Jully Mahardika

Jully Mahardika
Ep. 62 Pria Tampan



"Haruskah aku mengajak kak Wigih saja?"


"Ajak...tidak, ajak...tidak, ajak...tidak, ajak? Aarrgghh!! Kenapa aku harus memikirkan omongan Kansari tadi siang sih?! Lagian bagaimana caranya aku mengajak kak Wigih?"


Jully masih saja teringat akan ide Kansari yang menyuruhnya mengajak Wigih untuk menemaninya datang ke pesta pernikahan Wicky. Membuatnya tidak bisa berkonsenterasi mengerjakan pekerjaannya setelah kembali ke kantornya. Bahkan di meja kerjanya kini penuh dengan sobekan tissue karena berulang kali dia harus memilih antara mengajak Wigih atau tidak. Dia menarik napas panjang dan menghembuskannya, lalu menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi kerjanya seraya memejamkan mata. Pikirannya entah berkelana kemana. Tiba-tiba suara ketukan pintu menyadarkannya. Seraya membuka matanya dia menyuruh seseorang di luar sana untuk masuk. Seorang wanita muda dengan setelan blouse warna pastel dan rok span selutut warna coklat tua seusia Billy atau mungkin lebih muda lagi muncul dari balik pintu.


"Ada apa Mel?" Tanya Jully, ternyata wanita muda itu Melda asisten Jully.


"Baru saja Marta mengabarkan jika ada seseorang yang ingin bertemu dengan kak Jully." Jawab Melda.


"Seseorang?" Jully membeo.


"Iya, katanya seorang laki-laki, apakah kakak ada janji dengan seorang klien?" Tanya Melda. Jully tidak langsung menjawabnya, dia melirik pada jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Waktu menunjukkan pukul. 16.25 WIB terlalu sore untukknya menemui seorang klien.


"Tapi ini sudah hampir jam pulang kerja, kamu tahu kan kalau aku tidak akan pernah menemui klien jam segini atau diluar jam kerja?" Ujar Jully.


"Tentu saja, karena bagi kakak itu sangat merepotkan dan mengganggu." Jawab Melda yang sudah hafal betul akan kebiasaan dan cara kerja atasannya itu.


"Apa perlu aku menemuinya dan mengatakan untuk kembali lagi besok?" Lanjut Melda meminta ijin pada Jully. "Ohh ya sebagai info saja, kata Marta yang datang adalah laki-laki tampan, bahkan Marta menambahkan kata 'sangat' pada kalimatnya." Tambah Melda dengan sedikit terkekeh, dia merasa jika Marta sangat berlebihan.


"Aku tidak perduli dengan laki-laki tampan atau semacamnya, jika dia tidak bermoral maka itu sudah tidak menarik lagi." Sahut Jully dengan malas.


"Ayolah kak... Lihat dulu sebentar mungkin dia seleramu atau aku harus benar-benar mengusirnya sekarang?" Kata Melda sedikit merayu, sebenarnya dia juga sedikit penasaran siapa lelaki tampan yang ingin bertemu dengan boss cantiknya itu.


"Tidak usah, aku akan turun menemuinya sebentar, jika tidak begitu penting aku akan mengusirnya langsung." Sahut Jully seraya bangkit dari tempat duduknya, dia keluar dari ruangannya yang diikuti oleh Melda dari belakang.


Sesampainya di lobby bawah Jully melihat seorang pria tengah berdiri membelakanginya. Pria itu memakai kemeja lengan panjang berwarna nave yang sudah dilipat hingga sikunya dengan celana bahan berwarna hitam. Jully menerka-nerka siapa kiranya pria tersebut?


"Maaf, ada yang bisa saya bantu?" Jully mulai menyapanya dan pria itu perlahan berbalik mengarah pada Jully. Pria itu terpaku sejenak dan sedetik kemudian menyunggingkan senyumannya.


"Lama tidak bertemu Jully..." Sapa pria tersebut dengan senyuman yang masih tetap menghias bibirnya.


"Kak... Nou..val??" Ucap Jully terbata.


"Benar, ini aku." Balas pria itu yang ternyata adalah Nouval sahabat Wigih sekaligus mantan senior Jully waktu SMA, salah satu most wanted yang mendapat predikat play boy waktu itu.


"Ba...bagaimana biasa kakak tahu aku bekerja di sini? Ahh sorry kak, silahkan duduk dulu." Jully masih tidak percaya akan bertemu Nouval hari ini. Bagaimana bisa laki-laki itu tahu tempat kerjanya?


"Aku mengetahuinya dari Rendi dan aku turut prihatin atas kecelakaan yang menimpamu, maaf aku tidak menjengukmu pada waktu itu karena aku baru saja kembali dari London. Dan maaf aku menemuimu tanpa membuat janji terlebih dahulu." Ungkap Nouval.


"Ahh tidak apa-apa aku mengerti lagian sekarang aku sudah sembuh total. Bagaimana kabar kak Nouval? " Ujar Jully menjawabnya dengan pertanyaan.


"Kabarku kurang baik dan sebenarnya ini salah satu tujuanku menemuimu." Jawab Nouval dengan raut wajah yang berubah serius.


"Maksud kakak?" Tanya Jully tak mengerti.


"Aku ingin meminta bantuanmu." Pinta Nouval.


"Tentu saja aku akan membantu jika itu memungkinkan." Balas Jully.


"Kakak ingin bercerai? Tapi kenapa? Apa kakak melakukan kesalahan?" Tanya Jully memberondong.


"Kenapa kamu berpikir aku yang melakukan kesalahan? Apa karena rumor ketika kita SMA dulu? Aku tidak sebejat itu Jully..." Sahut Nouval seraya memijat ujung pangkal hidungnya. Dia heran kenapa predikat buruknya itu masih saja diingat Jully?


"Ahh maaf kak, aku tidak bermaksud menyinggung kak Nouval. Tolong jangan salah paham." Ucap Jully meringis canggung merasa tak enak pada Nouval.


"Ya sudahlah, aku maklum soal itu." Nouval tidak ingin memperpanjang lagi, toh tujuannya menemui Jully jauh lebih penting dari masa lalunya.


"Baiklah sekarang bisa kita bicara serius apa yang sebenarnya terjadi pada rumah tangga kakak?" Tanya Jully serius.


"Istriku berselingkuh dengan asisten pribadinya." Jawab Nouval dengan raut wajah yang sulit diartikan, antara marah, benci, kecewa dan jijik?


"Astaga! Bagaiman bisa istrimu berselingkuh dengan pria lain sementara suaminya begitu mempesona seperti kakak?" Jully tidak percaya jika lelaki tampan dan mapan seperti Nouval yang notabene banyak wanita yang mengantri hanya untuk berada di dekapan lelaki itu bisa diselingkuhi oleh istrinya sendiri? Namun keterkejutan Jully tidak berhenti disitu saja, betapa Jully dibuatnya shock setelah apa yang diutarakan Nouval membuat telinganya berdengung dan mulutnya menganga tak percaya.


"Asisten pribadinya itu seorang perempuan." Sahut Nouval datar, ada kekecewaan didalam ucapannya.


"Ba..bagaimana bisa? Maksud kakak dia..." Nouval langsung memotong ucapan Jully.


"Iya benar, dia mempunyai perilaku menyimpang." Tegasnya.


"Ahh baiklah aku mengerti maksud kakak, aku akan membantumu tapi mungkin kita akan membicarakannya lagi besok karena kantorku sudah waktunya tutup dan aku tidak biasa membicarakan maslah pekerjaan seusai jam kantor." Ujar Jully yang langsung diangguki oleh Nouval.


"Ahh maaf jika aku datang diwaktu yang tidak tepat karena pikiranku sedang kacau dan terimakasih telah meluangkan waktu untukku." Kata Nouval merasa tidak enak pada Jully.


"Tidak apa-apa aku memakluminya, jika aku berada di posisi kakak mungkin aku akan melakukan hal yang sama." Balas Jully.


"Dan ini kartu namaku, hubungi aku jika kakak ingin membicarakan masalah ini lagi." Lanjut Jully sambil menyodorkan kartu namanya pada Nouval.


"Terimakasih, aku akan menghubungimu lagi besok." Jawab Nouval menerima kartu nama Jully lalu berdiri dari duduknya yang diikuti Jully. "Kalau begitu aku pamit sekarang, senang bertemu denganmu lagi Jully." Pamit Nouval seraya berjabat tangan dengan Jully.


"Aku juga, hati-hati di jalan." Balas Jully yang diangguki oleh Nouval. Dan lelaki itu melangkah pergi meninggalkan lantai lobby kantor Jully.


Jully meluruhkan pantatnya di sofa lobby itu. Memijat sebentar pelipisnya yang mulai berdenyut. Hari ini begitu melelahkan. Hal yang tak terduka terjadi hari ini, Nouval yang tiba-tiba muncul setelah sekian lama datang membawa berita yang mengejutkan. Apakah setelah ini dia akan mendapatkan hal mengejutkan lainnya? Entahlah, tidak ada yang tahu.


Jully mulai beranjak dari duduknya, dia akan kembali ke lantai atas untuk mengambil tasnya lalu langsung pulang ke rumahnya. Namun di saat ia hendak melangkah meninggalkan lobby tersebut sebuah suara memanggilnya. Suara seseorang yang membuatnya terpaku sesaat.


"Jully..." Seruan lembut itu terdengar lagi di telinga Jully. Perlahan ia membalikkan badannya seakan itu adalah adegan slow motion.


"Kak... Wi..gih??"


🍓


🍓


🍓


Bersambung....