Jully Mahardika

Jully Mahardika
Ep. 28 Sadar Anita!



Jully hampir saja dibikin malu dengan perkataannya sendiri. Untungnya Wigih tidak mendengar dengan jelas apa yang baru saja ia lontarkan. Kalau tadi itu terdengar jelas, mahu ditaruh dimana mukanya? Mungkin dia akan memilih hilang ditelan bumi atau masuk ke lubang waktu dimana dia tidak bisa ditemukan oleh siapapun.


"Jull... Tadi barusan kamu ngomong apa kok gak jelas gitu?" Tanya Wigih kembali.


"Eng enggak kok kak, gak ngomong apa-apa cuma bibir aku kayanya mau sariawan deh." Jawabnya terbata dimana hanya Kansari saja yang tahu kenapa Jully bersikap seperti itu dan dia hanya bisa menahan tawanya yang hampir pecah. Menurut Kansari ekspresi wajah Jully saat ini sangat menggemaskan. Tak pernah dirinya melihat sahabatnya itu begitu gugup di hadapan lelaki.


"Ngeles saja terus Jull... Kalah deh sopir angkot hihihi..." Bisik Kansari dengan nada menggoda. Langsung saja Jully mencubit paha Kansari, membuat gadis itu mengaduh.


"Auwh!"


"Kenapa Sar?" Daniel yang berdiri tepat di sebelah Kansari spontan kaget mendengar teriakannya meski tidak begitu keras.


"Ii ini kak ada semut gigit paha aku, nakal deh." Jawab Kansari meringis dengan tangan menggosok pahanya yang sakit dan mata yang melirik ke arah Jully. Sedangkan yang dilirik hanya cuek dengan pandangan masa bodoh.


"Kirain kenapa, ehh tapi kok ada semut ya di sini? Perasaan di sini bersih lho.." Ujar Daniel sambil melihat lantai di sekeliling mereka.


"Mungkin semutnya lagi jalan-jalan kak hehe.." Jawab Kansari mgasal.


"Haha bisa aja kamu." Daniel tertawa mendengar jawaban Kansari yang lucu menurut dia.


"Ya elaahh Niel...ntar aja kenapa modusnya, nih si Wigih gimana?" Tegur Nouval pada Daniel.


"Mending langsung bawa ke UKS saja kak." Rere langsung menjawab pertanyaan yang seharusnya dijawab oleh Daniel.


"Nah itu udah dijawab sama Rere." Daniel menimpali.


"Ya udah yuk bantuin." Pinta Nouval ke Danie. "Kamu masih tahan kan jalan sebentar aja?" Tanya Nouval.


"Ya dikuat kuatin lah... Emang kamu mau gendong aku Val?" Jawab Wigih sedikit jahil.


"Ya mana kuat aku, badanmu saja lebih gede ketimbang aku, kalau gendong Rere mah masih kuat hehe..." Jawab Nouval dengan sedikit mengerlingkan matanya ke arah Rere.


"Halahh sudah gak usah ngegombal, buruan ini jadi gak sih?" Daniel segera menghentikan obrolan unfaidah mereka dan segera membantu Wigih untuk berdiri, sedangkan Nouval juga membantu di sisi lainnya. Wigih akhirnya berjalan tertatih dengan bantuan Daniel dan Nouval menuju UKS yang diikuti Jully CS di belakang mereka.


🍓🍓🍓🍓🍓


Dilain sisi Rendi yang mengajak Anita menjauh dari Wigih dengan dalih mencari obat akhirnya hanya berhenti di tempat yang tidak jauh dari kantin sekolah.


"Lho kok kita malah jalan ke sini sih Ren?" Tanya Anita heran. "Seharusnya kita ke UKS untuk ngambil obat buat Wigih." Tambahnya.


"Gak perlu, toh nanti mereka pasti bakalan bawa Wigih ke UKS." Jawab Rendi tenang.


"Hah? Terus kenapa kita malah di sini? Mending langsung bawa Wigih ke sana." Balas Anita seraya berbalik arah akan melangkah pergi kembali ke stadium basket, namun langkahnya langsung dihentikan oleh Rendi.


"Gak perlu, biar itu Daniel dan Nouval yang mengurus." Cegah Rendi.


"Sebenarnya ada apa sih Ren dari tadi sikap kamu aneh deh..?" Tanya Anita semakin curiga.


"Kamu seharusnya ngerti Nit tadi itu hanyalah alasan." Ucap Rendi yang masih dengan sikap tenangnya.


"Iya tapi untuk apa?" Tanya Anita yang masih tidak mengerti dengan jalan pikiran Rendi.


"Aku sengaja bawa kamu pergi dari sana agar kamu untuk sementara ini menjauh dari Wigih." Balas Rendi.


"Maksud kamu... Kamu cemburu? Kamu suka sama aku?" Anita berspekulasi.


"Hahaha..." Rendi tertawa sumbang kemudian berucap, "Sepercaya dirikah kamu? Tapi dugaanmu itu salah, aku hanya tidak ingin suasana di dalam sana tambah semakin kacau, Wigih sedang cidera Nit, tapi perilaku kamu terhadap Wigih tadi sudah berlebihan sehingga membuat emosi yang dia tahan untuk menghadapi kelakuanmu selama ini meluap."


"Tapi Ren itu aku lakukan karena aku perhatian sama dia, aku sayang dan cinta sama dia." Ungkap Anita.


"Tapi apakah Wigih juga menyambutnya? Rasa yang kamu rasakan apakah juga dia rasakan? Aku rasa Wigih pernah menjelaskan ini semua ke kamu Nit, seharusnya kamu mengerti." Rendi mencoba memberi pengertian terhadap Anita, namun gadis itu tetap kekeh dengan pendiriaannya.


"Tapi aku hanya memperjuangkan perasaanku saja, apa tidak boleh?"


"Tapi Ren, aku gak bisa kalau bukan dia."


"Kamu benar-benar egois ya Nit, kamu ingin Wigih mengerti perasaanmu tapi apa kamu selama ini mencoba mengerti perasaannya?"


"Tapi Ren..."


"Sudah cukup Anita!" Potong Rendi cepat. "Jangan berdalih seolah-olah kamu hidup hanya untuk Wigih, kamu masih muda hidupmu masih panjang dan laki-laki bukan hanya Wigih saja. Apakah kejadian tadi tidak cukup membuatmu malu?" Setelah mengucapkan itu Rendi berlalu pergi meninggalkan Anita yang masih diam terpaku dengan ucapan Rendi. Luruh sudah pertahanannya, setitik air bening menetes dari sudut matanya. Anita terisak lirih. Dia tidak mengerti apa yang kurang pada dirinya, kecantikan, kepintaran, kepopuleran, semua orang di sekolah ini memuja dan mendambanya tapi mengapa hanya seorang Wigih saja yang tidak? Lelaki itu tidak pernah sekalipun memandangnya dengan apa yang selama ini dia usahakan agar Wigih mengakui kehadirannya namun lelaki itu tetap tak bergeming. Mungkin benar apa yang dikatakan Rendi, ini hanya keegoisannya saja tanpa memperdulikan bagaimana perasaan Wigih. Anita mengusap air matanya kasar, dia tidak ingin terlihat lemah di hadapan siapapun. Kemudian dia melangkah pergi dari tempat itu.


🍓🍓🍓🍓🍓


Sementara Wigih kini tengah berbaring di ranjang UKS, dia saat ini sedang diperiksa oleh tenaga medis yang sedang bertugas. Beruntungnya dia karena hari ini tenaga medis sekolah sedang melaksanakan piket, biasanya petugas kesehatan akan datang seminggu sekali untuk memeriksa keadaan dan kesehatan siswa, mengecek obat-obatan di UKS dan lain sebagainya, mungkin karena hari ini ada pertandingan basket jadi sekolah mempersiapkan tenaga medisnya untuk stay di sekolah hari ini.


"Gimana dok kaki saya?" Tanya Wigih.


"Gak apa-apa kok, tidak parah, untung tadi langsung diolesi salep sehingga mengurangi bengkaknya dan langsung dibawa kemari. Sementara kakinya dibalut perban dulu, setelah ini kamu langsung ke rumah sakit buat di rontgen untuk melihat apa ada keretakan atau tidak." Dokter dengan nama tag Dr. Satya di jas putihnya menjelaskan dengan ramah dan tenang.


"Baik dok, terimakasih, kalau begitu saya pamit sekarang." Ucap Wigih.


"Sama-sama, silahkan." Balas sang dokter.


Dengan dibantu oleh Nouval dan Daniel, Wigih turun dari ranjang UKS.


"Ehh gimana nih kita ke rumah sakit naik apa? Dibonceng naik motor bisa gak?" Tanya Daniel.


"Kalau naik motor berarti cuma salah satu dari kita saja yang ikut, kamu tadi kan nebeng bareng aku Niel." Ucap Nouval mengingatkan.


"Aku kan bawa motor, biar Daniel ntar bawa motorku." Balas Wigih.


"Emang gak susah kalau naik motor? Gimana kalau naik taksi saja?" Tawar Daniel.


"Kagak perlu, pakai mobil aku saja, kebetulan aku lagi bawa mobil." Tiba-tiba Rendi sudah berdiri di depan pintu UKS.


"Sipp lah kalau gitu." Balas Nouval.


"Kalau gitu kamu bawa motor aku ya Niel, gak mungkin kan aku bawa pulang motor sendiri." Pinta Wigih.


"Okey." Jawab Daniel dengan mengacungkan jempol tangan kanannya.


Dan ternyata di luar ruang UKS Jully dan ketiga temannya masih menunggu di sana.


"Lho kalian masih di sini?" Tanya Wigih yang kaget melihat Jully dan yang lainnya masih berada di sana, dia pikir Jully sudah balik duluan ke kelas atau mungkin kembali menyaksikan pertandingan berikutnya.


"Kami khawatir dengan keadaan kakak." Jawab Jully jujur.


"Aku sudah gak apa-apa kok, ini juga mau pulang, kata dokter cuma perlu istirahat saja." Ucap Wigih sengaja tidak memberitahukan kalau dirinya harus dirujuk ke rumah sakit, dia tidak ingin Jully menjadi bertambah khawatir.


"Ahh syukurlah..."Jully menghembuskan nafas lega. "Kalau begitu kami pergi dulu ya kak, semoga lekas sembuh." Ujarnya kemudian.


"Iya hati-hati ya..." Ucap Wigih yang diangguki Jully, namun sebelum sempat berbalik Wigih memanggil Jully lagi.


"Ah Jully!"


"Iya kak, ada apa?" Jawab Jully seraya berbalik menatap Wigih yang juga menatapnya.


"Terimakasih buat minumnya tadi." Ucap Wigih dengan tersenyum lembut membuat Jully langsung merona, dia jadi teringat kembali kejadian saat Wigih meminum air mineral bekas tegukannya.


"Sa sama-sama kak." Jawabnya terbata dan langsung berbalik meninggalkan tempat itu segera sebelum air mukanya terlihat bertambah memerah karena tersipu malu.


"Ah manisnya..." Ucap Wigih dalam hati seraya tersenyum geli.


Bersambung...