Jully Mahardika

Jully Mahardika
Ep. 35 Satu Kebenaran



Akhirnya Kansari memutuskan untuk pulang setelah hati dan pikirannya tenang. Dia bertekat setelah ini dia tidak akan memikirkan Daniel lagi. Kansari percaya suatu saat nanti dirinya akan menemukan seseorang yang benar-benar hadir hanya untuk dirinya. Benar apa yang dikatakan Jully, dirinya harus bersyukur mengetahuinya lebih awal sebelum dirinya semakin terjerat oleh pesona seorang Daniel. Hari ini merupakan hari yang melelahkan bagi Jully namun disatu sisi ia mendapatkan kebenaran yang mungkin dulu tertutupi dan tidak bisa terlihat olehnya di masa yang lalu. Apa yang terjadi di masa ini benar-benar berbeda dengan apa yang terjadi saat itu. Mungkin ini terjadi karena dia kembali ke masa ini atau mungkin perubahan kecil yang dia buat menjadi suatu perubahan besar di masa ini. Tapi ini justru menjadi sangat menarik baginya, suatu hal yang tidak ia ketahui perlahan terkuak dengan sendirinya.


Malam ini di kamarnya Jully tengah duduk di kursi belajarnya, mengerjakan tugas sekolah yang lumayan banyak, tinggal satu soal lagi maka dia akan menyelesaikan semuanya. Setelah menyelesaikan semua tugasnya Jully membereskan lalu memasukkan buku-bukunya ke dalam tas sekolahnya. Dia ingat buku catatan yang dikembalikan Wicky tadi siang, itu adalah catatan Bahasa Indonesia. Dia mengambil buku tersebut, dia berniat untuk membacanya sebentar. Jully membolak balik lembar demi lembar bukunya itu hingga pada halaman terakhir catatannya. Namun apa yang dia lihat di sana? Pada halaman terakhir catatannya ada tulisan Wicky di bawahnya. Disana tertulis "Terimakasih dari cowok ganteng" dengan gambar wajah kartun cowok sedang tersnyum, dasar gak jelas banget anak itu.Tapi gara-gara itu Jully jadi teringat dengan memo yang tertempel di juice strawberry yang ia terima beberapa hari belakangan ini. Sungguh Dewi Fortuna telah berpihak padanya, sebenarnya dia berniat mengambil sample tulisan Wicky untuk dicocokkan dengan tulisan Mr.W. Akan tetapi siapa yang sangka Wicky justru meninggalkan jejak tulisannya di buku catatan Jully. Jully segera mengambil memo dari Mr.W yang ia simpan di laci meja belajarnya dimana di sana juga ada semua surat dari Cancer Boy yang pernah dia terima. Saat mencocokkan tulisan Mr.W dengan tulisan Wicky betapa terkejutnya Jully karena tidak ada satupun gaya tulisan mereka yang sama.


"Aneh, mengapa tulisan mereka tidak mirip sama sekali? Bukankah mereka adalah orang yang sama?" Jully bergumam sendiri menanyakan satu hal yang tidak bisa ia pahami saat ini.


"Tapi aku sangat yakin tulisan dari Mr.W ini tidaklah asing. Aku pernah melihatnya dimana ya?" Jully masih berbicara sendiri sambil mengingat ingat dimana ia melihat tulisan yang begitu mirip dengan tulisan Mr.W itu. Hingga matanya memandang laci mejanya yang masih terbuka, pandangannya bersiroboh dengan amplop biru muda yang tersimpan di sana. Dan Jully langsung mengambil amplop yang berisi surat itu seakan dia tengah mengingat seauatu. Jully membuka isi amplop itu dengan tidak sabar. Betapa dia dikejutkan lagi setelah melihat tulisan yang ada di dalam surat-surat itu, setelah dicocokkan dengan tulisan Mr.W ternyata tulisan tersebut 100% cocok!


"Jadi selama ini Mr.W dan Cancer Boy adalah orang yang sama? Mengapa aku begitu bodohnya hingga tidak menyadari hal ini dari awal?" Gumamnya masih tidak percaya tentang kebenaran ini.


"Dan Wicky? Kenapa dia harus melakukan kebohongan macam ini?" Banyak pertanyaan yang ada dibenak Jully saat ini. Mengapa lelaki misterius yang hadir dalam hidupnya ini harus melakukan hal sejauh ini? Mengapa juga harus menggunakan nama yang berbeda jika mereka adalah orang yang sama? Banyak hal yang harus dia cari tahu kebenarannya, meski satu teka teki telah terpecahkan, namun hal ini masih belum cukup untuk mengetahui siapa sebenarnya lelaki misterius itu. Jully mengambil kotak kecil yang ia simpan di laci mejanya, dia membuka dan mengeluarkan isinya. Itu gelang pemberian Cancer Boy. Jully memandang gelang yang terdapat inisial namanya itu.


"Haruskah aku memintanya untuk bertemu dan menanyakan langsung?" Jully berbicara dengan memandang lekat gelang tersebut.


Jully sudah tidak bisa berfikir apa-apa malam ini. Hari ini sungguh sangat melelahkan baginya dan akhirnya dia memutuskan untuk tidur karena mahu bagaimanapun dia paksakan untuk berfikir, dia tidak akan menemukan jawabannya. Dan matanya sudah sangat mengantuk.


Esok harinya Jully berangkat ke sekolah dengan Kansari seperti biasanya. Dia lihat Kansari sudah kembali ceria seperti biasanya, meski dia masih melihat sisa-sisa bengkak di matanya. Pasti tadi malam Kansari menangis lagi. Namun Jully tidak menyalahkannya dan tidak berusaha menanyakannya, karena hal semacam itu sangatlah lumrah bagi seorang yang baru saja patah hati. Tidak perlu menanyakannya karena hal itu akan membuat Kansari mengingatnya kembali. Untuk saat ini biarlah Kansari berdamai dengan hatinya sendiri, tak perlu dirinya atau siapapun mencampurinya. Disaat mereka berdua berjalan menuju kelas, Jully melihat di depannya Aleando sedang berjalan yang pastinya dia juga menuju ke kelas.


"Sar, bentar ya aku ada urusan dengan Aleando, kamu duluan saja ke kelas." Kata Jully yang kemudian langsung meninggalkan Kansari dan mengejar Aleando yang berada agak jauh di depannya.


"Ehh Jull kamu ma...u..." Belum sempat Kanasari menyelesaikan ucapannya Jully sudah berteriak duluan.


"Nanti saja aku ceritakan!"


Jully berhasil mengejar Aleando dan langsung menyeret lengan lelaki itu untuk mengikuti kemana dia melangkah.


"Le, kita perlu bicara! Ikut aku sebentar!" Titahnya.


"E.. ee..eh Jull, kok tiba-tiba nyeret aku kaya gini? Bikin kaget saja!"


"Udah diam dulu!"


"Udah ikutin saja dulu, jangan cerewet!


Tidak tahu harus berbuat apa dan tidak tahu apa yang diinginkan Jully darinya, akhirnya Aleando hanya bisa pasrah mengikuti kemana Jully melangkah. Ternyata itu mengarah ke kantin sekolah.


"Ealahh Jull... Bilang dong kalau mau ngajak sarapan, pakai acara seret menyeret segala. Malu ya mau ngajak duluan?" Ucap Ale yang terlanjur kelewat PeDe, maklumlah dia kan satu seperguruan dengan Wicky manusia narsis, sok kecakepan dan kepedean tingkat akut itu. Jadi Jully tidak kaget lagi.


"Idihh kepedaan situ bang?" Cibir Jully.


"Lha lalu untuk apa kita ke kantin kalau bukan untuk makan, minum, jajan sama kencan? Hehe..." Jully memutar bola matanya jengah mendengar ucapan Ale barusan.


"Kamu kalau mau makan, makan saja, mau minum, minum saja, mau jajan, jajan aja, mau kencan? Jangan ngimpi! Kita ke sini bukan untuk itu." Ujar Jully dengan pandangan serius.


"Kita ke sini karena aku ingin menanyakan tentang apa yang aku minta padamu beberapa hari yang lalu." Lanjut Jully kemudian.


"Tentang?" Tanya Ale yang mengernyitkan matanya dengan pandangan yang tak kalah serius dengan Jully.


"Tentang Wicky! Jangan bilang kamu lupa Le?" Ucap Jully tegas.


"Ahh tentang itu maksudmu, tentu aku masih ingat." Jawab Ale setelah mengerti apa maksud Jully.


"Lalu hasilnya?" Tanya Jully.


Aleando menggeleng.


"Tidak, itu bukan Wicky, dia telah membohongimu." Jawab Ale pada akhirnya.


Huff... Jully menghela napas panjang, sungguh dia begitu lelah saat ini. Lelah harus bagaimana lagi menghadapi lelaki itu? Lelaki yang pernah menyambangi hatinya. Ahh bukan itu perasaannya dulu dan entah mulai kapan rasa itu berubah tak lagi sama. Apakah waktu itu dia menyukai orang yang salah?


Bersambung...