
POV Wigih
Di sini, di ruang inap dimana aku sedang dirawat, aku hanya sendiri duduk bersandar di atas ranjangku. Tadinya ada mama di sini, tapi beberapa waktu yang lalu mama pulang untuk melihat keadaan butiknya dan kemungkinan balik lagi nanti siang untuk mengemas barang serta pakainku. Rencananya sih nanti sore aku aku sudah dibolehin balik ke rumah. Kata dokter kakiku sudah selesai diobservasi dan cuma perlu digips saja tanpa perlu operasai, karena cuma retak ringan saja. Cuma sekarang ini suasa di sini membuatku merasa sangat bosan, tidak ada siapapun untuk aku jadikan teman ngobrol. Hanya televisi temanku di ruangan ini, itupun dari tadi hanya aku gonta-ganti cenelnya karena bagiku tidak ada acara yang menarik untuk ditonton. Maklumlah... Biasanya jam segini aku akan bergelut dengan buku, mendengarkan guru di kelas dan bercanda tawa dengan teman di sekolah serta...memandang wajah ayu Jully yang selalu ceria. Ahh apa kabar dia hari ini, memikirkannya saja sudah membuatku ingin cepat keluar dari rumah sakit ini untuk bertemu dengannya. Tidak bisa melihatnya sehari saja hatiku sudah merasa rindu. Apakah dia sudah tahu kalau aku musti di rawat di rumah sakit karena cideraku ini? Ahh entahlah... Kemarin aku sengaja tidak memberitahuinya karena aku tidak ingin melihatnya menjadi lebih khawatir meski sebenarnya aku cukup senang ketika dia peduli denganku.
Tring...
Tiba-tiba ada suara notifikasi pesan dari phonselku. Akupun mengambil benda pipih itu yang tergeletak tak jauh dari tempatku bersandar. Dan sungguh terkejutnya aku melihat siapa yang mengirim pesan untukku. Itu Jully. Aku sungguh tak menyangka, baru saja aku memikirkannya dan sekarang dia mengirim pesan untukku. Ini pertama kali dia mengawali untuk menghubungiku terlebih dahulu.
Jully:
Assalamu'alaikum kak Wigih, ini Jully.
Itulah isi dari pesan pertamanya. Aku ingin mengetik balasan untuknya, namun entah mengapa aku sudah merasa gugup duluan, bahkan jantungku kini berdegup lebih kencang. Sungguh pengaruh Jully untukku ternyata begitu kuat bahkan ketika tidak ada orangnya di sini. Tak ingin dia menunggu lebih lama lagi aku mengatur nafasku untuk menormalkan detak jantungku dan mulai mengetik balasan untuknya.
^^^Wigih:^^^
^^^Wa'alaikumsalam Jully, ada apa? Tumben sekali kamu menghubungiku terlebih dulu.^^^
Akhirnya itulah kalimat yang keluar dari otakku untuk membalas pesannya. Aku tidak ingin terlihat begitu antusias di matanya meski itu yang sebenarnya aku rasakan. Tak membutuhkan waktu lama Jully sudah membalas pesanku lagi.
Jully:
Kakak apa kabar? Aku dengar kakak kemarin masuk rumah sakit, trus sekarang bagaimana keadaannya?
Ahh... Senangnya, ternyata dia mencemaskanku.
^^^Wigih:^^^
^^^Iya, maaf kemarin sengaja gak bilang ke kamu, aku takut kamu khawatir tapi sekarang sudah mendingan kok... Nanti sore juga sudah diijinin pulang.^^^
Jully:
Syukurlah kalau seperti itu....Oh ya kakak dirawat di rumah sakit mana?
Mengapa dia menanyakan hal itu? Apakah dia akan datang menjengukku? Haruskah aku menanyakannya? Ahh apa salahnya aku mencoba, siapa tahu dia benar-benar akan datang kemari.
^^^Wigih:^^^
^^^Kenapa? Apa kamu akan datang ke sini setelah aku memberi tahu?^^^
Ahh...Kenapa begitu lama menjawabnya? Apa mungkin dia merasa terbebani dengan perkataanku barusan? Duhh.. Mengapa aku musti bertanya seperti itu sih?! Salah ngomong nih!
Tring...
Suara pesan masuk, aku langsung membukanya dan ternyata itu bukan Jully.
Nouval:
Brow, nanti siang pulang sekolah kami bertiga mau jenguk kamu. Baik-baik di sana ya...
Itu pesan dari Nouval yang aku balas dengan malas.
^^^Wigih:^^^
^^^Okey, makasih.^^^
Tak lama kemudian suara notif itu kembali terdengar, dan kali ini benar-benar Jully. Aku segera membukanya, entah apa yang akan Jully tulis sebagai balasannya aku akan siap menerimanya.
Jully:
Mungkin...? Jika kakak tidak keberatan.
Ya Tuhan... Kalau jodoh pasti gak kemana. Akupun tersenyum lega membaca isi pesan darinya.
^^^Wigih:^^^
^^^Tentu saja tidak, datanglah... Aku dirawat di RS. Bina Sehat.^^^
Jully:
Aku usahakan untuk datang setelah pulang sekolah.
^^^Wigih:^^^
^^^Terimakasih, aku tunggu kedatanganmu.^^^
Ahh Yess!! Sungguh senangnya aku hari ini, meski kaki sedang sakit namun hatiku merasa sangat bersyukur. Ini yang namanya sakit membawa berkah hehe... Saking senengnya aku sudah ingin lompat kegirangan, kalau perlu salto juga namun aku langsung sadar bahwa kaki ini sedang tidak mendukung. Cukuplah aku senyam senyum sendiri, malu-malu sendiri, mungkin siapapun yang melihatnya akan mengira diriku sudah tidak waras lagi. Mungkin jika Ernita ada di sini aku sudah kena cibirnya, dia pasti akan mengatai diriku bucin padahal dirinya sendiri korban bucinnya Daniel. Ya siapapun tidak akan ada yang tahu jika sahabatku Daniel adalah kekasih adikku Ernita. Aku akui mereka berdua sangatlah lihai menyembunyikan hubungan percintaan mereka di depan teman-teman sekolahnya, paling yang mengetahuinya hanyalah keluarga dan orang-orang terdekat saja seperti Rendi dan Nauval. Maklum kami berempat sudah bersahabat cukup lama sejak kami duduk di bangku SMP, bahkan Daniel dan Ernita berpacaran ketika Ernita masih kelas 2 SMP dan Daniel kelas 1 SMA. Aku tidak tahu apa yang disukai Daniel dari adikku yang barbar itu. Cinta memang hal yang sangat unik, setiap orang tidak akan sama memaknai arti cinta. Seperti aku, bagiku cinta itu adalah Jully Mahardika. Ohh aku tidak sabar menunggu waktu berlalu, sungguh menungu itu satu hal yang sangat membosankan. Namun apa pun itu jika untuk Jully aku akan siap menunggu walau membutuhkan waktu yang sangat lama.
Menunggu di saat seperti ini sungguh terasa sangat lama, tidak ada orang untuk diajak berbicara atau sesuatu untuk dikerjakan membuat hariku semakin membosankan, menunggu Jully pun masih cukup lama. Akhirnya aku putuskan membuka aplikasi game di dalam phonselku untuk membunuh waktu. Cukup lama aku berselancar di dunia game hingga tak terasa waktu yang begitu lama pun terkikis perlahan-lahan.
Tok.. tok.. tok...
Terdengar suara ketukan dari luar kamar inapku, membuatku tersadar dari permainan yang kini sedang aku mainkan.
"Masuk." Jawabku sambil menatap ke arah pintu, kira-kira siapa yang datang?
Suara knop pintu terbuka dibarengi suara salam orang di luar sana.
"Assalamu'alaikum kak..." Ternyata Ernita yang datang bersama Daniel dan Nouval yang mengikuti dari belakang. Aku melihat jam dinding yang terpasang di tembok ruanganku, ternyata sudah lebih dari pukul satu siang, pantas mereka semua sudah berada di sini.
"Hai Gih, gimana kakimu?" Ini Daniel yang menyapa. Aku melihat tangannya menggenggam tangan Ernita sejak mereka masuk. Sungguh pemandangan yang membuat iri saja.
"Wa'alaikumsalam... Alkhamdulillah lumayan baikan, tapi aku kesepian di sini." Ungkapku yang merasa jenuh sedari tadi.
"Mangkanya cepet cari gandengan sana biar gak baper terus lihat orang lain pacaran." Celetuk Nouval setengah mengejek diriku.
"Sialan!" Aku langsung melemparnya dengan bantal yang langsung dia tangkap. Memang sahabatku yang satu ini kalau ngomong gak pernah disaring dulu.
"Memangnya kamu sendiri sudah punya pacar Val?" Sindir Daniel.
"Belum sih... Tapi bentar lagi juga ada." Jawab Nauval dengan PeDenya.
"Tenang saja... Kali ini aku yakin bakalan jadi yang terakhir deh." Yakinnya.
"Yakin bener kau Val, siapa sih orangnya?" Akhirnya aku ikut mananggapinya. Gak biasa Nouval bicara seperti ini, ini menandakan bahwa gadis yang disukai Nouval bukanlah gadis biasa yang mana sekali tembak langsung bertekuk lutut padanya. Siapa sih gadis yang gak mau dengan sahabatku ini? Nouval itu selain tampan, dia orangnya ceria, care sama siapa saja, pintar dan juga satu-satunya pewaris perusahaan orang tuanya. Jadi gadis mana yang mau menolaknya?
"Nanti kalau sudah waktunya kalian pasti akan tahu." Jawab Nouval sambil mengerlingkan matanya.
"Hallaahh... Sok rahasiaan kamu ini." Cerca Daniel.
"Bukan begitu Niel, masalahnya dia itu beda sama mantan-mantan aku yang dulu, susah banget jinakinnya." Ungkapnya dengan nada memelas dan kami semua pun menertawainya. Ternyata seorang Nouval Rahardika yang terkenal play boy sudah kena karmanya.
"Haha... Mampus kamu Val, anggap saja ini karma kamu." Sahutku.
"Haha... Semangat ya brow, banyak-banyak saja wiritan tengah malam haha.." Daniel menimpali dengan tawa yang tak bisa berhenti.
"Udah deh yank... Jangan diketawain terus, kasihan ntar bang Nouval terjun bebas ke kali Brantas karena frustasi pesonanya hilang." Ledek Ernita dengan senyum tertahan sambil bergelayut manja di lengan Daniel.
"Sialan kalian semua pada ngeledekin aku." Ungakap Nouval geram yang justru membuat kami semua tidak bisa menahan tawa lagi.
Setelah tawa kami berhenti, ternyata ada yang kurang diantara kami. Ya, tidak ada Rendi di sini.
"Btw... Rendi mana? Gak bareng sama kalian?" Tanyaku.
"Ohh... Rendi tadi keluar belakangan katanya ada yang diurus dulu di ruang OSIS." Jawab Daniel dan akupun mengangguk mengerti.
"Mungkin bentar lagi juga dateng." Lanjut Daniel.
"Ohh ya kak, aku ke sini cuma nengok sebentar siapa tahu kakak butuh apa gitu, soalnya aku habis ini mau langsung pulang mau ganti baju dulu, gak enak gerah. Ntar habis itu aku balik lagi ke sini." Ucap Ernita yang sudah aku pahami kalau dia sudah bilang "Gerah" itu tandanya dia sedang datang bulan dan perlu bersih-bersih agar dirinya lebih nyaman.
"Okey deh, pulang cepet sana gih! Diantar Daniel kan?" Jawabku.
"Iya sama mas Daniel, terus kakak sekarang butuh apa?" Tawar Ernita padaku.
"Gak perlu, lagian kalau butuh apa-apa masih ada Nouval di sini, ya kan Val?" Jawabku sambil mengkode pada Nauval.
"Apa sih yang gak buat kamu Gih?" Jawab Nauval gaje.
"Ya sudah kalau gitu aku pulang dulu ya kak, aku gak lama kok, ntar habis ganti langsung balik ke sini." Pamit Ernita padaku yang dibarengi oleh Daniel.
"Balik dulu ya brow... Val jagain yang bener!" Ucap Daniel sambil berlalu dengan menepuk pundak Nouval sebelum benar-benar pergi meninggalkan ruanganku.
"Ohh ya Gih, aku tinggal sebentar ya? Mau cari minum, haus ingin yang seger-seger. Mau nitip gak?"
"Emm... Boleh deh, beliin aku juice strawberry tanpa susu ya."
"Oke, siap! Aku tinggal dulu ya brow, baik-baik sampai aku kembali." Ucap Nauval sembari mengacungkan jempol tangannya dan berlalu pergi
"Iyaaaa... Cepet sono gih!"
Selang beberapa saat Rendi datang. Aku kira dia sendiri saja ternyata....
"Hai brow, gimana keadaannya?" Rendi langsung menyapaku saat dia masuk.
"Baik, ini juga ntar sore sudah boleh balik." Jawabku.
"Ohh ya aku datang gak sendiri, aku sama..." Rendi menengok ke belakang mencari seseorang di sana namun tak ada siapa pun.
"Lho... Mereka mana ya?"
"Cari siapa Ren?" Tanyaku heran, namun tiba-tiba terdengar suara langkah kaki memasuki ruanganku yang dibarengi ucapan salam.
"Assalamu'alaikum..."
"Nah itu mereka." Tunjuk Rendi setelah mendapati Jully dan Kansari masuk ke dalam ruangan. Ternyata merekalah yang dicari-cari Rendi.
"Wa'alaikumsalam..." Jawabku dan Rendi hampir bersamaan. Tunggu... Jadi mereka datang bersama?
"Jully? Kamu jadi juga kesini." Aku tak menyangka kalau Jully akan beneran datang menjengukku. Tentu hal ini membuat hatiku senang, urusan dia datang dengan Rendi biar itu kutanyakan nanti saja.
"Iya kak, tadi kan sudah janji." Ucap Jully.
"Trus kok kalian bisa barengan gitu?" Akhirnya aku tidak bisa menahan rasa penasaranku. Padahal mereka datang bertiga bersama Kansari tapi mengapa aku merasa sesebal ini ya? Rendi itu sahabatku, tak seharusnya aku berprasangka seperti itu. Kalaupun Rendi suka dengan Jully toh bukan salah dia juga. Aku saja yang belum berani berterus terang tentang perasaanku ini.
"Tadi gak sengaja ketemu di depan gerbang sekolah, katanya mereka mau jengukin kamu, ya sekalian saja toh tujuannya sama." Jelas Rendi.
"Owhh..." Balas Wigih singkat, sedikit lega karena semua itu hanyalah kebetulan saja.
"Ohh ya Nouval dan Daniel mana? Tadi kan berangkat duluan ke sini." Rendi bertanya karena tidak melihat mereka berdua.
"Ada, tadi mereka keluar buat beli minuman, paling cuma sebentar. Tuhh dia..." Pintu terbuka dan masuklah Nouval yang seorang diri.
"Wahh sudah ramai saja di sini." Ucap Nouval yang melihat banyak orang di ruanganku.
"Lho... Kamu sendiri? Daniel mana?" Tanya Rendi.
"Biasa... Nganter tuan putri pulang dulu ganti baju, habis itu balik ke sini." Jawab Nauval.
"Tuan putri?" Tanya Jully.
"Ohh itu adik aku." Jawabku langsung.
"Kak Daniel akrab ya sama adiknya kak Wigih." Ucap Jully lagi yang menurutku sedikit aneh.
"Ya jelas dong, adiknya Wigih kan ceweknya Daniel." Ungkap Nouval dengan santainya. Dan itu membuat Jully dan Kansari terkejut. Aku mengamatinya, ada yang aneh dengan mereka berdua, terlebih Kansari, wajahnya terlihat pucat pasi.
"Ka kak Daniel pacaran dengan adik kak Wigih?" Akhirnya Kansari membuka suaranya dengan terbata. Itu sudah sedikit mampu menjawab rasa penasaranku.
"Iya, mereka pacaran cukup lama saat adikku masih kelas dua SMP." Terangku pada Kansari. Siapapun yang tidak mengamati dengan cermat pasti tidak akan tahu jika tangan Kansari sedikit gemetar dan hampir jatuh jika tidak ditopang dengan tangan dan tubuh Jully yang lebih tinggi. Kini sudah jelas bagiku. Kansari sedang patah hati.
Bersambung....