
Mobil Wigih memasuki halaman sebuah hotel bintang empat, tempat berlangsungnya acara pernikahan Wicky. Wigih menghentikan mobilnya tepat di depan pintu masuk hotel tersebut. Dia langsung turun dan memutari mobilnya untuk membukakan pintu untuk Jully. Setelah menggandeng keluar Jully dari dalam mobilnya ia kemudian menyerahkan kunci mobilnya pada petugas valet yang ada di sana untuk memarkirkan mobilnya. Kemudian dia berjalan memasuki hotel tersebut dengan Jully yang masih menggandeng tangannya.
"Sayang, acaranya berada di lantai berapa?" Tanya Wigih.
"Menurut undangan ada di lantai empat, sebentar aku mau menelpon Kansari dulu, mungkin dia sudah sampai duluan." Jawab Jully sembari merogoh phonselnya dari dalam clothes-nya.
"Hallo beb..." Jawab Kansari dari seberang sana.
"Kamu sudah sampai belum?" Tanya Jully pada Kansari.
"Udah, ini sudah di atas tapi belum masuk ke ruangannya sih... Yang lain juga sudah pada datang, niatnya mau masuk bareng, tinggal nunggu kamu nih... Kamu dimana?" Jawab Kansari seraya bertanya.
"Okey deh... Ini lagi di bawah, aku naik sekarang." Balas Jully.
"Eh kamu datang sama sia..." Jully langsung mematikan sambungan telponnya sebelum Kansari menanyakan sesuatu padanya. Jully terkekeh geli, dia yakin sahabat centilnya itu pasti sekarang sedang merutuki dirinya dengan segala macam makian karena menutup panggilan sepihak.
"Ada apa sayang?" Tanya Wigih heran yang melihat Jully tertawa lirih.
"Bukan apa-apa, aku hanya menertawakan Sari. Yuk kita naik sekarang! Teman-temanku sudah menunggu kita di depan ruang acara." Ajak Jully sambil menggamit mesra lengan Wigih. Wigih pun tersenyum mengangguk dan merekapun langsung memasuki lif yang akan membawa mereka berdua sampai pada lantai empat tempat acara pernikahan Wicky berlangsung.
Ting...
Pintu lif terbuka, mereka berdua sudah sampai di lantai empat dan segera keluar dari dalam benda kotak besi itu. Jully yang masih setia menggamit lengan Wigih celingak celingukan mencari sosok teman-temannya diantara keramaian orang yang ada di sana. Ya, di sana sudah terlihat ramai, orang-orang dengan gaun pesta sudah banyak yang berdatangan, tentu saja mereka adalah tamu undangan acara pernikahan tersebut.
"Mereka di mana ya?" Gumam Jully sambil mengedarkan pandangannya diantara orang-orang di sana.
"Mereka bilang nunggu di mana?" Tanya Wigih lembut.
"Katanya di depan pintu masuk." Balas Jully.
"Sepertinya pintu masuknya di sebelah sana, itu orang-orang semua jalan ke sana." Tunjuk Wigih.
"Ya sudah, kita juga coba ke sana." Sahut Jully dan merekapun berjalan mengikuti beberapa orang yang sepertinya juga tamu undangan.
"Ahh itu mereka di sana." Tunjuk Jully dengan senyum sumringah setelah menemukan wajah-wajah temannya yang tengah berdiri tidak jauh dari tempat acara. Di sana bukan hanya teman-temannya saja yang menunggunya, tapi juga para suami sahabatnya ikut hadir menemani para sang istri.
Jully berjalan dengan santainya bersama Wigih di sampingnya. Tangannya masih menggamit lengan Wigih. Teman-temannya pasti shock kalau melihatnya, karena mereka semua tidak ada yang tahu jika Jully dan Wigih tengah berpacaran. Sebenarnya tadi sore Kansari sudah menawarinya untuk pergi bersamanya tapi Jully kekeh untuk berangkat sendiri dengan alasan arah jalan rumahnya tidak searah dengan hotel tempat digelarnya acara itu. Alhasil Kansari menyerah, yang lain juga ditolak oleh Jully saat menawari tumpangan untuknya dengan alasan yang sama.
"Haii guys... Sorry, sudah nunggu lama ya?" Sapa Jully dengan senyum yang mengembang ketika dia sudah berada di depan sahabat-sahabatnya.
"Oh Em Gi... Jully! Pantesan ngotot gak mau diajak bareng." Seru Kansari ketika melihat Jully yang berdiri di hadapannya dengan menggandeng pria tampan yang tak lain dan tak bukan adalah dokter ganteng mantan senior dan Ketos mereka waktu SMA. Ekspresi kaget juga tergambar dari mimik wajah temannya yang lainnya. Sedangkan Jully melirik Wigih dengan senyum tertahan di bibirnya.
"Oh ya semuanya kenalin ini kak Wigih, pacar aku." Sepontan Rere, Kansari dan juga Ningsih yang tengah menggandeng suami mereka masing-masing kembali dibuat shock oleh Jully. Ini pertama kalinya Jully memperkenalkan seorang pria yang telah ia klaim sebagai pacarnya.
"Hallo semua... Saya Wigih, kekasih Jully." Sapa Wigih sembari mengulurkan tangannya untuk berkenalan kepada orang-orang yang ada di hadapannya.
"Akhirnya Jully dapat pasangan juga, selamat ya untuk kalian." Yahya suami Kansari yang pertama kali meraih tangan Wigih untuk dijabat langsung memberi selamat padanya dan Jully serta kemudian diikuti dengan yang lainnya.
"Semoga langgeng sampai ke pernikahan ya." Tambah Kris suami Rere.
"Nahh... Kalau begini kan cowoknya pas empat orang, selamat ya bro...akhirnya Jully ketemu pawangnya." Seloroh Sandi suami Ningsih langsung mendatangkan gelak tawa mereka yang ada di sana.
"Terimakasih semuanya, terus terang memang susah menjinakkan perempuan yang ada di sampingku ini." Balas Wigih disertai candaan pula dan langsung mendapat cubitan sayang di pinggangnya. Siapa lagi yang melakukannya? Tentu saja Jully.
"Selamat ya Jull... Pokoknya habis ini kamu harus cerita ke kami semuanya!" Ucap Rere tak terbantahkan.
"Iya wajib pokonya! Masa jadian gak bilang-bilang." Tambah Ningsih sedikit bersungut.
"Iya iya... Pasti nanti aku cerita, sekarang yang terpenting kita semua masuk saja sekarang, acara bentar lagi mau mulai." Jawab Jully seraya mengingatkan tujuan mereka semua datang ke tempat itu.
"Okey deh... Yuk beb!" Sahut Kansari sembari menggandeng mesra suaminya. Hari ini mereka sepakat tidak membawa bocil-bocil mereka, selain alasan kenyamanan para bocil selalu cepat bosan dan merasa kurang nyaman di tempat keramaian jadi Rere dan Ningsih lebih memilih meninggalkan buah hati mereka bersama neneknya. Beda dengan Kansari yang memiliki anak lebih dewasa dari anak kedua sahabatnya itu karena memang diantara mereka Sari lah yang menikah dan mempunyai anak terlebih dahulu jadi dia tidak usah khawatir untuk meninggalkan kedua anaknya di rumah sendiri.
"Waahh... pestanya lumayan megah ya..." Seloroh Rere memuji kemegahan dekorasi tempat pernikahan Wicky yang bernuansa red gold yang dipenuhi bunga mawar merah dan putih. Sepertinya calon pengantin wanita sangat menyukai bunga mawar dan warna merah.
"Ya pastilah, konon dari gosib yang aku dengar calon istrinya Wicky merupakan anak tunggal pemilik salah satu perusahaan poperti terbesar di kota ini." Sahut Kansari yang selalu tidak pernah absen dari berita terkini.
"Ahh lihat disana ada foto pra wedding mereka." Tunjuk Ningsih.
"Cantik. Namanya Laura ya?" Ujar Jully.
"Tapi masih cantikan kamu sayang." Bisik Wigih di telinga Jully yang langsung membuat pipi wanita cantik itu merona karena tersipu.
"Ehmm... Aku dengar lho... Duuh emang ya kalau pasangan baru mesranya gak ketulungan." Seloroh Kansari yang membuat Wigih dan Jully salah tingkah.
"Maklumi aja beb... Kita dulu kan juga gitu, malah kamu kemana mana ngintilin aku terus." Sahut Yahya menimpali ucapan istrinya.
"Ihh... Jangan diingetin terus dong... Malu." Seru Kansari sambil menyembunyikan wajahnya di dada suaminya.
"Ckck... Kalian berdua kalau mau nostalgia nanti saja, mending kita cari duduk saja." Ujar Kris.
"Sepertinya tempat duduk kita sudah ditentukan." Tunjuk Wigih yang tak sengaja melihat ke arah sebuah meja bundar yang di tengahnya terdapat tulisan 'Jully and The Gang'.
"Iya kamu benar, aku rasa semua tamu di sini sudah diatur tempat duduknya." Ujar Sandi menimpali sambil melihat ke sekeliling meja di sekitar mereka yang sudah di pasang papan nama kecil di tengah meja sesuai nama pemilik undangan.
"Ya sudah kita duduk saja di tempat yang sudah ditentukan." Ajak Jully sembari menggandeng Wigih menuju meja mereka.
Akhirnya yang ditunggu-tunggu datang juga, pembawa acara kini membuka acara sesuai urutan rangkaian acara hingga kedua mempelai memasuki ruangan diiringi dengan lagu Beautiful in White dari Westlife. Sang mempelai wanita berjalan dengan anggun dan cantik dengan balutan wedding dress berwana gold dengan sebuket bunga mawar merah ditangannya dan tangan lainnya yang bebas menggamit lengan Wicky. Sedangkan Wicky yang berjalan beriringan bersamanya memakai tuxedo dengan warna senada terlihat begitu tampan. Senyuman menghiasi bibir kedua mempelai yang kini telah naik ke atas pelaminan. Pandangan seluruh tamu undangan tertuju ke arah kedua mempelai tak terkecuali Jully yang memandang lekat ke arah dua penganting yang sedang berbahagia itu. Senyum di bibirnya mengembang dan itu tak luput dari mata Wigih.
"Aku tidak apa-apa kak... Justru aku lega karena ternyata hatiku baik-baik saja, kini benar-benar tidak ada rasa yang tertinggal. Kecuali...jika yang berdiri di sana itu kak Wigih, pasti aku bakalan sakit dan jatuh begitu dalam." Ujar Jully sambil membalas genggaman tangan Wigih dan tersenyum lembut.
"Kalau aku berdiri di sana, tentu saja wanitanya pasti kamu dong sayang..." Ucapa Wigih sambil menowel gemas hidung Jully dan mereka tertawa berasama.
"Guys... Kita kasih selamat dulu yuk ke Wicky dan istrinya, biar cepet aja, biar gak kelamaan di sini, kasihan anak aku nungguin di rumah." Ajak Rere pada semua temannya.
"Iya, sama." Timpal Ningsih.
"Baiklah, yuk!" Kansari dan yang lainnya menyetujui dan beranjak dari meja mereka menuju ke arah pelaminan yang sudah mulai dipenuhi tamu undangan yang mengantri untuk memberi salam pada kedua mempelai.
"Jully..."
Seseorang memanggil Jully dari arah belakangnya, membuat Jully spontan menengok ke belakang. Ternyata itu Aleando yang kini tengah menggamit pinggang istrinya yang tengah hamil muda.
"Ale... Kamu kemana saja dari tadi gak kelihatan?" Tanya Jully.
"Iya, aku baru saja datang barengan sama pengantinnya masuk ruangan. Ini si nyonya mabuk pas di jalan." Jawab Ale sambil mengusap lembut perut buncit istrinya.
"Ya ampun May... Masih mual saja ya? Pantesan agak pucet." Ucap Jully prihatin pada Maya istri Ale yang masih mabuk saja di kehamilan yang akan memasuki bulan ke empat.
"Iya nih mbak, gak tahu kenapa semenjak hamil aku kalau naik mobil bawaannya mual mulu, tapi ini sudah mendingan kok gak kaya awal-awal hamil dulu." Terang Maya.
"Ya sudah istirahat saja dulu." Kata Jully lagi.
"Tidak apa-apa mbak, ntar saja habis ngasih selamat sama mas Wicky dan istrinya, kalau nanti-nanti bakalan tambah rame antriannya." Ujar Maya yang diangguki Jully.
"Lho... Kak Wigih datang juga?" Ujar Aleando yang kaget akan kedatangan Wigih di pernikahan sahabatnya itu karena yang selama ini ia ketahui antara Wicky dan Wigih tidak mempunyai hubungan yang baik. Tentu saja Ale tahu masalah diantara keduanya itu berhubungan dengan Jully.
"Iya, aku di sini sebagai pasangannya Jully." Jawab Wigih yang langsung meraih pinggang Jully protektif dan itu sukses membuat Jully sedikit terkejut karena tindakan Wigih yang tiba-tiba namun sedetik kemudian dia bisa mengendalikan jantungnya yang sempat bertalu.
"Kalian..."
"Iya, aku dan kak Wigih kini sudah berkomitmen." Sahut Jully memotong ucapan Ale.
"Selamat ya untuk kalian berdua, ditunggu undangannya." Kata Aleando.
"Iya kak Jully jangan lama-lama, pacarannya nanti saja habis menikah." Tambah Maya.
"Iya terimakasih, ditunggu saja kabar baiknya." Kini Wigih yang menjawabnya. Dan tidak terasa giliran mereka untuk memberi selamat sedangkan yang lainnya sudah turun duluan.
"Hai Wick... Selamat ya atas pernikahan kalian, aku turut berbahagia, semoga langgeng. Istri kamu cantik. Hai... Kamu Laura kan? Aku Jully teman sekolah Wicky dulu, semoga kalian selalu bahagia." Do'a Jully tulus tak ada rasa amarah apapun kini.
"Terimakasih Jully atas do'anya." Jawab Laura malu-malu.
"Terimakasih Jull kamu sudah mau datang, aku kira kamu gak bakalan datang." Ucap Wicky dengan perasaan lega.
"Aku kan sudah janji." Sahut Jully.
"Ehm... Selamat ya Wick akhirnya kamu tobat juga dan Laura hati-hati dia ini dulunya play boy semoga gak kambuh saja." Ujar Wigih setengah memanas-manasi.
"Kak Wigih jangan mulai deh... Jangan bikin istri aku salah paham, tapi aku terimakasih banget karena kak Wigih juga bersedia datang." Ucap Wicky.
"Itu karena aku harus menemani kekasihku ini biar gak ada yang macam-macam." Sahut Wigih yang masih memeluk mesra pinggang Jully.
"Dasar bucin." Ejek Wigih yang tidak dihiraukan oleh Wigih.
"Ya sudah kami turun dulu, itu Ale sudah ngantri, kasihan istrinya lagi mabuk." Pamit Jully yang langsung turun dari pelaminan Wicky dan Laura.
Kemudian mereka menuju tempat makanan untuk mengisi perut mereka dan kembali lagi ke meja tempat duduk mereka semula, menikmati makanan yang mereka ambil seraya mengobrol santai. Setelah itu mereka semua memutuskan untuk pulang ke rumah masing-masing.
"Kak..." Panggil Jully.
"Hmm... Iya sayang?" Sahut Wigih.
"Terimakasih." Ucap Jully.
"Untuk?" Tanya Wigih.
"Untuk kesabaran kakak yang tak pernah lelah menunggu aku." Jawab Jully dengan senyum tulusnya.
"Sama-sama, terimakasih juga karena sudah mau menerimaku dan terimakasih kamu telah kembali ke sisiku. Aku mencintaimu Jully Mahardika."
"Aku juga mencintaimu Wigih Sasongko."
Bersambung....
🍓
🍓
🍓
...Yang lagi kondangan 😄💕...