Jully Mahardika

Jully Mahardika
Ep. 64 Ice Cream Strawberry



Saat ini mobil Wigih berhenti di depan sebuah restoran. Jully mengernyitkan dahinya ketika melihat lingkungan di daerah restoran itu.


"Kita makan di sini saja ya?" Kata Wigih menanyakan jika mungkin Jully tidak keberatan dengan tempat makan rekomendasinya.


"Kok aku ngerasa gak asing ya dok dengan restoran di depan sana ya?" Jully tidak menjawab justru menanyakan hal yang lain.


"Kamu baca dulu dong nama restorannya." Titah Wigih.


"Smile Cafe & Restaurant?" Baca Jully pada plang nama yang terpasang di atas bangunan restoran itu.


"Kok namanya gak asing? Mirip cafe langgananku sama teman-teman waktu sekolah dulu." Tutur Jully.


"Memang benar kan? Kamu gak ingat atau gak sadar kalau ini memang tempat yang sama? Coba lihat deh di sekeliling kamu, ini dekat sekali dengan SMA kita dulu." Ucap Wigih. Jully pun mengedarkan pandangannya di sekeliling tempat itu masih dari dalam mobil Wigih, karena memang mereka masih belum keluar dari mobil.


"Tapi dulu kaya gak sebesar itu deh tempatnya." Ujar Jully.


"Tentu saja, dulu kan hanya cafe kecil buat nongkrong anak-anak muda, tapi sekarang sudah berkembang menjadi restoran keluarga juga." Jawab Wigih menerangkan.


"Ohh pantes jadi lebih besar dan mewah." Sahut Jully.


"Memangnya kamu tidak pernah sekalipun kesini?" Tanya Wigih yang mendapat gelengan kepala dari Jully.


"Dulu waktu masih kuliah masih sesekali datang jika kebetulan sedang libur, itupun masih belum berubah seperti ini. Dan setelah bekerja aku jarang datang meski sekedar nongkrong saja sama teman-teman karena sibuk masing-masing, paling kalau kami ingin bertemu akan memilih tempat yang paling terjangkau dengan tempat kerja kami." Terang Jully mengingat betapa sulitnya dulu ia ketika ingin bertemu dengan sahabat-sahabatnya.


"Ya sudah, bisa kita masuk sekarang?" Tanya Wigih yang langsung diangguki oleh Jully. Merekapun keluar dari mobil dan masuk ke dalam restoran.


"Selamat datang... Maaf apakah anda sudah reservasi atau belum?" Tanya salah satu pelayan restoran itu setelah menyambut kedatangan mereka berdua.


"Belum." Jawab Wigih singkat.


"Baik, bisa saya bantu untuk memilihkan tempatnya? Untuk berapa orang?" Tanya pelayan itu lagi.


"Dua orang." Jawab Wigih.


"Baik silahkan anda ikuti saya, saya akan antar ke tempat duduk anda." Pinta pelayan tersebut dengan sopan. Wigih dan Jully pun mengikutinya sampai di sebuah meja untuk dua orang yang sangat manis dengan nuansa blue pink dan terdapat kolam ikan mini yang begitu apik dengan bunga-bunga cantik di sekelilingnya. Menambah suasana di sekitarnya terasa lebih hidup dan cerah meski di dalam ruangan malam itu.


"Silahkan memilih menu yang anda inginkan." Pelayan itu menyodorkan daftar menu setelah Jully dan Wigih duduk di kursinya.


"Kamu ingin pesan apa?" Tanya Wigih pada Jully.


"Saya ingin Spaghetti dengan saus Aglio e olio dan segelas Matcha Latte hangat." Jawab Jully setelah membolak balik daftar menu makanan di hadapannya.


"Saya juga Spaghetti tapi dengan saus Carbonara dan segelas Coklat panas." Kata Wigih pada sang pelayan yang sedang mencatat pesanan mereka. Si pelayan pun pergi setelah membacakan kembali pesanan mereka.


"Oh ya dok... Maaf saya mau ke toilet sebentar." Ujar Jully setelah pelayan tadi meninggalkan meja mereka.


"Ah mau aku antar?" Tawar Wigih.


"Tidak usah, saya bisa sendiri. Permisi." Tolak Jully cepat dan langsung berdiri dari duduknya pergi menuju toilet perempuan.


"Baiklah." Sahut Wigih sedikit canggung dan hanya bisa memandang punggung Jully yang semakin menjauh. Dia pun menghela napasnya setelah tubuh Jully berbelok ke arah toilet perempuan. Sebenarnya jantungnya saat ini tidak henti-hentinya berdegub kencang. Di dalam pikirannya kini sedang banyak sekali bermacam rangkaian kata yang dia susun untuk menghadapi Jully nanti. Wigih ragu apakah kata-kata yang ia siapkan akan bisa meluncur lancar keluar dari bibirnya. Atau malah akan mengacaukan malamnya bersama Jully hari ini? Selain kata-kata yang sudah ia susun rapi untuk Jully, kini dia juga berdo'a agar malamnya bersama Jully berakhir indah. Wigih pun mengangkat salah satu tangannya untuk memanggil pelayan di sana. Dia mengatakan sesuatu kepada pelayan tersebut, lalu pelayan tersebut mengangguk sebelum kembali pergi dari hadapan Wigih. Tak lama setelah itu Jully pun kembali ke tempat duduknya.


"Maaf, dokter harus menunggu lama." Ujar Jully.


"Tidak apa-apa, lagian pesanan kita juga belum datang." Jawab Wigih seraya tersenyum lembut.


Sebenarnya Jully pergi ke toilet merupakan sebuah alasan saja. Dia hanya ingin menghilangkan rasa gugupnya di hadapan Wigih setelah hampir satu minggu ini tidak bertemu. Namun senyuman Wigih barusan justru mengembalikan debar jantungnya yang bertalu-talu.


"Oh ayolah jantung... Kali ini saja turuti diriku untuk lebih tenang." Bisik Jully dalam hati.


"Jully..."


"Dok..."


Mereka berdua terkekeh bersama setelah tak sengaja mengeluarkan kata secara bersamaan.


"Silahkan dokter duluan yang bicara." Ucap Jully.


"Sebenarnya aku ingin bilang bisakah kamu tidak memanggilku dokter seperti saat ini?" Pinta Wigih dengan tatapan sendu.


"Tapi..."


"Kamu bisa memanggil Rendi dengan panggilan 'Kakak' kenapa aku tidak bisa?" Ujar Wigih memotong kalimat Jully dan itu sukses membuat Jully terperanjat kaget.


"Kenapa dokter bisa berkata seperti itu? Aku juga memanggil dokter Rendi dengan sebutan dokter juga." Kilah Jully.


Wigih menghela napas panjang sebelum mengatakan sesuatu.


"Jully, apakah kamu tahu? Hari ini aku keluar dari apartemenku dengan terburu-buru, menancapkan gas mobilku dengan perasaan gusar sepanjang jalan dan pada akhirnya aku sampai di depan pintu kantormu yang masih menyala. Aku menguatkan tekatku untuk masuk ke dalam dan pada saat aku melihatmu ada perasaan lega di hati ini. Ternyata pertemuan kita beberapa minggu yang lalu adalah nyata, karena setelah kamu meninggalkan Rumah Sakit, aku sempat takut kalau itu hanyalah mimpi." Ucap Wigih dengan tatapan yang sulit untuk diartikan, hanya saja ada kesedihan di sana.


"Dok..."


"Please Jully... Jangan panggil aku seperti itu, aku merasa ada jarak diantara kita jika kau memanggilku seperti itu." Ujar Wigih meminta.


"Tapi..."


"Rendi sudah menceritakan semuanya padaku." Potong Wigih lagi.


Jantung Jully seakan berhenti sesaat. Dia terlalu shock atas pengakuan Wigih baru saja.


"Kalau kak Rendi sudah menceritakan semuanya, apakah kak Rendi juga menceritakan tentang aku yang kembali ke masa lalu?" Gusarnya dalam hati.


"Maksud dokter gimana ya? Memangnya dokter Rendi mengatakan apa?" Tanya Jully hati-hati, dia tidak ingin bertindak ceroboh karena ia tidak tahu sampai mana Wigih mengetahui kebenarannya.


"Aku sudah tahu semuanya Jully, Rendi menceritakan semuanya tadi sore di telpon bahwa dari awal kamu tidak pernah kehilangan ingatanmu. Rendi juga menceritakan alasanmu berpura-pura itu semuanya karena aku. Jadi tolong Jully jangan berpura-pura lagi, jangan siksa aku lagi seperti ini." Tangan kanan Wigih terulur meraih jemari Jully, memohon pada wanita terkasihnya itu untuk mengakui perasaannya dan mengakhiri sandiwaranya.


"Aku... Aku minta maaf, awalnya aku memang tidak mengenali kakak karena kakak yang kini sangatlah berbeda dari penampilan kakak yang dulu dan ketika aku sudah mengingatnya aku merasa bingung harus bagaimana caranya menghadapi kakak. Aku hanya tidak ingin kecewa lagi." Ungkap Jully menundukkan kepalanya, ada penyesalan di dalam hatinya. Dia tidak tahu jika Wigih memikirkan dirinya sedalam itu.


"Apakah kamu beranggapan bahwa aku akan membuatmu kecewa bahkan melukaimu?" Tanya Wigih sedikit terluka.


"Siapa yang tahu? Kita sudah lima belas tahun lamanya tidak bertemu, siapa yang menjamin kak Wigih masih sendiri? Mungkin saja kakak sudah punya kekasih bahkan menikah." Seru Jully membela dirinya.


Wigih meraup wajahnya kasar, mencoba mengatur nafasnya yang tak beraturan sebelum mengeluarkan suaranya lagi.


"Aku mengerti kecemasanmu, tapi paling tidak kamu bisa menanyakannya terlebih dahulu padaku Jully sebelum kamu melakukan dramamu ini. Tahukah kamu betapa shock dan frustasinya aku ketika mengetahui jika kamu tidak mengenaliku lagi? Itu sungguh menyiksaku Jully." Ucapan Wigih meski terdengar pelan namun terasa menekan di hati.


"Maaf... Aku terlanjur bilang tidak mengenali kakak di awal pertemuan kita dan di saat aku sudah ingat, aku terlalu malu untuk mengakuinya langsung." Ungkap Jully penuh penyesalan.


"Jully, angakat wajahmu." Titah Wigih. Jully pun perlahan mengangkat wajahnya, terlihat matanya mulai memerah. Dia menahan air mata yang mungkin bisa lolos dari matanya kapan saja.


"Apakah kamu mempunyai perasaan padaku Jully? Bukan sebagai senior-junior ataupun sebagai teman namun perasaan sebagai lelaki dan wanita?" Tanya Wigih lembut dengan pandangan yang tak lepas dari Jully.


"Bagaimana dengan kak Wigih sendiri?" Tanya Jully balik tanpa menjawab pertanyaan Wigih.


"Aku mencintaimu Jully, dari dulu hingga sekarang perasaan itu tetap sama. Dan sekarang bagaiman dengan kamu?" Ungkap Wigih yang akhirnya bisa mengatakan kata-kata keramat itu pada Jully. Air mata Jully kini benar-benar luruh, dia terisak lirih.


"Kenapa kakak tidak mengatakan dari dulu? Kenapa kakak harus mengatakannya sekarang? Aku sudah menunggunya dari dulu. Tahukah kakak juga menyiksaku selama ini?" Air mata Jully tidak bisa berhenti setelah mengatakan semua sesak di hatinya.


"Maaf... Aku yang salah Jully, dari awal aku yang salah, tak sepantasnya aku protes padamu, semua yang kamu lakukan aku menganggap itu adalah hukumanku." Wigih meraih kembali jemari Jully yang bergetar, mengecupnya lembut berkali-kali.


"Lalu... Apakah aku bisa mendengar jawaban atas perasaanku?" Tanya Wigih sambil menyeka air mata Jully dengan salah satu tangannya sementara tangan lainnya masih menggenggam erat jemari Jully. Jully menatap lekat pria di hadapannya lalu tersenyum hangat dengan wajah sembabnya itu ia berkata....


"Aku tahu semua surat yang datang ke mejaku ketika kita masih SMA itu dari kakak, bukan dari Wicky. Namun semuanya terlambat karena waktu itu kakak sudah meninggalkan sekolah karena sudah lulus dan aku tidak tahu harus mencari kakak ke mana. Seandainya aku tahu jika Ernita itu adiknya kak Wigih, mungkin semuanya akan lebih mudah dulu. Aku juga mencintai kak Wigih, bisakah kakak tidak menghilang lagi sekarang?" Akhirnya Jully bisa mengakui juga perasaannya pada mantan Ketosgannya itu. Raut bahagia tidak bisa disembunyikan lagi dari wajah tampan Wigih, laki-laki itu mengecup berkali-kali jemari Jully seraya mengucapkan terimakasih berulang kali.


"Jadi? Apakah sekarang kita resmi pacaran?" Tanya Wigih dengan tatapan mengharapnya pada Jully.


"Apakah baru saja kakak menembakku? Sungguh, benar kata kak Rendi... Kakak kurang peka dan tidak romantis." Sungut Jully lalu melepaskan tangannya dari genggaman Wigih, berlagak merajuk untuk menggodanya saja.


"Apa?!" Seru Wigih melongo dengan ucapan Jully.


"Bahkan kata kak Rendi cara kakak yang menaruh surat di bawah laci mejaku itu terlalu kuno." Ujar Jully sengaja menyulut emosi Wigih. Biar saja, toh nanti yang akan kena marah adalah Rendi. Paling tidak itu yang ada di benak Jully, dia ingin Rendi kena semprotan mulut pedas Wigih, anggap saja itu hukuman karena Rendi telah membocorkan rahasianya.


"Ap..apa??! Rendi bilang seperti itu?!" Seru Wigih yang mulai terpancing dan Jully hanya mengangguk.


"Awas saja besok jika aku ketemu dia." Geram Wigih dengan nada suaranya yang rendah namun menekan.


Tak lama kemudian pelayan datang membawakan pesanan mereka.


"Terimakasih sudah menunggu, ini pesanan anda. Selamat menikmati." Ucap pelayan itu sambil meletakkan satu persatu pesanan mereka dan berlalu pergi setelah semua telah tersaji.


Jully menatap bingung dengan makanan yang ada di hadapannya. Ada semangkuk ice cream berwarna pink dengan saus strawberry dan sebuah strawberry besar di tengahnya.


"Lho kak, ini gak salah naruh pesanan orang? Kita kan gak pesan ice cream." Kata Jully yang merasa pesanannya ada yang salah.


"Enggak kok... Ini memang aku yang pesan pas kamu pergi ke toilet." Jawab Wigih sambil tersenyum. Jully yang masih bingung hanya bisa diam sambil kedip-kedip mata saja.


Wigih menyodorkan ice cream strawberry itu pada Jully.


"Jully Mahardika... Maukah kamu menerimaku menjadi kekasihmu?" Ucap Wigih dengan semangkuk ice cream strawberry di tangannya.


"Ppfft... Baiklah, karena kakak sudah mencoba romantis... Aku akan menerimanya." Jawab Jully seraya meraih ice cream strawberry yang ada ditangan Wigih dengan senyum yang masih dikulum.


"Lalu... Apa sekarang aku boleh panggil kamu 'Sayang'?" Tanya Wigih.


"Hahh??"


Bersambung....


🍓


🍓


🍓


NB: Please ya Dokgan.... Bucin boleh tapi jangan nglunjak. 😂😂😂😂


Rendi: Hajjtcimm!! Kok tiba-tiba dingin ya? jadi merinding... 😨🤧



Duuhh... Mbak Jully jangan nangis lagi, kan udah jadian sama bang Dokgan... hehe...