
"Duuhh... Akhirnya anak perempuan bungsu ibu batal jadi perawan tua, ibu seneng deh akhirnya do'a ibu kesampaian dapat mantu idaman. Syukur ya pelet kamu manjur ya Jull, kalau gak mana mau nak Dokter ganteng mahu sama kamu." Cerocos bu Susi tak henti-hantinya saking senengnya karena di Ulang Tahunnya kali ini dapat kodo yang begitu istimewa yaitu mantu idaman yang selalu ia impi-impikan. Dan sekarang semua keluarga sedang ngobrol santai sambil menikmati kue atau makanan ringan yang telah tersuguh di sana.
"Mana ada Jully pakai pelet?! Idihh amit-amit jabang bayi!" Seru Jully sambil menggetok meja dan dahinya secara bergantian. Sementara Wigih dan yang lainnya hanya bisa tertawa melihat interaksi bu Susi dan Jully.
"Terserahlah... Itu sudah tidak penting lagi, yang terpenting sekarang impian ibu dapat calon mantu ganteng dan pinter kesampaian. Jadi bisa dipamerin ke ibu-ibu arisan yang suka nyinyirin kamu, terutama bu Sastro itu yang mulutnya sudah kaya bon cabe level lima puluh, lihat saja nanti kalau lihat calon mantu ibu ini pasti mulut nyinyirnya itu langsung menganga lebar sampai air liyurnya menetes!" Kata bu Susi dengan sumpah serapah yang sudah tidak tertolong lagi itu membuat anak-anaknya yang mendengarnya hanya bisa menggelengkan kepala.
"Padahal ibu sendiri suka nyinyirin aku." Ledek Jully dengan menyebikkan bibirnya.
"Itu beda... Karena yang boleh nyinyirin kamu itu ya hanya ibu, orang lain gak boleh!" Jawaban bu Susi itu langsung membuat tawa semua orang yang ada di situ meledak.
"Ihh kok mas ikut tertawa sih?" Rajuk Jully pada Wigih.
"Sudah, sudah... Sekarang waktunya serius! Nak Wigih... Kapan rencananya nak Wigih bawa orang tua nak Wigih kemari?" Tanya bu Susi serius seraya menatap lurus pada Wigih yang duduk tepat di samping Jully.
"Setelah kedua orang tua saya pulang dari liburannya di luar negeri, kurang lebih dua minggu lagi." Jawab Wigih.
"Memangnya tidak terlalu cepat mas? Memangnya orang tua mas Wigih sudah tahu hubungan kita?" Jully langsung menimpalinya dengan cepat atas jawaban Wigih yang diluar pikirannya.
"Dari awal hubungan kita pun kedua orang tuaku sudah tahu sayang... Cuma akunya belum sempat mempertemukan kalian secara langsung karena sudah hampir setengah tahun ini orang tuaku di luar negeri untuk liburan sekaligus urusan pekerjaan." Terang Wigih yang membuat Jully tidak habis pikir ternyata calon suaminya ini gercep juga.
"Kok kamu gak bilang-bilang sih mas?" Protes Jully.
"Haha... Maaf, sengaja biar surprise." Ujar Wigih sambil mengelus lembut kepala Jully.
"Lagian ibu setuju dengan calon mantu ibu ini, lebih cepat lebih baik, kalau lama-lama ntar keburu expiate, ibu kan juga mau cepat-cepat gendong cucu dari kalian." Anak-anaknya bu Susi yang mendengar ucapan nyentrik ibunya langsung tepok jidat dan geleng-geleng kepala. Sedangkan Jully langsung menutup kedua telinga Wigih dengan kedua telapak tangannya.
"Jangan dengerin mas! Ibu lagi kumat nyinyirnya." Bisik Jully dan Wigih pun hanya mengangguk patuh. Terserah calon istri sama calon ibu mertuanya mahu bilang apa yang penting mereka bahagia.
"Jadi fix ya pertemuan keluarganya dilakukan sekitar dua minggu lagi?" Tanya Enin.
"Iya mbak, ntar tanggal pastinya aku kasih tahu lagi setelah omongin semuanya dengan mama papaku." Jelas Wigih.
"Ya sudah nanti biar mbak yang bantu urus persiapannya, mumpung mbak disini masih lama." Kata Saras menawarkan bantuan.
"Makasih ya mbak Saras... Tapi Jully mahunya yang sederhana, cuma keluarga inti kita sama keluarga inti mas Wigih saja yang hadir, jadi dibikin seperti makan bersama keluarga besar saja biar terkesan santai. Gak papa kan mas?" Pinta Jully yang disetujui oleh Wigih dan keluarga lainnya.
"Iya tidak apa-apa, terserah kamu saja sayang..." Jawab Wigih kalem.
"Terimakasih ya mas..." Ucap Jully sambil bergelayut manja di lengan kokoh Wigih.
"Sama-sama sayang..." Sahut Wigih dengan mengusap-usap tangan Jully yang bergelayut di lengannya.
"Ehmm... Nempel teruuusss." Seloroh Auliya yang pada waktu itu tidak membawa istri dan anaknya.
"Syirik!!" Jawab semuanya kompak membuat Auliya melongo nelangsa tanpa pasangan.
🍓🍓🍓🍓🍓
Hari pertemuan keluarga antara keluarga Mahardika dan keluarga Sasongko pun telah tiba. Semua orang sibuk mempersiapkan perjamuan untuk hari itu. Sesuai permintaan Jully, semua disiapkan secara sederhana layaknya acara makan bersama keluarga besar karena yang hadir cuma keluarga inti kedua keluarga saja. Dari pihak Jully cuma ada ibu dan kedua kakak perempuannya, Saras dan Enin. Sementara menantu bu Susi yang datang cuma Eka suami Enin saja sedangkan Bernard suami Saras sudah balik duluan ke Denpasar karena tidak bisa meninggalkan pekerjaannya.
"Semuanya sudah siap Nin? Eka mana? Belum datang?" Tanya bu Susi pada Enin.
"Semua sudah beres bu, tinggal kue bolunya saja sedang dipanggang sama mbak Saras. Kalau mas Eka paling setengah jam lagi sampai, tadi masih ngurus pekerjaan." Jawab Enin.
"Syukurlah kalau begitu, untung masih ada Eka yang laki-laki disini, coba kalau bapakmu masih ada pasti sekarang seneng banget lihat Jully mau nikah." Ucap bu Susi sambil menyeka air matanya yang tiba-tiba keluar begitu saja.
"Tadi di kamar, katanya ingin menyelesaikan beberapa pekerjaan dulu." Sahut Saras yang datang dari arah dapur sambil membawa nampan berisi kue bolu yang masih mengepul dan meletakkannya di meja ruang tamu yang sudah terisi beberapa kue dan makanan kecil.
"Itu anak mau ada tamu yang melamarnya masih saja ngurus pekerjaan!" Ucap bu Susi geram.
"Tenang bu... Masih ada waktu dua jam lagi kan? Ini masih jam sebelas, nanti keluarga Wigih datang sekitar jam satu siang." Kata Saras menenangkan ibunya.
"Tetap saja ini kan acara buat dia, masa masih nyantai begini?! Itu anak emang harus dijewer kupingnya!" Bu Susi sudah emosi.
"Sabar bu... Jully kan bukan anak kecil lagi masa dijewer? Biar Saras yang mengingatkan, mending ibu siap-siap saja dulu." Bujuk Saras pada ibunya.
"Iya, benar kata mbak Saras mending ibu siap-siap dulu, lagian semua sudah beres." Enin ikut membujuk ibunya.
"Ya sudah, ibu siap-siap dulu di kamar." Akhirnya bu Susi luluh juga. Emang menghadapi orang tua itu kudu sabar.
Akhirnya tepat dua jam setelah itu keluarga Wigih datang dan disambut dengan ramah oleh keluarga Jully. Mereka langsung dipersilahkan duduk di ruang tamu.
"Mari silahkan duduk dengan nyaman." Kata bu Susi mempersilahkan.
"Terimakasih bu... Perkenalkan ini kedua orang tua saya dan yang disebelah sana adalah adik perempuan saya dan suaminya." Ucap Wigih memperkenalkan anggota keluarganya.
"Perkenalkan saya Ridwan Sasongko papa Wigih dan ini istri saya Sinta mamanya Wigih. Terimakasih sudah mahu menerima kedatangan kami sekeluarga." Ucap Dr. Ridwan papa Wigih memperkenalkan dirinya secara langsung.
"Sama-sama, saya juga sangat berterima kasih atas kedatangan bapak ibu sekeluarga. Saya Susiana ibunya Jully, panggil saja bu Susi." Balas bu Susi tidak kalah ramahnya.
"Oh ya sebentar saya panggilkan Jully, Nin tolong panggil adikmu sekarang." Lanjut bu Susi berbisik pada Enin. Enin pun segera beranjak untuk memanggil Jully yang masih berada di dalam kamarnya.
Tak lama kemudian Jully keluar bersama Enin. Semua mata tertuju padanya. Saat ini Jully begitu cantik dengan dress panjang di bawah lutut dengan lengan sepanjang siku berwarna salem kontras dengan warna kulitnya yang putih bersih. Make up yang simpel tidak berlebihan menambah wajah cantiknya semakin ayu.
"Assalamu'alaikum om, tante..." Sapa Jully sembari mendekati kedua calon mertuanya dan meraih tangan mereka bergantian dan menciumnya khitmat.
"Wahh... Jully kamu cantik sekali sayang." Puji bu Sinta.
"Ahh tante bisa saja, saya jadi malu." Jawab Jully malu-malu.
"Beneran lho... Dulu kita pernah ketemu sekali kalau tidak salah waktu SMA kan? Dulu sudah cantik, sekarang tambah cantik." Kata bu Sinta kembali memuji Jully yang kini sudah merona kedua pipinya.
"Sudah ma, jangan goda Jully terus." Pinta Wigih.
"Duhh... Dibelain tuh kakak ipar." Seloroh Ernita dan semua orang pun tertawa.
"Ehhm..." Dr. Ridwan berdeham sebentar sebelum membuka suaranya kembali.
"Begini bu Susi, mungkin tujuan kedatangan kami sekeluarga sudah diketahui oleh ibu sekeluarga. Tapi disini saya selaku kepala keluaraga akan memberitahukan secara langsung bahwa kedatangan kami ini adalah dengan niat baik untuk melamar putri bungsu ibu Susi, Jully untuk anak pertama saya Wigih Sasongko. Sekiranya niat baik kami ini diterima, kami sangatlah bahagia dan berterimakasih." Ucap Dr. Ridwan papa Wigih terdengar berwibawa dan serius. Wigih dan Jully selaku pemeran utama di pertemuan keluarga itu sudah dilanda gugup yang luar biasa, meski sudah tahu apa jawaban kedua keluarga mereka tetap saja jantung mereka saat ini sudah dag dig dug derr.
"Sebelumnya terimakasih atas niat baik bapak sekeluarga, saya sangat senang jika nak Wigih bisa menjadi pasangan Jully anak saya, namun semua keputusan kembali lagi kepada Jully. Bagaimana sayang... Apakah kamu menerima Wigih sebagai calon suamimu?" Ucap bu Susi sembari menggenggam salah satu tangan Jully, menanyakan apakan anak bungsunya itu bersedia menerima lamaran Wigih.
Jully menarik napasnya dalam kemudian menghembuskannya pelan lalu menjawab...
"Iya, saya bersedia."
"Alhamdulillah...." Jawab semua orang yang berada di sana.
Bersambung....