
Di stadium basket pertandingan antara tim Biru dan tim Kuning sedang berlangsung. Suasana di dalam stadium basket sangatlah riuh, saat ini pertandingan berjalan dengan sangat sengit, kedua tim sama-sama kuat. Para penonton meneriaki nama dari tim yang mereka dukung untuk memberi semangat. Begitu pula para anggota cheers memberi semangat dengan yel-yel dan gerakan energik.
"Kak Daniel... yuhhuuu fighting !" Sorak Kansari girang sambil loncat-loncat. "Kak Wigih... Maju teruuss!" Teriaknya lagi.
"Hey Sarsar! Kamu itu bela tim siapa sih sebenarnya?" Tanya Ningsih heran dengan kelakuan aneh sahabatnya yang satu ini.
"Dua-duanya, biar adil, mereka sahabatan." Jawab Kansari polos.
"Ya gak bisa dong, harus pilih salah satu. Di dalam pertandingan itu gak ada yang namanya sahabatan, semuanya harus sportive !" Ningsih menjelaskan.
"Terserah aku dong... Wleekk!" Ujar Kansari sembari menjulurkan lidahnya ke arah Ningsih kemudian kembali fokus ke arah pertandingan dan bersorak serta menepuk-nepuk tangannya.
"Sabar-sabar... Untung teman." Ningsih hanya bisa mengelus dadanya menghadapi tingkah absurd Kansari sedangkan Rere dan Jully yang melihat dan mendengarnya hanya bisa tertawa dengan kekonyolan mereka berdua.
"Wigiihhh...! Semangat...! Y****uhhuuu... "
"Busyeet! Siapa tuh yang teriak?" Tanya Ningsih seraya mengorek telinganya yang masih mendengung.
"Tuh nenek lampir!" Tunjuk Kansari. "Gak nyangka cantik-cantik suaranya toa banget, suara satu stadium sampai kalah." Lanjut Kansari dengan geleng-geleng kepala.
"Sama kali Sar dengan kamu." Ini Jully yang ngomong.
"Ihh... Bebeb Jully kok gitu sih?" Ujar Kansari merajuk. "Kalian juga merasa begitu?" Tanya Kansari pada Rere dan juga Ningsih yang diangguki langsung oleh mereka.
"Ihh... Jahat!" Nah kan tambah merajuk, sedangkan yang lain hanya menghela napas. Punya sahabat seperti Kansari ini musti banyak sabarnya. Akhirnya mereka berempat kembali fokus pada pertandingan.
Skor masih sama, kedua tim memang benar-benar tim yang sama tangguh. Skor tim Biru dan Kuning saling menyusul satu sama lain sampai waktu pertandingan habis skor mereka seri. Akhirnya dilakukan pertandingan overtime atau perpanjangan waktu. Para penonton sudah dibuat gemes dengan pertandingan ini, berharap tim jagoan merekalah yang menang. Terlihat Wigih dan Rendi bergantian memasukkan bola kedalam ring basket, mencetak point untuk timnya masing-masing. Di menit terakhir Wigih berlari mendekati ring lawan lalu melompat mencoba melakukan lay-up. Penonton yang menyaksikan itu sampai menahan napasnya, gerakan yang mereka lihat seakan berubah menjadi slow motion dan yakk! Shooting ! Bola akhirnya masuk ke dalam keranjang. Peluit tanda permainan selesai berbunyi disertai teriakan riuh para penonton menggema diseluruh stadium. Namun sungguh kesialan bagi Wigih dia tidak fokus saat mendaratkan lagi kakinya ke lantai dan akhirnya malah terkilir.
"Awh!" Rintihnya, dia terduduk sambil memegang pergelangan kaki kanannya yang terasa begitu nyeri.
"Brow, akhirnya kita menang juga!" Ucap Nouval menghampiri Wigih dengan hati yang gembira oleh kemenangan mereka.
"Lho brow kamu kenapa? Kok seperti kesakitan begitu?" Nouval bertanya sembari menelisik ke tubuh Wigih yang kini duduk berselonjor dengan kaki kanan ditekuk.
"Kakiku sepertinya terkilir saat mendarat terakhir kali deh." Jawab Wigih sambil memegang kaki kanannya.
"Astaga... Kok sampai gak hati-hati kamu Gih." Ujar Nouval sambil memeriksa kaki Wigih yang cidera.
"Hai kalian berdua masih betah aja selonjoran di sini, kalau ngaso di kantin sono!" Ucap Rendi yang datang menghampiri bersama Daniel.
"Oh ya selamat ya buat kemenangan kalian, sayang cuma beda dua point aja." Tambah Daniel.
"Iya makasih, tapi ceritanya lanjut nanti aja, nih si Wigih kakinya terkilir." Ujar Nouval yang menunjuk ke arah kaki kanan Wigih.
"Kok bisa sih brow?" Tanya Rendy dan Daniel hampir bersamaan.
"Ya bisalah! Udah deh ntar aja critanya, bantuin minggir dulu gih!" Ucap Nouval gusar.
"Ii iya, yok!" Rendi langsung membantu Nouval memapah Wigih ke tepi stadium.
Dari jarak yang tidak begitu jauh, Jully dan ketiga temannya melihat semua kejadian itu.
"Ehh kenapa tu kak Wigih?" Tanya Rere penasaran.
"Mana kita tahu Re, kita kan sama-sama disini." Jawab Ningsih.
"Sepertinya kak Wigih cidera deh guys." Jully berkata dengan pandangan yang tetap mengarah ke arah Wigih.
"Hah serius? Samperin yuk!" Ajak Kansari dan tanpa pikir panjang mereka berempat langsung menuju dimana Wigih dan teman-temannya berada.
"Maaf kak, apa yang terjadi?" Tanya Jully setelah berada diantara kerumunan Wigih.
"Oh Jully, ini..." Belum sempat Rendi menjawab tiba-tiba ada suara yang memotong.
"Hai guyss... Selamat ya buat kemenangan kalian." Anita datang membelah kerumunan dengan senyum mengembang di bibirnya.
"Udah, acara selamatannya nanti aja, nih Wigih kakinya terkilir." Nouval berucap.
"Oh My God Wigih! Mana yang sakit? Ini? Atau ini?" Anita begitu heboh sendiri saat mengetahui Wigih cidera sampai tidak sengaja menyentuh bagian kaki Wigih yang sakit.
"Gih, maaf gak sengaja." Anita langsung tercengang mendengar suara tinggi Wigih, dia melangkah mundur dan berucap maaf dengan lirih.
"Mangkanya kalau belum tahu apa-apa jangan grusa-grusu." Omel Wigih membuat Anita tidak bisa bicara apapun. Dia tak menyangka Wigih akan memarahinya di depan banyak orang.
"Udah gih, jangan emosi, banyak orang di sini" Rendi mengingatkan dengan setengah berbisik.
"Nit, mending kamu ikut aku cari salep atau minyak urut buat Wigih." Ajak Rendi pada Anita, sementara dia harus menjauhkan gadis itu dari jangkauan Wigih.
"Ii iya, yuk!" Jawah Anita terbata lalu melangkah pergi mengikuti langkah Rendi yang berada di depannya.
Jully dan yang lainnya tidak menyangka, lelaki sekalem Wigih ternyata serem juga kalaun pas lagi marah.
"Gih, mending lepas dulu deh sepatunya, biar bisa dilihat seberapa parah." Suruh Daniel yang diiyakan oleh Wigih, kemudian Daniel membantu melepas sepatu dan kaus kaki Wigih dengan hati-hati. Dan ternyata cideranya lumayan parah, kaki Wigih begitu merah dan mulai membengkak.
"Wahh Gih ini lumayan parah lho..." Ucap Daniel.
Jully yang melihat itu langsung merasa ngilu meski bukan dirinya yang merasakan. Ia pun teringat salep yang diterimanya dari Rendi melalui Kansari, beruntung dia menyimpannya di saku roknya saat itu dan masih ada di sana saat ini. Dia langsung merogoh saku roknya dan mengekuarkan katong kecil berisikan salep untuk luka terkilir.
"Maaf kak, mungkin ini bisa membantu untuk sementara." Jully langsung menyodorkan salep tersebut dan diterima oleh Daniel.
"Ahh pas banget, ini akan membantu paling tidak mengurangi nyeri dan bengkaknya." Daniel langsung membuka bungkus dan tutupnya lalu mengoleskannya pada kaki Wigih.
"Tahan Gih." Ucap Daniel yang diangguki oleh Wigih.
"Aah.. aaahhh!! Pelan Niel!" Wigih berteriak kesakitan.
"Tahan dikit napa Gih, kaya bocah aja." Seloroh Nauval.
"Kamu sih gak ngrasain, coba kamu diposisi aku pasti udah girap-girap." Ucap Wigih sedikit dongkol.
"Iye iyeee." Diiyain saja oleh Nouval, ketimbang kena omelannya pak Ketos.
Jully yang melihat Wigih jejeritan seperti itu merasa kasihan. Dia sampai meringis-meringis sendiri seolah ikut merasakan sakitnya. Mana muka merah sampai keringetan kaya gitu. Pasti sakit banget rasanya, kemarin saja dirinya yang hanya keram kaki saja sakitnya gak ketulungan, gimana kalau terkilir seperti itu?
"Nah sudah selesai, semoga habis ini lebih mendingan." Daniel akhirnya sudah selesai mengobati dan Wigih bisa bernapas lega.
"Thanks ya brow." Ucap Wigih sambil menepuk lengan Daniel yang tengah duduk di sampingnya. Kemudian Wigih menengok ke sampang sisi lain di sebelahnya dimana Jully berada.
"Makasih ya Jull untuk salepnya."
"Sama-sama kak." Balas Jully seraya tersenyum.
"Tapi, ehem... Tenggorokanku kering banget, haus, ini buat aku saja ya?" Wigih langsung menyambar botol air mineral yang ada di tangan Jully.
"Ehh tapi kak itu..." Belum sempat Jully meyelesaikan kalimatnya Wigih sudah terlanjur meneguk air mineral yang tinggal separuh itu dengan rakus hingga tandas.
"Itu bekas aku minum tadi..." Jully melanjutkan ucapannya dalam hati. Sedangkan Kansari yang melihatnya hanya bisa menahan senyum.
"Aku juga jadi haus gara-gara sepaneng lihat kamu Gih." Kata Nouval mengelus tenggorokannya.
"Kakak mau minum?" Rere langsung menawari air mineral yang belum diminumnya kepada Nauval.
"Serius? Boleh buat aku nih?" Rere mengangguk dengan wajah yang masih datar-datar aja, namun Nouval menanggapinya dengan sumringah dan menerima botol minuman itu.
"Ehm...Kak Daniel haus juga? nih Sari bawain minum juga buat kakak." Tawar Kansari dengan gaya sok imutnya membuat Daniel tertawa lirih namun tetap menerima tawaran Kansari, toh dirinya memang haus.
"Makasih ya Sar." Balas Daniel dengan senyumannya yang akan membuat Kansari susah tidur nanti malam.
"Ehm.. ehmm! Apes aku gak ada pasangan." Ucap Ningsih nelangsa. Sabar ya Ning, jodohmu masih jauh.
Sedangkan Jully, masih terbayang-bayang disaat Wigih meneguk air mineralnya. Dengan jakun yang naik turun sungguh seksinya, membuat diri Jully tanpa sadar memegang bibirnya sendiri, dan berucap lirih.
"Itu tadi ciuman tak langsung kan? "
"Hahh apa Jull?"
Bersambung...