
"Kita mau makan dimana? Kamu lagi pengen makan apa sekarang?" Tanya Wigih yang masih konsentrasi menyetir.
"Tadinya sih pengen makan rujak cingurnya Rere, tapi katanya restoran dia hari ini lagi tutup." Ujar Jully sedikit kecewa.
"Trus sekarang mahunya makan apa yang...?" Tanya Wigih lagi.
"Masakan Jawa sajalah mas... Lagi pengen makan yang pedes-pedes sama es buah enak kali ya?" Jawab Jully, setelah perdebatan singkat dan kata-kata protes yang diutarakan Wigih perihal panggilannya yang menggunakan kata "Kakak" yang dirasa seperti memanggil saudara laki-laki akhirnya Jully memutuskan memanggil Wigih dengan panggilan "Mas" dan Wigih setuju. Menurut Wigih itu lebih baik dan lebih terdengar mesra di telinganya.
"Ya sudah... Kita makan di Mall saja ya? Sekalian cari kado buat ulang tahunnya ibu kamu, jarak Mall juga gak terlalu jauh dari sini." Usul Wigih yang langsung disetujui oleh Jully. Ya, ulang tahun bu Susi kurang tiga hari lagi dan Wigih sudah mengosongkan jadwalnya di malam hari, kebetulan hari itu bukan jadwalnya piket di Rumah Sakit jadi dia bisa pulang sesuai jam kerjanya. Dan di acara tersebut meski hanya acara keluarga inti saja Wigih ingin datang serta bermaksud memberi tahu tentang hubungannya dengan Jully. Dia ingin meminta restu calon ibu mertuanya secara tidak resmi untuk menjalin hubungan yang serius dengan Jully.
Mereka berdua sudah berada di dalam Mall, berjalan beriringan dengan tangan yang saling mengaitkan. Hari ini Mall tidak terlalu ramai, mungkin karena hari ini masih hari efektif bekerja dan bukan hari libur.
"Mau makan dulu apa cari kado dulu ya mas?" Tanya Jully sambil melirik sebentar ke arah Wigih dan kembali mengedarkan pandangannya ke beberapa toko serta lapak yang ada di sana.
"Makan dululah... Jangan sampai telat makan ntar lambung kamu sakit, lagian aku tahu kamu sudah lapar dari tadi, aku juga sudah lapar. Beli kadonya setelah perut kenyang jadi bisa fokus cari kadonya." Jawab Wigih dengan sedikit ceramahnya.
"Iya, iya pak dokter... Kalau sudah gini mana mungkin aku bisa ngelawan." Sahut Jully dengan kekehannya.
"Dasar kamu yaaa..." Balas Wigih sambil mencubit sayang hidung bangir Jully.
"Ughh... Sakit mas..." Rengek Jully manja.
"Habisnya kamu bikin gemes..." Ujar Wigih dengan tawanya membuat Jully memanyunkan bibirnya.
"Jangan mancing-mancing aku sayang..." Protes Wigih dengan tatapan yang sulit ditebak.
"Mancing-mancing gimana? Orang gak bawa kail juga." Tanya Jully bingung dengan maksud Wigih.
"Bibir kamu itu yang jadi kailnya, ini di tempat umum lho.... Jangan sampai aku..." Wigih menghentikan ucapannya, wajahnya sudah terlihat merah padam kaya orang lagi kepanasan padahal ini di Mall full AC lho...
"Apaan sih mas gak jelas banget deh..." Jully makin heran dengan sikap Wigih yang kadang-kadang terlihat absurd semenjak mereka berpacaran.
Wigih merengkuh pinggang Jully dan mendekatkan bibirnya di telinga Jully kemudian berbisik...
"Jangan mencoba memajukan bibirmu lagi, karena bibirmu itu sangat menggoda untuk kumakan." Jully yang mendengar ucapan Wigih itu langsung menjauhkan telinganganya dan langsung memukul lengan dokter tampan itu sampai mengaduh.
"Auw! Sakit sayang.... Kok malah dipukul sih?" Wigih mengusap-usah lengannya yang sedikit panas karena geplakan tangan Jully yang lumayan keras.
"Habisnya kata-katamu itu lho mas bikin mirinding saja, belajar dari mana itu? Genit!" Jully langsung ngacir meninggalkan Wigih begitu saja sambil bergidik ngeri, suara yang dibisikkan Wigih masih terasa tertinggal di telinganya, membuat bulu kudunya meremang.
"Lho sayang... Tunggu! Lha kok malah ditinggal sih?" Wigih pun segera mengejar Jully yang sudah berjalan cepat di depannya.
"Kita makan di restoran lantai tiga saja ya? Di sana ada restoran prasmanan masakan Jawa, menunya banyak pilihannya dan masakannya enak-enak, dulu aku pernah makan di situ sama Rere." Pinta Jully pada Wigih setelah lelaki itu bisa menyamakan langkah kakinya dengan Jully.
"Terserah kamu saja, aku sih makan apa saja gak masalah, makan kamu juga tidak apa-apa malah aku yang seneng hehe..." Jawab Wigih seraya mengerlingkan sebelah matanya untuk menggoda Jully.
"Gak lucu mas! Ini pasti ajar-ajarannya kak Nouval dan kak Rendi." Tuduh Jully.
"Kok kamu mikirnya gitu yang?"
"Habisnya sekarang mas jadi pintar ngegombal atau jangan-jangan dari dulu emang suka ngegombal?" Tuduh Jully semakin curiga.
"Ya gaklah sayang... Itu semua gara-gara kamu." Elak Wigih.
"Lho kok malah aku yang disalahin?" Jully jadi heran kenapa jadi dirinya yang salah?
"Soalnya semenjak kita pacaran kamu terlihat semakin menggoda dan pikiranku jadi traveling kemana-mana."
"Ihh mas Wigih piktor deh!"
"Maka dari itu nikah yuk sayang..."
"Anda ngelamar saya di tempat seperti ini?" Jully jadi geram sendiri melihat pacar gantengnya itu semakin hari semakin terlihat aslinya. Ternyata Wigih yang selama ini terlihat tenang, cool, berwibawa mempunyai sisi yang tak terduga. Ternyata lelaki itu selalu bersikap manja dan jahil bila sudah bersamanya.
"Apaan sih mas? Ini di tempat umum lho... Jangan ngomong yang iya-iya. Mending makan dulu yuk! Itu restorannya sudah di depan." Jully berusaha mengalihkan pembicaraan, untung saja restoran yang mereka tuju sudah terlihat di depan sana.
"Hahaa... Iya, iya..." Wigih tertawa melihat Jully yang salah tingkah, padahal dia hanya menggodanya saja tapi kalau Jully mau dilamar saat itu juga pun bukan masalah untukknya, justru dia akan merasa senang, karena terus terang saja terlalu lama jauh dari Jully membuatnya was-was, Wigih tidak ingin kehilangan Jully untuk kedua kalinya lagi.
Akhirnya mereka berdua memasuki restoran masakan Jawa yang bernuansa rumah Jawa, di sana menu yang disajikan bertema prasmanan jadi para pelanggan bisa memilih dan mengambil sendiri makanannya. Disaat Jully dan Wigih asyik memilih-milih dan menaruh makanannya di piring mereka tak sengaja Wigih meihat sosok perempuan yang ia kenal.
"Sayang, itu yang di sana Rere bukan ya?" Wigih menunjukkan seorang perempuan yang tengah duduk di salah satu meja restoran yang sama dengan mereka. Perempuan itu tidak sendiri, dia sedang bersama seseorang yang tengah duduk di hadapannya, namun orang tersebut tidak terlalu jelas terlihat karena terhalang tanaman bambu kuning yang menghiasi dalam restoran tersebut. Sedangkan yang terlihat hanyalah tangan dengan lengan kemeja panjang warna navy yang berada di atas meja dan kaki yang terlihat di bawah meja memakai celana kain warna hitam dilengkapi sepatu pantofel warna hitam pula.
"Iya mas, sepertinya beneran Rere deh... Sama siapa itu ya mas?" Jully jadi ikut clingak clingukan mengikuti Wigih yang berusaha melihat seseorang yang bersama Rere itu.
"Entahlah, gak terlalu jelas karena terhalang bambu kuning itu, tapi yang jelas itu laki-laki. Suaminya mungkin." Jawab Wigih sambil menerka-nerka.
"Ahh gak mungkinlah mas, soalnya kata Rere hari ini suaminya lagi ada jadwal piket di tempat kerjanya." Sahut Jully. Sebagai informasi suami Rere adalah salah satu staf perawat di salah satu Rumah Sakit swasta yang berbeda dengan Rumah Sakit Wigih bekerja.
"Ya sudah biarin saja, kamu sudah milih makanannya? Kalau sudah kita cari tempat duduk." Ujar Wigih.
"Sudah ini mas, kita mau duduk di mana? Atau kita samperin Rere saja, sekalian menyapa dia." Saran Jully namun dicegah oleh Wigih.
"Ehh jangan... Siapa tahu Rere menginginkan privacy, jadi biarkan saja, kita cari tempat duduk sendiri." Kata Wigih.
"Tapi aku masih penasaran lho sama laki-laki yang sama Rere itu, kira-kira kita kenal gak ya?" Entah kenapa setelah tidak sengaja melihat Rere tengah duduk berdua saja dengan seorang lelaki pikiran Jully jadi kemana-mana. Bukan berarti dia memikirkan sesuatu yang negatif tapi entah kenapa perasaannya menjadi tidak enak.
"Mana kita tahu kalau belum melihatnya secara langsung, atau kita duduk di sana saja? Aku rasa itu temapat duduk yang pas kalau kita mau melihat siapa orang yang bersama Rere itu tanpa diketahui mereka." Wigih menunjuk salah satu bangku kosong di salah satu sudut restoran itu. Di sana mereka bisa melihat jelas bangku yang Rere duduki bersama orang asing yang entah siapa itu, apalagi di sebelahnya ada sebuah patung orang berpakaian adat Jawa yang bisa menutupi mereka jika ingin bermain detective-detective-an.
"Ok mas, yuk buruan ke sana sebelum ditempati orang lain." Ajak Jully yang langsung menarik lengan Wigih menuju meja yang dimaksud.
Setelah mereka duduk dan meletakkan makanan dan minuman mereka, Jully langsung mengarahkan pandangannya ke arah meja Rere melewati celah-celah patung di samping mejanya. Dan alangkah kagetnya dia setelah mengetahui siapa lelaki yang bersama Rere itu.
"Ya ampun mas!" Pekikan Jully tertahan.
"Ada apa sayang? Jangan bikin kaget deh..." Tanya Wigih yang ikut kaget dan bingung.
"Kamu harus lihat itu deh mas! Itu bukannya kak Nouval kan?" Tunjuk Jully memastikan.
"Mana? Coba aku lihat." Wigih ikut melihat ke arah meja Rere untuk memastikan apa yang yang dilihat Jully.
"Iya benar itu Nouval, kok dia bisa sama sahabat kamu sih sayang?" Tanya Wigih keheranan.
"Astaga mas! Jangan-jangan...."
"Jangan-jangan apa? Jangan mikir yang iya-iya deh..." Wigih memotong ucapan Jully.
"Emangnya aku mikirin apa mas?" Tanya Jully pura-pura bodoh.
"Mikirin mereka selingkuh." Jawab Wigih to the point.
"Aku gak mikir gitu ya... Cuma aku mikirnya siapa tahu mereka lagi CLBK." Elak Jully.
"Itu mah sama saja sayaaang..." Ujar Wigih gemas.
"Bedalah... yang aku maksud itu Cerita Lama Bikin Kangen." Wigih langsung tepok jidat mendengar jawaban Jully.
"Tapi buat apa ya mereka bertemu diam-diam begini? Disaat kak Nouval ngajuin perceraian, kan gak bagus untuk mereka bertemu di keadaan seperti ini." Ungkap Jully dengan sejuta pertanyaan diotaknya.
"Ya buat kangen-kangenanlah..." Seloroh Wigih.
"Husst!! Ngawur!"
Bersambung...