
Ini sudah empat hari setelah Jully keluar dari Rumah Sakit. Wigih empat hari ini juga begitu sibuk, jadwal operasinya juga begitu padat. Sementara Jully sudah mulai beraktifitas di kantornya meski hanya mengerjakan hal-hal yang ringan saja, mengecek-ngecek dokumen yang belum sempat tersentuh ketika dia terbaring koma. Sementara urusan persidangan, dilimpahkan pada Auliya.
Di Rumah Sakit, Wigih baru saja keluar dari ruang operasinya. Wajahnya terlihat begitu lelah, dia baru saja melakukan operasi jantung yang memakan waktu kurang lebih dua belas jam dan syukurnya operasi itu berjalan dengan lancar. Wigih membersihkan dirinya, mengganti baju operasinya dengan yang lebih bersih dan nyaman, membasuh wajahnya yang terlihat begitu lelah, untungnya ini adalah operasi terakhirnya hari ini. Sekarang pukul sepuluh pagi, dia akan pulang ke apartemennya untuk mengistirahatkan diri, sudah tiga hari berturut turut dia tidak pulang ke apartemennya. Karena operasainya tadi malam yang selesai pagi ini membuat matanya sangat mengantuk, sungguh ia ingin sekali segera bertemu kasur dan bantal ternyamannya. Wigih segera membereskan barang-barangnya yang akan ia bawa pulang dan memasukkannya ke dalam tas ranselnya. Ketika ia membuka laci di meja kerjanya untuk mengambil phonsel yang disimpannya di sana, Wigih melihat kartu nama yang diberikan Auliya untuknya. Kartu nama Jully. Wigih mengambilnya, matanya sejenak tak berkedip memandang lekat kartu nama Jully yang ada ditangannya.
"Apa kabarnya dia ya?" Gumamnya lirih. Mungkin dia akan menghubungi Jully nanti setelah sampai di apartemennya. Wigih segera menyimpan kartu nama Jully itu ke dalam dompetnya dan memasukkannya ke dalam saku celananya. Lalu ia melangkahkan kakinya keluar dari ruang kerjanya setelah menyambar tas ransel yang ada di atas kursi.
Sementara itu di ruangan tempatnya bekerja, Jully dengan kaca matanya dan rambut yang dicepol asal terlihat sibuk dengan tumpukan kertas yang sudah tidak beraturan letaknya. bahkan ada yang jatuh ke lantai. Satu hari saja dia tidak mengerjakan tugasnya maka akan mempengaruhi pekerjaan lainnya, apalagi ini? Dia sudah meninggalkannya selama satu bulan lebih. Bisa dilihat begitu pusing dan kewalahannya dia. Masih untung ada Auliya dan kedua asistennya Melda, Billy yang membantu pekerjaannya, kalau tidak mungkin kepalanya akan meledak saat itu juga terlebih dia baru saja pulih dari komanya. Akhirnya beberapa dokumen penting yang dateline minggu ini sudah diselesaikannya, tinggal beberapa dokumen yang masih ada tenggat waktunya saja, masih bisa ia kerjakan besok atau lusa atau mungkin akan dia serahkan pada kedua asistennya saja. Meskipun hanya asisten Melda dan Billy tidak bisa dipandang remeh kemampuannya, mereka bisa dihandalkan untuk menggantikan tugas-tugas Jully maupun Auliya jika itu memang diperlukan dalam situasi yang mendesak. Dan yang terpenting mereka bisa dipercaya. Jully termasuk orang yang perfeksionis dan teliti untuk memilih orang-orang yang akan bekerja bersamanya. Dia tidak peduli mereka lulusan mana atau lulusan terbaik sekalipun asal mereka cekatan, mahu belajar, tidak sering mengeluh, jujur dan bisa dipercaya untuk memegang rahasia. Untungnya dia dan Auliya menemukan Melda dan juga Billy yang memiliki otak cerdas, jujur dan bisa dipercaya jadi Jully dan Auliya tidak begitu sulit untuk mengajarkan mereka dalam menyelesaikan tugas-tugasnya.
Tok...tok...tok...
Terdengar suara ketukan dari luar ruang kerja Jully. Dia pun mendongak melihat ke arah pintu.
"Masuk." Sahutnya. Dan menyembullah kepala seorang lelaki muda sekitar umur dua puluh lima tahunan dari balik pintu.
"Boss, sudah waktunya makan siang, sebaiknya boss istirahat dulu." Kata pria itu yang masih hanya memperlihatkan kepalanya saja dari balik pintu.
"Ya ampun Billy... Apakah ini sudah siang?" Jully menepuk jidatnya pelan yang tak menyadari waktu sudah berlalu begitu cepat dan pria yang ternyata Billy itu hanya menganggukkan kepalanya.
"Apakah boss mau aku pesankan makanan?" Tawar Billy.
"Tidak usah, aku ada janji makan siang dengan teman-temanku, tidak jauh hanya di restoran seberang kantor kita, kalian tidak usah khawatir." Tolak Jully.
"Baiklah kalau begitu, biar nanti aku mengantar boss ke sana atau boss bisa pergi dengan Melda?" Tawar Billy lagi.
"Ohh ayolah... Ini masih di sekitar sini saja, tidak jauh dan aku hanya perlu berjalan kaki sebentar, jangan berlebihan!" Ujar Jully yang merasa kemanapun dia akan pergi selalu diawasi.
"Terakhir boss menyebrang jalan berakhir kecelakaan." Sahutnya sarkas.
"Heii... Aku tidak menyebrang, aku menolong bocah kecil, itu berbeda Billy..." Balas Jully tidak mahu kalah.
"Ya...ya terserahlah yang penting aku akan mengantar boss ke sana dengan selamat." Setelah mengatakan itu Billy langsung menghilang dari balik pintu dan menutupnya kembali tanpa menunggu jawaban dari Jully.
Jully memijat pelipisnya yang sesikit berdenyut. Setelah kecelakaan itu yang berakhir dengan koma, Auliya dan juga asistennya sangat protektif padanya. Maklum meskipun Jully adalah atasan mereka, namun Jully tidak pernah menganggap mereka yang bekerja dengannya adalah bawahan melainkan teman kerja yang sama-sama berjuang berasamanya, terlebih Jully merupakan boss yang loyal terhadap karyawannya, jarang bukan mempunyai boss yang baik hati? Apalagi Melda sudah menganggap Jully sebagai kakaknya, baginya Jully adalah gurunya, dia tidak akan mencapai ke titik dimana dia berkarier cemerlang meski hanya seorang asisten tanpa bantuan Jully yang selalu mengarahkannya untuk belajar menjadi lebih baik dia bukanlah apa-apa. Meski hanya seorang asisten gaji Melda dan Billy terbilang tinggi, terlebih untuk Melda yang merupakan tulang punggung keluarganya, gaji yang ia terima selama ini sudah sangatlah cukup. Maka dari itu apa jadinya mereka tanpa Jully? Membayangkan apa yang terjadi pada bossnya itu sebulan yang lalu membuat mereka sangatlah bersedih. Mereka tidak mahu kehilangan boss yang baik hati seperti Jully, meski ada Auliya yang tak kalah baiknya, tentu saja rasanya beda. Mungkin Auliya lebih santai daripada Jully yang selalu menuntut lebih perfect tapi justru itu yang membuat mereka lebih produktif, apalagi kerja keras mereka tidak pernah sia-sia, selalu seimbang dengan apa yang mereka peroleh. Jully selalu menghargai hal itu.
Tidak mahu berpikir terlalu keras, Jully segera membereskan mejanya seadanya. Ia harus segera ke tempat janjiannya, dia tidak mahu teman-temannya menunggu terlalu jika dia harus membereskan kertas-kertas yang berserakan di atas mejanya. Dia yakin setelah ia kembali ruangannya akan berubah rapi kembali, Melda ataupun Billy pasti akan merapikannya kembali tanpa harus ia minta.
Jully sudah keluar dari ruangannya namun ia tidak melihat siapapun baik itu Billy maupun Melda, mungkin mereka ada di lantai bawah memeriksa beberapa dokumen di sana, atau mungkin sudah keluar duluan karena sekarang jam makan siang. Sedangkan Auliya hari ini ada jadwal sidang jadi tidak berada di kantor. Saat sudah di lantai bawah dia juga tidak melihat siapapun kecuali Marta resepsionis kantar yang kini sedang duduk menikmati makan siangnya di mejanya dan pak Lukman satpam kantor yang baru saja keluar dari pantry dengan segelas kopi yang masih mengepul.
"Siang mbak Jully... Mahu keluar makan siang?" Sapa Marta.
"Iya Mar, ada janji makan siang sama teman. Ohh ya... Kamu gak lihat Billy ataupun Melda?" Tanya Jully.
"Baru saja sebelum mbak Jully turun mereka keluar, mungkin makan siang." Jawab Marta, Jully pun manggut-manggut.
"Okey kalau gitu aku keluar dulu, met makan siang Mar..." Ucap Jully seraya melambaikan tangannya pada Marta.
"Mbak Jully perlu saya antar?" Tawar pak Lukman. Ohh ini sungguh membuat Jully jengah, bahkan kini satpam kantornya ikut-ikutan. Dia mendesah pasrah.
"Terimakasih tawarannya pak, tapi tidak usah, saya hanya keluar dekat-dekat sini saja. Mari pak..." Pamit Jully segera melangkahkan kakinya keluar gedung kantornya, namun betapa terkejutnya dia karena di depan pintu sudah ada Billy yang menunggunya. Jully pikir anak itu tadi hanya bercanda untuk mengantarnya yang hanya keluar beberapa meter dari kantornya.
"Astaga Billy! Kau membuatku kaget! Untung aku tidak punya riwayat sakit jantung." Jully langsung mengelus dadanya.
"Maaf boss." Ucap Billy meringis sembari menggaruk tengkuk lehernya yang tak gatal.
"Sudah siap boss? Kalau begitu ayo kita pergi sekarang." Ajak Billy kemudian.
"Aku kan sudah bilang tidak perlu diantar, lagi pula restoran itu sangatlah dekat, dari sini saja kelihatan." Ujar Jully sambil menunjuk sebuah restoran yang berada di seberang jalan kantornya dengan dagunya.
"Tidak apa-apa boss, lagian aku juga akan menyeberang ke sana, ada janji dengan salah satu klien kita di cafe sebelah restoran itu jadi sekalian saja." Jawab Billy. Jully memindai Billy dari atas ke bawah dan dia memang sedang membawa tas kerjanya, itu berarti Billy tidak berbohong.
"Apakah Auliya yang menyuruhmu?" Tanya Jully.
"Iya, seharusnya boss Auliya yang bertemu dengan klien kita hari ini, tapi tidak mungkin karena boss Aul ada jadwal sidang siang ini." Jully pun mengangguk setuju dan percaya hal itu.
"Melda tadi mendapat telpon dari boss Aul untuk mengantarkan dokumen yang tertinggal, jadi mungkin dia akan terlambat kembali ke kantor." Jawab Billy.
"Ahh dasar Aul masih saja ceroboh!" Jully tidak habis pikir dengan sifat pelupa sepupunya itu.
"Baiklah, sebaiknya kita pergi sekarang sebelum terlambat." Kata Jully yang kemudian melangkah mendahului Billy.
Sesampainya di restoran, Jully sudah menemukan ketiga temannya menunggu di salah satu meja. Hari ini kebetulan ada waktu untuk meet time bersamanya, mumpung liburan semester sekolah, jadi mereka tidak begitu sibuk dengan urusan anak-anak.
"Kenapa lama sekali? Tadi kami melihat dari sini kamu berdiri cukup lama di depan kantormu dengan asistenmu." Keluh Ningsih.
"Sorry guys... Tadi ada sesuatu yang harus aku bicarakan dengan asistenku." Jelas Jully sembari meminta maaf atas keterlambatannya.
"Aku kira tadi dia akan ikut bersamamu ke sini." Ujar Kansari menimpali.
"Dia sudah ada janji dengan orang di cafe sebelah." Sahut Jully.
"Yahh sayang sekali padahal lumayan untuk menjernihkan mata kita dengan wajahnya yang lumayan tampan." Seloroh Kansari.
"Kamu ini sudah punya buntut dua masih saja kegenitan." Ujar Ningsih heran dengan sifat Kansari yang tidak pernah berubah sejak dulu. Masih saja ganjen.
"Kenapa? Aku kan berkata yang sesungguhnya." Sahut Kansari acuh.
"Sudahlah... Sebaiknya kita memesan makanan dulu." Kata Rere menengahi dan merekapun memesan makanan sebelum melanjutkan obrolan mereka.
"Ohh ya, besok lusa adalah hari pernikahan Wicky. Apakah kalian akan datang? Bagaimana denganmu Jull?" Celetuk Kansari di sela-sela obrolan mereka.
"Ahh apakah sudah secepat itu? Aku bahkan tidak melihat tanggalnya." Alih-alih menjawabnya, Jully justru balik bertanya.
"Kami akan datang, jika kamu tidak akan datang kami akan mengerti." Ucap Rere.
"Atau kalau kamu ingin datang, kita bisa berangkat bersama, iya kan guyss..." Usul Ningsih yang diangguku oleh yang lainnya.
"Atau kamu bisa mengajak asisten pribadimu itu, lumayan kan daripada tidak ada yang harus digandeng..." Seloroh Kansari yang langsung dapat pelototan tajam dari Ningsih dan Rere.
"Kenapa? Apa aku salah bicara lagi?" Ucapnya tanpa dosa dengan wajah polosnya. Dasar Kansari memang tidak peka.
"Aku sudah janji pada Wicky untuk datang, kalau aku tidak ada teman untuk datang aku akan menghubungi kalian." Ungkap Jully sembari tersenyum.
"Kamu yakin?" Tanya Rere yang tersirat kekhawatiran di dalam pertanyaannya.
"Tentu saja." Jawab Jully tegas dan itu cukup membuat Rere dan yang lainnya lega.
"Ohh ya, bagaimana kalau kamu mengajak dokter ganteng yang waktu itu?" Ternyata Kansari masih belum selesai juga.
"Tapi sepertinya wajahnya tidak asing, seperti pernah ketemu tapi dimana ya??" Lanjut Kansari sambil mengingat ingat sesuatu.
"Iya, aku juga."
"Aku juga."
Mereka semua menimpali ucapan Kansari.
"Tentu saja kalian pernah melihat dokter itu sebelumnya, karena dia senior kita di SMA, Ketua OSIS kita." Jawab Jully dengan smirk di sudut bibirnya.
"Oh Em Gi.... Ketosgan Wigih maksud kamu?" Seru Kansari sambil menutup mulutnya tak percaya. Sementara Jully hanya tersenyum saja melihat wajah terkejut mereka.
"Haruskah aku mengajak kak Wigih saja?"
Bersambung...