Jully Mahardika

Jully Mahardika
Ep. 48. Welcome Back Jully



"Jully... Tidaaakk!!"


Itu adalah suara terakhir yang Jully dengarkan sebelum dia menutup matanya dan membuka matanya di suatu tempat yang asing. Tempat yang begitu sunyi, tempat itu bagai ruang kosong tanpa dinding, kanan kiri atas bawahnya hanya terlihat abu-abu. Jully bingung, dia melihat ke sekelilingnya, namun tak ada siapa-siapa di sana. Dia berjalan tanpa tahu harus kemana. Tiba-tiba dia mendengar ada suara. Suara itu sangat familiar di telinganya, lalu dia terus berjalan ke arah sumber suara tersebut. Semakin lama ia berjalan, suara itu semakin jelas dan akhirnya dia melihat gambar dirinya, teman-temannya, orang tuanya dan semua orang terdekatnya bagai sebuah layar film yang diputar. Gambar itu mengambang di kanan kiri jalan yang ia lalui. Walau terlihat seperti rekaman sebuah film, tapi itu semua adalah penggalan-penggalan semua kejadian yang ada di hidup Jully. Jully tercengang melihat semua itu. Dia bingung bagaimana semua kejadian yang dialaminya selama ini bisa terekam begitu jeli dan rapi tanpa ada koreksi satupun? Bahkan dari segi suarapun sama. Andaikan ini hanya sebuah film, ini sangat sempurna. Bukan! Ini bukan sebuah film, ini semua adalah cerita hidupnya. Apakah dia benar-benar mati dan Tuhan memperlihatkan semua kejadian semasa hidupnya di dunia? Ada satu gambar di salah satu layar itu yang membuatnya tercengang. Layar layaknya video film itu menampakkan kejadian yang sama persis seperti yang ada di mimpinya.


"Ini kan kejadian yang ada di mimpi waktu aku terkena bola itu?" Guman Jully sendiri.


"Benar, tapi itu bukan mimpi."


Tiba-tiba ada suara lain yang menyahuti ucapan Jully. Jully langsung berbalik mengikuti arah suara yang menjawab ucapannya tadi. Di sana berdiri seorang wanita yang sama tinggi dengannya, warna kulit yang sama dengan dirinya serta potongan rambut yang sama pula. Jully memicingkan matanya, menatap ke arah wanita itu berdiri, sesekali Jully mengucek matanya. Seakan tak percaya apa yang ia lihat di hadapannya. Wanita di hadapannya itu mempunyai wajah yang sangat mirip dengan dirinya. Bukan hanya sangat mirip tetapi bagaikan cerminan dirinya sendiri.


"Siapa kau?" Tanya Jully was-was.


"Aku adalah dirimu." Jawab wanita yang mirip dirinya.


"Bagaimana itu bisa?" Jully bertanya kembali dengan perasaan ragu.


"Tentu saja bisa, apa kamu tidak melihat bahwa kita ini sama?" Wanita itu membalikkan pertanyaanya.


"Tapi bagaimana mungkin ini bisa terjadi? Bagaimana bisa ada aku yang lain selain diriku?" Tanya Jully yang masih bingung untuk percaya atau tidak dengan apa yang dia lihat saat ini.


"Kau lihat gambar yang ada di sebelahmu? Kau menganggapnya itu sebuah mimpi, tapi sesungguhnya bukan. Itu kenyataan yang terjadi padamu saat ini." Ucap wanita mirip Jully itu.


Jully ingin kembali menimpalinya dengan pertanyaan, namun wanita itu kembali berbicara.


"Masa lalu yang kau lewati sekali lagi beberapa waktu yang lalu itu adalah dunia milikku yang kupinjamkan padamu dan tempatmu sendiri adalah berada di masa depan." Ucap wanita itu kembali dengan mengarahkan jari telunjuknya ke arah layar film yang disebut mimpi oleh Jully.


"Maksudmu kamu adalah diriku yang di masa lalu sesungguhnya?" Tebak Jully.


"Iya, benar." Jawab sang wanita.


"Dan mimpi yang aku maksudkan itu sesungguhnya gambaran dari masa depanku?" Tebak Jully lagi.


"Iya, benar." Wanita itu kembali membenarkan.


"Lalu kenapa aku bisa berada di masa lalu yang seharusnya kau tempati?" Jully kembali bertanya.


"Sudah kubilang aku meminjamkannya untukmu."


"Tapi mengapa?"


"Entahlah... Mungkin Tuhan merasa kasihan karena mendengar rengekanmu yang selalu ingin kembali ke masa lalu." Jawat wanita itu asal.


"Lalu Tuhan menyuruhmu untuk meminjamkannya untukku?" Jully masih saja terus bertanya.


"Mungkin." Jawab wanita itu santai.


"Kalau aku menempati tempatmu di masa lalu, terus kau berada di mana? Apa kau berada di masa depan?"


"Tentu saja tidak, kita tidak bisa bertukar tempat seenaknya begitu. Seseorang harus melalui tahapannya untuk meraih masa depan, tidak bisa instan seperti itu." Jawab sang wanita.


"Lalu kamu berada dimana selama ini?"


"Lalu bagaimana dengan aku?" Tanya Jully bingung dan juga takut.


"Tentu saja kamu juga harus kembali ke tempat asalmu, semua orang yang ada di sana telah lama menunggumu." Wanita Jully dari masa lalu itu berkata dengan berjalan semakin mendekat ke arah Jully yang berdiri di hadapannya, Jully tak bisa bergerak sama sekali, kakinya seperti terpaku sampai wanita mirip dengannya itu berdiri tepat di hadapannya dengan jarak yang sangat dekat. Dan wanita itu berkata kembali.


"Jully Mahardika sudah waktunya kau menjemput masa depanmu, kembalilah ke tempat asalmu, selamat tinggal diriku." Setelah mengucapkan itu wanita mirip dengannya tersebut mendorong Jully dan membuat Jully terjatuh ke bawah seakan dia terjatuh dari tebing yang tinggi. Jully menjerit sejadinya namun suaranya tidak bisa keluar.


Sementara di tempat lain terlihat bu Susi ibunya Jully tengah berada di sebuah ruangan serba putih. Beliau duduk di kursi samping sebuah tempat tidur yang juga bernuansa putih. Di tempat tidur itu terbaring seseorang dengan alat bantu pernapasan dan selang infus yang terpasang di tubuhnya. Elektrokardiogram (EKG) juga terpasang di sana untuk memantau jantungnya. Bahkan Electroencephalography (EEG) juga dipasang untuk melihat kerja saraf otaknya karena orang yang terbaring di sana sudah hampir satu bulan tidak bangun alias koma. Ya, orang yang terbaring di sana tak lain dan tak bukan adalah Jully. Dia terbaring koma karena kecelakaan setelah pulang dari cafe. Dia menolong anak kecil yang berjalan ke jalan raya saat sebuah mobil melaju ke arahnya. Dan kecelakaanpun tak bisa dihindari, anak kecil itu selamat tanpa luka serius sementara Jully harus terbaring koma saat ini. Setiap hari bu Susi menjaganya dengan air mata yang sesekali menetes tanpa permisi. Wanita setengah baya itu terlihat semakin kurus, sejak Jully terbaring koma bu Susi kehilangan nafsu makannya namun dirinya harus tetap kuat dan sehat demi menjaga putri kesayangannya itu. Di hari libur beliau akan bergantian menjaga Jully dengan Enin kakak Jully. Sebenarnya ada dokter baik yang menawarkan seorang perawat khusus untuk menjaga dan merawat Jully 24 jam, bahkan dokter itu menawarkan dirinya sendiri yang akan menjaga Jully bila dirinya bebas tugas atau sesekali dia akan memeriksa keadaan Jully namun bu Susi merasa tidak enak walau dia sangat berterimakasih pada dokter itu. Bu Susi tidak ingin di saat Jully terbangun dirinya tak berada di samping putrinya. Pasti Jully merasa kerepotan tanpa dirinya, itulah yang dipikiran bu Susi. Maklum, ibu mana yang tidak sedih dan khawatir dihadapkan dengan putrinya yang terbaring koma di hadapannya? Semua ibu dan orang tua di dunia ini pasti merasakan hal yang sama jika dihadapkan dengan kenyataan seperti bu Susi ini.


Tiba-tiba terdengar suara dari mesin pendeteksi jantung dan saraf secara bersamaan membuat bu Susu terhenyak kaget.


"Jull... Jully! Ada apa denganmu nak? Dok... Dokter!" Bu Susi segera berteriak dan memencet tombol yang ada di kamar inap Jully untuk memanggil bantuan. Tidak menunggu lama seorang dokter dan dua orang perawat datang menghampiri. Dokter segera memeriksa keadaan Jully.


"Ya Allah dok! Tangan anak saya bergerak!" Bu Susi langsung berseru setelah tanpa sengaja melihat tangan Jully yang mulai menggerakkan jari tangannya.


"Nona Jully, apakah anda bisa mendengar saya? Apakah anda bisa membuka mata anda?" Ucap dokter itu dengan nada bertanya. Semua orang yang ada di situ terlihat begitu tegang, terutama bu Susi yang begitu berharap anaknya membuka matanya dan kembali bersamanya dalam keadaan sehat.


Kelopak mata Jully mulai bergerak-gerak, perlahan mata itu terbuka. Mata itu mengerjap-ngerjap perlahan menyesuaikan cahaya yang dilihatnya.


"Nona Jully apakah anda bisa melihat? Jika iya tolong anda berkedip dua kali." Tanya dokter itu kembali. Kemudian Jully mengedipkan matanya dua kali tanda dia bisa melihat dan bisa merespon cahaya.


"Jully ini ibu nak... Kamu bisa melihat ibu kan?" Bu Susi langsung mendekat ke putrinya. Jully mengarahkan pandangannya ke arah ibunya.


"Ibu..." Itu suara pertama yang terdengar dari mulut Jully. Terdengar sangat lirih dan lemas namun masih bisa untuk didengar.


"Iya ini ibu nak, ibu di sini sayang... Alkhamdulillah Ya Allah..." Bu Susi sangat bersyukur karena Tuhan telah mengembalikan Jully nya. Air matanya tidak bisa lagi dibendungnya, kali ini bukan air mata kesedihan tapi air mata kebahagiaan.


"Selamat bu, akhirnya putri ibu telah sadar namun setelah ini kami akan melakukan pemeriksaan lanjutan untuk melihat perkembangannya pasca terbangun dari koma." Ucap sang dokter.


"Lakukan saja yang terbaik untuk Jully anak saya dok." Jawab bu Susi.


"Baiklah kalau begitu saya permisi sebentar untuk mempersiapkan pemeriksaan saudari Jully selanjutnya." Balas dokter tersebut sebelum akhirnya meninggalkan ruang inap Jully.


🍓🍓🍓🍓🍓


Sementata itu di Rumah Sakit yang sama namun di ruangan yang berbeda seorang dokter lelaki yang masih terlihat muda dan tampan tengah duduk di ruang kerjanya. Dihadapannya terdapat tumpukan berkas yang harus dia periksa. Di tengah kesibukannya memeriksa berkas-berkas itu terdengar sebuah ketukan dari arah pintu ruang kerjanya.


tok... tok... tok...


"Masuk!" Dokter muda itu menjawab ketukan tersebut tanpa menoleh sedikitpun dan tetap fokus pada berkasnya, hingga sebuah tubuh muncul dari balik pintu. Ternyata seorang perawat.


"Maaf dok mengganggu, saya mahu kasih tahu bahwa pasien di kamar VIP 333 telah siuman." Setelah mendengar ucapan dari perawat tersebut dokter muda itu langsung menghentikan kerjanya dan langsung menatap ke arah perawat tersebut.


"Apa?! Kenapa tidak bilang dari tadi sih?!" Balas dokter muda itu geram dan langsung beranjak dari tempat duduknya. Dia buru-buru keluar dari ruangannya, bahkan dokter itu sedikit berlari membuat sang perawat yang tertinggal di ruangannya terbengong di sana.


"Memang ya... Kalau kekuatan cinta itu beda ckckck." Gumam si perawat dengan berdecak melihat tingkah dokter muda atasannya itu.


Bersambung....