
"Tahu gak Jull? Kita sudah kena semprot Rere habis-habisan setelah dapat kabar kamu kecelakaan." Adu Ningsih.
"Iya beb... Rere sudah kaya mak-mak tiri ngomelin kami berdua, apalagi setelah dapat kabar bahwa kamu koma Rere makin serem aja mukanya." Tambah Kansari dengan muka manyun sambil melirik ke arah Rere. Rere pun mendesah panjang.
"Mereka tuh musti diomeli dulu baru bisa sadar, kalau kamu gak kena musibah seperti ini mana mungkin mereka sadar, sorry Jull bukan maksud aku senang kamu seperti ini." Ungkap Rere yang membikin Ningsih dan Kansari menunduk malu menyadari bahwa disini mereka memang salah.
"Maaf ya Jull... Kami memang sedikit egois, kami selalu menghindarimu dengan alasan sibuk dengan keluarga dan pekerjaan." Ucap Ningsih jujur.
"Tapi nyatanya jalan-jalan sendiri sama teman-teman baru, arisan inilah itulah." Sindir Kansari pada Ningsih.
"Kamu nyindir aku Sar? Bukankah kamu juga gitu?! Kemarin saja baru pamerin foto jalan-jalan shopping sama genk ibu-ibu sosialita kamu itu." Ningsih menyerang balik Kansari yang langsung melengos karena nyatanya memang seperti itu.
"Baru saja kalian terlihat menyesal, eeh sekarang sudah saling adu mulut, ckckk." Rere berdecak tidak habis pikir dengan kedua sahabatnya itu.
"Pfft... Haha..." Jully tiba-tiba tertawa.
"Kamu kenapa beb tertawa seperti itu? Habis koma kamu gak kesambet kan?" Ujar Kansari bergidik ngeri.
"Huss ngawur! Ya gaklah! Aku tertawa karena adu mulut kalian, paling tidak hal inilah yang tidak berubah dari kalian berdua." Ungkap Jully dengan bibir yang masih menyunggingkan senyuman.
"Ahh Jully... Aku kan jadi malu." Ningsih menutup sebelah wajahnya dengan sebelah telapak tangannya.
"Iya ni beb... Bikin aku tersipu deh." Sahut Kansari dengan nada manjanya yang tidak pernah berubah.
"Ehhm..."
Terdengar suara deheman dari arah belakang mereka. Saat semua menoleh ke arah sumber suara ternyata di sana masih berdiri Wigih dengan canggungnya.
"Ehh... Ada Dokgan di sini, maaf kurang peka karena fokus sama Jully." Ucap Kansari cengengesan lihat orang ganteng apalagi status profesinya sebagai dokter, langsung deh...ini merupakan salah satu sifat dia yang tidak berubah.
"Apa itu Dokgan?" Tanya Ningsih setengah berbisik pada Kansari.
"Dokter Ganteng!" Jawab Kansari dengan sedikit berbisik pula, meski demikian perkataan mereka masih bisa didengar oleh seisi ruangan tersebut. Dan mereka yang mendengarnya hanya bisa geleng kepala, sementara Wigih hanya bisa menahan tawanya agar tidak keluar setelah melihat tingkah absurd kedua sahabat Jully itu.
"Hadeewh kebiasaan lama emang susah hilang." Balas Ningsih.
"Maaf dok, kedua teman saya memang sedikit kurang @$#!$*# hehe..." Ucap Rere sambil komat kamit tanpa suara diakhir kalimatnya dengan sedikit malu akan tingkah laku Kansari dan Ningsih.
"Hahaa...tidak apa-apa, santai saja." Jawab Wigih yang akhirnya tidak bisa menahan tawanya.
"Re, barusan kamu ngomong apa sama Dokgan?" Tanya Kansari memicingkan matanya curiga."
"Ngomong apa? Orang gak ngomong apa-apa juga." Elak Rere sambil melengos menghindari tatapan Kansari.
"Bikin curiga saja." Ujar Kansari.
"Apaan sih? Mending dengar dulu pak dokter bilang apa, jangan rusuh sendiri." Sahut Rere mengalihkan pembicaraan.
"Ohh ya Dokgan tadi mahu bicara apa? Maaf dengan dokteerr..." Tanya Kansari yang mampu teralihkan juga.
"Wigih, saya dokter Wigih Sasongko. Saya cuma mahu pamit dulu, sepertinya anda sekalian sangat senang karena nona Jully sudah berangsur membaik, cuma sekedar mengingatkan untuk tidak terlalu memaksa sesuatu hal yang membikin nona Jully berpikir terlalu keras, karena untuk saat ini tidak baik untuk syaraf otaknya." Wigih kembali dengan mode formalnya untuk mewanti-wanti agar mereka lebih berhati-hati saat bicara dengan Jully.
"Baik dok, kami akan mengingat hal itu." Jawab Rere yang disini lebih memiliki pikiran yang lebih waras ketimbang duo KN (Kansari Ningsih).
"Kalau begitu saya pamit dulu." Pamit Wigih yang diiringi ucapan terimakasih secara serempak dari mereka yang ada di dalam kamar inap Jully. Namun disaat Wigih berbalik melangkah pergi secara bersamaan ada dua lelaki yang masuk ke kamar Jully dan otomatis langkah Wigih terhenti di sana.
"Ada tamu yang lain ternyata." Ucap Wigih sarkas ketika melirik ke salah satu dari lelaki tersebut membuat Jully dan ketiga lainnya melihat ke arah pintu dimana sudah ada dua lelaki masuk ke kamar inapnya berdiri mematung.
"Ahh maaf saya harus permisi sekarang, banyak pasien yang menunggu." Lanjut Wigih ketika melewati kedua lelaki tersebut dan melangkah pergi dari sana.
"Ale... Wic..Wicky?" Ucap Jully tersendat saat melihat siapa yang datang menemuinya.
"Haii Jull, long time no see." Sapa Wicky dengan senyum khasnya.
"Iya, lama tidak berjumpa dan kelihatannya kamu terlihat lebih bahagia sekarang." Balas Jully dengan sedikit menyindir.
"Ahh itu..." Wicky menggantung kalimatnya dan seakan salah tingkah mendengar sindiran Jully.
"Heeii apa kamu tidak menyapaku Jully? Aku sungguh khawatir padamu." Sungut Ale menyela pembicaraan mereka berdua.
"Tentu saja kamu harus khawatir, selama ini kamu kan sering mengabaikanku padahal aku kan teman yang paling mengerti dirimu Ale." Sahut Jully sarkas dengan melipat kedua lengan tangannya di depan dada berpura-pura sewot.
"Iya, iya... Sorry. Ohh ya aku bawa ini untukmu." Ale menyerahkan sebuah paper bag kepada Jully.
"Apa ini?" Tanya Jully penasaran dan sementara mengabaikan beberapa temannya yang lain di situ.
"Bubur special." Jawab Ale dengan senyum bangganya.
"Bubur? Kenapa harus bubur lagi? Di sini aku sudah terlalu banyak makan bubur sampai terasa eneg di mulutku." Sungut Jully.
"Hei jangan salah, ini bubur Manado super enak dengan kuah soto super lezat special buatan ibuku." Jelas Aleando kemudian.
"Sungguh ini ibumu yang buat? Waahh pasti enak." Mata Jully berbinar saat tahu bubur itu buatan ibunya Aleando.
"Tentu saja!" Jawab Ale bangga.
"Waahhh hebat! Kamu menyuruh ibumu memasak? Kenapa tidak kau suruh istrimu saja?! Dasar anak tidak tahu diri!" Kata Ningsih tidak habis pikir.
"Bukan begitu... Itu keinginan ibuku sendiri, kalian tahu kan seberapa dekatnya ibuku dengan Jully seperti anaknya sendiri, kemarin saja ketika tahu keadaannya Jully dia menangis tanpa henti. Tadi saja dia ingin ikut aku kemari kalau tidak mengingat harus menjaga cucu-cucunya yang nakal saat kami bekerja, makanya ibuku hanya bisa menitipkan itu pada Jully." Aleando menjelaskan panjang lebar prasangka dari Ningsih.
"Sudah-sudah...yang jelas aku sangat berterimakasih, tolong sampaikan kepada ibumu aku akan menghabiskan semuanya seorang diri." Ucap Jully menengahi mereka yang mungkin sebentar lagi akan bermain perang-perangan pakai mulut.
"Ehmm... Jull, aku sangat bersyukur kamu kembali membuka mata dan berangsur pulih. Terimakasih karena kamu sudah bertahan sampai saat ini." Kata-kata Wicky padanya itu terdengar ambigu di telinga Jully. Bertahan? Jully tidak bisa mengartikan kata itu sebagai apa. Bertahan untuk hidup atau bertahan untuk tetap menjaga hatinya? Namun semua praduga itu tidak akan Jully tanyakan, biarlah hanya Wicky saja yang tahu maksud ucapannya sendiri. Karena preoritas Jully saat ini bukan lagi tentang Wicky melainkan tentang kesembuhannya dan juga untuk... Wigih.
"Terimakasih." Hanya itu yang bisa Jully katakan.
"Dan aku juga minta maaf jika selama ini telah banyak menyakiti hatimu." Akhirnya kata-kata maaf yang ditunggu Jully keluar juga dari mulut Wicky.
"Tidak apa-apa aku sudah memaafkanmu." Jawab Jully tulus dengan tersenyum.
"Terimakasih." Balas Wicky yang terlihat lega.
"Ohh iya ini, kado ulang tahunmu. Meski sudah terlambat... Selamat Ulang Tahun Jully, semoga kamu selalu bahagia. Do'a Wicky tulus sembari mengulurkan kotak kecil sebagai kado kepada Jully.
"Ohh ya kalau dipikir-pikir kami juga belum mengucapkan Selamat Ulang Tahun secara langsung padamu Jully, meski kami merayakannya di sini saat kamu masih koma. Selamat Ulang Tahun bebebku yang cantik." Ucap Kansari dan memeluk Jully sembari membisikkan sesuatu, "Semoga lekas ketemu jodoh." Dan kemudia tersenyum sambil mengedipkan sebelah matanya setelah mengurai pelukannya pada Jully. Jully pun hanya bisa melongo tidak habis pikir bahwa sahabatnya merayakan Ultahnya ketika dia masih koma.
"Selamat Ulang Tahun Jully..." Ucap mereka semua kompak.
"Thank you guys." Balas Jully terharu.
"Kami pada waktu itu berharap kamu membuka mata saat ulang tahunmu." Ungkap Rere yang semakin membuat Jully berkaca-kaca.
"Ini apa isinya Wick?" Jully menerima kadonya dari Wicky dengan penasaran isinya.
"Buka saja nanti ketika aku sudah pulang." Pinta Wicky.
"Ahh gak seru! Kami kan juga ingin lihat." Sungut Kansari.
"Ohh ya ada satu hal yang harus kalian semua tahu." Tiba-tiba Rere berbicara dengan raut wajah yang serius seraya mengeluarkan sebuah buku catatan kecil berwarna pink muda.
"Itu kan..." Ucapan Jully langsung dipotong oleh Rere.
"Iya benar, ini adalah buku catatanmu yang tidak sengaja aku temukan saat ibumu meminta tolong mengambil barangmu yang diperiksa polisi. Aku menemukannya saat memeriksa isinya. Sebenarnya aku tidak peduli dengan isi catatan di dalamnya karena itu adalah privacy mu. Namun yang membuatku penasaran adalah kertas yang terselip di dalamnya. Maaf Jull terpaksa aku melihatnya. Dan kalian tahu apa yang aku temukan? Itu adalah tiket berlibur ke Bali yang sudah Jully siapkan untuk kita semua di hari ulang tahunnya." Setelah mengatakannya dengan panjang lebar Rere tidak bisa membendung lagi air matanya yang dengan susah payah ia tahan.
Ucapan Rere barusan membuat yang lainnya menjadi shock! Rasa bersalah kembali menjalar ke hati mereka. Mereka berpikir bahwa mereka adalah sahabat yang buruk bagi Jully.
"Jull...benarkah itu?" Tanya Wicky dengan perasaan campur aduk.
Jully mendesah panjang.
"Sudahlah tidak apa-apa, lagian itu sudah hangus dan yang terpenting sekarang kita bisa berkumpul lagi seperti dulu." Ujar Jully yang tidak mahu lagi mengungkit soal itu, bahkan ia sudah lupa jika sudah membeli tiket untuk liburan bersama teman-temannya di hari ulang tahunnya.
"Tapi Jull ini kan..." Jully langsung menyambar kalimat Rere.
"Sudahlah Re, aku sungguh tidak apa-apa, jangan bikin suasana menjadi tidak enak lagi, aku kan capek menangis terus, ntar kepalaku pusing." Ucap Jully dengan sedikit mendramatisir.
"Ahh maaf aku lupa pesan dokter tadi." Rere akhirnya mengalah mengingat apa yang dokter Wigih katakan tadi.
"Jully kami minta maaf." Ucap Ningsih yang diikuti oleh yang lainnya.
"Sebagai permintaan maaf, setelah kamu keluar dari Rumah Sakit kita akan merayakan Ultahmu kembali dengan makan-makan enak, Aleando yang akan traktir semuanya." Ucap Kansari antusias.
"Heii kenapa harus aku yang membayar untuk semuanya? Kalau untuk Jully saja tidak masalah." Protes Aleando tidak terima akan usul Kansari.
"Kamu kan yang paling kaya di sini, jangan pelit!" Seloroh Kansari dengan sengit.
Mulai deh mereka berdua melakukan battle mulut. Yang lainpun hanya menggelengkan kepala melihat tingkah kekanakan mereka berdua.
"Guysss... Sepertinya kita sudah terlalu lama disini, Jully kan perlu istirahat, sebaiknya kita semua pamit pulang." Ucap Ningsih menginterupsi.
"Tapi kalau kami semua pergi, kamu bagaimana?" Tanya Rere sedikit khawatir.
"Gak apa-apa kok, bentar lagi ibuku bakalan datang." Sahut Jully mengikis kekhawatiran Rere.
"Benarkah? Baiklah kalau begitu kami pulang dulu, kalau perlu apa-apa kamu bisa hubungi kami." Ucapan Rere langsung diangguki Jully.
Akhirnya mereka semua pamit pulang, namun hanya Wicky yang tertahan di sana.
"Kamu gak pulang Wick?" Tanya Jully heran.
"Sebelum pulang aku mahu kasih ini ke kamu." Wicky menyerahkan selembar kertas berwarna kuning gading bertabur tinta mas di atasnya kepada Jully.
"Kamu akan menikah?" Ternyata itu adalah kartu undangan pernikahan.
Wicky hanya mengangguk dengan senyuman tipis untuk menjawabnya.
"Aku harap kamu bisa datang Jully." Harap Wicky.
Waaahh semua orang yang melihat pasti akan menyumpahi dan mengutuk Wicky yang dengan santainya menyerahkan undangan pernikahan kepada seorang wanita yang selalu mencintainya selama ini, bahkan menyuruhnya untuk datang. Namun tidak untuk Jully, perasaan cinta untuk Wicky sekarang ini telah menguap entah kemana. Jadi disaat Wicky memberinya undangan pernikahan itu hanya terasa biasa saja. Dia berpikir ini hanyalah undangan pernikahan biasa dari seorang teman.
"Tentu, aku pasti datang, semoga semuanya lancar untukmu Wick." Jawab Jully dengan senyuman.
"Terimakasih." Balas Wicky.
"Terimakasih dan selamat tinggal cinta pertamaku." Lanjut Wicky dalam hati.
Bersambung....