
"Tapi buat apa ya mereka bertemu diam-diam begini? Disaat kak Nouval ngajuin perceraian, kan gak bagus untuk mereka bertemu di keadaan seperti ini." Ungkap Jully dengan sejuta pertanyaan diotaknya.
"Ya buat kangen-kangenanlah..." Seloroh Wigih.
"Husst!! Ngawur!" Seru Jully.
"Ya tadi kata kamu mereka lagi membahas masa lalu yang bikin kangen..." Goda Wigih.
"Tapi bukan beneran kangen-kangenan juga mas... Mungkin mereka membicarakan hal lain." Balas Jully.
"Iya, iya aku ngerti, aku cuma bercanda sayang... Ya sudah mending kita makan saja dulu, urusan mereka biar mereka sendiri yang urus, kita tidak usah ikut campur." Ujar Wigih menasehati kekasihnya.
"Iya mas." Jawab Jully yang langsung menuruti perintah Wigih dan mulai menyantap makanannya.
Di lain meja Nouval dan Rere saling duduk berhadapan, setelah ucapan basa basi yang saling mereka lontarkan akhirnya mereka saling membisu. Nouval bingung ingin memulainya dari mana, sementara dialah yang pertama kali menginginkan pertemuan ini, tentu saja dengan mengumpulkan semua keberanian yang tersisa di hatinya karena mengajak bertemu seorang wanita yang telah bersuami berdua saja adalah suatu kesalahan tapi harus bagaimana lagi? Dia harus melakukan ini semua, bukan hanya demi ketentraman hatinya tapi juga demi wanita yang ada di hadapannya itu, dia harus memastikan Rere benar-benar hidup bahagia setelah dia pergi meningglkannya. Rasa bersalahnya pada Rere di masa lalu masih membekas hingga sekarang, Nouval tidak akan dapat memaafkan dirinya sendiri jika wanita yang pernah ada di hatinya itu tidak bahagia dan menderita.
"Re... Apakah sekarang kamu bahagia?" Akhirnya pertanyaan itu keluar dari bibir Nouval.
Rere langsung mengerutkan dahinya, matanya memicing menatap Nouval.
"Kenapa kamu menanyakan hal itu?" Rere bertanya balik.
"Karena jika kamu tidak bahagia..."
"Jika aku tidak bahagia apa yang akan kamu lakukan?" Rere segera memotong ucapan Nouval.
"Maka aku akan membawamu pergi, mengeluarkanmu dari penderitaan yang kau alamai." Jawab Nouval sembari menatap wajah Rere dengan perasaan yang gamang, apakah jawaban yang ia lontarkan sudah benar atau tidak? Apakah dia bisa menepati semua yang ia katakan baru saja? Akhirnya jawaban yang dia ucapkan terasa gamang.
"Mengeluarkanku dari penderitaan? Penderitaan apa yang engkau maksud tuan Nouval? Penderitaan satu-satunya yang aku rasakan hanyalah ketika kau pergi begitu saja meninggalkanku." Ucapan Rere barusan langsung menghantam dadanya. Sesak.
"Maaf... Seharusnya dulu aku lebih berani memperjuangkan cinta kita, maaf karena aku terlalu pengecut. Aku sungguh tidak dapat memaafkan diriku sendiri jika kamu benar-benar tidak bahagia." Nouval menundukkan kepalanya, tangan yang ia letakkan di atas meja terlihat mengepal erat sampai buku-buku jarinya memutih.
"Kris, nama suamiku adalah Kristian, dia biasa dipanggil Kris. Dia adalah seorang perawat di salah satu Rumah Sakit swasta di kota ini. Meski dia bukan dari keluarga yang kaya raya seperti dirimu namun bisa dibilang hidupnya selalu berkecukupan dan dia selalu mencukupi hidupku juga anak-anak kami. Dia adalah orang yang baik. Dulu setelah kepergianmu aku kira aku tidak akan bisa mencintai seorang pria lagi, tapi nyatanya tidak begitu. Kris datang dikehidupanku, dia lelaki yang lembut, perhatian dan penyayang. Ada hal yang membuatku membuka hati untuknya, dia tidak memaksa dan selalu sabar menungguku, terlebih dia menerimaku apa adanya. Dulu aku selalu berpikir jika aku mencintai seseorang lebih dari orang itu maka aku akan mendapatkan cinta yang lebih pula, ternyata aku salah. Lebih dicintai oleh seseorang itu membuatku lebih bahagia dan lebih merasa dihargai. Dan Kris memberikan hal itu padaku." Rere menghentikan ucapannya sejenak, dia mengangkat wajahnya dan menatap lurus wajah Nouval yang membatu di hadapannya. Lalu dia melanjutkan ucapannya kembali.
"Aku bahagia. Sebagai istri, sebagai ibu anak-anakku dan sebagai wanita... Aku bahagia bertemu dan hidup bersama dengannya." Rere mengucapkan itu dengan yakin dan percaya diri sembari menatap lurus wajah Nouval. Sedangkan lelaki itu hanya diam tidak mampu mengeluarkan kata-kata apapun. Ucapan Rere barusan memang sempat menghujam dadanya tapi disaat bersamaan dia merasa lega. Karena saat ini wanita yang dikasihinya menjalani hidupnya dengan baik dan bahagia. Nouval tersenyum...
"Syukurlah... Aku lega mendengarnya, tidak masalah dengan siapapun asal kamu hidup bahagia aku sangat bersyukur. Mungkin jika kita masih bersama belum tentu kamu bisa sebahagia ini. Tapi tetap saja aku harus memohon maaf padamu dengan cara yang benar. Kristina Dayana... Aku meminta maaf atas segala kesalahanku di masa lalu, tidak peduli kau akan memaafkanku atau tidak karena aku tidak pantas menerima maafmu tapi aku sungguh tulus memohon maaf padamu." Nouval mengucapkan semuanya yang memang seharusnya dia ucapkan dengan perasaan yang sangat gugup dan menghembuskan napas lega setelah mengucapkannya. Apapun keputusan akhir yang diambil Rere, Nouval tidak peduli, dia akan menerimanya apapun itu.
"Aku memaafkanmu, tapi dengan satu syarat." Jawab Rere dengan satu permintaan.
"Apapun itu jika aku dapat melakukannya, akan aku lakukan." Kata Nouval yakin.
"Aku dengar kamu akan bercerai." Rere tidak menjawab pertanyaan Nouval, justru dia membahas perceraian lelaki itu.
"Iya, pasti kamu mendengarnya dari Jully, mungkin itu adalah karmaku yang telah menyakitimu." Ujarnya sendu.
Rere menggeleng....
"Tidak ada karma seperti itu, semua itu karena jodoh kalian berdua cukup sampai disini. Jodoh sesungguhnya, Tuhan belum mempertemukannya saja. Jadi setelah ini carilah kebahagianmu sendiri, jika kamu yakin jangan pernah terpengaruh dengan ucapan orang lain, cukup dengarkan isi hatimu saja, jadi jika suatu saat tidak sejalan dengan apa yang kau inginkan, kamu tidak akan menyesal. Mungkin dengan begitu kamu bisa bertemu jodohmu yang sesungguhnya. Itu syaratku. Carilah kebahagianmu sendiri kak Nouval, jangan hidup untuk kebahagiaan orang lain." Ucap Rere panjang lebar sembari memperlihatkan senyumnya. Senyum tulusnya yang dia perlihatkan pada Nouval setelah sekian lama, karena di hati Rere saat ini sudah tidak ada lagi kebencian untuk Nouval.
"Terimakasih... Terimakasih, sungguh terimakasih... Aku akan ingat dan melakukannya." Nouval tidak berhenti berterimakasih, sudut matanya berair dan kini hatinya benar-benar lega seakan berton-ton batu yang ada di pundaknya menguap begitu saja.
"Sama-sama kak Nouval." Rere pun sebenarnya meresa lega dan akhirnya dia bisa menyebut nama mantan kekasihnya itu dengan benar.
Sementara itu di meja Wigih dan Jully, kedua sejoli itu tengah menyantap makanannya sambil sesekali mengamati meja Nouval dan Rere.
"Lagi pengakuan dosa mungkin." Jawab Wigih asal.
"Masa? Tapi bisa jadi sih... Kak Nouval kan sudah banyak nyakitin Rere dulu." Seloroh Jully.
"Memangnya segitu parahnya ya yang?" Tanya Wigih.
"Banget! Sampai bikin kami sahabatnya ikut emosi! Memang mas gak tahu? Mas kan sahabat sekaligus sepupunya, masa gak tahu?" Tanya Jully yang merasa heran, bukankan Nouval dan Wigih begitu dekat? Walaupun sebenarnya dia sendiri mengetahui kebenarannya baru-baru ini saja karena Rere sebegitu apiknya menutupi kisah pilunya bersama Nouval.
Wigih menggelang pelan....
"Yang aku tahu keluarga Nouval menentang mereka karena menurut mereka status Rere tidak sebanding dengan keluarga mereka. Terutama pamanku, aku akui pamanku adalah orang yang begitu angkuh dengan bisnisnya yang begitu maju membuat keluarga mereka menjadi di atas puncak kejayaan. Kadang Nouval sendiri merasa sesak, dia yang mempunyai jiwa bebas ingin meraih apa yang dia inginkanpun tidak bisa, karena dia satu-satunya anak lelaki di keluarganya harus meneruskan bisnis keluarga. Meski dia terlihat slengekan dan selalu ceria namun di lubuk hatinya yang terdalam dia merasa tersiksa. Aku merasa kasihan padanya." Ungkap Wigih.
"Ahh soal itu aku juga tahu, bahkan ayahnya Nouval pernah mendatangi Rere dan memberikan sebuah cek kosong sebagai bayaran dia meninggalkan Nouval tapi Rere tidak mau menerimanya." Jully pun mengungkapkan apa yang pernah dialami sahabatnya itu.
"Apa? Sebegitunya pamanku melakukan hal sekejam itu?" Wigih sungguh tidak percaya dengan apa yang ia dengar. Dia tahu pamannya adalah orang yang sangat angkuh, jangankan dengan orang lain, dengan papanya yang merupakan adik kandungnya sendiri pun tetap merasa paling hebat. Tapi dia tidak menyangka jika pamannya bisa begitu tega merendahkan seseorang demi mengorbankan kebahagiaan anaknya sendiri. Wigih sungguh kasihan kepada Nouval yang mempunyai orang tua seperti itu.
"Tapi sayangnya itulah yang terjadi. Kadang aku berpikir, sebenarnya apa yang kurang dari Rere? Dia wanita yang cantik, baik, jago masak, meskipun dia tumbuh di keluarga yang sederhana tapi mereka tidak miskin dan berkecukupan, apalagi dulu Rere pernah bekerja di perusahaan yang bagus dengan jabatan yang lumayan. Hanya saja dia keluar setelah melahirkan anaknya yang pertama." Jully berkata dengan kening yang mengerut sambil sesekali mengunyah makanannya.
"Ya... begitulah pamanku, dia menganggap orang sebanding dengan dirinya jika mempunyai kehidupan yang setara atau lebih tinggi darinya." Sahut Wigih yang setelahnya mengarahkan pandangannya ke arah Nouval yang duduk di seberang sana dengan rasa kasihan.
"Mas..." Panggil Jully yang langsung membuatnya mengalihkan pandangannya ke arah kekasihnya itu.
"Iya sayang..." Sahut Wigih lembut.
"Orang tua kamu gak sedrama itu kan?" Tanya Jully takut-takut jika orang tua Wigih juga sama seperti orang tua Nouval, apalagi ayah mereka saudara kandung.
"Haha..." Wigih terbahak sebentar.
"Kamu kan dulu waktu SMA pernah ketemu orang tuaku kan? Apa mereka semenyeramkan itu?" Tanya Wigih dan Jully menggelengkan kepalanya. Ya dulu memang Jully pernah ketemu dengan kedua orang tua Wigih meski sedikit berbeda dari pertemuan mereka ketika Jully kembali ke masa lalu. Bedanya waktu itu dia tidak sengaja bertemu dengan Wigih bersama papa mamanya di salah satu restoran di mall ketika dia sedang jalan-jalan dengan Rere.
Wigih meraih jemari Jully yang bebas di atas meja dan menggenggamnya lembut.
"Tenang saja sayang... Aku pastikan mereka akan sangat menyukaimu." Jawab Wigih meyakinkan Jully.
"Iya." Balas Jully dengan tersenyum.
Bersambung....
π
π
π
π
Hallo semuanya.... Bagaimana kabar kalian? Semoga kalian selalu sehat dan bahagia.
Di hari yang fitri ini Author mau mengucapkan
"Selamat Hari Raya Idul Fitri 1443 Hijriah" Mohon maaf lahir batin...π Maafin juga Author yang sering telat updateπ dan terimakasih banyak untuk kalian yang masih setia menunggu Dokgan Wigih dan Jully pengacara cantik beraksi π