih parah dari aku, tuh lihat!" Ujar Wigih yang menunjuk dengan dagunya ke arah dua orang wisatawan yang sedang asyik berciuman tanpa mempedulikan keadaan sekitarnya.
"Ya ampun! Adegan tujuh belas plus!" Seru Jully yang melotot melihat tontonan menarik itu. Sementara Wigih hanya bisa tergelak melihat respon istrinya.
"Gimana sayang, mahu aku tunjukkan yang seperti itu?" Bisik Wigih ke telinga Jully untuk menggodanya.
"Idihh... Genit." Ejek Jully.
"Kok genit sih? Udah sah lagi." Kilah Wigih, sementara istrinya itu tak menghiraukannya dan melangkah begitu saja meninggalkannya.
"Sayang..." Panggil Wigih setelah bisa menyamakan langkahnya dengan Jully.
"Iya mas..." Jawab Jully kalem.
"Kita balik ke kamar sekarang yuk!" Ajak Wigih.
"Mas sudah capek? Ngantuk?" Tanya Jully. Wigih sebenarnya belum mengantuk, bahkan tidak mengantuk sama sekali tetapi dia hanya ingin berduaan dengan saja dengan Jully dan mengurung istrinya di dalam kamar. Namun Jully yang tidak begitu peka membuat Wigih terpaksa mengiyakan saja dugaan istrinya itu.
"Iya nih... Yuk!" Jawab Wigih seraya meraih tangan Jully, menggandengnya dan membawa istri tercintanya itu kembali lagi ke kamar hotel mereka.
Sesampainya di kamar Wigih segera mengunci pintunya sementara Jully pergi ke kamar mandi untuk membasuh mukanya yang merasa berat karena make up yang dia pakai sejak keberangkayan mereka ke Bali. Setelah keluar dari kamar mandi dengan wajah yang terlihat segar, tiba-tiba Wigih menariknya ke dalam pelukannya dan tanpa aba-aba Wigih segera mencium bebir Jully.
"Hmm mas katanya ngantuk?" Tanya Jully polos setelah ciuman mereka terlepas.
"Gak jadi, kantukku sudah hilang setelah melihat wajahmu dan... Sebaiknya kita melakukan jadwal selanjutnya sebagai tujuan honeymoon kita sayang." Ucap Wigih dengan suara yang terdengar sudah parau dengan mata yang menatap lurus ke wajah ayu Jully. Seperti tersihir, Jully hanya bisa diam dengan wajah merona. Dan tanpa ba bi bu Wigih segera mencium lagi bibir istrinya yang sudah menjadi candu baginya, kali ini bukan hanya ciuman melainkan ******* yang semakin lama semakin dalam. Wigih menurunkan ciumannya ke leher jenjang istrinya, membuat Jully mengeluarkan suara yang membuat Wigih tersenyum dalam sentuhannya. Tangan nakal Wigih mulai menyentuh tubuh Jully di beberapa tempat sensitifnya dan membuka satu persatu kancing kemeja yang dipakai istrinya, melepasnya dan membuangnya ke sembarang arah. Wigih segera menggendong tubuh Jully dan membanya ke atas ranjang dan menurunkan rok selutut istrinya begitu saja dan melepas kaos oblong yang ia kenakan sendri. Dengan mata yang telah diselimuti kabut gairah, Wigih kembali ******* bibir istrinya. Menciumi semua tubuh istrinya, menghirup tubuh wangi Jully dan meninggalkan beberapa jajak kepemilikannya di sana. Suara aneh yang keluar dari bibir Jully justru terdengar bagaikan irama musik yang memabukkan untuk Wigih.
"Maaasss..."
"Iya sayang... Apa kamu sudah siap sekarang?" Tanya Wigih yang entah kapan tubuh mereka berdua sudah tidak tertutupi benang sehelaipun. Melihat anggukan Jully sebagai jawabannya, tanpa pikir panjang namun hati-hati Wigih segera melakukan tugasnya dan mereka berduapun terbuai akan kenikmatan dunia yang sudah mereka halalkan, tanpa beban dan hanya ada kebahagiaan yang mereka rasakan. Segala rintangan dan perjuangan cinta mereka selama ini terbayar sudah, semoga saja akan sampai nanti hingga akhir hayat memisahkan mereka.
~Fin~
🍁
🍁
🍁
Haaaii... Apa kabar? Semoga kalian semua dalam keadaan sehat selalu.
Akhirnya "Jully Mahardiaka" benar-benar TAMAT ya guys... Terimakasih untuk segala dukungan yang selalu kalian berikan dengan kesabaran tingkat dewa untuk Author yang penuh kekurangan ini.
Tapi jangan terlalu kecewa karena Author sudah menyiapkan Novel Baru untuk kalian dengan judul "WANGI UNTUK GALIH" yang tidak kalah mebariknya dengan kisah Jully dan Wigih. Yukk baca ceritanya agar kalian tidak penasaran dengan kisah para tokoh utamanya... 😄
Ini tentang pertemuan antara Galih Admaja seorang prajurit TNI AD yang kehilangan tunangannya karena penyakit Liver yang diderita sang kekasih dengan Dokter Residen cantik namun sedikit bar-bar yang bernama Wangi Prameswari. Awal pertemuan mereka yang tak biasa menghantarkan mereka pada sebuah perjodohan yang diatur oleh kedua orang tua mereka.
Mampukah Galih menerima Wangi dengan segala tingkah laku anehnya sebagai calon istrinya?
Serta mampukah Wangi menghancurkan dinding es di hati Galih?
Ikuti kisah cerita mereka selanjutnya di "Wangi Untuk Galih" agar kalian tidak semakin penasaran ya.... 😊