
Setelah pembicaraannya dengan Anita di kantin, Jully menjadi sedikit kepikiran. Saat ini dia dan KRN (singkatan gaul dari bu Susi untuk Kansari, Rere, Ningsih) telah kembali ke kelas mereka. Namun di tempat duduknya Jully tidak bisa tenang, hatinya mengkhawatirkan keadaan Wigih. Padahal disebelahnya Kansari sedang asyik bersenda gurau dengan Rere, Ningsih dan teman sekelas lainnya tapi Jully tidak menghiraukan. Dilihatnya jam yang melingkar indah dipergelangan tangan kirinya masih menunjukkan pukul 09.45 WIB, masih ada waktu 15 menit lagi sebelum bell masuk berbunyi. Diambilnya phosel dari dalam saku roknya. Dia membuka kotak pesan dan mengirim sebuah pesan yang ternyata untuk Wigih. Ini pertama kalinya Jully mengirimkan pesan untuk Wigih terlebih dahulu, karena biasanya Wigih lah yang berinisiatif lebih dulu untuk menghubungi Jully.
^^^Jully:^^^
^^^Assalamu'alaikum kak Wigih, ini Jully.^^^
Satu pesan akhirnya Jully kirimkan untuk Wigih. Jully terus memandang benda pipih yang berada di tangannya, berharap segera mendapatkan balasan dari Wigih. Akhirnya notifikasi terdengaran dari phonselnya. Dan benar saja itu merupakan balasan dari Wigih yang langsung saja Jully buka.
Wigih:
Wa'alaikumsalam Jully, ada apa? Tumben sekali kamu menghubungiku terlebih dulu.
^^^Jully:^^^
^^^Kakak apa kabar? Aku dengar kakak kemarin masuk rumah sakit, trus sekarang bagaimana keadaannya?^^^
Wigih:
Iya, maaf kemarin sengaja gak bilang ke kamu, aku takut kamu khawatir tapi sekarang sudah mendingan kok... Nanti sore juga sudah diijinin pulang.
Jully menghembuskan nafas lega, entah mengapa dia bisa sekhawatir ini kepada Wigih dan sekarang setelah mendengar sendiri jika keadaan Ketosgannya itu lebih baik membuat rasa khawatirnya juga berkurang.
^^^Jully:^^^
^^^Syukurlah kalau seperti itu....Oh ya kakak dirawat di rumah sakit mana?^^^
Tidak menjawab pertanyaan Jully, Wigih justru berbalik menanyakan sebuah pertanyaan.
Wigih:
Kenapa? Apa kamu akan datang ke sini setelah aku memberi tahu?
"Ahh...Mengapa Kak Wigih harus bertanya seperti ini sih? Kalau gini kan aku musti datang ke sana kan?" Jully menggumam lirih. "Ya sudahlah, apa salahnya datang menengok teman yang sakit?" Gumamnya lagi. Lalu Jully kembali mengetikkan balasan untuk Wigih.
^^^Jully:^^^
^^^Mungkin...? Jika kakak tidak keberatan.^^^
Wigih:
Tentu saja tidak, datanglah... Aku dirawat di RS. Bina Sehat.
^^^Jully:^^^
^^^Aku usahakan untuk datang setelah pulang sekolah.^^^
Wigih:
Terimakasih, aku tunggu kedatanganmu.
Itu adalah chat terakhir mereka, kemudian Jully menutup ruang chat tersebut dan hendak memasukkan kembali phonselnya di dalam saku roknya. Namun tiba-tiba sebuah suara di sebelahnya mengagetkannya.
"Baru chat dengan siapa? Asyik bener." Ucap orang itu yang sudah berdiri dan sedikit membungkuk di sebelah Jully.
"Astaghfirullah... Wicky ngagetin aja!" Protes Jully sebal, mulutnya mengerucut dan pipinya menggembung lucu. Ternyata makhluk menyebalkan yang mengagetkannya itu adalah Wicky.
"Owh lucunya..." Wicky mencubit pipi Jully dengan gemasnya.
"Auww sakit Wicky!" Jully mengaduh sakit karena perbuatan Wicky, dia pun membalas dengan berusaha menimpuk lengan Wicky dengan buku yang ada di atas mejanya, namun usahanya tidak berhasil. Wicky mampu menghindarinya.
"Yeee gak kena! Duuhh tambah gemeessh deh..." Wicky kembali menggoda Jully, tangannya terulur untuk mengacak-acak rambut Jully.
"Wickyyy dasar reseh, pergi sana!" Usir Jully dengan geram.
"Ada apa sih beb teriak-teriak?" Tanya Kansari yang mendengar suara teriakan Jully, namun Jully tidak menjawab. Dia sibuk merapikan kembali rambutnya dengan wajah masih ditekuk karena merasa sebal. Kansari melirik Wicky yang masih berdiri di sebelah bangku Jully dengan senyuman yang terlihat minta ditampol.
"Ini pasti gara-gara kamu deh Wick! Kamu itu selalu bikin rusuh!" Tuduh Kansari dengan pandangan sengit ke arah Wicky.
"Lho... Gak boleh asal tuduh gitu dong, orang cuma becanda, ya kan Jull?" Wicky mah emanga yang paling jago ngeles.
"Gak lucu!" Jawab Jully sewot.
"Ya sudah pergi gih! hus..huss.. Jangan ngerusuh di bangku orang." Usir Kansari.
"Ehh kok malah diusir? Ngusir orang ganteng tuh pamali." Wicky mulai narsis membuat Jully dan Kansari muntah udara.
"Aku itu ke sini mau ngembaliin buku catetannya Jully, nih..." Wicky meletakkan sebuah buku bersampul coklat yang tertera nama Jully Mahardika di sana.
"Astaga! Pantesan aku cari gak ada ternyata masih kamu bawa? Kamu sih pinjemnya kelamaan, untung gak pas jadwalnya." Ucap Jully.
"Makanya jangan asal ngusir dulu, rugi ngusir orang ganteng." Jully dan Kansari cuma bisa geleng kepala menyikapi kenarsisan Wicky. Ini anak emang tak tertolong sudah.
"Jalan yuk Jull, pulang sekolah kita nonton, ada film baru lho..." Ajak Wicky.
"Gak bisa, sudah ada janji." Tolak Jully.
"Janji? Janji sama siapa?" Tanya Wicky penasaran.
"Ada pokoknya, janji penting gak bisa dibatalin." Jawab Jully tegas.
"Masa sih? Pasti bohong nih... Kamu cuma mau cari alasan buat nolak aku saja kan?" Tuduh Wicky.
"Terserah kalau gak percaya." Balas Jully pasrah.
"Janji sama cewek atau cowok?" Wicky tak hentinya menaruh rasa curiga.
"Cowok." Jawan Jully santai.
"Hahh? Kamu janjian sama cowok beb? Kok kamu gak cerita aku sih? Anak mana? Namanya siapa? ganteng gak?" Kansari terkejut dan langsung memberondong beberapa pertanyaan kepada Jully.
"Ihh Sarsar apaan sih? Nanya satu-satu dong." Keluh Jully.
"Jawab pertanyaan Kansari saja Jully!" Suara Wicky berubah menjadi dingin, matanya tersirat rasa keingin tahuan dan juga amarah yang tertahan. Jully bisa merasakan itu, bila dia mengatakan yang sebenarnya keadaan pasti akan menjadi lebih runyam.
"Apaan sih kalian? Lagian kalian sudah pernah lihat kok, sering juga di rumah aku, orang terganteng menurut aku." Ungkap Jully.
"Ohh My God... Jully kamu sudah punya gebetan?" Tanya Kansari atusias, sementara Wicky terlihat mengepalkan tangannya.
"Trus namanya siapa?" Tanya Kansari lagi.
"Namanya... Budi Mahardika, lelaki paling ganteng di rumah aku hehe..." Jawab Jully tertawa puas, puas mengerjai kedua bocah yang kini tengah diam terpaku tidak bisa berkata apapun.
"Jully...! Kamu ngerjain kita? Emang reseh ya kamu!" Kansari berteriak histeris membuat seisi kelas menutup telinganya, sedangkan Wicky kakinya sudah terasa seperti ubur-ubur, lemas dan akhirnya dia terduduk di kursi tepat di belakang dirinya berdiri yang kebetulan sedang kosong.
"Sarsar apaan sih teriak gak aturan gitu, kupingku cumpleng nih!" Rere protes, telinganya masih terasa mendengung.
"Gak tahu nih anak kalau suaranya sudah kaya toa masjid." Ningsih menimpali.
"Trus kenapa itu Wicky? Bukannya ngelua-ngelus telinga, tapi malah ngelus dada. Ehh Sar, suaramu selain bikin sakit telinga, juga bikin jantungan ya?!" Ucap Ningsih sarkas.
"Ihh nggak ya!" Sanggah Kansari. Sedangkan Jully cuma bisa menahan tawa.
"Jadi hari ini kamu ada janji dengan bapak kamu?" Wicky akhirnya membuka suara. Jully mengangguk.
"Yaahh kalau urusannya dengan bapakmu aku sih mundur pelan aja ya Jull, lain kali saja kita jalan." Setelah berucap itu Wicky berdiri dan berjalan kembali ke bangkunya sendiri.
"Emang sebenarnya ada apa sih tadi?" Tanya Rere kembali.
"Ntar aja Re aku ceritain, bentar lagi bell bunyi." Setelah Kansari mengatakan itu, benar saja bell tanda istirahat usai langsung berbunyi.
"Sar, ntar pulang sekolah ikut aku ke rumah sakit buat jenguk kak Wigih ya." Ajak Jully.
"Lha katanya tadi mau ada janji sama pak Budi tercinta?" Tanya Kansari bingung.
"Sengaja bohong, biar gak panjang urusannya." Jawab Jully.
"Ohh Okey dah, aku ngerti." Kansari mengacungkan jempol tangannya tanda setuju dan mengerti apa yang dimaksud Jully.
Tepat setelah itu seorang guru masuk ke dalam kelas mereka. Seisi kelas yang tadinya ramai hening seketika, semuanya fokus dalam memperhatikan pelajaran.
🍓🍓🍓🍓🍓
Saat ini Jully tengah berdiri di depan gerbang sekolah menunggu Kansari mengeluarkan motornya dari tempat parkir. Tangannya sedang memegang phonsel, dia sedang menghubungi orang tuanya jika hari ini dia harus pulang terlambat. Tiba-tiba sebuah motor berhenti tepat di depannya, namun itu bukan Kansari.
"Jully, kamu sedang menunggu siapa? Nunggu jemputan?" Rendi menghentikan motornya saat melihat Jully berdiri di depan gerbang sekolah.
"Kak Rendi? Ee... Ini lagi nunggu Kansari, rencana mau jenguk kak Wigih." Jawab Jully setengah terbata karena kaget melihat Rendi yang tiba-tiba sudah ada di hadapannya.
"Ohh kalian mau jenguk Wigih, sama dong... Aku juga mau ke sana, kita barengan saja." Ajak Rendi yang kebetulan juga mau ke tempat Wigih dirawat.
"Tapi nanti aku mau mampir dulu beli sesuatu buat kak Wigih, gak enak kan kalau jenguk orang sakit gak bawa apa-apa." Ucap Jully.
"Gak apa-apa kok, sekalian juga sejalan kan?" Balas Rendi.
"Ya udah deh kalau itu mau kakak, tapi kita nunggu Kansari dulu ya." Akhirnya Jully pun pasrah dengan ajakan Rendi, toh mereka tidak ada apa-apa.
Selang beberapa saat akhirnya Kansari datang dengan motornya. Dia sempat bingung mengapa ada Rendi di situ, namun setelah dijelaskan akhirnya dia mengerti dan merekapun berangkat menuju rumah sakit dimana Wigih dirawat.
Sesampainya di rumah sakit mereka langsung menuju ruangan tempat Wigih dirawat, ruangan tersebut berada di ruang VIP. Ini menandakan Wigih merupakan dari keluarga yang berada. Karena tidak mungkin dia berada di ruangan dimana semalamnya saja sudah cukup mahal, ditambah rumah sakit ini merupakan salah satu rumah sakit yang bisa dibilang terkenal cukup mahal. Karena rumah sakit ini termasuk rumah sakit terbaik di kota ini.
"Kak, ruangannya kak Wigih beneran di ruang VIP ya? Di sini kan terkenal mahal." Celetuk Kansari.
"Haha... Itu sih bukan masalah buat Wigih, papanya kan salah satu dokter specialist di rumah sakit ini." Ucapan Rendi akhirnya menjawab pertanyaan yang ada di pikiran Kansari maupun Jully. Pantas saja Wigih dikaruniai otak yang cerdas, itu adalah warisan dari papanya.
"Nahh ini ruangannya Wigih, masuk yuk! Mungkin di dalam sudah ada Nouval dan Daniel." Kata Rendi mengajak mereka untuk masuk ke dalam kamar inap Wigih, namun mendengar nama Daniel, Kansari tiba-tiba jadi blingsetan sendiri.
"Tunggu kak! Di dalam ada kak Daniel?" Tanya Kansari ragu.
"Seharusnya sih gitu, soalnya tadi kami sudah janjian tapi Daniel dan Nouval sudah berangkat duluan." Jelas Rendi. "Memang kenapa?" Tanya Rendi kemudian.
"Gak papa sih kak, jadi ramai dong kamar kak Wigih." Balas Kansari salah tingkah.
"Santai aja kali, mereka asyik kok, yuk..." Kata Rendi sembari tersenyum dan membuka knop pintu ruangan Wigih.
Kansari menengok ke arah Jully dan mengatakan "Gimana?" tanpa suara. Jully membisikkan sesuatu sebagai jawabannya, "Santai aja, anggap ini kesempatan buat kamu deketin kak Daniel." Mau tidak mau Kansari harus pasrah, toh sudah di depan mata mahu gimana lagi?
"Hai brow, gimana keadaannya?" Rendi langsung menyapa Wigih setelah lelaki itu masuk.
"Baik, ini juga ntar sore sudah boleh balik." Jawab Wigih.
"Ohh ya aku datang gak sendiri, aku sama..." Rendi menengok ke belakang namun tidak ada siapa-siapa.
"Lho... Mereka mana ya?" Rendi bingung yang ternyata tidak ada Jully dan Kansari di sana.
"Cari siapa Ren?" Tanya Wigih heran.
"Assalamu'alaikum..."
"Nah itu mereka." Tunjuk Rendi setelah mendapati Jully dan Kansari masuk ke dalam ruangan.
"Wa'alaikumsalam..." Jawab mereka berdua.
"Jully? Kamu jadi juga kesini." Wigih tak mengira jika Jully ternyata benar-benar datang untuknya. Tentu hal ini membuat hatinya senang.
"Iya kak, tadi kan sudah janji." Ucap Jully.
"Trus kok kalian bisa barengan gitu?" Tanya Wigih yang penasaran dengan Rendi yang datang bersama Jully. Padahal mereka datang bertiga bersama Kansari tapi mengapa terasa kepergok datang hanya berdua ya? Haha namanya cinta selalu ada bumbu yang namanya cemburu.
"Tadi gak sengaja ketemu di depan gerbang sekolah, katanya mereka mau jengukin kamu, ya sekalian saja toh tujuannya sama." Jelas Rendi.
"Owhh..." Balas Wigih singkat.
"Ohh ya Nouval dan Daniel mana? Tadi kan berangkat duluan ke sini." Tanya Rendi yang tidak melihat dua sahabatnya itu.
"Ada, tadi mereka keluar buat beli minuman, paling cuma sebentar. Tuhh dia..." Pintu terbuka dan masuklah Nouval yang seorang diri.
"Wahh sudah ramai saja di sini." Ucap Nouval yang melihat banyak orang di ruangan Wigih.
"Lho... Kamu sendiri? Daniel mana?" Tanya Rendi.
"Biasa... Nganter tuan putri pulang dulu ganti baju, habis itu balik ke sini." Jawab Nouval.
"Tuan putri?" Tanya Jully.
"Ohh itu adik aku." Jawab Wigih.
"Kak Daniel akrab ya sama adiknya kak Wigih." Ucap Jully lagi, sebenarnya Jully tahu kalau Kansari ingin menanyakan hal yang sama, namun sahabatnya itu entah mengapa jadi tak bisa berucap.
"Ya jelas dong, adiknya Wigih kan ceweknya Daniel."
Jedeerr!!
Jawaban Nouval barusan bagaikan kilatan petir bagi Kansari. Ternyata cowok incarannya itu sudah memiliki kekasih, adik Wigih pula. Sekarang apa kabar hatinya?
"Ka kak Daniel pacaran dengan adik kak Wigih?" Akhirnya Kansari membuka suaranya dengan terbata.
"Iya, mereka pacaran cukup lama saat adikku masih kelas dua SMP." Terang Wigih.
Kansari terdiam tak bisa berkata lagi, bibirnya kelu, kakinya terasa lemas, untung saja sedari tadi jully merangkul pundaknya sehingga tidak ada yang tahu kalu hampir saja dia merosot lemas.
"Hati... tolong baik-baik sajalah." Ucap Kansari dalam hati.
Bersambung...