Jully Mahardika

Jully Mahardika
Ep. 67 Nyinyiran Bu Susi



Di ruangan dokter Ibrahim...


"Bagaimana keadaan anak saya dok?" Tanya bu Susi yang kini tengah menemani Jully cek up.


"Sesuai pemeriksaan kini keadaan nona Jully benar-benar pulih total, syaraf otaknya juga normal, apalagi sekarang nona Jully sudah dapat mengingat sesuatu yang sempat hilang dari ingatannya. Saya rasa sudah tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi." Jelas dokter Ibrahim.


"Dengar kan bu... Ibu sekarang sudah tidak perlu khawatir lagi." Ujar Jully agar ibunya tidak khawatir lagi padanya.


"Iya, tapi tetap saja ibu gak mau kalau kamu kenapa-napa lagi, ibu trauma." Sahut bu Jully.


"Tenang bu... Mulai sekarang Jully akan lebih hati-hati lagi." Kata Jully sambil menggenggam jemari ibunya agar wanita setengah baya kesayangannya itu.


"Terimakasih dok sudah membantu saya selama perawatan ini." Ucap Jully pada dokter Ibrahim.


"Sama-sama, semoga nona kedepannya selalu sehat." Ucap dokter Ibrahim mendo'akan.


"Amiinn..." Jawah Jully dan ibunya bersamaan.


"Kalau begitu kami pamit dulu dok." Pamit Jully.


"Silahkan... Hati-hati di jalan." Jawab sang dokter.


Setelah itu Jully dan ibunya keluar dari ruangan dokter Ibrahim. Mereka berjalan menyusuri lorong-lorong Rumah Sakit dengan perasaan lega. Langkah Jully terhenti ketika melewati ruang poly anak.


"Ada apa Jull? Kok berhenti?" Tanya ibunya heran.


"Sebentar bu..." Ucapa Jully yang semakin membuat ibunya mengerutkan dahi karena tidak mendapat jawaban dari anaknya.


Jully melihat Anita yang sedang memeriksa salah satu pasien anak dari luar pintu ruang poly anak yang kebetulan terbuka. Bibirnya tersenyum melihat interaksi Anita yang begitu sabar dan telaten ketika memeriksa anak kecil yang terlihat takut-takut. Tidak sengaja pandangan mereka bertemu. Anita yang sedikit kaget langsung tersenyum sedetik kemudian dan memberi kode dengan ucapan tanpa suara yang bisa diarikan 'Tunggu sebentar' dan Jully pun mengangguk.


"Ada apa sih Jull? Kamu lihat apa di dalam?" Tanya ibunya ingin tahu.


"Sebentar bu, ada teman Jully di dalam, kita ketemu sebentar ya..." Jawab Jully.


"Ohh... Teman kamu bekerja di sini?" Tanya ibunya lagi.


"Iya bu." Jawab Jully singkat.


Tidak lama setelah itu pasien yang tadi diperiksa oleh Anita keluar dari ruangan dan diikuti oleh Anita yang juga keluar dari ruangannya.


"Jully... Gimana kabarmu?" Tanya Anita yang langsung menghambur memeluk Jully sekilas dan bercipika cipiki.


"Alkhamdulillah baik kak, ini baru saja ketemu dengan dokter Ibrahim." Jawab Jully.


"Syukurlah kalau begitu, aku ikut senang." Ucap Anita ikut merasa lega.


"Ohh ya kak... Ini ibu aku, bu...ini kak Anita atau lebih tepatnya dokter Anita, dokter specialist Anak. Kak Anita ini dulunya adalah senior Jully waktu SMA." Terang Jully pada ibunya.


"Saya Anita, senang bertemu dengan ibu." Ucap Anita sambil meraih tangan bu Susi untuk berjabat tangan.


"Saya juga senang bertemu dengan dokter Anita, ternyata senior Jully banyak yang jadi dokter ya... Mana dokter Anita cantik begini." Puji bu Susi.


"Ahh ibu bisa aja... Cantikan Jully kemana-mana lagi bu." Kata Anita merendah.


"Cantik kok sampai sekarang masih jomblo?" Ejek bu Susi pada anaknya. Sementara Jully hanya bersikap santai tidak menanggapi ejekan ibunya, toh dia sekarang kan sudah menghapus predikat jomblonya itu hanya saja ibunya itu belum mengetahuinya.


"Haha... Masa sih bu?" Anita tertawa canggung mendengar candaan bu Susi seraya lebih mendekatkan tubuhnya pada Jully dan membisikkan sesuatu.


"Memang hubunganmu dengan Wigih belum ada kemajuan?" Tanya Anita penasaran.


"Kami sudah jadian tiga hari yang lalu." Balas Jully dengan berbisik pula.


"Hahh?! Serius?!" Seru Anita tertahan dengan hanya berucap tanpa suara.


"Kalian bisik-bisik apa sih?" Tanya bu Susi ingin tahu.


"Bukan apa-apa kok bu, bukan hal penting." Sahut Jully mengelak sedangkan Anita hanya menanggapinya dengan tersenyum canggung sembari melirik ke arah Jully.


Tiba-tiba sebuah notifikasi pesan terdengar dari phonsel Jully. Ia pun segera membuka kolom pesan yang ternyata dari Wigih. Sungguh panjang umur, baru juga dibicarakan dan sekarang orangnya sudah berkirim pesan.


Sebuah senyuman tersungging dari kedua sudut bibirnya ketika membaca pesan dari kekasihnya itu. "Sayang... pemeriksaannya sudah selesai?" Kira-kira begitulah isi pesan dari Wigih. Dan ketika Jully menjawabya "Sudah" Wigih langsung menawarinya untuk mengantarkan Jully dan ibunya pulang sekalian mengajaknya untuk makan siang bersama, namun Jully menolaknya. Dia beralasan ibunya bakalan heboh sepanjang jalan jika mengetahui mereka berdua telah berpacaran. Biar nanti saja ibunya mengetahui jika hubungan mereka sudah beberapa hari. Nanti dia akan menyuruh Wigih main ke rumah ibunya saat Wigih dan dirinya sedang libur bekerja. Itu akan lebih baik daripada memberitahu ibunya secara dadakan seperti ini.


"Ihh ibu kepo aja! Terserah Jully dong mau senyum atau nangis, wong ya pesan-pesan Jully juga." Sahut Jully yang tak mau kalah.


"Sorry kak... Ibu aku emang begini, rada nyentrik kalau ngomong haha..." Ujar Jully pada Anita.


"Gak apa-apa kok, justru kamu sama ibumu terlihat sangat dekat sekai." Sahut Anita.


"Ya mau gimana ya dok... Lha wong Jully ini gak punya gandengan padahal sandal saja ada pasangannya, ya otomatis dekatnya cuma sama saya." Seloroh bu Susi.


"Ehh gak gitu juka kali... Aku punya banyak teman kali bu." Sahut Jully tak terima.


"Iya teman kamu semuanya sudah punya pasangannya masing-masing, cuma kamu saja yang gak punya. Bisa-bisa kalau ada kumpulan bawa pasangan, kamu cuma jadi obat nyamuknya." Dasar bu Susi memang tidak terkalahkan kalau sudah urusan nyinyirin anaknya yang dia tahu sampai sekarang masih ngejomblo.


"Pfftt..." Anita langsung menutup mulutnya sebelum dia menyemburkan tawanya saat mendengar perkataan bu Susi.


"Ibu tidak usah khawatir... Mungkin sebentar lagi Jully memperkenalkan pasangannya. Jully kan dari SMA sudah populer." Ungkap Anita pada bu Susi.


"Masa sih? Kok ibu kurang yakin ya..." Sahut bu Susi sedangkan Jully hanya bisa memutar bola matanya jengah. Biarlah sekarang ibunya bilang sesuka hatinya, ntar ibu tersayangnya itu bakalan terkejut mungkin sampai lompat-lompat salto saking senengnya karena 'Nak Gantengnya' bakal jadi menantu masa depannya.


"Terserah deh ibu mau bilang apa, sesukanya ibu saja." Kata Jully menimpali.


"Ohh ya kak, kapan-kapan kita jalan bareng yuk... Kemana gitu... Shopping atau nongkrong dimana gitu, kita kan jarang ketemu, jarang ngobrol juga." Ajak Jully mengalihkan lembicaraan agar ibunya itu tidak terus menyinyirinya.


"Boleh, boleh... Ntar kita atur saja waktunya." Balas Anita antusias, dia sendiri masih penasaran bagaimana Jully dan Wigih bisa jadian. Dia berniat mengorek cerita dari Jully.


"Ya sudah kak, kami pamit dulu ya... Sudah siang banget ini, ntar keburu macet, lagian kakak pasti juga sedang sibuk kan..." Ujar Jully berpamitan.


"Baiklah, ntar kapan-kapan kita ketemu lagi." Jawab Anita.


"Saya permisi pulang dulu ya dokter Anita, kapan-kapan main saja ke rumah nanti ibu buatin kue yang enak buat dokter." Ujar bu Susi.


"Terimakasih bu, kapan-kapan kalau ada waktu saya akan main ke rumah ibu." Balas Anita dengan menyertakan senyuman cantiknya.


"Bye kak... Salam buat kak Rendi." Jully melambaikan tangannya seraya melangkah pergi meninggalkan lorong di Poly Anak menuju pintu keluar Rumah Sakit.


Malam harinya Jully sudah berdandan begitu cantiknya. Dia mengenakan dress warna hitam sebatas lutut lengan panjang dengan leher terbuka, simple namun terlihat elegan. Rambutnya hanya diikat ke belakang saja, sederhana tapi pasti akan membuat mata Wigih terpana karena kecantikan Jully malam ini.


Ting tong...


Ting tong...


Suara bell apartemennya berbunyi, Jully segera bergegas keluar dari kamarnya setelah menyemprotkan sedikit parfum ke tubuhnya dan menyambar tas tangan senada dengan warna bajunya. Setelah membuka pintunya, mereka berdua justru terdiam di tempat tanpa sepatah katapun. Mereka berdua sibuk saling memindai penampilan masing-masing. Karena mereka berdua malam ini terlihat begitu mempesona. Wigih saat ini memakai jas berwarna hitam dengan kemeja putih di dalamnya terlihat begitu tampan. Sangat serasi dengan penampilan Jully sekarang ini.


"Sayang... Kamu cantik sekali malam ini. Sudah siap untuk pergi?" Tanya Wigih sembari memuji penampilan Jully malam ini. Wigih menawarkan tangannya untuk digandeng oleh Jully.


"Tentu saja." Jawab Jully seraya tersenyum manis dan langsung menggamit lengan Wigih.


Bersambung....


🍓


🍓


🍓


🍓



Jully yang cemberut denger nyinyiran ibunya.



Jully saat mau pergi kondangan.



Dokgan Wigih yang selalu ngintilin Jully. Mereka akan pergi ke kondangan.


Asyiiikkk... ke kondangan udah ada gandengan.... 😄💕💕