
Suasana di kelas Jully saat ini ....
"Waaahh... Gila! Ini sudah seminggu lho kamu dapat juice jambu gratis." Ini Ningsih yang tiba-tiba datang sambil menggebrak meja Jully, yang membuat gadis itu dan lainnya yang sedang duduk bersama dengannya terperanjat kaget karena ulah Ningsih.
"Astaga! Bikin kaget aja ni baby elephant! Datang-datang bikin sport jantung! Lagian ini juice strawberry, bukan jambu... Udah gede masih aja buta buah-buahan." Maki Rere. Mereka akhirnya resmi berkenalan setelah kasus juice strawberry dari penggemar Jully yang bikin heboh seantero kelas.
"Emang ada ya buta buah-buahan? Yang ada kan buta warna sama buta huruf. " Tanya Kansari polos. "Tapi gak apa-apa Ning, jangan berkecil hati, yang penting gak buta pas lihat cowok ganteng. " Tambahnya dengan senyum cerah yang membuat Jully dan Rere mendesah pasrah atas pernyataan ajaib Kansari. Sementara Ningsih yang mendapat nasehat itu hanya geleng-geleng kepala.
"Trus gimana Jull? Apa tindakan kamu selanjutnya?" Tanya Rere. "Enak sih stiap hari dapat kesegaran yang hakiki setiap kali haus, tapi apa kamu tidak risih dapat barang yang gak tahu dari mana dan siapa pengirimnya? Tiap hari pula, ya... Meski hari minggu libur, tapi kan tetep aja hitungannya stiap hari" Tambah Rere panjang lebar. Ningsih pun ikut mengangguk setuju. Batin Jully diam-diam membenarkan hal itu, meski dia mencurigai satu orang yang baru saja masuk melewati pintu kelas dengan tersenyum setelah melirik ke arahnya sekilas. Wicky. Diakah tersangkanya? Hati Jully masih mempertanyakan hal itu. Kenapa semua ini terjadi? Dulu kejadian seperti ini tidak pernah ada, apa mungkin ini semua adalah efek dari dirinya yang kembali lagi ke masa lalu? Sungguh ini membuat Jully frustasi. Tiba-tiba suara Kansari membuyarkan prasangka di hatinya.
"Udahlah gaes... Gak usah diambil pusing, selama gak beracun aja, anggap saja ini rejekinya Jully dan rejeki itu gak boleh ditolak! Kalau gak mau biar aku saja yang minum." Sesederhana itulah pemikiran Kansari.
"Yeee... Maumu itu Sar. " Timpal Ningsing sambil menonyor jidat Kansari.
"Ihh... Sewot ni baby elephant! Bilang saja kamu juga mau!" Jawab Kansari gak kalah sewot.
"Aku mah ogah! Minum dah sana minum... Siapa yang tahu itu juice ada guna-gunanya hiiiee... " Mulai dah dua bocah itu adu mulut, kalau sudah gini bakalan panjang urusannya.
"Ah masak sih? Buktinya Jully sampai saat ini masih waras, ya kan Jull?" Haduh Kansari.... Ini bocah kelewat polos apa kelewat bego sih? Kasihan Jully kan punya teman gini amat. Jully mah cuma tepok jidat.
Bel masukpun akhirnya berbunyi mengakhiri perdebatan Ningsih dan Kansari yang tidak ada ujungnya, masing-masing diantara mereka sudah pergi meninggalkan meja Jully. Tiba-tiba Kansari mendekatkan tubuhnya ke arah Jully dan berbisik,
"Trus gimana sama si Yuyu? Kamu gak penasaran? Dia juga gak pernah absen kan seminggu ini." Seketika mata Jully membelalak seakan mengingat sesuatu. Dia segera merogoh laci di bawah mejanya, dan benar saja sebuah amplop biru muda sudah anteng di dalam sana. Menurutnya dia harus segera menemukan sang pengirim surat rahasia ini, bukankah salah satu tujuannya kembali ke masa lalu juga termasuk mengungkap kebenaran dari surat ini yang belum terpecahkan semenjak dulu. Selama ini dirinya hanya berasumsi Wicky lah pengirimnya. Bukannya dia GeEr memang benar Wicky mempunyai perasaan terhadap dirinya di masa lalu, namun tidak menutup kemungkinan ada orang lain yang menaruh hati terhadapnya. Karena yang Jully tahu, Wicky bukanlah pria romantis yang buang-buang waktu menuliskan sepucuk surat setiap harinya demi wanita yang disukainya, Wicky cenderung lebih suka mencari cari perhatian agar orang lain memandangnya. Seperti sekarang ini, sebuah buntalan kertas melayang dan mendarat tepat di atas mejanya. Di dalamnya tertulis, "Pinjam catatan Bahasa Indonesia".Jully pun mendesah pelan dan matanya melirik si pelaku pelemparan yang sudah kedip-kedip jahil minta disentil. Siapa lagi kalau bukan si Wicky. Setelah MOS berakhir dan kelas sudah mulai aktif, Wicky juga aktif mendekati Jully dengan berbagai alasan yang memang terlihat dibuat-buat. Yang pinjam bolpoinlah, yang titip absenlah, nyontek PR lah... Pokoknya banyak sekali alasan yang bikin Jully gak habis pikir. "Tidak berubah". Itulah yang dipikirkan Jully. Seharusnya dia senang karena ini bisa menjadi kesempatan baginya untuk memperbaiki hubungannya dengan Wicky, tapi entah kenapa makin ke sini Jully semakin ragu apakah kembali bersama Wicky merupakan keputusan yang tepat? Jully kembali melemparkan buntalan kertas itu setelah menuliskan balasannya. Terlihat di seberang sana Wicky menerimanya denga wajah sumringah dan membuka balasan dari Jully, tapi seketika berubah kecut setelah membaca isi di dalam kertas itu. "Pinjam saja sama teman sebangku kamu". Bukan Wicky namanya kalau menyerah begitu saja. Dia bangkit dari tempat duduknya dan menghampiri Jully, Kansari yang duduk disebelah Jully hanya mengerutkan keningnya melihat Wicky yang menghampiri meja mereka.
"Ayolah Jull... Sebentar lagi guru dijam pertama masuk, pinjam sebentaaar saja, aku mau nyalin catatan nih." Pinta Wicky dengan wajah memelas.
"Kamu akan menyalin catatan Bahasa Indonesia di jam pelajaran Bahasa Inggris? Trus kamu akan menyalin catatan Bahasa Inggris di jam pelajaran apa Wicky?" Tanya Jully tak mau kalah.
"Tentu saja di jam kedua Bahasa Indonesia." Jawab Wicky enteng. Tepok jidat lagi deh Jully, tidak tahu sudah berapa kali dirinya menabok jidatnya sendiri pagi ini, kanapa dirinya harus dikelilingi teman-teman aneh disekitarnya. Ini bocah di hadapannya memang ajaib gila, pikiran warasnya entah dibuang kemana. Bukankah disini yang paling gak waras adalah dirinya? Kenapa dirinya bisa memiliki ketertarikan terhadap bocah sableng di hadapannya ini? Akhirnya Jully memilih menyerah dan meminjamkan catatannya ketimbang melanjutkan perdebatan unfaedah ini.
"Nah... Gitu dong dari tadi, kalau aku pinjam catatannya Ale bisa-bisa mataku bintilan membaca tulisannya."
"Apa katamu barusan Wick?! Jadi menurutmu tulisanku jelek dan gak bisa dibaca gitu?!"
Apes memang Wicky, tak sengaja Ale sedang melintas di dekatnya untuk mengambil bolpoinnya yang jatuh menggelinding tepat di sebelah kakinya disaat dirinya mengatakan pernyataan tentang tulisan Ale yang menurutnya buruk. Ck ck ck... Sungguh ironis persahabatan mereka. Jully pun tak ambil pusing atas pertikaian yang terjadi dengan dua sahabat itu dan memilih menaruh amplop biru muda yang ditemukannya di bawah laci mejanya ke dalam tas sekolah miliknya. Mungkin dia akan membacanya nanti sepulang sekolah.
🍓🍓🍓🍓🍓
Malamnya di kamar Jully...
Dear keceriaan....
Apa kabarmu Jully?
Apakah tidurmu nyenyak tadi malam?
Ah, mungkin kamu sudah mulai bosan dengan pertanyaanku yang itu itu saja, yang selalu aku ulang stiap harinya. Ya... Itu karena aku selalu gugup dan berpikir apa sebaiknya yang harus aku tulis untuk mengawalinya. Meski ini hanyalah surat satu arah, karna tak sekalipun engkau membalasnya. Tapi paling tidak kau membacanya dan aku bersyukur akan hal itu.
Jully... Mungkin setelah ini aku akan jarang mengirimimu surat, karna ada beberapa hal yang harus aku urus, hal ini sangatlah penting bagiku dan jangan berpikiran aku mulai bosan terhadapmu yang tak kunjung juga mendapat balasan darimu. Sungguh, ini memang suatu hal yang sangat mendesak. Aku janji akan menceritakan kepadamu jika semuanya berjalan lancar.
...Yang selalu menunggumu......
...You're Cancer Boy...
Jully merebahkan badannya di atas kasur setelah membaca isi surat dari si "Yuyu", dia berpikir haruskah dia membalasnya atau tidak? Seperti biasa yang dia lakukan hanya mengambil dan membacanya. Namun hati kecilnya mengatakan kali ini dia harus membalasnya.
"Sepertinya dia tidak buruk dan orang yang baik, jadi sungguh tidak adil jika aku selalu mengabaikannya. Dan jika aku ingin mengetahui identitasnya, maka aku harus berbuat baik untuknya walau itu hanya sekali. Ya! Aku, Jully Mahardika memutuskan untuk membalas surat si "Yuyu" !"
Demikianlah pidato monolog dari Jully dan dia mulai memikirkan sekiranya apa yang harus dia tulis untuk surat balasan pertamanya? Tapi pada akhirnya Jully tetaplah Jully, karena kebanyakan mikir akhirnya dia terlelap juga tanpa menyisakan satupun kalimat yang harus dia tulis untuk suratnya besok. Ahh... Biar hari esok saja yang menjawab.
🍓🍓🍓🍓🍓
Keesokan harinya di sekolah. Jully berlari menyusuri lorong-lorong koridor sekolahnya, dia tak sabar untuk segera sampai di kelasnya, di belakangnya terlihat Kansari mengiutinya berlari dengan ngos-ngosan. Dia tidak tahu apa yang akan dilakukan sahabatnya itu sehingga berlari bagai dikejar hantu. Setibanya di kelas, Jully segera bergegas masuk sementara Kansari memilih berhenti sejenak di depan pintu kelas untuk mengatur napasnya yang sudah kembang kempis.
"Hah..hah... Gendheng kowe Jull, mblayu kaya diuber demit! (gila kamu Jull, lari seperti dikejar hantu!) Sebenarnya ada apa sih?"
Jully hanya terdiam tak menjawab pertanyaan Kansari, dia berdiri tepat di sebelah bangkunya, matanya memandang ke atas meja, sebuah kotak juice strawberry seperti biasanya di atas sana. Perlahan kakinya melangkah dan mendudukkan diri di kursi miliknya, sembari kepalanya menunduk melihat isi dalam laci bawah mejanya. Sesuatu yang segar dan wangi menyentuh indera peciumannya. Ada sesuatu di sana dan dia mengambilnya. Seikat bunga Chrysan putih yang indah. Jully terkejut, tak disangkanya ada seseorang yang memberinya bunga, karna tak ada seorangpun yang memberinya bunga terlebih itu seorang pria. Dia hanya mendapatkan bunga di hari kelulusannya menjadi sarjana, itupun dari ibu dan kakaknya. Kini seorang pria memberinya bunga meski tak tahu siapa orangnya, namun dia tetap bahagia. Jully tersenyum dengan mencium wangi Chrysan yang segar. Chrysan putih bunga kesukaannya. Kansari yang menyaksikannya ikut terkejut, tidak disangka itulah penyebab sahabatnya lari kesetanan di pagi hari.
"Waow Jull... Jadi ini yang bikin kamu lari kesetanan? Emang dari siapa sih beb?" Tanya Kansari.
"Dari Yuyu" Jawab Jully singkat tanpa memalingkan pandangannya dari bunga di tangannya.
"Omegod! Serius?!" Tanya Kansari tak percaya dan Jully hanya mengangguk saja sambil tersenyum.
"Eh ada memo yang terselip!" Tunjuk Kansari.
"Oh iya, kok aku gak sadar ya?" Jully mengambil memo tersebut, disana tertulis... ("Chrysan putih menggambarkan ketulusanku untukmu yang cantik, tunggu aku dan jangan nakal ya!"~Cancer Boy~)
"Cieee... Jangan nakal ya!" Goda Kansari.
"Apaan sih?" Jully jadi salah tingkah. Dalam hatinya berkata, "Chrysan putih juga melambangkan kejujuran dan cinta yang suci, semoga kamu benar-benar lelaki yang tulus dan jujur siapapun dirimu."
Tak terasa hari terlewati begitu saja, semua kelas sudah selesai, sudah waktu untuk pulang kembali ke rumah. Sebelum pulang Jully menaruh sebuah amplop warna kuning di dalam laci bawah mejanya. Sebuah surat balasan yang pertama dia tulis untuk si "Yuyu". Setelahnya dia melangkah keluar kelas dengan seikat Chrysan putih di tangannya. Seuntai senyum terlihat dari bibirnya. Dia bahagia hari ini meski esok tak ada lagi surat dengan amplop biru muda di bawah laci mejanya.
Setelah kepergian Jully, seseorang masuk ke dalam kelas Jully yang sekarang benar-benar kosong. Dia melangkah menuju meja Jully dan berhenti di sana, mendudukkan dirinya di kursi Jully, tangannya merogoh laci di bawah meja dan mengambil amplop kuning yang ditinggalkan Jully tadi sebelum pulang. Dibukanya amplop tersebut dan membaca isinya.
Dear Cancer Boy...
Terimakasih atas semua cerita yang kau bagi untuk setiap pagiku selama ini dan aku suka bunganya. Semoga semua urusanmu berjalan lancar apapun itu.
~Jully~
Terukir senyuman tulus dibibir orang itu setelah membaca surat yang ditinggalkan Jully. Kemudian dia menyimpan surat tersebut ke dalam tas ranselnya, lalu dia melangkah pergi dengan senyuman yang sama saat Jully melangkah keluar dari kelasnya.
Bersambung....