Jully Mahardika

Jully Mahardika
Ep. 16 Celengan Rindu



"Aduh ibu bikin malu aku aja, kenapa sih ibu harus tanya begitu?" Sekarang Jully ada di kamarnya bersama ibu Susi, dia uring-uringan karena ibunya itu mengira dia dan Wigih pacaran, Jully merasa canggung dan gak enak. Udah dibaikin, ditolongin, dianter pulang ehh malah ngelunjak. Dia jadi bingung menghadapi Wigih nantinya. "Halahh dipikir nanti saja Jull, orang lagi sakit juga, nanti malah stress." Itu yang dia pikirkan.


"Lha wong ibu cuma tanya, kalau iya gak papa...kelihatannya dia anak baik, ganteng pula, kalau bukan juga gak masalah." Jawab ibunya cuek.


"Terserah ibu sajalah...kepalaku pusing, mau bobok." Jully langsung meringkuk merapatkan selimutnya sampai ke atas dada, dia merasakan tubuhnya mulai menggigil.


"Ya sudah ibu buatkan bubur dulu buat kamu sekalian bikinin minuman buat nak ganteng yang mungkin nanti jadi mantu ibu." Setelah mengatakan itu bu Susi langsung melesat keluar dari kamar Jully. "Duuhh ngarep banget sih bu..." Batin Jully yang mulai hilang kesadarannya.


"Nak ganteng terimakasih ya sudah repot-repot nganter Jully pulang." Ucap bu Susi sambil membawa nampan berisikan teh hangat dan bolu kukus yang dia bikin sendiri tadi pagi. "Ayo diminum nak, ini kue bolu ibu sendiri yang buat." Lanjutnya.


"Iya bu terimakasih dan saya tidak merasa direpotkan, saya malah senang bisa membantu." Ucap Wigih.


"Duhh sudah ganteng baik lagi." Bu Susi kembali memuji Wigih, membuat lelaki itu tersenyum malu, namun di lain sisi dia juga senang karena ibu dari orang yang dia sukai ternyata juga menyukai dirinya.


"Setelah ini nak ganteng mau langsung pulang atau balik lagi ke sekolah?" Tanya bu Susi.


"Saya balik lagi ke sekolah bu." Jawab Wigih sopan.


"Duhh senangnya dipanggil ibu, serasa punya anak laki-laki, soalnya anak ibu perempuan semua, teman-teman Jully juga kebanyakan manggilnya tante." Ini bu Susi malah curhat.


"Berarti ibu tidak keberatan saya panggil "ibu"?" Tanya Wigih yang sekalian PeDeKaTe sama canmer eaaa...


"Ya gak papalah, ibu malah seneng, ayo nak di makan kuenya, pasti tadi gak sempat jajan kan gegara nganterin Jully."


"Iya bu, saya cicipin ya?" Wigih mengambil satu buah kue bolu dan menikmatinya dengan hati yang senang, ternyata ada hikmahnya dia mengantar Jully pulang, sekalian modus sedikit tak apalah...namanya juga usaha.


Setelah dia rasa cukup berbasa basi dengan ibunya Jully dan memastikan jika Jully sudah berada di tempat yang aman, Wigih pun berpamitan untuk kembali lagi ke sekolah.


"Kalau begitu saya pamit dulu bu, mau balik lagi ke sekolah."


"Lho... sudah mau balik? Duhh padahal ibu masih mau lama-lama ngobrolnya, lain kali nak ganteng main lagi ke sini ya."


"Iya bu, pasti saya akan main lagi ke sini, kalau begitu assalamu'alaikum saya pamit, salam buat Jully." Pamit Wigih sambil mencium tangan bu Susi khitmat.


"Ohh ya Jully! Sampai lupa ibu, tadinya ibu mau bikinin bubur anak itu." Dasar ibu Susi ini kalau sudah ngelihat yang bening dikit sampai lupa sama anak sendiri, kadang bingung sendiri ini ibu, ibunya Jully apa ibunya Kansari ya? Wigih yang menyaksika tingkah laku bu Susi hanya bisa tertawa kecil.


"Ya sudah nak hati-hati di jalan, ibu mau bikinin bubur buat Jully."


"Iya bu." Jawab Wigih sambil melangkah pergi meninggalkan rumah Jully dan menuju dimana mobilnya terparkir. Wigih melajukan mobilnya dengan hati yang tenang dan perasaan yang bahagia, tenang sudah mengantar Jully sampai ke rumahnya dan bahagia bisa lebih dekat dengan Jully dan ibunya. Biar saja orang beranggapan ini kesempatan dalam kesempitan, yang penting usaha dulu kan...


Malam harinya Jully terjaga dari tidurnya, kepalanya sudah tidak pening lagi, demamnya juga sudah turun. Dia melihat jam di atas nakasnya waktu menunjukkan pukul sebelas malam, tadi dirinya tertidur jam tujuh malam seusai makan malam dan meminum obatnya, berarti dirinya sudah tertidur selama empat jam dan kini matanya sudah sulit untuk dipejamkan lagi. Dia teringat surat yang ditemukan Kansari tadi pagi di sekolah, dia langsung turun dari ranjangnya mencari tasnya yang ada di atas meja belajar. merogoh isinya mencari dimana dia menyimpannya. Setelah menemukannya dia tak sabar untuk membukanya.


Hai keceriaan... Bagaimana kabarmu? Aku harap kamu baik-baik saja, apakah kamu merindukanku? Karena aku sangat merindukanmu. Sungguh aku sangat menahan rindu ini, kukumpulkan seluruh rasa rinduku hingga nanti waktunya tiba akan kutuangkan saat kita bertemu. Semoga Tuhan menghendaki dan semoga kau tak kecewa denganku nanti. Selama seminggu ini sungguh menjadi waktu yang berat bagiku, melaksanakan tugasku dan harus jauh darimu. Maaf bila selama ini membuatmu bingung, membuatmu bertanya tanya siapa aku. Namun aku berjanji tidak lama lagi kita akan bertemu.


...Yang sangat merindukanmu.......


...~You're Cancer Boy~...


Hati Jully menghangat, membaca surat dari seorang lelaki yang mengaku dirinya sebagai "Cancer Boy" . Rasa rindu yang sama dia rasa membuat hatinya menjadi mellow seolah dia sudah mengenalnya sejak lama, entah mengapa lelaki itu menamakan dirinya dengan nama yang berarti kepiting, mungkin ia menyukai binatang bercapit itu. Jully berfikir akankah dia bisa menerima siapa sesungguhnya lelaki tersebut jika tiba waktunya mereka bertemu? Akankah dirinya kecewa seperti apa yang dikhawatirkan lelaki itu? Atau mungkin Cancer Boy adalah sesorang yang tidak diharapkannya? Banyak sekali pertanyaan dan kekhawatiran yang ada di otak cantiknya saat ini, namun dia segera menepis segala pemikiran itu. Bagi Jully saat ini Cancer Boy merupakan teman pena yang menyenangkan, banyak cerita yang Jully dapat darinya. Untuk kali ini saja Jully berharap menemukan sosok Cancer Boy yang tak pernah dia ketahui di masanya kala itu sebelum akhirnya dia akan kembali ke tempat dia seharusnya. Dia hanya ingin kembali dengan senyuman, dengan hati yang lapang tanpa ada beban lagi yang tersisa. Biar saja rindu itu tertinggal di sini dan akan Jully simpan sebagai kenangan yang indah. Jully melipat kembali suratnya, memasukkannya ke dalam amplop biru muda dan menyimpannya ke dalam sebuah kotak kayu berukuran sedang, dimana tersimpan semua kenangan serta surat-surat yang didapatnya dari si Yuyu. Setelah itu dia keluar dari kamarnya, tenggorokannya terasa kering mungkin karena dia terlalu lama tertidur. Dia melangkah menuju dapur untuk mengambil minuman, rumah sudah sangat sepi, semua orang sudah terlelap dari tidurnya. Jully mengambil air putih yang selalu ibunya siapkan di dalam wadah teko, dia menuangkan di dalam gelas dan meneguknya hingga tandas. Namun saat dia berbalik untuk kembali ke kamarnya tiba-tiba dia berteriak...


"Aaaaa!!!"


"Duuhhh berisik Jully!" Mbak Enin menutup kedua telinganya saat mendengar teriakan Jully.


"Mbak Enin! Mbak bikin kaget saja!" Jully mengelus dadanya karena kaget.


"Tapi gak perlu teriak juga kali Jull, kamu kira mbak ini hantu apa?"


"Habisnya mbak gak ada suaranya tiba-tiba ada di belakangku pakek masker segala lagi, kan mirip setan."


"Enak aja orang cantik gini dikata setan."


"Mbak ngapain disini? Kok belum tidur?"


"Tadi udah tidur trus kebangun karena haus, minggir mbak mau ambil minum."


Mbak Enin meraih teko berisi air putih di atas meja makan, menuangkannya ke dalam gelas kemudian meneguknya hingga tandas. Ternyata dia sama hausnya seperti Jully. Dia melirik adiknya yang ternyata masih ada di situ, duduk menatap dirinya tanpa bergeming.


"Kamu masih disini dek? Kata ibu kamu lagi sakit, kenapa gak istirahat saja sih?"


"Udah baikan kok mbak, ini demamku juga sudah turun."


Mbak Enin langsung mendekati adiknya, mengulurkan tangannya menyentuh dahi untuk memeriksa suhu tubuh adiknya.


"Masih anget dikit, besok gak usah masuk sekolah dulu, istirahat saja sehari sampai badanmu benar-benar fit."


"Iya mbak, aku kembali ke kamar dulu ya."


Jully berjalan gontai kembali ke kamarnya. Sesampainya di dalam kamar dia langsung naik ke atas tempat tidurnya, menaikkan selimutnya sampai di atas dada dan memejamkan matanya, mencoba untuk terlelap kembali. Dia berdo'a semoga esok hari menjadi hari yang lebih baik untuk dirinya, menanti kabar baik yang mungkin datang dikehidupannya. Good Night Jully.


Bersambung...